Surat Untuk Bapak

PAK, bagaimana kabarnya di alam sana? Semoga baik-baik saja, ya?

Tidak terasa sudah lima belas hari kepergian bapak ke alam sana. Rasanya seperti ada yang hilang, atau kosong dalam rumah kita sekarang.

Ah, di sini, saya, ibu dan kakak sehat. Cuma gara-gara mengurusi kremasi dan surat kematian saja, kita —saya dan kakak— mesti riwa-riwi ke rumah duka. Ibu juga sudah mulai kerja lagi untuk membuat dapur tetap mengepul, sekaligus belajar melupakan kepedihan sepeninggalan bapak.

Pak, jujur saja, ketika pak Senun, mengabari bahwa bapak sudah meninggal bikin aku terkejut dan sedih. Soalnya, empat puluh delapan jam sebelumnya, aku masih menyuapi bapak dengan bubur dan kuah bakso yang dingin di rumah sakit. Saat itu, saya masih ingat, bapak menolak makanan tersebut dengan alasan males makan, dan lebih memilih tidur.

Saya, yang saat itu, sudah lelah karena memikirkan kerjaan di Salatiga yang belum kelar, langsung saja ngambek dan menyerahkan mangkok ke pak Senun.

Tetapi ternyata setelah saya kembali ke Salatiga, bapak malah sudah enggak ada.

Ah, ternyata itu adalah kenangan terakhir kita bersama, ya, pak? Kalau saja, saya tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir kita, maka saya akan berusaha lebih sabar untuk membujuk bapak untuk makan, juga menemani bapak di rumah sakit.

Yah, mungkin benar, hidup ini hanyalah menunda kekalahan saja, pak. Kalah dari sesama, kalah oleh umur, atau seperti bapak, kalah dari penyakit.

Kepergian bapak yang tiba-tiba itu menyisakan penyesalan yang cukup dalam buat saya. Penyesalan itu bermula ketika saya merasa terlambat menyelamatkan bapak dari tangan dokter spesialis yang menangani bapak di rumah sakit, tempat pertama kali bapak diwajibkan rawat inap.

Dari sepuluh hari bapak dirawat di rumah sakit tersebut, dokter spesialis itu hanya bisa menduga-duga saja. Dari anemia-lah, lalu demam berdarah-lah. Terakhir, bapak dibilang punya kelainan darah.

Buat saya, diagnosa-diagnosa dokter yang berubah-ubah itu wagu. Masa dokter yang menyandang spesialis (Strata tingkat 2), tak bisa segera menganalisis apa penyakit bapak? Padahal di rumah sakit bapak yang kedua, dokter bisa mengetahui penyakit bapak setelah bapak mendapatkan general check-up. Tapi sayang, belum sempat mendapatkan perawatan, bapak malah keburu lewat.

Inilah penyesalan saya yang terasa pilu. Sebab saya merasa telat menyadari bahwa gelar bukanlah tolok ukur yang tepat untuk menentukan kemampuan seseorang. Kemampuan seseorang bisa terlihat dari seberapa keras usaha yang dikerjakan dan hasil yang telah dibuatnya. Keduanya tidak bisa disiakan satu sama yang lain, melainkan berfusi untuk menunjukkan kemampuan seseorang.

Asal bapak tahu, setelah bapak meninggal, saya sempat ingin protes ke dokter spesialis yang merawat bapak. Saya ingin mempertanyakan seluruh kredibilitasnya sebagai seorang spesialis. Sayang, Ibu menahan usaha tersebut.

Jangan pernah memberontak dengan orang-orang yang dilindungi oleh “penguasa”, katanya.

Mendengar hal itu, hatiku panas bercampur kesal, pak. Kesal dan marah karena saya tak bisa berbuat apa-apa, selain berharap pada keajaiban. Keajaiban yang nyatanya takkan pernah datang.

Penyesalan saya makin berlipat ganda ketika saya teringat pada pertanyaan bapak di rumah sakit soal pekerjaan apa yang akan saya kerjakan selepas aku diwisuda kelak.

Saat itu, saya menjawab bahwa saya akan meneruskan usaha bapak: jualan kain.

Sayangnya, pak, itu cuma omong kosong belaka. Omong kosong dari keluar dari anak laki-laki yang bapak banggakan.

Saat itu saya tidak berani berkata jujur, bahwa saya ingin jadi jurnalis pada bapak. Saya tidak mau melukai hati bapak yang sedang terbaring lemah dan menambah beban pikir bapak. Saat itu, saya cuma berpikir, yang penting bapak bisa sembuh. Oleh sebab itu, saya menghalalkan segala cara, termasuk berbohong pada bapak.

Kini kebohongan hanya meninggalkan sebuah beban dalam hati saya.

Saya sendiri sadar, mengenai pilihan profesi saya sebagai jurnalis tadi pasti akan ditentang bapak dengan keras. Jadi wartawan itu tidak akan pernah menghasilkan uang yang banyak, ujar bapak keras saat masih sehat dulu.

Lebih dari itu, bapak sering bilang bahwa pekerjaan ini mengandung resiko—karena kuningnya kulit dan mata yang sipit, di mana nyawa saya jadi sasaran empuk.

Tetapi, pak, apakah ada pekerjaan yang tidak mengandung resiko?

Saya kira semua pekerjaan pastilah mengandung resiko, dan saya memilih memanggul seluruh resiko sebagai jurnalis. Alasannya sendiri sederhana. Saya ingin berkerja, sesuai apa yang hati saya katakan. Sebab ada tertulis, bahwa di mana hati kita berada, di situlah harta kita terpendam.

Saya sendiri tahu, keinginan bapak bertentangan dengan apa keinginan saya. Sedari dulu bapak ingin saya meneruskan usaha keluarga, yakni berbisnis tekstil. Saya sudah tahu, ketika bapak memaksa saya untuk ikut pergi ke tempat bapak bekerja. Pun juga pelajaran-pelajaran mengenai saham, audit, dan manajerial yang bapak berikan ketika saya baru berseragam putih biru. Saya tahu itu semua.

Tetapi sekali lagi saya minta maaf, pak. Saya tetap tidak bisa melakukannya. Dan kini, sekalipun bapak terlambat mengetahui kebenarannya, saya berharap bahwa bapak di alam sana sudi memberikan restu pada pilihan pekerjaan saya ini. Sebab, saya tak mau menjadi anak yang durhaka lagi.

Penyesalan terakhir yang saya rasakan, adalah ketika saya tak bisa mengajak bapak untuk ikut wisuda saya Maret kelak.

Iya, pak, saya jadi ikut wisuda.

Memang dulu kita pernah bertengkar karena saya menolak ikut wisuda. Saat itu, saya berpendapat, bahwa wisuda hanyalah pesta pora yang tak ada gunanya. Toh, setelah itu jadi pengangguran, ya buat apa?

Tetapi bapak terus saja membujuk saya untuk ikut wisuda, seolah tak mau mendengarkan alasan saya tersebut… Saya marah, dan obrolan kit usai.

Kelak saya baru menyadari alasan bapak memaksa saya untuk ikut wisuda ketika saudara-saudara bapak dan tetangga kita datang ke pemakaman di rumah duka kemarin. Banyak dari mereka mempertanyakan apakah saya sudah lulus atau belum. Kok belum wisuda, tanya mereka selanjutnya.

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya menyadari ada kesesatan pada pola pikir mereka. Dan ketika saya berusaha membetulkan, pertanyaan-pertanyaan tersebut terus mengalir seperti ember yang bocor. Alhasil, saya kecapekan sendiri untuk menjawabnya.

Ternyata hal inilah yang bapak sadari saat itu. Bapak berpikir dua langkah di depan saya. Daripada mesti menjawab satu persatu, bapak lebih memilih untuk mengikutkan saya wisuda. Iya, sekalipun harga wisuda itu mahal.

Kini ketika menyadari itu semua, saya merasa bodoh. Bodoh sekali karena tak bisa peka memprediksi adanya sesat logika semacam itu di tengah lingkungan kita.

Untung saja, lho, pak, Rossel, teman wanita saya sudah mendaftarkan saya untuk wisuda bulan depan. Dengan menembus hujan dan angin yang sedang menerpa kota Salatiga, ia mencari tanda tangan untuk saya. Dan dalam waktu sehari, saya udah terdaftar sebagai wisudawan.

Pak, keikutsertaan saya wisuda tersebut bukan hanya ingin membungkam pertanyaan-pertanyaan tersebut, tetapi juga sebagai perlambangan sebagai bentuk penghormatan terakhir saya pada bapak. Penghormatan terakhir pada sosok bapak yang keras kepala, ngeyelan dan kolot.

Sekalipun begitu, saya sadar bapak orang yang baik, lurus dan telah berhasil menyekolahkan saya dan kakak hingga jenjang perguruan tinggi. Seluruh kenangan bersama bapak, akan saya jadi bekal ketika merantau kelak.

Penyesalan-penyesalan yang tertuliskan lewat surat ini, mungkin cuma sebagian kecil dari bentuk dukacita saya atas meninggalnya bapak. Tetapi saya menuliskannya agar belajar nedho nrimo atas kepergian bapak.

Selanjutnya, saya akan berusaha menjaga nama baik bapak, juga menjaga Ibu dan kakak di rumah.

Doakan saya bisa, ya, pak.

Segitu, dulu, pak, surat dari saya ini. Semoga bapak tenang di alam sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s