Mengenang “Bejo”

Subiharto/facebook

Subiharto/facebook

BEJO“. Begitulah sapaannya. Nama itu jauh sekali dibandingkan nama aslinya: Subiharto. Usut punya usut, nama “Bejo” sendiri merupakan panggilan yang disematkan oleh tetangganya ketika masih bocah. Seiring berjalannya waktu, panggilan itu kian menyatu hingga Bejo beranjak dewasa.

Pertama kali saya mendengar nama itu ketika kepleset ke dunia pers mahasiswa. Dia generasi satu tingkat di atas saya. Yenita Resty, salah satu rekan saya pernah menyinggungnya sesaat setelah tulisan saya dibabat habis oleh editor.

Yeyen bercerita, dulu ketika dirinya masih magang sebagai reporter, ia juga kerap dimarahi. Orang yang memarahinya sendiri bernama Bejo.

Alasan Yeyen dimarahi pun sepele: Tulisannya hancur dan kurang berbobot. Alhasil Bejo meng-“control+a+delete” tulisannya.

Kelakuan Bejo itu membuat Bejo mendapat predikat sebagai: “editor yang galak” di pers mahasiswa. Dan gara-gara itu juga, beberapa reporter segenerasi dengan Yeyen sempat mengkritik tajam cara penyuntingan Bejo tersebut saat diadakan simposium.

Sebaliknya, kritikan rekan-rekannya itu sendiri dirasa Yeyen tidak benar. Yeyen malah menganggap bahwa cara penyuntingan Bejo yang keras itu membuatnya tahu mana tulisan yang bermutu. “Mas Bejo merupakan guru soal jurnalistikku. Dia yang ngajari bahwa yang namanya nulis harus bagus dan berkualitas,”kisah Yeyen.

Saya sendiri cuma manggut-manggut mendengar cerita itu, lalu kembali pada tulisan saya yang baru saja dihapus editor.

***

SETAHUN kemudian, saya baru mengetahui bagaimana rupa Bejo. Pertemuan itu sendiri tidaklah disengaja. Saat itu, saya yang baru datang dari rumah indekos meluncur ke arah kafetaria untuk mencari kopi.

Ternyata, di bagian dalam kafetaria, Evan Adiananta sedang berbaur akrab dengan seorang lelaki. Evan yang melihat saya segera memanggil saya untuk datang menghampiri bangku tempat mereka duduk bersama.

Dari kejauhan, lelaki di sebelah Evan itu tampak asing. Kulitnya yang sawo matang yang pekat dan sisiran rambut sigar tengah membuat ia cukup nyentrik di area kafetaria. Apalagi dandanan necis terlihat dari jeans biru yang dipadukan dengan jaket rider. Wajah lelaki itu sendiri kusam dan lelah. Ia segera menurunkan tas laptop yang besar dan penuh dari pelukannya. Evan sendiri segera mengenalkan lelaki itu.

“Bejo,” ujar lelaki itu dengan logat jawa kental sembari mengulurkan tangan.

Inilah awal pertemuan saya dengan Bejo. Dari perkenalan singkat itu, saya mulai banyak mengobrol dengan Bejo. Mulai tentang topik pendidikan sampai ke pers mahasiswa saat jamannya dulu.

Dari obrolan pendidikan tersebut, saya baru tahu kalau Bejo adalah seorang guru sekaligus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi sekalipun berstatus guru PNS, Bejo kerap mengkritik sistem pendidikan konvesional yang dirasanya membelenggu murid-muridnya. Semua kritikan tersebut dicurahkan Bejo lewat tulisan-tulisannya di blog pribadinya.

Selain itu, bersama beberapa rekannya, Bejo membuat sebuah ekstrakurikuler “madingku”. Dengan konsep yang lebih digital—di mana seluruh karya anak-anaknya dimasukkan ke dalam website dan juga lebih berbobot— karena adanya peliputan dan wawancara kepada narasumber.

Mendengar hal itu, saya terkejut. Dalam kacamata saya, Bejo berusaha merintis terbentuknya sebuah industri pers di dalam sekolahannya, SDN Temuireng 1 Blora.

Tetapi pertanyaannya, kenapa harus pers? Apakah itu tidak terlalu berat mengenalkan industri pers pada anak sekolah?

Seluruh pertanyaan-pertanyaan saya itu terjawab ketika Bejo memperlihatkan sebuah laman situs yang sedang digarapnya.

Di dalam laman situs tersebut, terdapat hasil karya anak-anak didik Bejo yang ciamik dan kritis. Rubriknya sendiri beraneka ragam dan cukup serupa dengan media massa nasional: ada opini, ada profil, bahkan ada juga sastra.

Dari sekian banyak hasil karya tersebut, Bejo bercerita mengenai salah satu nama anak didiknya yang dianggapnya cukup potensial dan bagus. Anisa, kalau tidak salah namanya.

“Untuk ukuran sekelas anak SD, Anisa terhitung pemberani dan kritis,”ujar Bejo dengan sedikit menggebu. ”Sayangnya, pendidikan kita tidak akan menampung anak-anak semacam dia,” lanjutnya dengan nada gusar dan geram.

Oleh sebab itulah, Bejo selalu mendorong Anisa untuk terus maju guna mengembangkan karakter dan bakat menulis Anisa. Sampai-sampai, saat Anisa pindah ke Solo untuk mengikuti orang tuanya yang berpindah tugas, Bejo kerap mengontaknya.

Inilah yang membuat saya kagum sekaligus salut pada seorang Bejo. Selain seorang pendidik yang revolusioner (di mana ia dapat membangun pers kecil di sekolahannya), Bejo juga loyal memantau perkembangan anak didiknya. Jujur, saya jarang melihat ada guru cum PNS yang seperti ini.

***

Kafetaria kampus, bisa dibilang, sudah seperti pusat kehidupan Bejo. Tempatnya menghindari segala riuh dan jenuhnya rutinitas, sekaligus menyesap kembali sari pati kehidupan.

Sebelum dinyatakan lulus sebagai sarjana, Bejo yang tinggal di Blora bersama kedua orang tuanya datang ke Salatiga. Ia datang hanya untuk mengurus tugas akhirnya di kampus. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, ia memang cukup lama untuk mengurusi tugas akhirnya tersebut.

Dan bila Bejo ke Salatiga, ia akan segera mengontak saya atau beberapa kawan lainnya untuk nongkrong. Tempatnya tetaplah sama: di kafetaria kampus.

Ada satu ritual khusus yang akan Bejo lakukan ketika datang ke kampus: beli roko dan langsung mlipir ke salah satu spot tempat makan di kafetaria kampus. Biasanya Bejo akan memesan secangkir kopi instan. Baru setelah amunis tadi lengkap, ia akan membuka obrol dengan saya atau kawan-kawan lainnya.

Piye? Ono kabar opo neng kampus? (Bagaimana? Ada kabar apa di kampus?)”tanyanya sambil menghisap berat rokoknya.

Kata-kata tersebut selalu meluncur untuk membuka obrolan. Dan biasanya akan menyambung kepada tema yang pelik dan random. Bisa tentang politik kampus, bisa tentang pers, bisa soal pekerjaan, bahkan bisa soal wanita. Ya, segala macam topik biasa kami bicarakan.

Dan untuk topik yang terakhir, Bejo acapkali saya hina. Penyebabnya sendiri karena ia sudah cukup lama single.

Lha, mbok digolekno kono (ya, maka dari itu tolong dicarikan sana),”jawabnya sambil mesem-mesem.

Tetapi ibarat Paolo Maldini, maestro lini belakang AC Milan, Bejo ternyata memiliki jebakan offside yang cukup besar untuk saya.

Pertengahan 2014 lalu, ia memberi kabar lewat jejaring sosial bahwa ia akan menikah. Hal ini jelas mengagetkan saya. Saya segera melakukan konfirmasi lewat pesan singkat.

”ya, mangkane, to, teko. Ben reti bojoku, (Ya, makanya dateng. Biar tahu istriku),”jawabnya singkat.

“wah, sori banget, Jo. Aku mesti Njogja. Cari referensi skripsi di Pusat Studi Korea. Congrats, lho,”balas saya lagi.

Yo, wes ora opo-opo. Eh, lha kowe kapan? Eh, lulus ae durung, kok nikah? (Ya, sudah tidak apa-apa. Kalau kamu kapan (nikahnya – Red)? Eh, kamu saja belum lulus, kok menikah?)”

Lha, yo kampret kowe,.”

***

Sekalipun saya dan Bejo saling memiliki kontak, kami jarang bertukar kabar. Tetapi ketika saya sedang memiliki kesulitan (terutama saat mengurus pers mahasiswa), ia langsung membantu.

Hal ini terjadi ketika saya mengontaknya sekitar akhir tahun lalu. Saat itu, saya yang belum memintakan bantuan dana untuk pembayaran website milik pers mahasiswa kampus. Tanpa harus memakai proposal atau banyak janji, ia segera menyetujuinya. “Kirim saja nomer rekeningnya,” ujarnya di ujung telepon.

Hal ini sedikit banyak membuat saya terharu ketika menuliskan obituari tentang Bejo. Kini Bejo sudah pergi duluan pada Selasa, 10 Maret lalu. Selamat tinggal, kawan. Kita lanjutkan diskusinya nanti.

Post Scriptum: Catatan ini aslinya saya buat setelah Subiharto meninggal pada 12 Maret 2015 lalu. Tetapi karena sibuk mempersiapkan diri untuk wisuda (14 Maret 2015) dan juga panggilan kerja ke Jakarta (16 Maret 2015) akhirnya catatan ini jadi terbengkalai lama. Hingga pada akhirnya sekitar dua hari terakhir ini, saya menyelesaikannya sambil membantu Mama di toko. Maafkan atas keterlambatannya.

Madiun, 25 Maret 2015

2 thoughts on “Mengenang “Bejo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s