Catatan Seorang Penikmat Filem

SUATU KETIKA, saat sedang menunggu dosen, saya terlibat percakapan dengan kawan di kafe kampus. Di sana, kami membicarakan hobi-hobi sederhana kami, selain menulis.

Kawan saya itu mengatakan bahwa hobinya, selain menulis, adalah travelling. Ia menjelaskan bahwa, dengan hobinya tersebut ia bisa mendapatkan inspirasi menulis. Ia mencontohkan lewat satu pengalaman perjalanannya ke negeri matahari terbit.

Saat itu, ia pergi ke sana bertepatan dengan musim semi. Musim semi di Jepang ditandai dengan mekarnya bunga Sakura. Beruntung, ia dapat menikmati mekarnya bunga asli Jepang itu dari hotel, tempatnya menginap. Dari pengalaman tersebut, ia menghasilkan sebuah cerpen mengenai seorang wanita yang sedang menatap bunga Sakura. Cerpen itu pun berhasil naik cetak di salah satu media massa lokal.

Usai bercerita panjang lebar mengenai hobinya, ia bertanya pada saya. “Lalu bagaimana denganmu?“ tanyanya pada saya. “Apa hobimu, selain menulis?”

Saya tersenyum dan menjawab: menonton filem.

Mendengar jawaban itu, ia setengah terkejut. Ia tak menduga jawaban saya begitu simpel. Ia kembali bertanya: mengapa?

Ketika akan menjelaskan, dosen saya menelepon saya. Ia meminta saya untuk segera menghadap dirinya. Saya mengiyakan dan terpaksa menunda jawaban itu. Sebelum benar-benar beranjak dari kafe, saya lantas berjanji padanya untuk membuat sebuah tulisan mengenai hobi saya itu.

***

SEMULA, menonton filem bukanlah hobi utama saya. Saya masih ingat, ketika masih bocah, kedua orang tua saya lebih banyak menyodori berbagai buku sebagai hiburan saat senggang.

Saat itu, mereka beralasan bahwa dengan membaca buku, saya bisa menjadi anak yang cerdas. Namun alasan sebenarnya, keluarga kami tidak punya cukup uang untuk membeli sebuah radio atau televisi, bahkan mainan untuk saya.

Namun pada periode 1995an, naiknya perekonomian keluarga membawa banyak perubahan. Kami sekeluarga pindah ke rumah yang jauh lebih besar. Selain itu, perabotan-perabotan elektronik seperti televisi, VCD player, kulkas dan Air Conditioner (AC) bisa kami beli.

Hal ini membuat hiburan saya jadi lebih luas. Sebab stasiun televisi saat itu banyak sekali menghadirkan filem-filem yang menarik, seperti Warkop DKI (1979-!994), Lupus (1986), Catatan Si Boy (1987), Si Doel Anak Sekolahan (1994-2002), Deru Debu (1995-1996), Ali Topan (1977), bahkan cerita misteri milik Suzana. Semuanya jadi tontonan favorit saya.

MacGyver

MacGyver

Selain filem-filem Indonesia, televisi juga memperkenalkan saya dengan filem-filem barat. Semua ini berkat kehadiran program “Layar Emas” milik salah satu stasiun TV swasta. Program yang ditayangkan Rabu pukul 8 malam itu, banyak memutar filem-filem laga barat, seperti Total Recall (1990), trilogi Rambo (1982-1988), MacGyver (1985-1992), dan American Ninja (1985).

Saya, yang waktu itu masih cupu, cuma bisa menonton dengan rasa kagum. Saking kagumnya, biasanya, saya membicarakan lagi filem-filem yang sudah saya tonton di sekolah. Kami sering mengupas tiap adegan, tokoh, sampai kelengkapan alur filem itu.

Kelak saya baru tahu bahwa filem-filem itu termasuk filem kelas B. Artinya, filem itu digarap tidak terlalu apik. Penyebabnya, budget yang dikeluarkan kecil. Jadi penggarapannya dibuat seadanya. Selain itu, jika diteliti seksama, pola dalam alur cerita yang disajikan hampir selalu sama. Misalnya saja, si pahlawan (tokoh utama) bisa mengalahkan banyak musuh, atau si pahlawan berhasil menyelamatkan pembajakan kapal.

Di tahun-tahun selanjutnya, saya makin akrab dengan filem-filem barat. Maraknya kepingan Video CD (VCD) dan Laser Disk (LD) di Indonesia pada sekitar tahun 2000-an, membuat saya bisa cukup up to date mendapatkan filem-filem terbaru yang masuk box-office.

Masih di tahun yang sama, saya masih ingat, filem-filem barat di Indonesia mendapatkan saingan keras dari filem Asia, utamanya dari China dan India. Filem-filem Mandarin dan Bollywood banyak menjadi opsi tontonan lain. Mungkin hal ini disebabkan para penonton mulai merasa bosan dengan alur cerita yang selalu sama dalam filem-filem barat.

Jackie Chan

Jackie Chan

Saya sendiri, untuk filem mandarin sangat menggemari filem-filem yang dibintangi Jackie Chan.Mulai dari serial Police Story (1985-1992) sampai Armour of God (1986). Untuk Bollywood, tidak terlalu banyak pilihan. Sebab filem-filem yang dihadirkan, rata-rata, milik Shah Rukh Khan belaka.

 

Ada Apa Dengan Cinta (2001)

Ada Apa Dengan Cinta (2001)

Di balik persaingan filem-filem impor itu, geliat dunia perfileman di Indonesia juga bangkit. Hal ini ditandai munculnya Jelangkung (2001), Ada Apa dengan Cinta (2002), dan Novel Tanpa Huruf R (2003). Ketiga filem itu memberikan warna baru dalam dunia perfileman di Indonesia. Warna baru yang ditawarkan dari berbagi segi, yakni dari alur kisah yang lebih kompleks sampai para aktris dan aktor dari generasi muda.

 

Dengan opsi sebanyak itu, saya sebagai penonton betul-betul dimanjakan. Saya tinggal pilih filem mana yang ingin saya tonton.

Namun sayangnya, hobi menonton filem itu mesti berhenti ketika nilai-nilai pelajaran saya jatuh di SMA. Orang tua saya yang tahu akan jebloknya nilai-nilai itu, akhirnya, menyetop aktivitas menonton filem.

Mereka berasumsi bahwa aktivitas itu bikin saya jadi pemalas. Tanpa mendengarkan alasan dari saya, mereka sudah mengirimkan beberapa guru les privat agar menemani saya belajar. Saya sendiri menerima hukuman tersebut dengan terpaksa.

***

SAAT BERANJAK ke dunia mahasiswa, saya melupakan aktivitas menonton filem. Rasa senang dan nyamannya sudah hilang dari memori otak saya. Semua ini disebabkan padatnya jadwal kuliah dan sibuknya kegiatan di pers kampus. Keduanya benar-benar menyita waktu, tenaga dan perhatian saya.

Hingga pada suatu kali, seorang kawan datang berkunjung ke kamar indekost saya. Ia hendak meminjam beberapa buku. Dan saat sedang memilah-milah buku, ia pun bertanya apakah saya punya filem juga untuk dibagi?

Saya menjelaskan padanya bahwa saya tidak punya CD atau LD filem. “Kalau CD lagu, saya punya banyak,” jawab saya.

Mendengar jawaban saya, sontak tawanya menggelegar ke seluruh penjuru kamar indekost saya.

Saya terheran, lalu bertanya kenapa ia tertawa.

Ia, kemudian, menjelaskan bahwa jaman sekarang, guna menonton filem, sudah tidak lewat VCD atau LD lagi. “Itu sudah ketinggalan jaman. Jaman sekarang itu nonton filem biasanya di bioskop atau lewat DVD. Tetapi bagi mahasiswa kere macam kita, biasanya download (mengunduh) di internet. Jadi kalau mau nonton, ya, tinggal pakai aplikasi di komputer atau laptop saja,”jelasnya.

Oh…

Entah merasa kasihan atau apa, ia memberikan filem yang ada di Flash Disk (FD)-nya. Hanya ada satu filem yang diberikannya. Judulnya, kalau tidak salah ingat, 500 days of Summer (2009).

Usai meng-copy-kan filem itu ke dalam komputer saya, ia segera berpamit pulang. Toh, sudah cukup larut malam juga.

Sebelum pulang, ia berpesan agar saya tak lupa menonton filem itu. “Filem barusan itu lagi ng-tren sekarang. Jadi kamu wajib buat nonton. Ya, biar kamu gak ketinggalan jaman lagi. Ha-ha-ha…” ujarnya sambil ketawa lagi.

Saya hanya mengiyakan saja. Tidak menggubris pesan darinya. Toh, saat itu, saya masih punya banyak kerjaan yang mesti saya selesaikan. Dan lagi, keesokan harinya, ada tes. Jadi mesti belajar beberapa materi yang akan diujikan.

Sayangnya, selama belajar rasa penasaran pada filem itu lebih kuat. Ini bikin sulit berkonsentrasi. Alhasil, saya pun meninggalkan buku dan catatan kuliah saya, lalu memilih menonton filem itu terlebih dulu. Nanti kalau sudah selesai, baru balik belajar lagi, pikir saya.

500 days of Summer (2009)

500 days of Summer (2009)

Dan benar adanya. Filem berdurasi 95 menit itu memang sungguh menarik. Filem yang berkisah tentang hubungan tanpa status antara Tom Hanson (Joseph Gordon-Levitt) dan Summer Finn (Zooey Deschannel) itu berhasil menguras pikiran dan emosi saya.

Dalam otak saya, muncul sebuah pertanyaan reflektif: apakah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sedang (atau sudah) bergandengan tangan, jalan bersama, bermesraan dan bahkan tidur seranjang bisa disebut pacaran?

Pertanyaan itu—selain mengasah otak saya untuk memberikan jawaban—juga membawa pada sebuah lamunan akan pertanyaan-pertanyaan baru. Pertanyaan itu makin meluas dan melahap seluruh isi pikiran saya. Dan lucunya, ketika berhasil menjawab seluruh pertanyaan yang muncul, ada rasa puas bergelayut dalam dada saya.

Hal ini pun membawa saya kembali pada sebuah dunia lama yang sudah terlupakan. Dunia itu adalah dunia menonton filem. Dalam dunia tersebut, saya bisa berkembang dengan nilai yang ada dalam filem-filem tersebut.

***

LALU, ketika saya kembali pada dunia “menonton filem”, apakah catatan ini sudah usai?

Tentu saja, belum. Justru ini baru dimulai.

Usai kejadian di atas, saya mulai menjadi seorang Film hunter. Beberapa kawan dekat saya, seringkali saya todong untuk memberikan filem yang mereka koleksi. Kalau tidak, biasanya kami melakukan barter. Selain itu, saya sendiri kerap menepi ke warnet tiap malam demi mengunduh beberapa filem.

Dan benar juga apa yang kawan saya dulu bilang. Sekarang ini, dengan adanya internet, kita bisa berseluncur ria guna mendapatkan filem yang kita suka. Tinggal ketika keyword di google, ia akan memberikan list beberapa website yang memuat filem tersebut. Biasanya yang muncul adalah ganool, indowebster (atau biasa dikenal IDWS), dan juga torrent.

Dari ketiganya, saya biasa memakai IDWS. IDWS sendiri merupakan webserver gratis asli buatan lokal (Indonesia). Webserver tersebut biasanya menjadi tempat penyimpanan dan sharing file. Khusus sharing file, hal itu kerap terjadi dalam fitur forum.

Forum Indowebster

Forum Indowebster

Di sana, banyak sekali member yang mengisi postingan dengan file-file filem, musik dan berita. Semuanya bisa diunduh secara gratis alias tanpa bayar!

Tetapi biasanya para uploader (istilah orang-orang yang meng-upload) meminta bayaran lewat komentar-komentar dari para pengunduh. Komentar-komentar yang datang ada berbagai macam. Mulai dari spoiler cerita filem, ucapan terima kasih, bahkan terkadang kritikan tentang jalannya filem tersebut.

Komentar-komentar tersebut tidak berjalan secara linear. Sebaliknya satu sama yang lainnya saling bertukar pendapat. Bahkan tak jarang terjadi perdebatan hebat. Namun hal inilah yang mengasyikkan. Dari sana, saya bisa menyerap pelbagai ilmu dalam menonton filem.

Dan benar saja. Ada perkembangan yang saya rasakan ketika menonton filem yang sudah usai diunduh. Perkembangan itu terletak pengenalan budaya asing yang ditampilkan dalam filem. Dalam filem Korea, misalnya. Di dalam filem negeri gingseng tersebut, banyak sekali menyajikan nilai budaya dari negaranya. Mulai dari bahasa, pakaian, tata krama, bahkan kadang sistem pendidikan yang dipakai.

Selain itu, tak menutup kemungkinan juga, filem Korea menunjukkan kehidupan atau realita sosial dari masyarakatnya. Semisal saja, orang-orang dari kelas bawah yang tidak mampu membayar pengobatan (dalam filem serial Medical Top Team (2013)), atau anak autis yang selalu didiskreditkan (Dalam filem serial Good Doctor (2013)).

Unsur-unsur dan nilai budaya ini seringkali luput (atau tepatnya dihilangkan?) ketika disajikan lewat media televisi. Media televisi seringkali menyortir atau memangkas nilai budaya yang terkandung di dalam filem asing dengan berbagai alasan. Mulai dari terlalu lamanya durasi filem tersebut, bahkan kadang sampai alasan adanya unsur pornografi. Ini sangatlah menyebalkan buat saya sebagai penonton. Sebab tak bisa menonton secara gamblang filem yang saya tonton.

Lebih dari itu, dalam menonton sebuah filem, saya pun bisa merasakan adanya representasi budaya yang terkandung dalam filem, atau dalam bahasa yang lebih sederhananya makna dari filem. Pemaknaan ini mungkin sudah tergambar ketika saya menonton filem 500 days of Summer. Namun ketika jauh lebih dalam mengupasnya, saya menemukan sebuah paradigma baru tentang sebuah nilai dalam budaya.

Pertanyaannya yang lebih jauh, akan jadi seperti ini: Apakah hasil pemaknaan tersebut mesti kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari?

Jawaban saya terserah. Kalau menurut anda bagus, ya, silahkan pakai. Kalau tidak, ya, tidak usah dipakai. Gitu aja kok repot?

Namun sayangnya, sekalipun mampu memakai berbagai perspektif, saya tidak bisa berkomentar banyak melalu tulisan. Saya memilih menutup rapat komentar tersebut dalam catatan pribadi (baca: buku harian) saya.

Hal ini disebabkan, menonton filem, khususnya buat saya, merupakan aktivitas soliter saya guna mencari hiburan belaka. Bukan untuk membongkar, membedah atau mengulik kekurangan dan kelebihan sebuah filem.

Toh, lebih daripada itu, saya sendiri sadar bahwa saya ini bukanlah sesosok kritikus filem yang bisa mengupas filem lewat berbagai teori. Saya ini cuma seorang penikmat filem, yang ingin menikmati filem dengan sederhana.

Salatiga, 14 April 2014

Tulisan ini saya buat sebagai salah syarat dari PROGRAM FORUM KELAS PENULISAN KRITIK FILM FESTIVAL FILM SOLO 2014. Sayangnya, tulisan ini gagal menghantarkan saya untuk masuk ke program tersebut. Terima kasih pada Arya Adikristya Nonoputra dan Joss Wibisono yang sudah bersedia membantu saya dalam mengoreksi dan mengedit tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s