Running Man Versus Timnas Indonesia

Minggu ini, saya baru saja kelar nonton Running Man episode ke 200. Episode kali ini terasa begitu spesial. Sebab, Variety Show yang terkenal asal negeri Gingseng itu datang ke Indonesia, memeriahkan Asian Dream Cup (ADC) 2014.

ADC sendiri, bisa dibilang, turnamen yang sudah cukup lawas. Sebab sudah hampir 3 kali turnamen yang bertajuk amal ini digelar. Turnamen yang pertama digelar di Thailand pada tahun 2012. Lalu di tahun berikutnya, digelar di Shanghai, Tiongkok.

Turnamen amal yang didompleng oleh JS Foundation (milik mantan pemain Manchester United, Park Ji Sung) ini mempunyai tujuan yang cukup bagus: men-support para talenta muda di negara yang dikunjunginya. Hampir setengah lebih dari penjualan tiket dan merchandise-nya disumbangkan guna pendidikan yang lebih layak bagi para pemain muda di negara tersebut.

JS Foundation didirikan oleh mantan kapten timnas Korea Selatan, Park Ji Sung. Guna mendongkrak popularitas turnamen ini, JS Foundation bekerjasama juga dengan pihak Running Man, sebuah program hiburan dari SBS Korea.

Running Man sendiri merupakan program hiburan yang digawangi oleh Yo Jae Suk dan 6 orang lainnya. Dengan format variety show yang menampilkan game-game unik, Running Man sendiri bisa dibilang sebagai simbol baru guna memperkenalkan kebudayaan di Korea Selatan. Acara yang sudah berusia hampir 4 tahun ini, punya rating yang cukup tinggi di level internasional.

Kabar akan digelarnya ADC di Indonesia sebenarnya sudah saya dengar sudah cukup lama. Hampir dua bulan terakhir, kalau tidak salah. Saat itu, di twitter sempat ramai membicarakan kabar tersebut. Namun pemberitaan mengenai ADC sendiri tertutup oleh ramainya peberitaan Pemilu Presiden.

Saya, yang rutin nonton Running Man tiap minggunya, sempat kepikiran untuk datang ke pertandingan itu. Lumayanlah, cuci mata sambil lihat langsung Song Ji Hyo yang bodinya cukup glek

Namun harapan itu menghilang total, karena beberapa gaji dari tulisan saya di beberapa media belum juga turun hingga sekarang. Ini membuat finansial saya jadi benar-benar ketiban sial.

Akhirnya, dengan sangat terpaksa, saya cuma bisa nonton lewat televisi dan mengunduh Running Man di internet. Memang tak terlalu puas. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu yang bisa saya lakukan.

Ketika menonton pertandingan itu, saya cukup bangga karena liputan ini menyoroti Indonesia. Ini menunjukkan bahwa publik dunia sudah mulai percaya lagi pada kemanan di Indonesia. Sebab, sejak kasus bom Bali beberapa tahun silam, para turis dari luar negeri jadi sedikit takut datang ke Indonesia.

Tapi sayangnya dibalik kebanggaan itu, saya cukup malu melihat permainan keras dari pemain Timnas negara saya. Bagaimana tidak, Musafri dan beberapa pemain Timnas bermain penuh nafsu untuk memenangkan laga amal tersebut.

Hal ini jadi bikin saya sedikit berpikir: apa yang membuat para pemain Timnas itu bermain sangat ngoyo? Padahal kalau dilihat secara seksama, Park Ji Sung dan kawan-kawannya main sangat santai. Bahkan anggota Running Man sendiri lebih banyak menunjukkan sisi entertaiment-nya ketimbang keseriusan untuk bertanding.

Saya mereka-reka beberapa alasan. Pertama, para pemain Timnas itu berusaha memperbaiki citra di masyarakat. Selama ini, Indonesia selalu saja kalah ketika melakukan pertandingan internasional. Oleh sebab itu, mereka ingin memenangkan laga amal ini agar masyarakat bisa sedikit percaya kepada mereka.

Yang kedua, mereka tidak tahu mengenai Running Man. Asal anda tahu, publikasi Running Man selama ini bukan hanya lewat media sosial, tetapi dari website langsung. Jadinya, mereka tidak terlalu sadar bahwa pertandingan itu akan cukup banyak disoroti oleh dunia.

Tetapi apapun alasannya, yang jelas ini bikin saya, sebagai penonton asal Indonesia sedikit malu dan kecewa. Sebab bagaimanapun juga ini adalah laga amal. Bukan pertandingan yang serius atau pun yang diliput oleh para scout dari Luar Negeri! Jadi why so serious?

Beruntung, pihak Running Man tidak terlalu menyoroti pertandingan tersebut. Mereka banyak memangkas saat-saat pertandingan berlangsung. Mereka lebih banyak menyoroti para anggotanya sendiri yang bertingkah konyol ketika pertandingan berlangsung.

Sekalipun tampil agak mengecewakan, saya sendiri patut mengapresiasi perkembangan permainan Timnas Indonesia. Mereka bermain jauh lebih baik ketimbang jaman dulu. Dengan pressing man to marking yang ketat dan umpan pendek ala tiki-taka Barcelona, mereka sanggup bikin Park Ji Sung dan kawan-kawannya kerepotan. Bahkan, mereka sanggup memanangkan laga ini.

Yah, semoga saja, pertandingan semacam ini diperbanyak. Sebab, dengan begitu talenta-talenta muda yang terlantar bisa didonasi jauh lebih banyak lagi. Dengan begitu, mereka akan bisa berkembang menjadi pemain yang handal di masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s