Pulang ke Rumah

HAMPIR TIAP akhir pekan, rumah indekos saya selalu terlihat sepi. Hampir sebagian penghuninya lebih memilih pulang ke rumah. Maklum, rata-rata daerah asal mereka itu masih berada di wilayah Jawa Tengah. Ada dari Cilacap, Tegal dan ada pula yang dari Temanggung dan Semarang. Mungkin butuh 2 – 3 jam saja untuk sampai di rumah mereka.

Sedangkan yang di rumah indekos, paling cuma saya bersama dua orang lainnya saja. Dua orang yang tersebut memang berasal dari jauh. Yang satu berasal dari Jakarta, yang satunya lagi berasal dari Lampung. Cukup wajar jika mereka memilih tidak pulang dan menghabiskan akhir pekan di kost.

Saya sendiri berasal dari Madiun. Dari Salatiga menuju ke Madiun cuma butuh waktu 4 jam saja. Itu pun sudah terhitung dua kali ganti bis. Tidak terlalu lama.

Tetapi saya sendiri lebih memilih tidak pulang ke rumah. Ada tiga alasan yang membuat saya tidak ingin pulang. Yang pertama, lelahnya perjalanan menuju Madun.

Di awal tadi sudah saya singgung bahwa perjalanan dari Salatiga menuju Madiun memakan waktu sekitar 4 jam. Namun jalan yang dilalui selama 4 jam itu tidaklah senyaman jalan raya di daerah Jawa Tengah. Jalan raya menuju Jawa Timur banyak sekali yang tidak rata. Banyak lubang menganga di mana-mana. Belum lagi ditambah pengguna jalan yang semena-mena. Ini menambah derita perjalanan pulang saya.

Yang kedua, adalah saya tidak tahu apa yang mesti saya kerjakan bila saya ada di rumah.

Percaya atau tidak, bila saya berada di rumah, kerjaan saya hanya makan dan tidur saja. Paling keluar hanya beli rokok saja. Selebihnya saya menghabiskan waktu untuk nonton Tivi atau filem di laptop saja. Hal ini sempat diprotes oleh kakak perempuan saya. ia mengatakan bahwa saya seperti seorang babi yang kerjanya malas-malasan saja.

“Lalu saya mesti ngapain?” tanya saya padanya.

“Bantu-bantu toko, kek bantuin Mama,”jawabnya cepat sambil berlalu.

Memang, sih, saya punya opsi untuk menjaga toko. Namun saya tidak pernah punya minat untuk menjaga toko. Kalau boleh saya nilai, kemampuan dagang saya sangat jelek, apalagi kemampuan tawar menawar.

Hal ketiga sekaligus terakhir yang bikin saya tidak bisa pulang adalah saya belum lulus.

Jika anda mendengar alasan ini, sudah pasti anda akan mendengar alasan ini tidaklah logis. Tidak ada kaitannya antara kepulangan ke rumah dengna kebelum lulusan seseorang. Namun bagi saya ini cukup logis.

Setahun yang lalu, saya pernah berjanji pada Mama saya bahwa saya tidak akan pulang sebelum merengkuh gelar sarjana. Sebagai anak, saya ingin sekali membahagiakan dia dengan memberikan sebuah gelar sarjana yang berasal dari Universitas impiannya jaman muda. Sebagai anak juga, saya ingin membuat dia mengakui bahwa saya sudah berkembang dari Kakak perempuan saya.

Alasan yang terakhir itu jugalah yang membuat saya nekat tinggal sendirian di kost waktu liburan Natal dan semester kemarin.

Namun sebuah kejadian yang tak terduga muncul pada Mei 2013 lalu. Kejadian itu adalah dimana saya divonis untuk ujian ulang oleh salah seorang dosen pembimbing saya dan Biro Skripsi. Terus terang ini membuat saya terkejut karena menurut dosen pembimbing lainnya saya cuma diminta untuk ganti variabel saja. Karena ketidakjelasan situasi itu, akhirnya saya pun memilih untuk mengganti topik secara keseluruhan saja.

Kejadian ini tentu saja menghancurkan jalur kelulusan saya, pun menghancurkan segala harap dan impian saya untuk segera menjadi sarjana. Saya yang remuk segera menuliskannya semua curhatan saya itu ke dalam blog.

Usai tulisan terakhir itu selesai, tiba-tiba keesokan harinya saya langsung ditelepon oleh Mama. Ia meminta saya untuk pulang dan menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi dalam skripsi saya. Saya yang mendengarnya permintaan pulang Mama itu langsung terkejut. Apakah ia tahu saya divonis ujian ulang ulang oleh pembimbing saya? Bagaimana ia bisa tahu soal ini?

Bulu kuduk saya kontan langsung merinding.

“Masalah apa?”tanya saya balik pada Mama.

Mama segera menjelaskan bahwa tanpa sepengetahuan saya, seluruh tulisan itu ternyata dibaca oleh Kakak perempuan saya. Saking khawatirnya atas kondisi yang benar-benar nge-down, kakak perempuan saya menceritakan isi dari tulisan itu kepada Mama ataupun Papa. Dan tanpa banyak berpikir, keduanya langsung bersepakat untuk meminta saya untuk pulang ke Madiun.

“Tetapi masih ada yang harus saya selesaikan di sini,”ujar saya pada Mama di telepon.

“Baik. Selesaikan semuanya sesegera mungkin. Terus kamu cepat pulang ke Madiun. Seluruh biaya akan Mama tanggung,”jawab Mama tegas.

Ketegasan Mama ini makin membuat bulu roma saya merinding. Kenangan-kenangan buruk dimana saya sering dimarahi dan dihajar habis-habisan karena berbuat salah pun terlintas cepat bagaikan filem yang diputar cepat. Tetapi anehnya, saya tidak bisa mengucapkan kata tidak pada permintaan pulang itu.

“Baik. Saya akan pulang pada awal Minggu ketiga Juni. Seluruh urusan saya di Salatiga sudah kelar pada akhir minggu kedua,”jawab saya.

“Tapi ada satu hal yang mesti kamu lakukan setiba sampai di rumah.”

“He? Apa?”

“Potong rambut. Rambut panjangmu itu nggilani sekali tahu. Jijik Mama lihatnya,”

Saya langsung ketawa terbahak-bahak ketika mendengar permintaan paling aneh itu. Saya sepakat karena rambut saya saat itu memang sudah terlalu panjang dan sudah saatnya untuk dicukur.

***

Pada Minggu ketiga Juni 2013, barang-barang bawaan sudah saya masukkan ke dalam ransel dan tas selempang butut warisan kakak saya. Dari baju sampai kemeja. Dari celana panjang sampai celana dalam. Dari laptop sampai ke kamera poket. Semuanya lengkap.

Tetapi entah kenapa, sesaat menjelang keberangkatan. hati saya tidak tenang. Ada gelisah yang menyelinap sejak saya bangun dari tidur pagi. Ia menyeruak dan membuat mood saya jadi tidak enak.

Mungkin itu cuma efek kurang tidur saja, pikir saya waktu itu. Malam sebelumnya, memang saya tidak bisa tidur. Kalau tidak salah, saya baru terlelap sekitar jam 3 pagi. Semua itu disebabkan karena saya —agak―memikirkan apa yang bakal terjadi sesampainya di rumah. Darimana saya mesti bercerita; Apa yang mesti saya ucapkan pada kedua orangtua saya.

Namun pertanyaan-pertanyaan itu lenyap seketika saat saya melihat jam dinding sudah menunjukkan angka 10. Saya langsung saja bergegas cepat menuju ke perempatan antara Turen dengan Kalimangka. Saya takut apabila tidak dapat bis.

Dan benar saja, bis ke arah Solo sudah jarang yang berlalu lalang jam segitu. Terpaksa saya mesti menunggu beberapa menit.

Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya ada sebuah bis datang. Ia berhenti tepat di depan saya. Saya pun langsung meloncat naik masuk ke dalam. Dan ternyata, di dalamnya seluruh kursi sudah penuh. Tak ada satu pun kursi kosong yang terlihat. Saya pun terpaksa berdiri menyandar di deretan kursi dekat pintu belakang.

Kondektur yang mengetahui kalau saya masih berdiri segera mencarikan satu tempat duduk untuk saya. “Di sana, mas. Ada kursi kosong satu,” ujarnya sambil menunjuk satu kursi kosong di belakang.

Saya langsung bergegas menuju arah yang ditunjukkan oleh kondektur tersebut. Arahnya terletak di deretan kursi paling belakang. Sekalipun sedikit terhuyung-huyung karena bis mulai menambah kecepatan, saya berusaha terus berjalan mencapai kursi kosong itu. Tapi anehnya, saya tidak melihat satu pun tempat kosong.

Kondektur yang tahu saya masih berdiri, segera melabrak seorang pria berkacamata yang sedang duduk melamun melihat keluar jendela. “Mas, tas laptopnya mbok, ya, tolong digeser. Mas-nya ini mau duduk,” hardiknya pada seorang penumpang.

Ia terlihat terkejut dengan hardikan dari kondektur tersebut, dan buru-buru memindahkan tasnya ke pangkuannya. “permisi, ya, mas. Maaf menganggu,” ujar saya berusaha sopan padanya.

Dia diam saja dan melemparkan mukanya kembali menatap keluar jendela. Saya yang agak dongkol dengan responnya tersebut, langsung segera agak melempar ransel saya ke bagasi dalam tepat belakang kursi. Di sana tak banyak koper ataupun barang. Saya jadi agak mudah menata ransel saya di sana.

Selepas menata ransel dan barang bawaan saya di bagasi dalam, saya langsung duduk. Pria berkacamata tadi melirik saya dengan mata sinis. Ia tampak masih sebal karena saya menyerobot tempat duduk bagi laptopnya. Ia pun kembali menatap ke luar jendela.

Saya cuek saja padanya. Karena bagi saya, yang terpenting saya bisa duduk. Kondektur yang tadi tiba-tiba berjalan ke arah saya lagi. Kali ini ia meminta uang tiket. Saya pun segera menyerahkan lembaran sepuluh ribuan padanya. Ia segera mencoret-coret tiket dan menyerahkannya pada saya.

Kini saya pun kembali pada pertanyaan saya tadi sebelum berangkat lagi. Saya kira saya mesti menyiapkan semua jawaban yang pas untuk bisa menjawab semua tanya yang akan diajukan oleh kedua orang tua saya.

Pertama-tama, pastinya saya akan meminta maaf pada mereka karena saya tidak bisa memenuhi janji saya untuk lulus Juli 2013. Janji itu kini tinggal jadi kenangan yang menyakitkan saja. Memang benar, kata maaf yang saya akan ucapkan nanti, tidak akan merubah kenyataan yang ada. Tetapi setidaknya bisa mendamaikan hati saya yang selama ini resah pasca kejadian itu.

Lebih dari itu, sebenarnya dengan meminta maaf pada kedua orang tua saya, saya kira ini adalah langkah awal untuk memaafkan diri saya sendiri. inilah yang sebenarnya paling susah. Kebencian pada diri yang muncul pasca kejadian itu belum hilang sepenuhnya. Sekalipun saya sudah berusaha menuangkannya lewat catatan, tetapi kebencian itu masih juga mengakar kuat dalam benak saya.

Saya sendiri sudah lelah untuk membenci diri saya sendiri. saya ingin memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri.

Lamunan saya terhenti seiring bis yang tiba-tiba berhenti total. Saya bingung kenapa tiba-tiba bis ini berhenti. Dari arah depan ada suara-suara penumpang lain yang menggerutu. “Kemacetan ini gara-gara pelembaran jalan.”ujar salah seorang penumpang.

Lha piye? Wong arepe Lebaran, kok. Gelem ora gelem dalanan kudu didandani lan diambake (Lha mau bagaimana lagi? Sudah hampir Lebaran. Mau tidak mau, jalan harus diperbaiki dan dilebarkan.)”

Yo salahe pemerintahe dewe, ngopo kok gampang rusak. Mesti bahan-bahane dikorupsi,”

Saya tersenyum setelah mencuri dengar keluhan tersebut. Saya sadar bahwa jalanan di Indonesia, terutama di daerah Jawa jelek. Ini berbeda sekali dengan jalanan di Luar Negeri (Jepang, misalnya). Di negara-negara maju, rata-rata jalan raya selalu mulus. Tidak perlu berkali-kali diperbaiki.

Mungkin penyebabnya adalah banyaknya jumlah kendaraan yang ada. Tetapi bisa jadi apa seorang yang dikatakan itu benar. Terakhir saya pernah membaca bahwa korupsi terjadi di proyek jalan tol di daerah Salatiga. Pelaku utamanya adalah Walikota sebelumnya dan Istri walikota yang sekarang.

Karena kemacetan total ini, saya pun malas untuk melamun lagi. Lebih baik saya tidur saja.

***

Saya terbangun dari tidur saya yang lelap. Saya baru tersadar bahwa bis bergerak dan melaju kencang. Ketika menengok ke sebelah kiri saya, saya baru tersadar bahwa pria berkacamata tadi sudah turun. Dan tiba-tiba di bawah tempat saya duduk, ada bungkusan yang tertinggal. Bungkusan itu saya buka dan isinya ada makanan dan minuman.

Kondektur bis yang melihat saya terbangun itu langsung menghampiri saya. Ia mengatakan bahwa bungkusan itu diberikan oleh pria berkacamata itu pada saya.

“Kok dikasih ke saya? Saya kan tidak kenal dia,”ujar saya menaruh curiga.

Kondektur itu menggelengkan kepalanya. Lalu langsung meninggalkan saya menuju ke arah tempat supir berada. Saya masih saja menggengam bungkusan itu. Tiba-tiba perut saya bunyi.

Ah, ini gara-gara saya belum makanan sedari pagi.

Akhirnya karena rasa lapar itu dan tanpa mengedepankan rasa curiga saya, saya pun memakan dengan lahap makanan dan minuman yang diberikan orang asing itu. Dari rasa pun baunya, tidak ada yang berubah. Berarti makanan dan minuman ini steril.

Sembari makan, saya mulai kembali melamun. Dari minta maaf, lalu apa yang harus saya lakukan selanjutnya, ya?

Hmmm…

Mungkin saya juga mesti segera memilih topik yang baru. Tetapi apa, ya?

Sama seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, saya punya kendala besar dalam memilih topik. Jika yang lainnya kesulitan mencari, saya sebaliknya. Banyak sekali topik yang bisa saya temukan Tinggal diotak-atik sedikit, jadi deh, sebuah topik.

Selain itu, hal lain yang mesti saya lakukan lainnya adalah belajar untuk bangkit kembali. Saya sadar pasca divonis ujian ulang, saya mengalami shock yang hebat. Shock itu sekarang sudah bermetamorfosis menjadi sebuah hantu yang sering membayang-bayangi saya.

Saya sadar saya mesti melakukan sesuatu agar hantu kegagalan itu keluar dari pikiran saya. Inilah yang mesti saya pikirkan ketika rehat di rumah nanti.

Dan sekali lagi, lamunan saya buyar karena bis berhenti. Kali ini tidak macet, tapi karena sudah sampai di terminal Solo. Saya pun segera mengambil ransel dan barang-barang saya yang berada di bagasi dalam.

Turun dari bis, saya langsung diserbu oleh para tukang ojek. Mereka menawarkan diri untuk mengantar saya dan para penumpang lainnya. Tetapi dengan sopan saya tolak. Boro-boro mereka pergi, mereka masih juga tetap memaksa mengantar. Dengan terpaksa saya mempercepat langkah menuju terminal pemberangkatan.

Inilah letak ketidaksukaan saya ketika pulang memakai bis. Sudah lamanya memakan waktu perjalanan (karena banyak ngetemnya), saya juga mesti berurusan dengan tukang ojek “paksa”. Brengsek.

Setelah membayar karcis masuk sebesar dua ribu, saya pun memilih duduk sebentar di kursi-kursi tempat menunggu bis datang. Perut saya jadi agak kurang enak akibat lari-lari dikejar para tukang ojek tadi. Kebetulan juga bis jurusan Solo — Madiun langganan saya belum datang, jadi saya bisa beristirahat sebentar.

Saya pun segera merogoh rokok yang ada di kantung jaket saya. Sambil mematikkan api dari korek, saya terkejut melihat air menggenang di jalan raya terminal. Mungkin kata menggenang itu tidaklah pas, karena yang saya lihat adalah genangan air yang tinggi. Tingginya kira-kira dapat menutup telapak kaki orang dewasa. Mungkin ini akibat sampah yang dibuang sembarangan yang menagkibatkan lubang air tersumbat.

Ah, sudahlah, yang penting perut saya sudah agak enakan. Sekarang saatnya melanjutkan perjalanan menuju Madiun. Bis jurusan Solo-Madiun pun sudah tiba. Bis berwarna biru langit itu bertuliskan “Sumber Selamat”.

***

Jam dinding terminal Madiun menunjuk angka 6 sore. Tapi langit sudah terlihat gelap. Badan saya sudah sangat lelah. Kaki saya juga sudah agak lemas. Saya masih tidak percaya, perjalanan Salatiga – Madiun saja 6 jam lebih. Biasanya kan cuma 4 jam. Bisa dibilang, ini sejarah perjalanan pulang saya paling lama.

Semua ini disebabkan dua kali macet yang terjadi di Ampel dan di daerah Sragen. Semua gara-gara pelebaran jalan yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Hah, ya sudahlah.

Saya segera mencari taksi untuk mengantarkan saya ke rumah. Memang ongkosnya jauh ebih mahal, tetapi ini lebih baik ketimbang saya naik ojek.

Setiba di rumah, saya langsung disambut oleh pegawai-pegawai Mama. Mereka segera membawakan ransel dan tas saya. Mama dan kakak perempuan saya yang sedang duduk berbincang di kasir, segera menoleh dan tersenyum melihat kedatangan saya.

“Tumben kok lama?” tanya kakak perempuan saya.

“Kena macet dua kali. Di Ampel dan Sragen. Jadi baru nyampai Madiun jam segini,” jawab saya agak sebal.

“Ya, sudah, cepetan mandi. Kamu bau sekali. Saya juga mau manasin makanan buat kamu,”ujar Kakak perempuan saya sambil ketawa mendengar jawaban saya itu.

Saya melihat Mama sedang tersenyum sambil menatap saya. Tatapan itu hangat, hingga menembus jiwa saya. Bulu roma saya langsung terbangun akan kehangatan yang diciptakannya. “Kamu makin besar, ya?” tanyanya.

“Iya, makanan di Salatiga enak-enak.”jawab saya tersipu malu melihat perut saya melebar.

“Ya, sudah. Cepat makan sana,” ujarnya sambil berjalan menuju ke arah rumah. Oh, iya. Asal anda tahu, rumah saya di Madiun itu adalah rumah toko alias ruko. Jadi toko ada di depan, rumah ada di belakang. Penghubungnya adalah sebuah pintu yang di dalamnya lorong agak panjang.

Tetapi saya tidak segera ke belakang mengikutinya. Saya merunduk merasa malu karena perhatian dari Mama dan kakak saya itu. Saya kira saya tidak pantas mendapatkannya karena saya gagal memenuhi janji saya. Alangkah lebih baiknya, jika saya dimarahi atau dimaki saja.

“Maafkan saya karena gagal,” ujar saya.

Kata-kata itu sontak membuat langkah Mama berhenti. Dia menarik nafas panjang dan mulai memalingkan wajahnya pada saya yang merunduk. “Yang terjadi, biarlah terjadi,” ujarnya mengutip ayat pada Kitab Suci.

Satu kalimat yang meluncur dari mulut Mama saya langsung membuat mata air saya yang selama ini terbendung, langsung deras. Saya langsung menangis sambil memeluknya.

Mama hanya diam dan tersenyum. Ia pun melanjutkan bicaranya. “Kita semua pasti pernah mengalami kegagalan. Rasanya pasti pahit dan tidak menyenangkan seperti menelan pil pahit ketika mau sakit. Tetapi pil pahit itu sebenarnya dapat menyembuhkan kita dari penyakit yang ada dalam tubuh kita. Oleh karena itu, jangan sampai kamu tenggelam dalam keputusasaan yang begitu dalam. Segera koreksi diri dan bangkit,” katanya pelan dan mulai membelai rambut saya.

Perkataan itu tidak membuat aliran air mata saya berhenti, sebaliknya malah semakin deras. Mungkin inilah luapan emosi yang paling dalam selama ini.

“Sudah. Jangan nangis lagi. Kamu segera mandi, lalu makan. Kakakmu pasti sudah selesai menghangat makanan,” ujar Mama menuntun saya berjalan ke rumah.

Ketika Mama membuka pintu penghubung ke rumah, tiba-tiba ada kepala yang nongol. Kepala itu adalah kepala Kakak permepuan saya. Dia terkekeh ketika melihat saya. Langsung saja ia menyeletuk, “Sudah besar, tapi masih cengeng. Hahaha….” ledek kakak perempuan saya sambil lari.

Mendengar ledekan itu kontan wajah saya langsung merah padam menahan malu.

Brengsek! Tadi dia ngintip dimana, sih?

***

Sudah tiga hari saya ada di rumah. Dan sekarang sudah hari Rabu. Saya melewati tiga hari itu dengan perasaan sangat tenang dan damai. Baik Mama dan kakak perempuan saya, tak satupun dari mereka yang menghakimi kegagalan saya. Sebaliknya mereka menopang saya lewat perhatian lebih kepada saya. Perhatian itu banyak sekali, misalnya saja mengajak saya berbelanja di mall, menraktir makanan yang saya suka dan masih banyak lainnya.

Tetapi tidak dengan Papa. Bentuk perhatiannya sangat berbeda. Semalam ia memanggil saya yang sedang ada di kamar. Ia ingin ditemani untuk ngopi di ruang keluarga. karena belum mengantuk, saya pun mengiyakan ajakannya.

Ketika saya baru duduk dengan nyaman dan mulai minum kopi, ia langsung menanyakan pertanyaan paling dibenci semua mahasiswa tingkat akhir yang ada di seluruh dunia: kapan kamu lulus?

Saya langsung terdiam sesaat. Saya pun segera meletakkan cangkir berisi kopi di meja dan langsung menyulut sebatang rokok. Saya menghisap rokok itu dalam-dalam dan menyemburkan asap yang begitu tebal.

“Saya tidak tahu,”jawab saya spontan setelah asap rokok itu menghilang. ”Papa tentunya sudah tahu juga kalau saya ini baru ganti topik. Sekarang…”

“Saya tahu kamu ganti topik. Tapi kapan kamu mau lulus dari kampus?”Potong Papa.

Saya pun terdiam dan mulai menghisap rokok lagi.

“Baiklah. Kalau kamu tidak bisa menjawab. Papa akan tanya hal lain saja. Selepas kamu lulus, kamu mau jadi apa?”tanyanya lagi. Kali ini ia ikut-ikutan mengambil rokok dan mulai menyulutnya.

Lagi-lagi pertanyaan sensitif. Apa sebenarnya mau orang tua ini, tanya saya dalam hati. Tetapi pertanyaan barusan tidak pernah terlintas dalam benak saya. Selama ini, saya hanya berpikir bahwa selepas menjadi berkuliah, saya ingin melamar menjadi seorang wartawan. Alasannya sederhana: Karena saya suka menulis.

“Saya akan menjadi wartawan,” jawab saya dengan tegas.

“Sudah Papa duga kamu akan menjawab itu. Apakah kamu tidak kepikiran untuk menjadi seorang wirausahawan seperti Papa atau Mama?”tanyanya lagi.

Saya cuma menggeleng. “Saya tidak pernah akan bisa berwirausaha. Bukan maksud saya tidak mau belajar, tetapi saya tergolong orang yang terlalu lembek ketika menghadapi seorang pembeli,”.

“Pekerjaan wartawan sendiri adalah pekerjaan yang berat. Kamu pastinya sudah tahu konsekuensi-konsekuensi apa saja yang akan terjadi,”

“Saya tahu. Ada banyak sekali laporan baik itu di koran atau di televisi wartawan kena hajar, kena pukul ketika liputan, tetapi saya sudah siap akan hal itu,”

“Lebih dari itu, apakah kamu sadar bahwa jalan yang kamu lalui itu adalah jalan yang tidak bisa membuatmu kaya? Kamu tentunya sudah tahu bahwa gaji wartawan di Indonesia itu kecil. Bahkan kalau dibilang untuk jadi topangan hidup belum tentu bisa.”

Kali ini saya diam. Apa yang dikatakan oleh Papa memang benar. Tentang gaji, tentang wartawan yang mendapatkan kekerasan. Semua itu nyata. Itu fakta yang menyakitkan. Tetapi bukankah setiap orang pasti punya sebuah impian? Dan bukankah setiap orang punya hak untuk memperjuangkannya impiannya?

“Saya akan berjuang keras. Beri saya waktu untuk menjalani profesi itu. Jika memang saya tidak sanggup, maka saya akan turut apa yang jadi kemauan Papa,” jawab saya sembari memantabkan hati.

Kali ini ia tersenyum mendengar jawaban saya. “kamu yakin?”

Saya mengangguk dan menatapnya dalam.

“Bagus. Itulah yang mesti kamu lakukan juga dalam skripsimu nanti,” ujarnya. “Apa yang kamu katakan barusan itu memang bisa dikatakan nekat. Tetapi bisa juga sebuah tekad.”

Ia menjelaskan perbedaan dari kedua kata itu. Yang pertama berarti maju berperang tanpa melakukan persiapan apapun, yang dimana hasilnya mati konyol. Yang lain berarti maju berperang dengan melakukan persiapan yang bisa dilakukan dan menerima segala hasil yang ada. Ia juga mengaitkannya dengan segala kekeliruan yang terjadi ketika saya masih ada di topik yang lama. “Yang selama ini Papa lihat, ketika kamu masih ada di topik sebelumnya kamu itu cuma nekat. Tidak ada persiapan apapun. Terlalu terburu-buru dan serampangan. Kamu cuma mementingkan ambisi dan egoismemu sendiri,” ujarnya.

Koreksi dari Papa itu menyakitkan, tapi benar apa adanya. Ambisi dan egoisme telah membuat saya buta hingga lupa memijakkan kaki ke bumi.

“Sekarang yang terpenting, adalah bukan meratapi kejatuhanmu seperti yang kamu tuliskan di blogmu. Saya kira itu sudah cukup. Sekarang adalah cara kamu segera mencari cara agar kamu dapat bangkit dan berlari lagi,”sarannya tajam.

“Lalu bagaimana saya tahu caranya bangkit dan berlari lagi?”tanya saya balik padanya.

“Tiap orang punya cara sendiri-sendiri. Saya punya, Mamamu pun juga. Begitu pula dengan Kakakmu. Kami semua punya cara masing-masing untuk bisa bangkit dari kegagalan yang ada. Kamu harus tahu caramu sendiri agar bangkit dari kegagalanmu sendiri,”

Pernyataan dari Papa tu merasuk ke dalam benak pikiran saya. Saya kira saya memang harus segera mencari tahu cara bagaimana berdiri dan berlari lagi.

***

Beberapa hari kemudian saya masih saja kepikiran dengan pernyataan dari Papa itu. Pernyataan itu kini berubah jadi sebuah puzzle yang begitu rumit dalam otak saya. Kakak yang mengetahui itu segera bertindak. Ia mengajak saya untuk andok (makan) bersama di luar.

“Memang mau makan dimana?”tanya saya.

“Di temat biasa saja, to. Di Depot Segar. Masih ingat kan tempat itu?”jawab Kakak ringan.

Ah, siapa yang akan lupa dengan depot segar. Depot itu adalah depot bintang tiga yang ada di Madiun. Seluruh masakannya enak dan bermutu tinggi. Salah satu menu andalannya adalah es bumi hangus. Itu adalah es serut yang lumuri susu coklat kental, yang isinya diberi agar-agar. Rasanya takkan pernah terlupakan dan tergantikan.

“Tentu saja masih ingat. Ayo berangkat,” jawab saya cepat.

Depot segar sendiri terletak di daerah Jalan Dokter Soetomo. Kira-kira sekitar 750 meter dari rumah saya yang sekarang. Padahal dulu, sekitar 1995, rumah saya begitu dekat dengan Depot itu. 5 menit jalan kaki sudah sampai. Tapi sejak pindah rumah ke daerah Jendral Sudirman sekitar tahun 1996, depot itu agak jauh. Kalau memakai motor, mungkin butuh waktu sekitar 10 menit.

Ketika sampai di depot itu, saya dan kakak langsung disambut hangat oleh pemiliknya. Saya tidak tahu namanya, tapi dia kenalan baik Mama dan Papa.

“mau pesan apa, nyo?”tanya pemilik depot itu. Sebutan “Nyo” berasal dari kata “Sinyo”, yang berarti anak laki-laki yang belum kawin atau nikah. Istilah populer ini sering digunakan untuk memanggil anak laki-laki Tionghwa yang ada di Madiun. Sedangkan untuk anak gadis, biasanya dipanggil “Nonik”. Saya sangat jarang dipanggil seperti ini di Salatiga.

Saya segera mengambil daftar menu yang ada di atas meja. Pun juga dengan kakak saya. Kakak segera memesan es putri salju, dan saya memesan es bumi hangus.

“apakah tidak ada yang lain?”

“Nanti saja,” jawab Kakak sambil melemparkan senyum.

“Beberapa hari yang lalu, kamu ngobrol dengan Papa. Apa yang kamu obrolin dengan Papa?”tanyanya menyelidik.

“Bukan apa-apa. Dia hanya kasih wejangan (nasehat) saja soal kegagalan skripsi saya kemarin,”

Wejangan apa?”tanyanya lagi.

Saya pun meceritakan semuanya percakapan saya dengan Papa. Dari A sampai Z. Lengkap sampai ke detail-detailnya. Saya pun juga menceritakan bahwa pernyataan Papa yang terakhir itu menjadi sebuah puzzle yang rumit, tapi mesti saya pecahkan.

“Memang apa yang dikatakan Papa itu benar, bahwa kamu mesti bangkit dan berdiri lagi dari kegagalanmu kemarin.”ujarnya pelan.

“Iya, tapi bagaimana caranya?”

“Menurut kamu sendiri?”tanyanya.

Mulut saya langsung cemberut total. Dasar sialan. Saya tanya, malah balik tanya. Geblek amat, sih.

“Baiklah. Saya akan ceritakan sebuah pengalamanku ketika dulu masih SMA.”ujarnya. “Tentunya kamu masih ingat, kalau saya pernah tinggal kelas waktu SMA, kan?”

Tentu saja saya tahu. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMP. Kabar akan ketidaknaikkan kelas kakak membuat geger serumah. Mama dan Papa jadi marah. Saya pun yang tidak ada salah apa-apa ikut-ikutan dimarahi juga. Bahkan diancam, kalau saya ikut-ikutan tidak naik kelas, saya tidak usah sekolah lagi.

“Lalu kamu tahu apa penyebab utama ketidak naikan kelas itu?

“Setahu saya, penyebabnya cuma gara-gara basket,”

“Benar. Tetapi itu baru setengah. Yang benar adalah kekalahan kompetisi basket antar SMA se-Jatim.” Ujarnya melengkapi jawaban saya. “Waktu itu, tim saya kalah telak. Saya yang memegang posisi pemain kunci merasa bersalah karena kegagalan itu. dari sana, saya mulai tidak fokus pada pelajaran, karena sibuk menyalahkan diri saya sendiri,”

Saya terkaget mendengar cerita itu. Saya benar-benar tidak tahu kalau kakak saya, pernah mengalami kegagalan. Tetapi mungkin itu hal yang wajar. Waktu itu, saya yang masih benci dengan kakak karena sering menjadi tembok bagi kehidupan saya. Jadi saya tidak peduli dengan kegagalan yang terjadi padanya. Saya hanya peduli dengan diri saya sendiri.

Ketika mendengar tanggapan itu, Kakak langsung tertawa terbahak. Ia mengapresiasi kejujuran saya itu. “Tapi apa kamu tahu apa yang saya lakukan setelah itu?”ujarnya.

Belum sempat saya jawab, pesanan kami sudah datang. Es putri salju dan es bumi hangus. Kami berdua langsung menyantapnya. Di sela-sela makan es itu, kakak melanjutkan ceritanya. “Jadi lanjut cerita yang tadi, setelah saya tidak naik kelas, saya pun berjanji pada diri sendiri untuk membenahi diri lagi dari awal. Tapi untuk pertama-tama, saya mesti belajar menerima kenyataan yang ada. Saya mulai belajar keras dan berusaha dari dasar lagi. Ibarat sedang membangun rumah, fondasi yang kokoh akan membuat rumah itu kuat,”

Lalu?

“Memang, saat itu adalah masa paling kelam yang terjadi. Tetapi mau bagaimana lagi? Akhirnya saya pun belajar tidak lagi membenci atau menyalahkan yang sudah terjadi. Saya juga belajar memaafkan diri atas segala yang terjadi,”

Memaafkan diri sendiri?

“Iya. Memaafkan diri sendiri adalah awal dari sebuah pengakuan pada kelemahan kita. Dengan begitu, kita akan merasa terbebas dari beban yang ada. Dan ketika kita sudah bisa melepaskan segala yang ada, kita hanya akan tampil apa adanya. Dan tanpa saya sadari, saya mampu melewati batasan diri saya sendiri,”

Saya terdiam dan berhenti makan es bumi hangus. Cerita dari Kakak saya itu, seolah, memberikan jawaban atas puzzle yang diberikan oleh Papa saya.

“Terima kasih atas bantuannya, Kak.”Ujar saya padanya.

“Hah, ya mau bagaimana lagi. Bukankah kita bersaudara? Sudah sepantasnya sesama saudara saling membantu, kan?”

***

Pagi di hari Minggu itu cerah. Sangat amat cerah. Terik mataharinya pun terasa tak terlalu mengigit kulit. Saya yang masih mengantuk (karena malam sebelumnya begadang nonton bola), menguap lebar.

“Cepetan mandi, lho. Nanti ketinggalan travel,” ujar Mama tiba-tiba. Ia mendorong saya segera masuk ke kamar mandi.

“Makanya, kalau mau berangkat ke luar kota itu tidak usah begadang. Pola hidup tidak teratur kaya gitu, kok mau jadi sarjana?”timpal kakak.

Saya ketawa saja mendengar sindiran dari Kakak saya itu. Tetapi tidak ada rasa marah atas sindirian itu. Mungkin ada benarnya juga, saya mesti mengubah pola hidup saya.

Sesampai di kamar mandi dan meletakkan pakaian, saya pun langsung terkenang dengan percakapan terakhir dengan Papa semalam. Papa yang masih belum tidur, tiba-tiba mendatangi saya di ruang keluarga.

“Kamu besok berangkat, ya?” tanyanya.

“Iya,” jawab saya.

“Semua barang-barangmu sudah kamu siapkan?”

“Sudah tadi sore”

Kami berdua lalu diam. Layar televisi sendiri masih menyala dan menyajikkan tontonan bola. Keheningan ini hanya terisi dari suara dari koemntator bola yang sedang mengomentari permainan bola dari kedua belah tim.

“Saya sudah menemukan jawaban atas segala pernyataan Papa beberapa hari yang lalu,”kata saya tiba-tiba padanya.

“Apa?” tanyanya.

“Cara terbaik yang akan saya lakukan agar bisa bangkit dan berlari lagi adalah memaafkan diri saya sembari belajar dari dasar lagi.”

Ia diam.

“saya sadar selama ini saya sudah terlalu puas dengan apa yang sudah saya dapatkan. Inilah batasan yang saya buat sendiri. Segala yang saya pelajari ternyata belumlah optimal. Mestinya saya bersyukur bahwa dengan kegagalan ini, saya mendapatkan kesempatan untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi,”

“Lalu kapan kamu mau lulus?”

“Saya tidak tahu. Biarkan saja semua mengalir seperti sungai yang mengalir. Saya percaya semua memiliki waktunya,”

Ia tersenyum dan berdiri berlalu. Samar saya mendengar ucapan darinya,”jangan tidur terlalu malam,”

Ketika mengucapkan itu semua, seluruh beban saya menjadi hilang. Mungkin ini yang disebut oleh kakak saya sebagai pelepasan. Saya merasa seperti “dilahirkan kembali”.

Tiba-tiba dari arah luar kamar mandi, saya mendengar ketukan pintu. “Travelmu sudah datang. Segera selesaikan mandimu!,” teriak kakak saya.

Bene!

Selesai mandi, saya segera berpakaian dan mulai mengambil ransel saya. Ketika saya menuju ke dalam Travel, saya baru sadar bahwa kepulangan saya ke rumah kali ini sungguh bermakna. Kehangatan yang keluarga saya berikan mampu menciptakan atmosfer positif yang mampu membuat saya bersemangat lagi. Tampaknya kenangan ini akan membuat saya selalu ingat untuk pulang ke rumah.

N.B: Terus terang saya kaget ketika tulisan ini selesai. Ternyata rangkuman kepulangan saya ini yang berasal dari catatan harian saya begitu panjang. Jadi mohon maaf dan terima kasih bagi pembaca yang sudah menyelesaikan membacanya. Grazie mille e arrivederci!

One thought on “Pulang ke Rumah

  1. Coba terapkan konsep Pa Hong (memukul angin), dan Tui Cu (latihan silat berpasangan). Tidak dalam konsep silat beneran, tapi dalam menghadapi hidup. Diajmin manjur!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s