Penjara Rasionalisasi

Selesai saya menuliskan “Pesan Dari McCartney”, saya jadi tersadar bahwa ada kecacatan yang terjadi. Kecacatan itu memang tidak berakibat fatal bagi mereka yang membacanya, tetapi fatal bagi saya yang menuliskannya.

Sebelum saya menceritakan lebih lanjut kefatalan yang terjadi, saya akan sedikit mengulas isi dari dalam catatan tersebut. Catatan itu sendiri berisikan tentang usaha saya  untuk menegarkan diri lewat lagu milik Paul McCartney. Dengan mendedah tiap lirik yang ada di dalamnya, saya berusaha untuk melakukan penerimaan dengan ikhlas pada segala realita dari masalah yang sedang saya hadapi.

Tetapi nyatanya dampaknya cuma tidak terlalu berhasil. Saya masih saja dirundung kesedihan dan kemarahan ketika saya mengingat masalah saya. Inilah sisi kefatalan yang saya katakan di awal tadi.

Mungkin apa yang saya lakukan itu sebenarnya hampir mirip seperti teman-teman saya di jejaring sosial yang sering mencantumkan kutipan kata-kata bijak dari tokoh-tokoh besar. Dengan begitu, mereka akan berusaha menyemangati diri sendiri atau membenarkan diri. Tetapi benarkah dengan kata-kata bijak itu kita bisa menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi?

Bisa Iya, tapi kebanyakan tidak.

Meminjam “mekanisme pertahanan diri” milik Dr. Sigmund Freud, seorang dokter jiwa aseli Jerman, apa yang saya dan teman-teman lakukan itu sebenarnya merupakan bentuk dari rasionalisasi. Rasionalisasi, secara harafiah, merupakan pertahanan diri dengan menciptakan alasan-alasan yang “baik atau benar” guna menghindari ego yang sedang terluka.

Dari pengertian tersebut, bisa diartikan bahwa saya, sebenarnya, sedang “memalsukan diri” lewat kata-kata bijak dalam “analisa lagu” tersebut. Saya berusaha menyemangati diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan.

Namun ”Pemalsuan diri” itu jangan disalahartikan sebagai sesuatu hal yang negatif. “Pemalsuan diri” adalah sebagian dari lika-liku sifat manusia. Ia muncul ketika manusia sedang terluka dan merana. Dalam dunianya, ia merasa menjadi orang paling perlu dikasihani.

Hal terpenting adalah menyadari “pemalsuan diri” yang sedang dilakukan. Caranya adalah mengkaji semua pengalaman yang terjadi lebih teliti dan objektif. Dengan begitu, bisa dipastikan akan ada rasionalitas baru yang akan muncul dan membuat kita bisa memutuskan solusi tepat bagi masalah yang ada.

***

Saya akan memulainya dengan pengalaman saya ketika ujian proposal skripsi. Waktu awal saya akan ujian proposal skripsi, saya berusaha mencari sebuah topik yang benar-benar berbeda dengan topik yang sudah ada.

Saya ingin membuktikan pada berbagai kalangan bahwa skripsi itu hal yang mudah dan tidak sesulit yang dibayangkan mereka. Selain saya jengah dengan skripsi-skripsi kakak tingkat saya yang topik itu-itu melulu. Tentang motivasi-kah, tentang hubungan ini-kah dengan itu-kah, tentang stres kerja-kah dan lain-lain. Pokoknya topik-topik itu terasa hambar dan membosankan.

Singkat cerita, saya pun menemukan sebuah topik yang benar-benar berbeda. Dengan membawa topic kematian, saya akhirnya membuat judul skripsi saya menjadi “Fase menjelang kematian pada lansia yang menderita penyakit kronis”.

Bagi mereka yang mendengarkan, topik itu terasa menakutkan dan susah untuk direalisasikan. Tetapi ketakutan dan pesimistis mereka pada topik itu, saya serap sebagai rasa bangga pada diri saya. Saya yakin dengan kemampuan dan pengalaman saya bisa merealisasikannya.

Jika diruntut jauh ke masa lalu, saya memang sudah cukup aktif dalam melakukan berbagai penelitian (terutama penelitian kualitatif). Saya banyak membantu beberapa kakak tingkat saya untuk menyelesaikan penelitian mereka. Dan semua itu berhasil saya kerjakan.

Belum lagi, ditambah pengalaman saya nyambi  di beberapa LSM, dimana saya kerap membantu penggalian dan penyusunan data di lapangan membuat saya berani untuk mengambil topik yang terkesan mustahil itu.

Memang sehari sebelum maju sidang proposal, saya sempat terserang panic attack.  Tapi dalam analisa saya, mungkin itu lebih perasaan gugup dan cemas saja karena takut ditolak pada waktu sidang proposal. Tetapi ketika prosesi sidang itu, saya tidak lagi gugup ataupun cemas, sebaliknya saya malah merasa santai karena hampir semua pertanyaan dari penguji dapat saya jawab.

Ketika sidang usai dan saya diijinkan keluar, saya merasa ada gelombang kebanggaan berdesir dalam dada. Kebanggaan ini selain berasal dari tingkat kerumitan topik yang akan saya kerjakan, juga kebanggaan bahwa saya bisa lolos langsung tanpa harus melakukan ujian ulang seperti kawan-kawan saya.

Tetapi kebanggaan itu membuat saya melupakan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang peneliti: segera melakukan segala persiapan yang dibutuhkan, mulai dari literatur yang dibutuhkan sampai hal-hal teknis lainnya seperti pencarian partisipan penelitian. Saya malah terlalu banyak berleha-leha dengan bermain-main.

Saya sendiri mulai kembali fokus pada skripsi sendiri setelah proposal skripsi teman karib saya, Great Erick Kaumbur diterima. Saya merasa mendapatkan pesaing tangguh dalam mengerjakan sebuah penelitian. Dialah yang membuat saya untuk mengerjakan mati-matian dengan target dua semester kelar.

Seiring berjalannya waktu, perasaan bersaing pelan-pelan berubah negatif ketika saya mengetahui bahwa Great ikut memberikan konsultasi gratis tentang proposal, skripsi dan perkuliahan bagi teman-teman. Dalam hati, saya pun ingin seperti dia. Namun sekalipun dibekali logika yang tinggi, saya tetap tidak bisa merubah kenyataan bahwa ia memang jauh lebih hebat ketimbang saya.

Hal ini pernah terjadi ketika saya masih aktif dalam Pers Mahasiswa Scientiarum. Waktu itu saya melihat punggung Satria, Yodie, Evan, Tian dan James begitu besar, hingga saya tidak mampu melewati mereka semua.

Kesadaran akan keterbatasan ini membuat saya menjadi rendah diri dan krisis kerpcayaan diri. Saya mulai tak yakin dengan skripsi yang saya buat. Dalam pikiran saya seringkali bergelayut mulai mempertanyakan: skripsi yang sedang saya ini kerjakan ini sebenarnya untuk apa? Apakah ajang pembuktian diri bahwa saya bisa melewati batasan diri atau menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam masyarakat?

Sayang, belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, saya sudah divonis terlebih dahulu oleh salah satu dari pembimbing saya dan biro skripsi untuk ujian ulang.

***

Ketika selesai menuliskan segala pengalaman yang terjadi selama pengerjaan topik skripsi itu, saya jadi tahu apa jawaban dari pertanyaan yang terlontarkan di akhir cerita.

Selama ini saya mengerjakan skripsi itu cuma hanya untuk pembuktian diri belaka, bukan untuk membantu memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat. Dan saya kira hal itulah yang menjadi penjara rasionalisasi yang membelenggu saya selama ini. Kini saya sudah terbebas darinya.

Lounge Frame Coffe House Salatiga. 29 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s