Standar Penulisan Artikel Akademi Berbagi Salatiga

Akber Salatiga

Akber Salatiga

KETIKA SAYA MEMUTUSKAN keluar dari Akademi Berbagi (Akber) Salatiga, saya jadi teringat bahwa ada satu tugas yang belum yang saya selesaikan. Tugas itu adalah membuat Standar Penulisan Artikel.

Tugas ini sebenarnya muncul ketika Evan Adiananta menemui saya di tempat kerja saya. Waktu itu, ia melapor pada saya bahwa tulisan salah satu relawan Akademi Berbagi (Akber) Salatiga sudah selesai disunting. Namun dalam proses penyuntingan tersebut, ia mengeluh bahwa tulisan tersebut banyak sekali memuat asumsi pribadi.

Saya pun menanggapinya hal tersebut sebagai sebuah kewajaran. “Sebab mereka tidak pernah menulis berita. Dengan latar belakang mahasiswa, yang biasa mereka tulis itu cuma makalah atau jurnal ilmiah.”terang saya padanya.


Ia memahami hal tersebut. “Tetapi kalau begitu terus kita (para editor) yang bakal kerepotan,” timpal Evan segera.

Saya pun mengusulkan padanya bahwa harus ada standar penulisan dalam Akber Salatiga. Hal ini agar menjadi sebuah patokan bagi para relawan lainnya ketika dipasrahi tugas untuk menulis artikel.

Evan pun menyetujui hal tersebut. “Lalu kapan kamu ada waktu senggang? Setidaknya kita berdua mesti berdiskusi untuk merumuskannya,”

Kali ini saya langsung terdiam. Saya sadar sekarang waktu kosong saya sangat terbatas. Kebanyakan waktu saya terbuang dalam rutinitas pekerjaan. Akhirnya saya pun mengatakan padanya akan mengabari secepatnya kalau sudah ada waktu luang.

Namun sayangnya, hingga kini saya belum bisa ketemu dengan Evan. Hal ini disebabkan karena waktu kerja saya yang makin padat merayap. Belum lagi ada banyak proyek sampingan yang mesti saya kerjakan.

Oleh karena itu, saya pun memutuskan menuliskannya lewat blog pribadi saya.

***

JUJUR SAJA, waktu saya kebagian jatah untuk menulis artikel kelas Akber Salatiga, saya sedikit kebingungan. Kebingungan itu terletak pada bentuk dan konten dalam artikel tersebut.

Hal ini disebabkan belum adanya format yang pas dalam penulisan artikel kelas untuk Akber Salatiga. Pun dari pihak Akber Salatiga sendiri, bisa dibilang, cukup miskin dalam memproduksi tulisan. Hal ini membuat format yang seharusnya bisa terbentuk secara alami, jadi tidak bisa terbentuk sama sekali.

Bayangkan saja, sudah berjalan hampir 16 kelas, baru satu kelas yang ditulis (waktu itu). Padahal kalau ditilik ke Akber-Akber tetangga, mereka cukup rutin untuk menuliskan kelas-kelas yang mereka gelar ke dalam bentuk artikel.

Namun di sini, saya juga tidak bisa menyalahkan Evan—yang kebetulan memegang admin dokumentasi—sebagai pihak yang paling bertanggung jawab penuh. Sebab bisa dibilang, selama 16 kelas itu, ia bekerja sendirian. Saya pun memaklumi jika ia keteteran menuliskannya seorang diri. Dan daripada saya mencari kesalahan, saya mencoba menilik tulisan Evan sebagai referensi.

Ketika saya menilik tulisan Evan di kelas perdana tersebut, saya agak dibuat kebingungan oleh Evan. Dalam tulisan tersebut, terlihat Ia berusaha mengawinkan resensi filem “into the wild” dengan berita di kelas perdana Akber. Akibatnya, situasi dan isi kelas itu, saya kira kurang tergambarkan secara lengkap. Ya sudahlah, daripada saya pusing memikirkan bentuk maupun konten tulisan, saya pun memilih bergegas menulis.

Secara alamiah, saya pun menuliskan kelas “meningkatkan minat membaca” ke dalam format feature. Format feature, menurut hemat saya, mampu untuk menjawab tuntutan format artikel yang ideal untuk Akber, dimana memuat isi materi dari guru juga menggambarkan suasana kelas saat itu.

Namun sebelum saya bercerita lebih lanjut tentang pengalaman ketika saya menulis untuk Akber Salatiga, saya akan terangkan sedikit apa itu feature.

News Feature

News Feature

Feature merupakan tulisan yang dibangun di atas fakta, yang dimana bentuknya panjang ketimbang berita pendek (straight news). Namun ada yang menerjemahkan feature sebagai “berita kisah”, sebab kontennya kebanyakan berisikan human interest. Ada juga ada yang menyebutnya feature sebagai “tulisan dengan gaya”, sebab gaya tulisan yang dipakai lebih ke narasi layaknya novel atau cerita pendek (cerpen).

Ketika sudah cukup memahami arti dari feature tersebut, saya pun mulai menentukan angel (angle) terlebih dahulu. Penentuan angel ini sangat penting sebab angel yang ketat merupakan prasyarat pertama untuk bisa menulis feature yang bagus.

Ini seperti kita memotret suatu peristiwa melalui sebuah kamera: apakah dari depan, dari samping, atau kita fokus saja pada sesuatu yang menurut kita paling menarik (sekumpulan orang, atau kejadian: orang mengantuk dalam sidang DPR, kerumunan di sekitar pedagang pada saat kampanye, dst), atau kita fokus pada orang-orang paling penting dalam sebuah acara.

Setelah berpusing-pusing ria untuk menentukan angel. Saya pun akhirnya menentukan angel yang pas untuk artikel Akber. Saya memilih bertindak sebagai orang ketiga yang mencatat peristiwa apa yang terjadi dan bagaimana prosesnya.

Lalu dari proses penentuan angel, saya pun beranjak pada proses penulisan. Dalam proses penulisan memakai format feature, ada hal-hal yang wajib diperhatikan. Yang pertama adalah lead (kalimat pembuka). Ada satu tuntutan dimana Lead harus memikat. Karena ialah sang pembuka jalan. Gagal dalam menuliskan lead, pembaca bisa tidak meneruskan membaca.

Hal kedua adalah pemilihan kata-kata yang akan dipakai. Format feature menuntut saya untuk lebih jeli memilah-milah tiap kata yang akan saya masukkan ke dalam kalimat. Dengan bahasa yang menarik dan tangkas, para pembaca akan mudah menangkap apa maksud kita .

Hal terakhir yang wajib diperhatikan adalah struktur dan alur penulisan. Ini agak susah. Dalam feature, kita dihadapkan pada dua pilihan yakni membuat kronologi atau kilas balik. Kronologis sendiri artinya peristiwa diurutkan dari awal hingga akhir. Ini alur yang paling mudah dibuat, tapi memiliki kelemahan: tidak banyak ada kejutan, kalau bahasanya tidak tangkas menjadi tidak menarik. Sebaliknya kilas balik dimulai dari yang terkini, baru mundur ke belakang.

Selain kedua pilihan itu, kita juga bisa membuat feature dengan alur yang sifatnya konvergen atau divergen. Dari banyak peristiwa yang seolah-olah terpisah, kemudian disatukan di ujung sebagai sebuah kisah yang punya pertalian sama. Sebaliknya, strukur divergen akan membuat cerita dari satu peristiwa kemudian menyebar menjadi berbagai kisah. Intinya adalah plot. Namun khusus untuk tulisan di Akber, saya memilih mengkronologikannya.

***

DARI PENGALAMAN yang saya bagikan tersebut, saya tidak berharap bahwa teman-teman dari Akber mesti atau wajib menulis seperti saya. Sebab, tiap orang punya gaya dan format andalan masing-masing. Dan saya menghormati hal itu.

Terlepas dari hal itu semua, saya perlu serta mengingatkan bahwa artikel untuk Akber sendiri mestilah berpijak pada data dan fakta yang ada, bukan pada asumsi pribadi.  Hal ini rasanya kerap kali terjadi ketika saya menyunting tulisan-tulisan dari rekan-rekan relawan lainnya.

Lalu bagaimana saya bisa tahu mana yang asumsi dan mana yang data?

Akan sedikit saya buka dapur penyuntingan milik saya. Tiap kali saya melakukan penyuntingan, saya juga memakai  pengecekan fakta ala Tom French yang disebut Tom French’s Colored Pencil. Metode ini sederhana. French, seorang spesialis narasi panjang nonfiksi dari surat kabar St. Petersburg Times, Florida, memakai pensil berwarna untuk mengecek fakta-fakta dalam karangannya, baris per baris, kalimat per kalimat.

Selain itu, guna memeriksa akurasi, saya memakai teknik dari David Yarnold dari San Jose Mercury News yang mengembangkan satu daftar pertanyaan yang disebutnya “accuracy checklist.” Berikut saya sertakan list pengecekan tersebut:

  • Apakah lead berita sudah didukung dengan data-data penunjang yang cukup?
  • Apakah sudah ada orang lain yang diminta mengecek ulang, menghubungi atau menelepon semua nomor telepon, semua alamat, atau situs web yang ada dalam laporan tersebut?
  • Bagaimana dengan penulisan nama dan jabatan?
  • Apakah materi background guna memahami laporan ini sudah lengkap?
  • Apakah semua pihak yang ada dalam laporan sudah diungkapkan dan apakah semua pihak sudah diberi hak untuk bicara?
  • Apakah laporan itu berpihak atau membuat penghakiman yang mungkin halus terhadap salah satu pihak? Siapa orang yang kira-kira tak suka dengan laporan ini lebih dari batas yang wajar?
  • Apa ada yang kurang?
  • Apakah semua kutipan akurat dan diberi keterangan dari sumber yang memang mengatakannya? Apakah kutipan-kutipan itu mencerminkan pendapat dari yang bersangkutan?

Nah, saya kira cukup itu saja tulisan saya tentang “Standar Penulisan Artikel Akademi Berbagi Salatiga”. Jika ada yang merasa kurang, silahkan ditambahkan. Pun juga kalau ada berlebihan, silahkan dikurangi. Saya berharap artikel ini mampu dimanfaatkan bagi para relawan Akber Salatiga.

Rujukan lebih lanjut:

Mohamad, Goenawan (1997), Seandainya saya Wartawan Tempo (Jakarta: ISAI dan Yayasan Alumni Tempo)

Kovach, Bill, (2005). Sembilan Elemen Jurnalisme. (Jakarta: Pantau)

Salatiga, Januari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s