Catatan Pinggir Seorang Relawan

#SetahunAkberSalatiga

#SetahunAkberSalatiga

PADA JUMAT, 23 NOVEMBER 2013 lalu, saya datang ke acara ulang tahun pertama Akademi Berbagi (Akber) Salatiga yang bertempat di kedai merah putih. Di sana, seperti biasa, saya hendak menjalankan main job saya sebagai admin live twit.

Tetapi karena tidak terlalu membaca rundown acara yang dibikin Ika Tri Hutami, saya tidak tahu kalau ternyata saya juga diwajibkan untuk maju ke depan guna memberikan kesan-kesan selama bekerja di Akber Salatiga.

Akhirnya tanpa persiapan seadanya, saya pun memaksakan diri untuk maju. Dan ketika giliran saya untuk berbicara tiba, saya pun langsung bingung mau berbicara apa. Spontan, saya mulai berbicara ngalor-ngidul. Mulai dari ucapan terima kasih karena mendapatkan kepercayaan sebagai salah satu admin sampai kesenangan saya dalam bertemu banyak orang.

Seusai acara, dalam benak saya, saya pun kembali bertanya pada diri saya sendiri: sebenarnya saat maju tadi, saya sedang ngomong apaan, sih? Kenapa rasanya omongan itu jauh sekali dari kenyataan yang saya rasakan selama ini di Akber Salatiga? Apakah saya sedang menipu diri saya sendiri?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul tersebut, saya pikir saya wajib menilik ulang setiap momen selama berada di Akber Salatiga. Momen-momen tersebut akan saya rangkum ke dalam bentuk tulisan. Sebab, dengan menuliskannya, momen-momen yang pastinya tercecer akan kembali rapi dan abadi.

***

SETAHUN YANG LALU, ketika saya baru saja keluar dari Pers Kampus, saya diajak oleh Neny Isharyanti untuk bertemu dengan kawannya di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari STAIN, Salatiga. “Kita sekalian makan saja,”ajaknya saat itu kepada saya dan Evan Adiananta. “Toh, kalian kan lagi tidak punya uang,” ujarnya.

Waktu itu, saya yang memang sedang kehabisan uang, tidak menampik ajakan Neny tersebut. Pun dengan Evan.

Akhirnya kami bertiga sepakat pergi bersama ke Kafe Ole, yang letaknya ada di daerah Tentara Pelajar searah dengan STAIN Salatiga sekitar jam 7 malam.

Mendengar tempat tersebut, saya agak rikuh. Sebab sepemahaman saya waktu itu, kafe tersebut termasuk kafe kelas atas di Salatiga. Ke-kelas atas-an disini disebabkan konsep tempat yang diusungnya memakai gaya garden cafe, yang biasanya ada di kota besar.

Tetapi Neny mengatakan pada saya, tidak-masalah soal itu. “Toh, uang saya masih cukup, kok, untuk bisa membayari makan kalian berdua,”

Setiba di sana, Neny segera menuju tempat duduk kosong yang letaknya dekat dengan taman. Saya dan Evan mengikutinya di belakang. Kami disuruh segera memesan makanan.

Tiba-tiba dari arah belakang saya, ada seorang wanita datang serta memanggil nama Neny. Saya yang terkejut langsung menoleh ke belakang. Wanita itu bertubuhnya tinggi besar. Rambutnya diikat ekor kuda. Ia terlihat sangat santai dengan setelan blous dikombinasikan dengan celana panjang kain hitam.

Neny yang kaget dengan kedatangan tiba-tiba wanita itu, segera bangkit berdiri dan memeluknya. “oh, iya, kenalkan ini kedua mahasiswa saya. Lain Fakultas. Mereka ikut pertemuan kita karena sedang lapar,”jelas Neny padanya.

Saya yang masih kikuk karena postur tubuhnya yang tinggi menjulang, segera menjabat tangannya sambil bangkit dari kursi.

Ainun, ”ujar wanita itu memperkenalkan diri.

Ia segera duduk berhadapan dengan Neny. Mereka langsung bertukar cerita tentang kegiatan sekarang dan tak kadang mengobrolkan masa lalu. “Neny ini adalah adik tingkat saya di SMAN 1 Salatiga. Dulu ketika jaman masih sekolah, ia terlihat paling unik diantara adik-adik angkatan lainnya,” ujarnya sambil tertawa.

Unik seperti apa?

”Ya, dia itu kecil, pakai kacamata besar dan tiap hari selalu datang pakai sepeda jengki tua. Kalau tidak salah waktu itu hanya tiga orang saja yang pakai sepeda jengki waktu itu. Lainnya rata-rata milih jalan kaki,” terang Ainun pada saya.

“Eh, enggak ya. Lha, sama bapakku aku dikasihnya itu. Ya, sudah aku pakai saja, to.”

Ainun kembali tertawa. Mereka terus bercerita tentang masa lalu. Mulai dari teman-teman waktu itu sampai para guru. Bahkan sempat juga menyinggung Sembir, sebuah daerah lokalisasi yang cukup terkenal hingga sekarang.

“Jadi dulu, waktu UAN kan ada penilaian mata pelajaran olahraga. Lha, tesnya itu kita diwajibin lari-lari maraton. Rutenya dari sekolah ke daerah STT Berea terus ke naik Sembir, lalu lewat ngebong baru balik ke sekolah lewat Kemiri,” kisahnya lagi. ”Nah, pas kami lewat Sembir, kami ketemu sama mbak-mbak yang jaga karokean Sembir. Para anak cowok itu digoda mbak-mbaknya yang ada di situ. Godaannya itu kaya begini ‘mas-mas, mbok ya mampir sini. Takkasih yang enak-enak,” lanjutnya sambil meniru ucapan mbak-mbak Sembir tersebut.

Sontak mendengar cerita itu, tawa saya langsung meledak. Saya membayangkan situasi saat itu pasti sangat memalukan. Padahal jika saya jadi mereka, saya sudah pasti menerima tawaran mbak-mbak itu. Dikasih barang enak, siapa yang enggak mau? Apalagi barang enak itu punyanya mbak-mbak. Pasti rasanya glek.

Dari cerita tersebut, Ainun kembali memberikan topik pembicaraan lain. Ia mengatakan bahwa ada satu lagi teman akan datang. “Dia dulu teman SMP-ku” ujar Ainun. “Nah, setelah dia datang, baru nanti kita bicarain topik yang kita bahas tadi di twitter, Nen,” imbuhnys lsgi..

Proyek? Proyek apa?

Belum sempat pertanyaan saya terjawab, Neny menimpali bahwa ada satu orang lagi yang akan datang. Orang itu adalah Yakub Adi Kristanto, seorang dosen Fakultas Hukum. Saya maupun Evan sudah pasti kenal siapa Yakub itu, tetapi tidak dengan Ainun. Ia tampak diam dan bertanya siapa Yakub itu.

“Yakub itu adik tingkat saya setahun, mbak. Jadi kalau mbak dulu kelas 3 dia baru kelas 1,”jawab Neny yang tampaknya peka dengan wajah Ainun.

Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya tiba dan langsung menegur Ainun. Mereka langsung bersalaman sambil mencium pipi kanan dan kiri. Wanita itu tubuhnya agak pendek dan berbadan besar. Kulitnya coklat, khas orang Jawa. Rambutnya yang keriting memanjang hingga bahu. Lipstik merah tebal memoles bibirnya.

“Perkenalkan ini namanya Monika,”terang Ainun pada kami bertiga. “Nah, karena Monik sudah datang. Saya akan membicarakan proyek yang kita bicarakan tadi di Twitter, ya, Nen?”imbuhnya lagi.

Neny mengangguk.

“Begini, saya ingin membangun Akber di Salatiga. Di sebuah forum email Orang Salatiga yang ada di jakarta, saya acapkali dibabat habis oleh orang-orang di dalamnya karena Akademi Berbagi tidak pernah dibangun di Salatiga, yang notabene adalah kota kelahiran saya. Jadi oleh karena itu saya meminta salah satu dari kalian ada yang membuatnya,”

Sebentar, Akber itu apa, tanya saya pada Ainun.

Ia menjelaskan bahwa Akber adalah sebuah gerakan sosial yang mengajak masyarakat untuk belajar bersama. Proses pembelajaran di sini dilakukan di dalam sebuah kelas yang nantinya akan dipimpin seorang guru.

Lalu apa bedanya dengan Indonesia Mengajar?

“Tentu saja beda. Jika Indonesia Mengajar itu kan lebih pada pendidikan formal. Kalau Akber itu lebih pada pendidikan informal. Selain itu sasaran keduanya juga berbeda. Jika Indonesia Mengajar itu lebih pada masyarakat di daerah terpencil, Akber sendiri lebih menyasar pada masyarakat yang membutuhkan,” jawabnya.

“Dan sebenarnya Akber sendiri bermula ketika saya ingin belajar tentang copywriting. Namun karena kesibukan saya di tempat kerja dan sebagai single mother, saya tidak pernah punya waktu untuk mempelajarinya. Lebih dari itu topik tersebut membutuhkan pendamping alias guru yang ahli dalam proses pembelajarannya,” kisahnya lebih lanjut.

“Nah, suatu kali di twitter, saya menyapa Subiakto. Saya segera memintanya mengajari saya. Namun saat itu, ia menolaknya mentah-mentah. Ia mengatakan bahwa ia akan mengajar hanya kalau murid yang datang sekitar 10 orang.”

Ainun pun segera mencari beberapa teman yang memang tertarik untuk mempelajari topik tersebut. Dan tak tanggung-tanggung, ada sekitar 10 orang lebih yang berkumpul. Alhasil karena mampu memenuhi persyaratan dari ahli tersebut, kelas itu akhirnya dapat digelar.

Usai kelas itu, Ainun mulai berpikir lebih dalam. Ia mulai memikirkan bagaimana kelas semacam ini terus dilestarikan. Ia bermaksud membudidayakan hal ini dalam sebuah gerakan sosial. Sebab dengan begitu, kelas semacam ini mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk mendirikan Akber.

“Jadi itulah awal mula Akber dibangun. Hal yang perlu diingat adalah kelas yang diselenggarakan Akademi Berbagi gratis alias tidak dipungut biaya. Jadi dari tempat, guru sampai pendaftaran kelasnya tidak dipungut biaya sepeser pun.”

“Nah, lho kok bisa?”tanya Evan.

“Bisa saja. Di sini kita menggunakan sistem lobi untuk mendapatkan tempat sampai para gurunya. Kalau ada yang tidak mau, tidak perlu dipaksa,”jawab Ainun.

Saya pun mulai berpikir, bagaimana bentuk kelas ini sebenarnya. Apa yang diceritakan oleh Ainun terlalu abstrak. Tidak dapat saya imajinasikan sama sekali. Ah, nanti cek saja di youtube.

Tiba-tiba Yakub datang dari arah belakang. Ia langsung meminta maaf karena masih ada urusan lain.

“Wah, padahal kita sudah mau selesai, lho.”sindir Neny.

Seolah tak mendengar, ia tetap berusaha membuka topik pembicaraan dengan Ainun. Ainun pun terpaksa mengulang cerita lagi dari awal. Saya sendiri sudah cukup mengantuk mendengarkan kisah dari Ainun.

***

DUA MINGGU sejak pertemuan dengan Ainun, Neny yang didaulat sebagai Kepala Sekolah, segera mengundang saya dan Evan untuk rapat tentang kelas perdana Akber Salatiga. Ia segera memberikan kami tugas masing-masing. Evan sebagai bagian dokumentasi (foto maupun tulisan), saya sebagai admin sosial media.

Akber Salatiga

Akber Salatiga

Ia juga langsung mengusulkan bahwa kelas perdana Akber Salatiga adalah tentang “Tips Backpacking”. Kelas itu dibawakan oleh mahasiswanya, yang seorang backpacker profesional bernama Angga Widiatama.

“Lalu bagaimana dengan tempatnya? Mau di kampus atau..”

“Jangan di kampus,” sergah Neny segera, ”terlalu administratif dan memberikan kesan eksklusif. Takutnya nanti, masyarakat malah tidak mau datang,”

Saya sepakat-sepakat saja dengan pendapat Neny yang satu ini. Selintas, jika saya tilik secara subjektif, status pekerjaan utama masyarakat Salatiga adalah pengusaha. Dan biasanya para pengusaha itu punya gaya hidup praktis. Gaya hidup tersebut secara otomatis melebur ke dalam lapisan masyarakatnya juga. yang dimana mereka menjadi masyarakat paktis dan tidak suka hal yang muluk-muluk. Toh, hidup sudah rumit, kenapa harus memperumit diri lagi?

Namun pendapat saya tersebut agaknya perlu ditinjau lebih dalam lagi. Bahkan kalau perlu dibuktikan lewat penelitian ilmiah.

Dan lagi-lagi Neny akhirnya kembali mengambil keputusan sendiri. Lokasi untuk kelas perdana Akber Salatiga akan diadakan di Balai Dukuh. Tempatnya memang besar. Dapat menampung hampir 50 orang lebih. Sayangnya bangunan tersebut tampak seperti bangunan bekas jaman kolonial. Langit-langitnya berlubang dan catnya tak terlalu dirawat. Kotor dan cenderung agak kumuh.

“Tempat itu bisa disewa dengan cuma-cuma, Tinggal ijin ke bapakku saja,” jawab Neny enteng. “Nanti kalau kelasnya akan dimulai kita bakal bersih-bersih dahulu,”

Kelak usai kelas perdana, saya baru tahu bahwa tempat tersebut dikelola oleh Bapak Neny, yang notabane adalah Ketua Rukun Tetangga (RT) daerah tersebut.

Ketika kelas digelar, sambutan dari masyarakat ternyata lumayan meriah. Hal ini terlihat dari ada sekitar 25 orang lebih yang datang. Tidak termasuk saya dan para relawan lainnya. Saya melihat, mayoritas yang datang saat itu adalah para mahasiswa-mahasiswi Neny. Pihak luar alias dari pihak masyarakat masih sedikit. Lumayanlah…

Tapi sayangnya secara teknis, kelas perdana itu masih banyak sekali meninggalkan kekurangan. Semisalnya saja, live tweet yang berantakan, dokumentasi yang terbatas, listrik yang tidak memadai, bahkan sampai ruang kelas yang langit-langitnya bocor. Lebih dari itu, Yakub, yang awalnya diproyeksi akan menjadi kepala sekolah berikutnya, tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.

Sependek pengetahuan saya, saat itu ia mengonfirmasi bahwa ketidakdatangannya sendiri dikarenakan ia sedang mengurusi tim sepak bola Fakultasnya. Namun karena di beberapa kelas selanjutnya, Yakub tak juga datang, maka akhirnya secara sepihak ia didepak dari kepengurusan Akber Salatiga.

Dibalik di sana-sini, eksistensi kelas-kelas di Akber Salatiga dapat terus terjaga. Hal ini disebabkan guru-guru yang datang merupakan koneksi Neny.

Saya yang dipasrahi admin sosial media. jadi lebih terbantu karena sudah tidak perlu memikirkan hal-hal teknis tentang kelas atau siapa pengajarnya. Seluruh tenaga saya dapat terfokuskan pada promosi kelas-kelas Akber Salatiga, baik itu lewat sosial media maupun langsung ke masyarakat.

Namun promosi kelas dari Akber Salatiga itu tidak terlalu mendapat dukungan penuh dari Akber Jakarta, yang menjadi markas sentral Akademi Berbagi. Hal ini disebabkan Akber Salatiga, baik itu secara kepengurusan maupun organisasi, belum dimasukkan ke dalam website resmi dari Akademi Berbagi.

Seingat saya, salah satu pengurus Akber Jakarta pernah mengatakan pada saya bahwa hal ini disebabkan para pengurus Akber Jakarta sedang sibuk mengurusi kerjaan lainnya. “Jadi karena masih ada banyak kerjaan lainnya, kami masih belum mampu untuk menginputnya. Lagipula masih banyak, kok, kota yang belum dimasukkan ke dalam website,” ujar pengurus itu dengan santai.

Sejujurnya ketika saya mendengar alasan tersebut, saya langsung kecewa sekaligus marah. Sebab menurut hemat saya, jika Akber Salatiga bisa dimasukkan ke dalam website resmi, pastinya akan sedikit membantu promosi. Selain itu, kedudukan Akber Salatiga akan lebih terlegistimasi di kancah nasional.

Tetapi, ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi?

Hal yang terpenting adalah Akber Salatiga mampu tetap eksis secara nyata, yang artinya kelas-kelas terus diadakan dan masyarakat kota Salatiga mau datang ke dalam kelas tersebut. Toh kelak dua minggu, atau tepatnya setelah hampir setahun Akber Salatiga berdiri, salah satu pengurus website Akademi Berbagi, akhirnya memasukkan nama Akber Salatiga ke dalam website resmi setelah mendapat intervensi langsung dari Ainun.

Lepas dari persoalan tidak terdaftarnya Akber Salatiga dalam website resmi Akademi Berbagi, persoalan pelik yang lain adalah pergantian Kepala Sekolah.

Asal anda tahu, Neny saat menjabat Kepala Sekolah, juga masih terdaftar sebagai mahasiswa S3 di Universitas Melbourne. Dia berada di Indonesia saat itu, karena sedang cuti studi. Dan pada Mei 2013 lalu, ia diwajibkan kembali ke Melbourne untuk meneruskan masa studinya.

Hal ini tentu saja mengancam Akber Salatiga yang baru berdiri. Sebab tak bisa dipungkiri bahwa Neny adalah poros utama dalam pergerakan Akber Salatiga. Dia tidak hanya bekerja sebagai “Kepala”, namun juga “anggota tubuh” lainnya.

Dari sana, pertanyaan yang timbul adalah siapa yang bisa dan mau menggantikan Neny sebagai Kepala Sekolah? Secara dengan situasi mendadak seperti ini, apakah ada orang yang punya kemampuan serupa dengan Neny?

Beberapa nama dimunculkan. Mulai dari Ika Tri Hutami sampai Daniel Kristiyanto masuk bursa Kepala Sekolah. Bahkan nama saya sempat dimunculkan juga.

Tetapi ketika mengetahui nama saya dimunculkan, saya langsung menyanggahnya. Waktu itu saya memberikan alasan bahwa saya sedang disibukkan penyelesaian skripsi. “Dan lagipula, saya tidak akan lama lagi berada di Salatiga. Kelak jika saya sudah lulus, saya akan meninggalkan kota ini dan pun juga Akber Salatiga,”jawab saya.

Neny pun memahami penolakan saya. Ia segera beralih pada Ika. Dalam hal ini, Ika bisa dikatakan calon terkuat sebagai Kepala Sekolah. Selain asli putri Salatiga, ia juga sudah mengikuti Akber Salatiga sedari awal berdiri. Tentunya ia tahu seluk-beluk Akber Salatiga.

Namun lagi-lagi calon kedua ini terpaksa gagal karena Ika mendapatkan beasiswa Fullbright ke Universitas Michigan di Amerika Serikat. Hal ini tentu membuat ia tidak bisa mengurusi Akber Salatiga secara langsung.

Akhirnya, Danny yang jadi nama terakhir dalam bursa kepala Sekolah itu pun dilobby. “Kalau untuk Danny—sapaan akrab Daniel, biar saya sendiri saja,”ujar Neny yang sudah mengenal Danny sejak tahun 2000.

Sekalipun sedikit alot, dengan sedikit bujuk rayu dari Neny, akhirnya Danny pun menyanggupi jabatan Kepala Sekolah pada kelas “Membangun Minat Membaca Sejak Dini”.

Ketika pertama kali melihat Danny memimpin, ada ragu yang tiba-tiba menyelinap masuk dalam benak saya. Namun seiring berjalannya waktu, keraguan saya mulai menghilang. Saya merasa yakin dengan kapasitas Danny sebagai Kepala Sekolah, bahkan bisa melebihi Neny.

***

KETIKA SAYA BERHASIL merampungkan seluruh momen-momen tersebut ke dalam tulisan, saya baru sadar bahwa catatan ini sangatlah panjang. Tentunya anda yang membacanya pastilah sebal karena catatan ini terlalu panjang.

Namun dari catatan ini, saya jadi sadar bahwa selama ini saya masih kurang bisa menangani gerakan sosial semacam ini. Ada banyak sekali batasan-batasan yang belum bisa saya lewati. Mulai dari sisi emosional sampai alokasi waktu untuk Akber Salatiga. Ini membuat saya merasa kurang optimal ketika bekerja.

Selain itu, saya juga merasa bahwa tantangan di Akber Salatiga sendiri sudah tidak ada lagi. Oleh sebab itu, saya pun memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai relawan Akber Salatiga. Saya ingin mencari tantangan segar agar dapat memuaskan saya dan bisa lebih mengasah kemampuan saya.

Lebih dari itu, sudah sepantasnya saya berterima kasih pada para relawan Akber Salatiga yang sudah membantu saya berkembang selama ini. Para relawan mengajarkan pada saya bahwa menjadi relawan, bukanlah kita bekerja seorang diri. Sebaliknya, kita mesti berusaha keras agar kinerja para relawan lainnya terbantu. Terima kasih banyak. Semoga Akber Salatiga tetap berjaya.

Salatiga, 12 Desember 2013

9 thoughts on “Catatan Pinggir Seorang Relawan

  1. Risalah ini menjelaskan banyak hal, bukan cuma soal akber salatiga tapi juga sejarah akber. Sayang banget kamu sudah gak disitu lagi, tapi semoga jadi semangat tuk mencapai hal-hal baru lagi ditempat lain. Dapet teman baru dan pengalaman baru.🙂

  2. Aku baru baca tulisan ini, entah kenapa baru lihat setelah masuk group Akber. Dengan segala kerendahan hati saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Erwin yang bersedia membangun Akber Salatiga dari awal, sekaligus saya memohon maaf sebesar-besarnya.

    Mungkin sedikit saya memberi penjelasan, kami memang punya masalah dengan website, kami sejujurnya tidak mudah mengakses ke admin website. Bagaimana bisa begitu, kan website kami sendiri? Ceritanya panjang, dan tadinya saya tidak ingin bercerita kesulitan dan segala macam kerumitan kami pengurus Jakarta, tetapi mungkin sebaiknya saya beritahu supaya jelas.

    Website kami adalah sumbangan dari lembaga, dan ketika lembaga itu mengalami masalah website kami pun terimbas. Bahkan hanya menyelamatkan data pun kami harus mengerjakan manual satu persatu, belum lagi domain kami yang nyangkut setahun lebih tanpa bisa kita ambil, Kami tidak diam saja, untuk bisa mengambil alih website sehingga sepenuhnya ada dalam kendali kami, butuh setahun lebih bahkan nyaris dua tahun. Dan baru minggu lalu bisa sepenuhnya domain dan website ada dikendali kami, dan sekarang pelan-pelan memindahkan data.

    Mohon maaf atas kelambatan kami, karena sejujurnya mengerjakan Akber disela-sela aktivitas utama kami di Jakarta yang sangat “keras” bukan hal mudah. Bahkan kadang ada titik tertentu saya mau menyerah. Tapi lagi-lagi menyerah bukan jalan keluar yang baik.

    Belum lagi, badai yang sedang menghantam internal pengurus Akber, koordinator nasional meninggalkan Akber tanpa kabar, dan koordinator relawan & organisasi meninggal dunia. Sehingga mau tidak mau saya turun tangan membereskan dan bahkan ada bagian yang kami harus mengulang dari nol.

    Kalo Erwin ingat ini saat kamu menelpon saya berkali-kali, terus saya janji mau nelpon lagi tapi lupa. Saya memang dalam kondisi pekerjaan yang menumpuk, tidak punya pembantu sehingga harus ngurus rumah & anak sendiri, dan Akber yang mengalami kekacauan.

    Saya bukan tidak mau disalahkan, tetapi saya hanya meminta sedikit pengertian untuk pengurus Jakarta. Kerja keras mereka untuk menjaga Akber tidak oleng dan karam sungguh luar biasa.

    Terakhir, buat semua relawan dan mantan relawan Akber di manapun, terimakasih atas kerja keras kalian dan semoga jejak kerja kalian bisa terus memberikan manfaat buat orang banyak.

    Salam hormat,

    Ainun
    Koordinator Nasional Akademi Berbagi

    • Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, mbak Ai. Pun juga telah berkomentar.

      Saya sangat menghargai permintaan maaf dari mbak Ai tersebut. Semoga kejadian tersebut dapat memberikan pelajaran bagi semua pihak.

  3. Pingback: Standar Penulisan Artikel Akademi Berbagi Salatiga | The Wordsmith

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s