Ucapan Selamat Untuk Sahabat: @Masiosetiawan

HALO, DHE.

Apa kabar? Lama kita tak bersua. Terakhir, kalau tidak salah ingat, kita bertemu sekitar satu (atau dua?) tahun lalu, tepat di mana Susyetiadi, kawan kita yang baik hati dan tidak sombong itu, menikahi pujaan hatinya.

Dalam hiruk pikuknya pesta itu, kamu berujar padaku akan segera menyusul mereka. “sekitar tahun depan,” ujarmu padaku. Saat itu, aku tak terlalu mengubris omonganmu. Sebab, kupikir, itu hanyalah sekedar topik agar ada pembicaraan di antara kita.

Tetapi tiga minggu yang lalu, ketika aku menerima undangan pernikahanmu, aku sungguh terkejut karena kamu benar-benar merealisasikan omongan itu. Tak kuduga, kamu akan benar-benar melepaskan “kebebasanmu sebagai seorang lelaki” dan melangkah jauh ke jenjang pernikahan.

Awalnya, perasaan pertama yang muncul ketika membaca undanganmu itu adalah kecewa atas pilihanmu itu. Sebab, buatku, pernikahan hanyalah fase yang “mengekang kebebasan bagi seorang lelaki”.

Tetapi setelah jauh kupikir, paradigmaku barusan justru kekanak-kanakan. Pernikahan bukanlah penghambat “kebebasan kita sebagai kaum lelaki”, melainkan sebuah fase kehidupan yang mesti dilalui seorang lelaki muda agar dapat berevolusi menjadi seorang pria dewasa. Dan sudah sepantasnya, aku sebagai sahabat, bangga sekaligus salut atas keputusan yang kamu ambil.

Namun aku minta maaf padamu, Dhe. Sebab aku tak bisa datang pada saat bahagiamu itu berlangsung. Entah kebetulan atau takdir, di saat pestamu, aku sedang menuju Yogyakarta.

Di kota yang kini panasnya membakar kulitku itu, aku akan menemui seorang perempuan muda. Perempuan muda ini bukanlah pacarku, tapi narasumberku. Ia adalah anak dari seorang penyair yang dihilangkan pada kerusuhan Mei 1998. Aku ingin mendokumentasikan bagaimana kehidupannya pasca Ayahnya, yang penyair tadi “diamankan” oleh tirani bernama Soeharto.

Peliputan ini, aku lakukan bukan semata untuk mencari uang atau reputasi. Tetapi aku ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa peristiwa naas itu—yang dianggap titik balik yang mengubah wajah sejarah negeri ini—masih belum selesai. Masih ada ketidakadilan yang tertinggal di mana orang-orang yang dulu “diamankan” belum dikembalikan.

Dan lucunya, aktor alias dalang atas peristiwa itu kini menjadi salah satu calon Presiden negeri ini. Ini jelas tidaklah adil buat para keluarga yang sudah ditnggalkan hampir 16 tahun lamanya.

Mungkin beberapa kawan muda lainnya akan berpikir, bahwa apa yang aku lakukan ini hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Tetapi bagaimana pun juga, yang namanya keadilan mestilah ditegakkan.

Duh… Kok, malah bercerita panjang soal peliputanku, sih? Mari kita kembali ke topik pernikahanmu saja.

Karena aku tak bisa datang, akhirnya aku pun sedikit mengobrol dengan pacarku, Rosellina Myra. Ia memberikan sebuah usulan yang menarik,”bagaimana kalau kita memberikan sebuah kado untuk Pakdhe dan Mbak Rere?”ujarnya.

“Tetapi kado apa?”tanyaku padanya.

Akhirnya, kami pun saling mencari ide gift untuk kalian. Berbagai usaha kami lakukan. Mulai dari bertanya pada mbah Google sampai bertanya kepada beberapa rekan lainnya.

Tetapi ide-ide yang kami terima malah unik dan aneh. Bayangkan saja, mulai dari gift seperangkat kondom, video porno dan obat kuat. Duh, malah tambah pening kepala kami ini.

Akhirnya karena dikejar waktu, kami pun segera memutuskan untuk membuat sebuah lukisan sketsa saja. Namun karena kami sama-sama tidak bisa gambar, akhirnya kami pun memilih meminta tolong pada seseorang seniman kenalanku di Madiun dulu. Namanya Lambertus Bonifatius Suwiryo. Aku mengenalnya karena ia bekas guru lukisku waktu SMP Santo Yusuf Madiun. Kini di tahun terakhirnya, ia ingin membuka sebuah pekerjaan baru sebagai seorang seniman.

Ketika kami mengontaknya. Ide sketsa kami barusan ditolaknya mentah-mentah. “kalau sketsa itu terlalu biasa untuk hadiah pernikahan,”ujarnya. Ia pun memberikan saran untuk dibuat karikatur saja. Kami setuju.

Tak butuh waktu lama, Lambert menyelesaikan karyanya itu. Hanya semalam saja. hasilnya pun luar biasa. Ia mengirimkan dua contoh karyanya. (Lihat di bawah)

GAMBAR 1 OLEH LAMBERTUS SUWIRYO

GAMBAR 1
OLEH LAMBERTUS SUWIRYO

Dan ini:

GAMBAR 2  OLEH LAMBERTUS SUWIRYO

GAMBAR 2
OLEH LAMBERTUS SUWIRYO

Setelah melihat, menimbang, dan memeriksa, kami berdua menjatuhkan pilihan ke gambar ke dua. Gambar Seorang Superman yang menggendong Wonder Women. Gambar ini, kami pikir cocok untuk representasikan bagaimana sosok kamu dan Rere kelak yang akan saling bahu membahu dalam membangun sebuah keluarga.

Setelah selesai mendapatkan file gambar itu. Kami segera menuju percetakan.

Di sela-sela, kami menunggu cetakan itu usai, Myra bertanya padaku, apakah perlu juga diberikan sebuah surat atau kartu ucapan selamat juga?

Ini membingungkanku. Sebab waktu yang kami punya tak lagi cukup untuk membuatnya. Akhirnya, aku mengatakan akan mengirimkannya lewat blog pribadiku saja. “Sekalian permintaan maaf karena tidak datang waktu pesta pernikahan sekalian saja,”jawabku.

Namun pembuatan tulisan ini seringkali tertunda. Sebab, banyaknya tulisan yang mesti aku kerjakan.

Segitu dulu surat untukmu, Dhe. Aku mau ke gereja soalnya. Ya, semoga kamu berkenan menerima hadiah itu. Dan akhir kata, selamat menempuh hidup baru. Semoga Semesta memberkati keluarga barumu bersama Rere.

 

Salatiga yang sedang hangat, 8 Mei 2014

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s