(Mencoba) Hidup Sehat

Sudah barang sebulan ini, saya tak lagi bekerja sebagai penjaga komik di Persewaan Buku Lunar. Hal ini disebabkan saya ingin fokus pada tugas akhir saya sebagai mahasiswa.

Keinginan tersebut sebenarnya sudah muncul sebulan sebelum saya meminta resign pada Cahyadi Gunawan, selaku bos saya. Kemunculan ini disebabkan saya terbentur pada sistem penggajian yang ada di Lunar.

Asal anda tahu, gaji mingguan yang saya terima jika dikalkulasikan sebulan kurang lebih sekitar 600ribu. Bagi mahasiswa, mungkin ini sangatlah tinggi. Namun buat saya, gaji pokok saya tidak terlalu sepadan dengan kebutuhan pokok saya.

Saya mencoba melobi Cahyadi untuk meningkatkan gaji pokok saya. Namun sayangnya ia tidak bisa menambahkan gaji saya tersebut. Hal ini disebabkan status pekerja saya di Lunar adalah part timer. Bukan Full-timer. Ketika saya ingin menaikkan level saya jadi full-timer, saya sendiri terhalang status mahasiswa saya.

“Dengan kamu yang masih berstatus mahasiswa, saya tidak bisa menaikkan gaji kamu. Prinsip seorang fulltimer, berarti kamu mesti fokus bekerja. Kamu tidak bisa untuk pergi kemana-mana, termasuk ke kampus. Sedangkan mandat dari orang tua kamu adalah kamu ke Salatiga untuk berkuliah, bukannya untuk bekerja,”terangnya.

Saya pun sepakat akan pemikiran tersebut. Jika saya memosisikan diri sebagai bos, saya pun tidak akan mau untuk meningkatkan gaji seorang yang masih berstatus mahasiswa, sekalipun kinerjanya bagus dan mampu memberikan omset tinggi. Status menentukan gaji. Inilah realita kapitalisme jaman sekarang.

Berkat obrolan tersebut, saya pun memutuskan untuk resign dan memilih fokus mengerjakan skripsi saya. Saya berharap semester genap ini saya bisa segera lulus.

***

Tak selamanya kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Saya lupa ini kata-kata siapa. Tetapi inilah realita yang membelenggu saya. Niat hati ingin segera lulus, nyatanya kedua pembimbing saya malah cek-cok satu sama yang lain.

Bagaimana tidak?

Yang satu meminta saya untuk turun lapangan. Yang lainnya, bersikukuh meminta saya untuk trial interview guide terlebih dahulu.

Saya pun cuma bisa melongo melihat perdebatan antar keduanya.

Akhirnya perdebatan sengirt yang berlangsung sekitar 20 menit itu memutuskan bahwa saya mesti trial lapangan terlebih dahulu. Namun sebelumnya saya diminta untuk membaca berbagai macam buku metode penelitian (Metpen).

Ini jelas bikin pening sekaligus mual. Orang satu buku saja belum tentu habis, ini malah diminta tiga buku. Kampret.

Dengan berat hati saya pun mengiyakan permintaan dari para pembimbing tersebut. Dan gara-gara ke-setengah hati-an ini, saya tidak bisa terlalu banyak konsentrasi secara penuh. Setiap kali membaca buku-buku metpen tersebut, saya tidak bisa mengimajinerkan tiap kata yang muncul dalam buku tersebut.

Jika boleh sedikit menganalisa diri sendiri, saya duga hal ini disebabkan ketika saya bekerja, saya lebih banyak menggunakan metode-metode praktis guna menjaring konsumen. Lama-lama ini menjadi kebiasaan. Dan ketika saya dihadapkan riset (lagi) yang dimana menuntut pikiran saya berlogika secara sistematis dan ilmiah, saya langsung kepayahan.

Hal ini membuat saya mesti banyak membaca buku (lagi), guna memicu kinerja otak saya sudah beku. Bahkan guna mempercepat picuan, saya diam-diam masuk ke kelas Joss Wibisono untuk memperoleh lawan tanding diskusi.

***

Dengan kegiatan membaca dan kuliah tersebut, saya jadi lebih sering duduk di kursi. Dan Ini membuat tulang punggung saya seringkali sakit. Rasanya seperti ada semen yang menempel di sekitar tulang pinggang.

Seringnya rasa sakit itu melanda, bikin pacar saya, Myra jadi sedikit kelabakan. Ia pun segera memijit bagian punggung yang sakit. “Makanya sering minum air putih, Kamu itu sudah jarang gerak, gak pernah minum air putih pula,” gerutu Myra sembari memijat-mijat punggung saya. “Sudah begitu, hidup kamu cuma isinya kopi sama rokok melulu,”ujarnya lagi.

Lha, arep piye meneh? Nek moco ora ngrokok karo ngopi rasane wacanane ora nyanthol belas, kilah saya padanya.

Namun kilahan saya dari gerutuan Myra bukan berarti tidak saya dengarkan sama sekali. Gerutunya itu membuat saya jadi berpikir reflektif, bagaimana caranya hidup lebih sehat dari yang ada sekarang?

keep calm, its gym time

keep calm, its gym time

Salah satu jawaban yang muncul seketika dalam otak saya adalah fitnes. Benar. Olahraga bentuk tubuh ini, memang dulu saya lakukan sejak SMP sampai SMA. Waktu itu, saya diikutkan oleh Mama saya agar badan saya agak sedikit kurusan. “Masa atlet badminton, badannya gemuk sekali”katanya saat itu.

Kebiasaan ng-gym sendiri perlahan menghilang saat saya masuk ke dunia kampus. Jadwal kuliah yang padat dan sibuknya berorganisasi membuat saya tidak mampu menahan lelahnya olahraga ini.

Sekarang saya akan kembali ng-gym. Semoga saja dengan saya berolahraga lagi ini, tulang punggung saya dapat sedikit sembuh. Pun juga bisa sedikit hidup sehat.

6 thoughts on “(Mencoba) Hidup Sehat

    • Halo Mas Bagus. Salam kenal juga dari saya. Maaf kalau lama balasnya.

      Saran saya kalau cari part time di Salatiga, cari aja yang jamnya fleksibel. Maksudnya, bisa selaras dengan jam kuliah anda. Soalnya, pengalaman saya mengatakan agak susah kalau gak selaras. Selain itu, pinter-pinterin aja buat ngatur waktu buat belajar, sebab anda ke UKSW untuk kuliah bukan buat bekerja.

      Salam hangat,

      Erwin

  1. Halo, UKSW ya? Tetangga Kemiri kalau gitu. Kalau Paman pas balik S3 (maksudnya betul tujuh), suka jalan cepat nembus Marsudirini 77-kampung-Esto, keringetan segede jagung, makan, pulang naik dokar/becak karena perut mendadak gembul heh..heh..

    • Hahaha… halo Paman. Iya, kalau lewat rute itu bakal keringetan. Tetapi alangkah baiknya kalau Paman kelelahan, ya leren to?

      Satu referensi tempat istirahat yang menyenangkan: coba Paman ke buryam Kemiri raya (Depan SMP). Di sana, saya biasanya berisitirahat sambil ngobrol sama yang jaga (namanya Didik). Cukup asyik dan inspiratif sembari ngembaliin tenaga..

      • Ini namanya hantu ketinggalan jaman, setau Paman Kemiri adanya SMAN-I (dulu sempet di situ soale, waktu Kemiri jalannya masih tanah-batu), baru denger kalo ada SMP (sekarang kalo ke S3 selalu di Kalimangkak, tidak Kemiri lagi). Baik, nanti saya tanya2 kalo pas ke sana. Trims infonya.

    • Baru ngeh di situ ada SMP Kristen. Lumayan, jam 6 pagi warung sudah buka, trims infonya Win. Baru ngeh juga, ternyata di Salatiga warung mie instan belum tentu ada telor 1/2 matangnya, tidak seperti di Jabodetabek.🙂 (Paman Hantu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s