Tak Semua Jawab Bisa Menjadi Jawab

Suatu sore, saya bertandang ke rumah seorang kawan perempuan yang letaknya tak jauh dari rumah indekos. Awalnya saya punya niat untuk numpang makan, tapi karena berhubung dia sedang tidak masak, terpaksa saya mengurungkan niatan saya tersebut.

Karena tidak ada makanan yang bisa dimakan, maka kami pun akhirnya mengobrol santai. Dan ketika sedang asyik mengobrol, tiba-tiba kawan wanita itu bertanya pada saya, ”apa pendapat kamu tentang keperawanan seorang wanita?”

Sontak saja saya langsung terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba meluncur dari mulutnya itu. Obrolan yang ringan itu berubah menjadi diskusi yang berat. Rasa lapar yang tadi menggelora, akhirnya malah terlupakan. Saya pun bertanya kembali padanya pendapat seperti apa yang dia maksudkan.

“Ya, maksudnya, apakah keperawanan itu perlu dijaga?” jawabnya dengan bertanya balik.

Saya pun mulai terdiam dan berpikir. Dia pun terus menatap saya, masih menunggu dan berharap sebuah jawaban menarik keluar dari mulut saya.

“Saya tidak punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut,”jawab saya padanya sambil menundukkan kepala.”Tetapi saya akan coba untuk menjawab pertanyaan itu,”

Mendengar jawaban itu, ia langsung terlihat penasaran dengan jawaban saya. Saya pun mulai menjawabnya dengan tenang.

“Apakah keperawanan itu perlu dijaga? Saya tidak bisa menjawabnya dengan jawaban “iya” dan “tidak”, karena jawaban itu memiliki banyak faktor yang mengekor. Misalnya saja, faktor budaya. Orang berbudaya timur seperti Indonesia, sudah pasti akan mengatakan tidak karena terikat moral agama. Dalam moral agama itu “keperawanan” dijadikan simbol kesucian dari seorang wanita. Jadi sekali hilang, maka wanita itu dianggap tidak suci lagi. Dan tidak suci berarti tidak memiliki harga diri lagi.”

“Beda lagi dengan budaya barat. Budaya barat yang terkenal dengan ke-liberal-annya lebih menganggap soal keperawanan itu adalah hak individual. Artinya, ini dikembalikan ke masing-masing pihak. Jadi mau dilepas, boleh. Mau tidak, juga boleh. Tidak bisa ditentukan oleh kesepakatan masyarakat,”

“Bagi saya sendiri, soal keperawanan itu perlu dijaga atau tidak, saya kembalikan saja ke masing-masing wanita saja. Mau dilepas ataupun enggak, akan saya hargai karena ini adalah kebebasan yang dia punya. Lebih dari itu, saya tidak suka dengan budaya Timur yang orang-orangnya yang masih berpikiran kolot bahwa “kesucian itu cuma terletak di selaput dara saja”. Berarti kalau “wanita yang sudah tidak perawan itu berarti tidak suci” lagi, dunk? Tidak punya harga diri lagi? Kasihan sekali nasib wanita korban diperkosa dan janda. Ini pembunuhan karakter namanya alias “ad Hominem”.”

Ia pun tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban saya tersebut. Lalu kembali bertanya,”Lalu bagaimana pendapat kamu tentang wanita yang sudah tak perawan lagi? Tetapi ini bukan karena diperkosa, tetapi hilang ketika ia berpacaran.”

“Bagi saya, tidak ada masalah besar soal itu. Asalkan ia melepaskannya dengan sadar dan ikhlas. Toh buat saya seks itu tidak dilarang, kok. Sebaliknya seks itu adalah salah satu insting dan kebutuhan manusia.”

“kamu tidak akan menghujatnya?”tanyanya lagi.

“Untuk apa? Apakah dengan menghujatnya akan mengembalikkan keperawanannya?”

“Terima kasih karena kamu sudah mau menjawabnya. Saya setuju dengan semua pendapat kamu. Sekalipun saya sadar tak semua jawab bisa menjadi jawab, tetapi pendapatmu Itu melegakan dan menenangkan,” jawabnya seraya melempar senyuman.

Kelak saya baru tahu, bahwa ia tak lagi perawan. Keperawanannya hilang bersama dengan kenangan mantan pacarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s