Jadi Penjaga Komik

SUDAH HAMPIR sebulan ini saya bekerja menjadi seorang penjaga komik di Persewaan komik Lunar. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran dari pekerjaan tersebut. Namun sebelum saya menceritakan pelajaran-pelajaran apa saja yang saya dapatkan kepada anda, ada baiknya saya ceritakan bagaimana proses saya mendapatkan pekerjaan di sana.

Kalau boleh saya bilang, mendapatkan pekerjaan ini sendiri merupakan sebuah kebetulan belaka. Sekalipun selama ini saya tidak pernah percaya pada konsep kebetulan, namun kali ini saya mau tidak mau musti mengakui bahwa peristiwa ini aneh dan unik dalam hidup saya.

Bayangkan saja, tiga hari sebelum saya akan pulang ke Madiun, saya mendapatkan pesan dari Ivan, penjaga komik selama ini bahwa saya dipanggil oleh owner Persewaan Komik Lunar, Andri Cahyadi Gunawan. Saya, yang waktu itu sedang menyewa komik sendirian, langsung saja terkejut karena panggilan mendadak itu.

“Ada perlu apa dengan saya,” tanya saya pada Ivan.

“Beberapa hari yang lalu kan kamu tanya, apakah ada lowongan kerja di sini, kan? Nah, aku ceritain ke Ko Andri. Dia langsung bilang ingin ketemu kamu dulu,”jelasnya lugas.

Glek.

Mulut saya langsung terkunci rapat. Memang benar waktu itu, saya menanyakan pertanyaan itu pada Ivan. Tetapi tak ada niatan serius sama sekali. Celaka.

Glek.

“Terus saya mesti ngomong apa saja sama Ko Andri?” tanya saya lagi padanya.

“Nanti kamu juga tahu. Tenang saja. Ko Andri itu orangnya santai saja, kok,”ujarnya sambil ketawa menenangkan saya. Ivan tampaknya bisa membaca kepanikan saya. ia berusaha meruntuhkan kepanikan saya dengan membuat saya ketawa.

Namun bukannya tenang, justru saya tambah panik. Panik kalau nanti saya salah omong ketika mengobrol dengan Ko Andri. Panik kalau saya tidak bisa menjadi pegawai sesuai dengan kriteria pegawai.

Saya memang punya pengalaman kerja menjadi seorang kuli, tapi itu kuli tinta. Bukan kuli persewaan. Kerjanya, ya, cuma ngejar-ngejar narasumber. Wawancara 10 menit lalu hasil wawancara itu ditulis dalam bentuk berita.

Tapi jadi kuli persewaan itu benar-benar berbeda. Harus duduk seharian nunggu pelanggan datang. Jika pelanggan datang, saya harus melayani dia dengan kebutuhan yang diinginkan. Belum lagi kalau pelanggan itu marah-marah, saya mesti tetap tersenyum dan ramah padanya. Agaknya saya jadi menyesal karena selama ini saya tidak pernah ikut membantu kedua orangtua saya di toko.

“Nanti kamu datang lagi saja sebelum jam 9 malam. Dia biasanya datang sekitar jam segitu.”ujar Ivan lagi.

Akhirnya saya tidak jadi meminjam komik, saya pun memilih untuk pulang.

***

Jam 9 tepat, saya pun kembali ke sana. Tetapi di sana orang yang bernama “Ko Andri” belum menampakkan batang hidungnya. Yang saya lihat cuma Ivan saja. Ia tampaknya sedang menghitung uang hasil pendapatan hari ini. Kedatangan saya itu membuatnya sedikit terkejut. Mungkin karena terlalu fokus dengan uang-uang yang berjejer-jejer di depannya.

“Ko Andri belum datang. Kamu duduk saja dulu di sebelahku. Aku selesain ngehitung uang dulu.”kata Ivan.

Saya akhirnya memilih duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Tetapi duduk di sana, saya masih juga panik. Di sana saya melihat berbagai catatan keuangan, mulai dari utang sampai piutang. Duh, apa ini sebenarnya?

Tiba-tiba dari arah luar, ada motor bebek yang berhenti. Di sana ada seorang muda, dengan rambut agak sedang dan berkacamata, turun dari motor. Ia tampak santai dengan setelan kaos dan celana pendek.

“Mas, balikin komik ya?”

Hadeh. Sialan. Ternyata bukan Ko Andri.

Tiba-tiba, dari arah belakang orang itu ada seorang bapak-bapak tinggi kurus yang langsung masuk ke dalam meja kasir. Rambutnya sedang bergelombang. Ada kumis tipis yang menyempil di antara mulut dan hidungnya. Kulitnya yang putih kecoklatan tampak kontras dengan setelan jaket coklat, celana kain hitam dan sandal jepit. Wajahnya sendiri terlihat lelah. Ia juga langsung menggeser Ivan untuk berdiri.

Payu (Laku), Pang?”tanyanya dingin pada Ivan.

“Lumayan, Ko,”jawab Ivan. “Ko Andri, ini teman saya yang waktu itu saya ceritakan pengen kerja di Lunar,”

Ia tidak melihat saya dan terus menghitung uang.

“Kamu masih kuliah, ya?”

“Iya.” Jawab saya terus melihatinya menghitung uang.

“Masih ada kuliah atau skripsi?”

“Tinggal skripsi saja. Tapi saya ganti topik.”

ia diam agak lama, lalu “kata Ivan, kamu mau kerja di sini? Oh, iya, maaf, lho, ya, taksambi nghitung uang.”

“Iya, gak apa-apa, Ko,”

“Kamu fakultas apa?”

“Psikologi”

Dia menyuruh saya untuk bergeser ke kursi satunya. “Oh berarti kenal “ini” (saya lupa namanya)? Dia angkatan tua. Dia pelanggan sini dulu. Tinggalnya di Kauman sana.”

“Wah, ga tahu, Ko. Tapi kalau Linda kenal,”jawab saya. Linda yang saya maksudkan adalah Linda Soesilowati.

“Lho, kok kenal Linda? Memangnya kamu angkatan berapa?”

“2008. Dia teman dan mantan mentorku dulu waktu Orientasi fakultas,”

Dari sana, Ko Andri pun mulai mengobrol ramah dengan saya. Ia menceritakan bahwa dirinya dulu juga kuliah di Fakultas Elektro Satya Wacana. Dia masuk sekitar tahun 1999. Tapi ketika tahun 2004, ia yang seharusnya menyelesaikan Tugas Akhir (skripsi), lebih memilih bekerja.

“Berarti kenal Mas Tengon (Dian Eko Putranto) dan Mbak Umi (Elisabeth Umi Atmaningtyas)?”

“Kok kamu bisa kenal mereka?”tanya setengah terkejut.

“mas Te, sebutan akrab saya pada Tengon, adalah “kakak angkat” saya. Dia orang yang melatih saya untuk bisa jadi lelaki sejati, yang tidak lembek, tidak manja dan pantang menyerah.”jawab saya dengan tersenyum.

“Oh, kamu suka kamera?”

“ga terlalu. Cuma belajar sedikit-sedikit saja. Itu pun cuma untuk foto jurnalistik saja,”

Ia menceritakan bahwa dirinya sangat suka dengan fotografi. Tapi ia belum punya waktu banyak untuk mendalaminya. Ia banyak belajar dengan teman-temannya yang fotografer profesional. “Si Linda kan kemarin sempet takfoto juga,”ujarnya sambil terkekeh.

Saya cuma bisa ikut ketawa.

“Berarti besok kamu mulai kerja di sini, ya? Sudah tahu apa saja yang mesti dikerjakan?”

“Belum tahu apa-apa, Ko. Ini pertama kalinya saya bekerja jadi pegawai persewaan komik.”

“ya sudah, nanti Ivan akan ajari. Nanti kalau saya sempat, nanti aku sendiri yang ngajari kamu.”

Ia cuma menerangkan singkat apa yang mesti saya kerjakan di Persewaan Komik Lunar. Di sana ada tiga hal yang mesti saya kerjakan. Yang pertama, adalah mengurusi persewaan komik. Kedua counter pulsa dan handphone. Dan terakhir, pembayaran listrik.

“tapi untuk pertama, kamu belajar saja dulu yang buat persewaan komik dulu. Sistem di sini berbeda dengan persewaan lainnya, karena sudah memakai komputer untuk operasionalnya. Sistem ini tidak ada yang punya karena aku dan temanku yang buat.”terangnya cepat.

Saya hanya mengangguk-angguk saja. Tidak terlalu mengerti sistem apa yang dimaksud dia. Kelak saya akan tahu bahwa sistem yang dipakai adalah VIBI, sebuah sistem yang bisa mendata data pelanggan, buku-buku yang ada dan transaksi. Kurang lebih, sistem ini hampir mirip yang dipakai oleh supermarket-supermarket.

“Tetapi minggu depan saya pulang ke Madiun, Ko. Sudah setahun lebih nggak pulang rumah,”

“Ya sudah, gak apa-apa. Tapi gaji di sini enggak besar, lho?”

“Iya, Ko. Saya juga tahu kalau soal itu. Tapi saya mau belajar”

Dari sana ia tidak lupa menceritakan bahwa sebelum Ivan juga ada mahasiswa Psikologi yang bekerja di Lunar. Apple, namanya. Saya agak kenal sedikit karena dulu sempat dikenalkan oleh Linda.

“ya sudah, kamu tinggal gak apa-apa. Aku masih ada urusan sama Ivan,”

“Iya, Ko” ujar saya seraya pamit ke kedua orang itu. Dan ketika saya keluar dari tempat itu, tanpa saya sadari, sejak saat itulah saya sudah resmi menjadi pegawai persewaan komik Lunar.

***

Nah, sekarang saya akan mulai pelajaran-pelajaran apa saja yang sudah saya dapatkan di Persewaan Komik Lunar. Ternyata menjadi penjaga komik cukup berbeda dengan pegawai toko seperti kebiasaannya. Ada banyak hal baru yang mesti saya pelajari. Misalnya saja, belajar mengolah fisik yang prima.

Saya baru menyadari ketika ada di awal kerja. Waktu itu saya diminta Ivan mengembalikan komik-komik bekas pinjaman yang sudah menumpuk ke dalam rak. Saya langsung saja mengerjakan karena saya pikir hal ini tidaklah terlalu sulit. Tapi ternyata mengembalikkan komik kembali ke rak-rak yang ada bikin nafas saya langsung ngos-ngosan. Otot-otot kaki dan badan saya langsung saja sakit karena mesti jongkok dan berdiri sembari meletakkan buku sesuai dengan urutan abjad.

Hal ini membuat saya mesti mengembangkan pola hidup yang normal (tidur dan makan teratur) agar bisa menyesuaikan diri dengan arus pekerjaan ini. Selain itu dengan terpaksa juga, saya mesti mengurangi konsumsi saya terhadap rokok dan kopi karena nikotin dan kafein dapat membuat kinerja paru-paru tidak optimal.

Selain belajar mengolah fisik yang prima, saya juga mesti belajar tersenyum dan berterima kasih sekalipun mood kita sedang down.

Hal inilah yang paling susah, namun mesti dilakukan. Dihadapan pelanggan, bos, atau rekan kerja saya mesti belajar agar tetap tersenyum agar bisa menjalin hubungan yang baik. Ini bukan berarti saya elakukan faking good, namun lebih kepada manajemen emosional.

Saya sadar dari kecil, saya adalah makhluk paling emosional dalam keluarga saya. Sedikit-sedikit marah. Sedikit-sedikit muthungan (ngambek). Dengan bekerja di sini, saya belajar mengikis segala kelemahan emosional tersebut.

Dua hal baru inilah yang mesti saya pelajari setiap harinya. Namun ada hal-hal lama juga yang mesti saya kembangkan, bahkan modifikasi sampai tahap maksimal. Semisalnya saja, ketelitian. Pelajaran akan ketelitian, saya dapatkan ketika sedang melakukan penghitungan uang dan melayani transaksi buku.

Dalam melakukan penghitungan uang, baik itu yang didapat atau kembalian, akan sangat mempengaruhi uang kas. Hal ini diperlukan ketelitian yang lebih dari biasanya. Kalau tidak teliti, dampak yang saya terima adalahsaya mesti menanggulangi kekurangan uang kas tersebut.

Selain itu, ketelitian mesti saya pergunakan jua ketika melayani transaksi buku. Hal ini penting karena kalau buku tidak diproses, maka akan membingungkan pembukuan buku. Ketika awal kerja, saya pernah melakukan kesalahan dalam proses penginputan buku. Alhasil ini membuat saya (dimarahi secara halus) oleh Ivan karena tidak teliti.

Untungnya, keesokan harinya orang yang meminjam buku itu kembali. Huff…

Yang kedua, adalah kerapian. Kerapian disini menyangkut banyak hal. Mulai dari berpakaian, menyampuli buku, sampai menata uang kas. Ini membuat saya terkejut, karena hampir selama saya hidup, soal kerapian selalu menjadi nomor paling bontot yang saya perhatikan. Ivan selalu mengingatkan bahwa dengan menjaga kerapian yang ada, akan membuat kinerja kita jauh lebih mudah.

Lalu yang ketiga adalah kejujuran dan tanggung jawab. Kedua hal ini terus menerus diasah oleh Ivan maupun bos saya dalam pekerjaan saya. Mereka berdua bahu-membahu mengasah kejujuran dan tanggung jawab saya dalam setiap apa yang saya lakukan. Misalnya saja memberikan keringan denda, saya diwajibkan untuk melaporkan berapa keringanan denda yang saya berikan dan apa alasannya.

Hal yang terakhir yang saya kembangkan adalah semangat untuk tidak pernah menyerah. Inilah hal terakhir sekaligus terpenting yang saya kira perlu dikembangkan dalam pekerjaan ini. Sekalipun tidak punya pengalaman sebagai penjaga komik ataupun pegawai toko, saya tidak mau menyerah untuk terus mencoba dan terus mencoba sampai saya bisa berhasil. Memang akan terjadi banyak sekali kesalahan dan kekeliruan, tetapi itu bukan alasan yang tepat untuk menyerah menjadi seorang penjaga komik.

2 thoughts on “Jadi Penjaga Komik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s