Pesan Dari McCartney

paulmc-cartney

DAN untuk kesekian kalinya, saya bangun tengah malam karena terkaget. Bukan karena suara berisik tetangga kamar atau pun alaram saya berbunyi, tapi karena saya mendapatkan mimpi buruk―yang tak pernah bisa saya ingat ketika sudah terbangun. Dan ketika saya mencoba tidur lagi, mata saya tidak bisa terpejam lagi. Duh, penyakit insomnia ini mulai membunuh saya.

Kalau tidak salah ingat, dulu ketika saya belajar di kelas, salah satu pemicu insomnia disebabkan stres berlebih. Namun stres itu tidak muncul langsung dalam alam sadar. Sebaliknya, stres itu berada dalam alam bawah sadar kita. Dan kalau tidak salah ingat lagi, proses penekanan itu dinamakan represi.

Tetapi ngomong-ngomong, stres apa ya yang saya repres?

Jika saya pikir lagi pertanyaan itu, sebenarnya ada banyak masalah yang sebetulnya saya repres. Dan salah satunya adalah kegagalan saya dalam skripsi. Kegagalan itu sendiri bermula ketika salah satu dosen pembimbing saya meminta saya untuk mencari variabel penelitian yang lebih mudah. Semula saya ingin menolak. Tapi karena sudah jenuh dengan variabel sebelumnya juga, saya akhirnya menuruti sarannya.

Lagipula, benak saya, perubahan variabel lumrah terjadi dalam sebuah penelitian. Asalkan masih dalam konteks, hal ini masih bisa diterima khalayak banyak.

Tapi ternyata perubahan kecil itu berbuntut panjang. Oleh dosen pembimbing lainnya, saya diminta untuk ujian awal lagi. Biro skripsi, yang mengurusi skripsi-skripsi di fakultas saya, juga menyepakati dengan keputusan dosen pembimbing saya itu. Alhasil, saya mesti menerima vonis itu tanpa bisa melakukan banding.

Ketika mendengar vonis itu, saya memang masih bisa tersenyum pada semua orang. Tetapi dalam dada saya sebenarnya ada kecamuk emosi hebat. Mulai dari rasa sedih, malu, cemas hingga marah semua berfusi menjadi satu penyesalan yang dalam. Penyesalan itu sendiri bergejolak hebat dan mendesak keluar dari dalam dada.

Tapi karena saya orang yang tidak terlalu ekspresif, penyesalan itu saya repres. Tanpa saya duga, represan itu memberikan dampak negatif pada pola hidup saya. Sialan.

***

KARENA sudah terlanjur tidak bisa tidur, saya pun kembali ke meja belajar. Saya mulai mendengarkan beberapa musik sambil mengerjakan beberapa tulisan.

Sayangnya, dari sekian banyak lagu yang saya punya, tak satupun yang bisa menenangkan pikiran saya. Terpaksa saya mesti mencari rekomendasi dari internet.

Sembari mencari rekomendasi, tiba-tiba saya mulai terhenyak ketika playlist saya memutarkan lagu dari “The Beatles” berjudul “Let it be”. Terus terang saja, saya sendiri kaget. Karena untuk pertama kalinya saya jatuh cinta pada lagu pop oldiest.

Lagu ini sendiri akhirnya saya putar ulang terus menerus. Saya merasakan ada sebuah pesan tersirat yang hendak disampaikan oleh Paul McCartney pada pendengarnya.

Mari kita lihat bait pertama ini: When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to me / Speaking words of wisdom, let it be / And in my hour of darkness / she is standing right in front of me / Speaking words of wisdom, let it be.

Dalam bait ini, McCartney berusaha menceritakan kegelisahan yang dialaminya waktu itu. Kegelisahan ini sendiri bermula ketika adanya konflik internal dalam grupband-nya. Padahal saat itu pamor The Beatles sedang meroket. Sebagai pemimpin, ia merasa ikut bertanggung jawab atas terjadinya konflik itu.

Tetapi ternyata kegelisahan itu makin membesar dan mulai memerangkapnya, Hingga pada akhirnya, pada suatu malam ia bermimpi bertemu dengan Mother Mary (Ibu Mary). Dalam mimpi itu, ibu Mary menenangkannya dengan berkata, “Let it be,”

Bagi anda―bahkan saya, kalimat itu mungkin terkesan sederhana dan tanpa makna. Tetapi tidak bagi McCartney. Sebaliknya, kalimat itu memicunya kembali mendalami kegelisahan hatinya sendiri.

Ia mulai memahami bahwa, pada dasarnya kegelisahan timbul karena sebuah masalah. Masalah sendiri sebenarnya sebuah manifestasi nilai dari persepsi manusia yang bersifat nisbi. Yang artinya, ‘masalah’ akan menjadi ‘masalah’, ketika ia menyebutnya sebagai ‘masalah’. Oleh karena itulah, tak setiap orang akan menilainya sebagai masalah. Jadi tak salah jika, seorang Confusius mengatakan, “Life is really simple, but we insist on making it complicated.”

Solusi untuk menyikapinya sebenarnya mudah, yakni dengan “berpasrah”. Tapi sayangnya tak semua orang bisa memahami bahkan seringnya menerjemahkannya dengan kata “menyerah”.

Memang benar secara terminologi, berpasrah memang diartikan sebagai menyerah, tapi perbedaannya adalah esensi yang ada dalam kedua kata tersebut. Mereka yang menyerah, berarti mereka sudah mencapai titik batas kemampuannya. Dalam keadaan itu terjadi kebingungan karena tak tahu harus bagaimana dan keputus-asaan. Hingga akhirnya, tak ada lagi yang bisa dilakukan dan memilih menyerah kalah.

Sedangkan untuk berpasrah, mereka akan merasa lemah dan tak berdaya. Di sini ada sebuah kebutuhan untuk membutuhkan jeda guna menarik nafas sejenak agar dapat melihat situasi sepenuhnya dari sudut pandang berbeda. Kemudian dari sana, seseorang itu akan mulai mengevaluasi dan mencari peluang atas segala kemungkinan yang ada.

Tetapi pertanyaan baru muncul, “bagaimana bentuk ke-pasrah-an itu sendiri dan bagaimana bisa menyelesaikan ke-gelisah-an?”

McCartney menjawabnya lewat bait kedua lagu ini: And when the broken hearted people living in the world agree / There will be an answer, let it be / For though they may be parted there is still a chance that they will see / There will be an answer, let it be.

Dalam titik kepasrahan, McCartney mulai tersadar akan segala kelemahan yang ia empunya. Dari kesadaran akan kelemahan diri itu, ia mulai belajar untuk mencari solusi yang terbaik atas konflik yang ada. Bahkan termasuk solusi pembubaran grupband.

Tanpa melakukan pengeliminasian solusi, ia mulai mengevaluasi tiap solusi yang ada dan memperluas perspektif yang ia empunya.  Ia percaya bahwa segala pertanyaan pasti memiliki sebuah jawaban, sekalipun jawaban akan itu akan muncul baru di kemudian hari.

Lalu pesan terakhir dari McCartney ada dalam bait ketiga. Coba kita tengok: And when the night is cloudy, there is still a light that shines on me / Shine on until tomorrow, let it be / I wake up to the sound of music / Mother Mary comes to me / Speaking words of wisdom, let it be.

Ketika ia mulai mengerti bahwa solusi yang ada dan terbaik adalah pembubaran grupband, ia sendiri tak bisa menyembunyikan kesedihannya dengan perpisahan yang harus terjadi itu.

Namun ia berusaha mengambil sisi positif dari perpisahan itu. Dengan berpisah, takkan ada konflik yang akan terjadi lagi.  Takkan lagi ada juga hati yang tersakiti.

Selain itu, waktu juga akan memberikan masing-masing personel “The Beatles” untuk mengintrospeksi dan merefleksikan diri. Introspeksi dan refleksi diri, pada umumnya menyakitkan. Tetapi untuk menjadi lebih dewasa (atau tepatnya menjadi orang yang lebih baik) lagi, sakit itu memang diperlukan.

Dengan meresapi sakit yang ada, kita bisa belajar caranya agar tidak sakit. Dengan meresapi sakit pula, kita bisa mengerti bagaimana nikmat. Dan dengan meresapi sakit, kita bisa belajar meningkatkan kemampuan jauh melebihi sebelumnya.

***

SELESAI menguraikan pesan panjang dari McCartney dalam lagu Let It be, saya baru sadar kalau pagi sudah datang. Matahari sudah mulai tampak dari balik atap-atap rumah yang terlihat dari jendela kamar saya yang ada di lantai dua. Sinarnya pun mulai merambat masuk menerangi tiap sudut kamar saya.

Dan kini mulai mengerti apa yang harus saya lakukan dengan kegagalan saya dalam tugas akhir. Rasa sesal yang dulu menyeruak dalam dada, kini sudah mulai sirna. Sudah saatnya membiarkan segalanya seperti sungai yang mengalir.

 

Salatiga, 7 Mei 2013

One thought on “Pesan Dari McCartney

  1. Pingback: Penjara Rasionalisasi | The Wordsmith

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s