Adakah Maaf Untuk Donnarumma?

Source: Gianluigi Donnarumma (AC Milan)/Getty Images

Setelah berlarut – larut, Gianluigi Donnarumma, kabarnya, telah sepakat memperpanjang masa baktinya di Milan pada Senin (04/07), waktu Italia. Meskipun demikian, hingga tulisan ini terbit, Milan masih belum merilis kabar tersebut secara resmi.

Kabar ini pertama menyebar dari Fabrizio Romano, jurnalis dari Skysport dan the guardian. Dalam tweetnya, ia mengabarkan bahwa Donnarumma akan memperpanjang masa baktinya Milan dengan nilai kontrak 6 juta euro per tahun dikontrak dengan durasi 5 tahun.

//platform.twitter.com/widgets.js

Selain itu, ada sejumlah klausul pelepasan yang mengikuti perpanjangan kontrak Donnarumma. Dalam klausul tersebut, dikabarkan Donnarumma bisa pergi bila ada klub yang sanggup membayar 100 juta euro ke Milan. Jumlah tersebut akan menurun jadi 50 juta euro bila Milan gagal lolos ke Liga Champions 2018/2019.

//platform.twitter.com/widgets.js

Andaikan kabar tersebut memang benar, ini jelas menjadi kabar gembira bagi suporter Milan seantero dunia, terutama yang melakukan protes pada Gigio, baik itu di sosial media sampai ataupun melakukan pelemparan uang “dollar” palsu ketika Donnarumma bertanding bersama tim nasional Italia melawan Denmark dalam ajang Euro U-21.

Vox populi, vox dei, comrade!

Namun ada pertanyaan baru ikut hadir: Apakah para suporter Milan bisa memaafkan dan menerima Donnarumma, apalagi mengingat Mino Railoa yang dianggap sebagai “biang kerok”, masih berada di sisinya?

Terus terang, saya tidak tahu dan tidak berhak menjawabnya. Sebab meskipun saya penggemar Milan, saya bukan bagian dari kelompok yang merasa dikhianati sikap Gigio.

Alasannya sederhana: yang saya lihat dari keputusan Donnarumma masih menjadi bagian dari sebuah negosiasi seorang pemain bola profesional.

Sebaliknya, dari apa yang terjadi menunjukkan bahwa para pendukung Milan malah terjebak dalam baku tembak antara klub dengan agen pemainnya.

Kemarahan para pendukung Milan pada Donnarumma maupun Railoa bisa jadi bagian dari taktik manajemen Milan untuk menekan keduanya agar mau mengikuti kontrak yang telah ditawarkan.

Tidak percaya?

Mari kita mundur ke beberapa tahun yang lalu, saat di mana Adriano Galliani masih menjabat CEO AC Milan. Sekalipun rada sebal dengan kebijakannya soal pemain muda, tetapi saya harus mengakui ia adalah guru transfer Milan terbaik yang pernah ada.

Hal ini terlihat ketika Galliani menangani krisis yang terjadi pada musim 2010/2011, di mana situasi Rossoneri sedang terpuruk.

Dari hasil evaluasi sebelumnya, ada masalah yang harus dibenahi, terutama produktivitas lini depan yang menurun. Permasalahan makin kompleks, karena pada musim itu Kaka dilego ke Madrid untuk menambal hutang Milan.

Memang saat itu masih ada harapan pada Alexandre Pato, penyerang asal Brazil yang tengah bersinar. Tetapi ia bukan striker target man sesuai kebutuhan Alegri. Pato lebih memainkan posisi sebagai second striker, yang bertugas mengoyak sisi kiri pertahanan.

Untuk menyiasati hal tersebut, manajemen Milan lewat Ariedo Braida, direktur umumnya berusaha meminjam Zlatan Ibrahimovic dari Barcelona. 

Tak butuh waktu lama, transfer itu sukses direalisasikan. Milan dapat meminjam Ibra dengan nilai 6 juta Euro, dengan opsi pembelian di musim selanjutnya sebesar 24 juta Euro. Harga yang tergolong murah untuk sekelas Ibrahimovic, bila kita lihat sekarang.

Semua itu akibat situasi dan kondisi Ibra saat itu sangat miris. Kariernya hampir habis ditelan Guardiola ketika di Barcelona. Bayangkan saja, selama merumput di Spanyol, ia hanya mendapatkan kesempatan untuk tampil sebanyak 29 kali. Alhasil ia hanya mampu mencatatkan 16 gol. Catatan yang buruk bagi striker sekelas Ibra.

Beberapa pihak menganggap transfer ini sendiri sebagai blunder besar. Tetapi di akhir musim, prediksi itu meleset. Milan keluar sebagai juara dan Ibra berhasil menorehkan 21 gol pada musim itu.

Di balik kesuksesan transfer Ibra ke Milan tadi, sebenarnya tak lepas dari campur tangan Galliani. Dengan memakai hubungan pertemanan yang baik, pria berkepala plontos itu berhasil meredam sikap Railoa yang arogan dan mata duitan.

Hal inilah yang tidak dilakukan duo Milano, Fascone dan Mirabelli. Mereka lebih memilih memusuhi Railoa daripada merangkulnya.

Terlepas dari hal itu, drama Donnarumma ini sebenarnya mengingatkan akan satu hal penting, yakni Milan bukan lagi salah satu klub besar di dunia.

Nama besarnya telah meredup seiring minimnya prestasi pada beberapa musim terakhir ini.

Di musim lalu saja, misalnya, guna mencapai posisi 6 klasemen Serie A dan kembali berlaga di liga Eropa, Milan memerlukan usaha yang cukup keras dan sedikit keberuntungan.

Situasi ini berbeda ketika Milan era 1980an hingga 1990an, yang sarat akan prestasi. Di era tersebut, hampir tidak ada pemain besar yang ingin meninggalkan Milanello. Bahkan yang ada, para pemain bintang dari klub lain berlomba lomba menawarkan diri agar bisa bergabung dalam skuad Milan.

Dengan situasi Milan yang compang-camping tersebut, secara logis sebenarnya dapat dipahami bila pemain bintang seperti Donnarumma bakal berpikir dua kali saat mendapatkan tawaran perpanjangan kontrak.

Kisah serupa juga terjadi pada Samir Nasri, gelandang serang tim nasional Perancis yang kini merumput di klub Spanyol, Sevilla FC.

Saat perpindahannya dari Arsenal menuju Manchester City pada Februari 2012 lalu, ia juga sempat mendapatkan caci maki dari para penggemar Arsenal.

Namun aih-alih merasa bersalah, Nasri malah mencibir suporter ‘Meriam London’.

“Caci maki tidak mempengaruhi saya di lapangan, saya berpikir itu adalah hal yang bodoh. Saya bukan penggemar Arsenal dan saya tidak dari London,” terangnya jelang laga Community Shield 2014, yang mempertemukan Manchester City dengan Arsenal.

Nasri sendiri mengaku merasa lebih bahagia di City karena sudah mencicipi dua gelar Liga Premier Inggris.

“Ketika datang ke Manchester City, itu adalah pilihan terbaik bagi saya untuk datang ke sini. Hari ini, aku telah memenangkan piala. Saya sangat senang, saya memiliki segalanya dan saya memiliki kehidupan yang lebih baik,” lanjutnya.

Dari kisah Nasri ini menunjukkan bahwa menjadi pemain sepak bola profesional, sebenarnya tidak melulu mengejar uang, tetapi juga prestasi.

Untuk itulah, demi menjaga para pemain bintangnya tidak pergi, Milan harus berbenah. Tak hanya memperkuat skuad dengan membeli pemain-pemain mahal (yang sejujurnya saya pikir tidak perlu), tetapi juga mengembangkan skema permainan serta hal-hal teknis lainnya.

Menuju kota pahlawan, 7 Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s