Efektivitas Penugasan Kelompok Dalam Perkuliahan

SABTU siang itu ketika menuju ke kafetaria yang terletak di dekat parkir depan, saya melihat Christina Noviolla, adik angkatan sekaligus bekas rekan saya dulu di Pers Mahasiswa Scientiarum. Dia tampak sedang sibuk mengedarkan beberapa lembar kertas pada beberapa orang yang sedang berjalan. Lalu ketika melihat saya, ia segera memanggil saya untuk ikut mengisi lembaran angket yang dibawanya. Saya mengangguk setuju dan berjalan menuju ke arahnya.

Saya segera mengambil kertas yang diserahkan pada saya. Sembari mengerjakan angket tersebut, saya mulai bertanya pada Novi, angket ini digunakan untuk keperluan matakuliah apa?

“Konstruksi Tes,”jawab Novi pada saya.

Saya agak kaget dengan jawabannya dan kembali bertanya padanya apakah matakuliah tersebut belum selesai?

Ia menganggukkan kepala sambil tertawa-tertawa kecil.  “Senin sudah kelar, kok. Soalnya kurang presentasi dan revisi saja.”jawabnya. “oh iya, akhirnya tugas kelompok kemarin sudah kelar, lho. Tapi ya, begitulah, banyak ninggalin masalah. Sampai semalam, karena sudah terlalu stres dan kecapekan, Mamaku manggil tukang pijat buat ngerokin aku.”

Memangnya ada masalah apa, tanya saya padanya.

Ia mulai bercerita bahwa pada Jumat, seusai presentasi hasil kerja kelompok, ia mesti beradu mulut dengan salah satu dari rekan sekelompoknya. Ia dituding sebagai “anak kecil” karena tidak mau berbagi materi kelompok. “Lho, padahal mereka itu sudah aku kontak lewat pesan singkat, tapi tidak ada balasan satu pun.” Keluhnya.

Celakanya ketika rekan-rekan sekelompok Novi tidak mendapatkan materi itu, pada sesi tanya-jawab, tak satu dari mereka yang bisa menjawab pertanyaan dari kelompok penanya maupun dari dosen pengampu. Hanya Novi seorang yang bisa menjawab pertanyaan. “dari situlah salah seorang anak mulai mandang aku egois dan seperti “anak kecil” karena tidak mau membagi materi jauh-jauh hari. Tentang pesan singkatku yang tidak mereka balas, mereka berkilah kalau “lagi tidak ada pulsa”.”Ujarnya geram.

Sekalipun tangan dan otak masih berfokus mengerjakan angket miliknya, saya berusaha mendengarkan cerita dari Novi itu dengan seksama. Novi terus melanjutkan ceritanya. “akhirnya ketika kelar presentasi, aku yang udah tidak kuat, akhirnya langsung saja nangis pas keluar dari ruang kelas. Salah seorang temanku yang tahu aku nangis, segera mencoba menenangkan aku.”

Lalu bagaimana tanggapan dari dosennya?

“Bu Anti yang tahu kalau aku nangis juga segera menghibur aku. Dia bilang kalau kejadian macam itu kerap kali terjadi. Ia meminta aku agar tidak usah terlalu mendengarkan omongan dari orang lain, termasuk rekan sekelompokku.” Ujarnya. “Bu Anti juga cerita kalau beberapa hari sebelumnya, ia mesti mengirimkan sebuah pesan di jejaring sosial yang isinya “memaksa” anak-anak agar segera presentasi.”

Saya terbelalak ketika mendengar cerita dari Novi tersebut. Saya memintanya untuk berhenti bercerita dulu. Ia mengiyakan dan kembali melihat -lihat angket-angket yang Dengan sedikit tergesa, saya berusaha mengerjakan angket itu dengan secepat kilat karena ingin mendengar cerita itu lebih seksama. Tidak sampai 2 menit angket itu sudah saya selesaikan dan langsung saya balikkan kepada Novi lagi.

“Terima kasih, ya.” Ujarnya pada saya.

Saya memintanya untuk kembali melanjutkan cerita lagi. “ya, beruntungnya, setelah itu sama Bu Anti memberikan kesempatan lagi untuk perbaikan dan presentasi ulang. Tapi aku sudah dongkol duluan sama anggota kelompokku itu. Mereka kok kaya ga diuntung banget.”

“Tidak diuntung bagaimana maksudnya?”

“Ya, iyalah. Semua itu yang mengerjakan aku seorang. Dan mereka tidak berkontribusi sama sekali dalam penelitian ini. Sebenarnya minggu yang lalu, sama Hana, asisten kelompokku, aku sudah dikasih mandat untuk segera mengumpulkan makalah itu. Tetapi karena aku kurang tahu NIM dan nama lengkap mereka, ya aku kirimin pesan singkat ke tiap anggota kelompok. Tapi ga ada yang bales sama sekali. Akhirnya, pas waktu sudah mepet banget, akhirnya aku ngirimin apa adanya ke asisten. Tapi aku kasih catatan bahwa ada anggota kelompok yang belum terdaftar karena tidak tahu nama dan NIM mereka.” Kisahnya dengan nada mulai meninggi.

Setelah makalah itu dikumpulkan, tetap saja anggota kelompok Novi tidak ada yang menghubungi mereka. “Sampai pada presentasi tidak ada yang menghubungi aku sama sekali soal makalah. Ya sudah, aku segera bikin janji saja sama kelompok pereview, Hana dan Bu Anti. Itupun gara-gara sudah didesak sama Bu Anti karena batas perkuliahan sudah dekat dan nilai belum ada yang masuk.”ujar Novi.

Setelah janji pertemuan itu dibuat, ia mencoba mengirimkan pesan singkat lagi kepada mereka dan sekali lagi tidak ada yang meresponnya.

Lalu ketika hari presentasi tiba dan seperti diceritakan Novi di awal tadi, salah seorang rekan Novi marah karena tidak diberi hasil makalah oleh Novi jauh hari sebelum presentasi, sehingga tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh kelompok pereview ataupun dosen pengampu. Hal ini membuat rekan Novi itu menyebuat Novi sebagai “Anak kecil” karena pesan singkat tidak dibalas.

“Yang butuh makalah itu siapa?”tukas Novi. “Semester depan, pokoknya aku tidak mau sekelompok dengan mereka lagi. Aku sudah sepakat dengan salah seorang teman dari kelompok penanya untuk membentuk satu kelompok bersama semester depan. Kebetulan ia juga mengalami hal yang sama denganku.”

Dari arah samping, tiba-tiba ada seseorang lelaki yang berdiri menyebalahi Novi. Ia menyerahkan angket yang sudah selesai diisinya. Setelah itu, Novi pun mulai pamit pada saya untuk kembali berkumpul dengan kelompoknya lagi. Saya mengiyakan dan mulai meneruskan perjalan ke arah kafetaria.

***

USAI memesan kopi di warung yang terletak paling pojok dalam kafetaria, saya mencari tempat untuk duduk. Bangku dan meja di kafetaria tampak terlihat lenggang. Hanya terlihat satu atau dua meja saja terisi beberapa mahasiswa yang tengah asyik berdiskusi. Sayang tak ada satupun dari mereka yang saya kenal. Dari paras mereka yang masih muda, saya menerka kalau mereka adalah mahasiswa angkatan muda.

Saya, akhirnya, memilih untuk duduk seorang diri di bangku dekat pintu luar. Di sana memang menjadi tempat favorit saya untuk duduk. Pengap dan lembabnya kafetaria tak terlalu terasa jika duduk di sebelah sana. Saya mulai menyulut rokok sambil menunggu kopi pesanan saya datang.

Pikiran saya sendiri masih tertancap pada keluh kesah Novi tadi. Keluh kesah tentang kelompoknya yang berpangku nama memancing pertanyaan lama yang tersimpan dalam diri saya. “Apakah tugas kelompok itu benar-benar bisa efektif dalam sebuah sistem perkuliahan?

Pertanyaan itu sendiri sebenarnya pernah muncul pada tahun keempat saya berkuliah. Waktu itu saya tidak mendapatkan kelompok sebuah matakuliah hingga membuat saya melancarkan protes pada dosen dan teman-teman sekelas. Tetapi karena tidak ada yang mendengarkan, akhirnya saya melepaskan matakuliah tanpa sepengetahuan dosen tersebut.

Pada akhir perkuliahan, dosen pengampu itu mendatangi saya bertanya apa alasan saya melepaskan matakuliah yang diampunya.

Sebelum saya menjawab pertanyaannya, saya mengajukan kenapa dosen selalu memberikan tugas kelompok bagi mahasiswa?

Ia menerangkan bahwa tugas kelompok dibikin agar mahasiswa satu sama yang lain dapat saling belajar dan bekerja sama. Setelah mendengar jawaban itu, dengan singkat saya menjawab pertanyaan sebelumnya bahwa saya tidak mendapatkan kelompok.

“Kenapa kamu tidak mencari?” tanya dosen itu pada saya.

Saya sudah mencari kelompok yang mau untuk menerima saya sebagai anggota kelompok. Tetapi tetap saja saya ditolak sana-sini. Alasannya pun selalu sama. “sudah penuh”. Kalau tidak.”maaf, aku sudah janjian sama yang lain untuk sekelompok.”

“ya, sudah. Karena tidak ada yang mau berkelompok sama saya, saya lepas saja matakuliahnya.” Lalu saya melanjutkan apa sebanrnya tugas

“Kamu itu orang yang tidak bisa bekerja secara berkelompok, ya, kalau begitu? Nanti kalau di dunia kerja akan kesusahan, lho.”

Benarkah saya tidak bisa bekerja secara berkelompok?

Saya mengambil pengalaman lain untuk menjawab pertanyaan itu. Lewat Ketua Angkatan, saya mencoba mencari tahu hal apa yang selama ini membuat saya seolah dijauhi oleh teman-teman. Dia pun berjanji mencari tahu jawaban secepatnya.

Akhirnya saya pun tahu apa penyebab saya dihindari teman-teman saya. Saya ini dilabelkan sebagai seseorang yang berpikiran rumit dan aneh. Lebih daripada itu, saya  juga dianggap sebagai seorang tukang kritik yang punya lidah tajam.

“Memang apa salahnya jika mengkritik? Bukankah kritikan itu adalah sebuah konsultasi gratis?” tanya saya padanya.

Ia menjelaskan panjang lebar dan terkesan berputar-putar. Inti yang saya tangkap dari penjelasannya adalah tidak semua orang suka dikritik. Dan ia meminta saya juga agar menjaga omongan ketika sedang mengkritik. “Lagipula selama ini kritikanmu itu selalu tidak pernah disertai dengan saran. Jadi di sanalah anak-anak mulai sebal sama kamu.” ujarnya.

Kritikan apa dan yang mana yang kamu maksudkan, tanya saya balik.

Ia menjelaskan lebih rinci bahwa setiap kali teman-teman lain presentasi,  mereka selalu saja risih dengan pertanyaan-pertanyaan saya yang selalu menuntut kedetailan sebuah konsep atau teori. “ya, mereka itu kan memiliki keterbatasan dalam berpikir. Tidak seperti kamu, yang pandai berlogika dan filsafat. Jadi jangan keterlaluanlah.”jawabnya.

Ketika mendengar jawaban itu, sejujurnya saya ingin sekali tertawa. Tetapi karena ini pembicaraan serius, saya menahannya. Saya mencoba menegaskan satu hal bahwa saya itu tidak pandai berlogika atau filsafat seperti yang ia maksudkan. “Saya saja tidak tahu sejarah filsafat, kok,”tukas saya.

Belum sempat ia menanggapi, saya mulai mendedah bahwa perdebatan ketika membahas sebuah teori dalam konteks ilmu pengetahuan adalah hal yang wajar. Lagipula apa yang saya tanyakan lebih banyak pada hal-hal mendasar. Tak lupa juga saya menambahkan ketika pertanyaan-pertanyaan itu dibatasi oleh ketidaksukaan semacam itu, maka ilmu pengetahuan pastilah akan mati.

Bro, jangan terlalu teoritislah.” sergahnya.

“maksud kamu dengan teoritis?”

“ya, jangan terpaku dengan apa yang ada di dalam buku. Cobalah lihatlah lingkungan sekitar juga” Jawabnya.

Saya langsung terdiam. Kediaman saya bukan tidak ingin menyanggah pernyataan itu, tetapi karena arah pembicaraan itu mulai melantur dan tidak jelas. Jika pun ini diteruskan, hanya akan terjadi perdebatan yang panjang dan tidak menghasilkan kesimpulan.

Tetapi dari percakapan itu, saya menangkap bahwa saya bukanlah orang yang tidak bisa bekerja secara kelompok, merekalah yang tidak bisa bekerja sama dengan saya.

Ya, sudahlah. Biarlah saja mereka menjadi diri mereka dan saya tetaplah menjadi diri saya.

***

“INI mas kopinya.”Ujar dari mbak penjaga warung. Saya agak terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba sudah ada di samping saya. Saya segera mengangguk dan menerima kopi dari tangannya. Buru-buru saya ambil selembar uang dalam kantong celana untuk sekalian membayarnya. “Okey, mas. Pas, ya?”

Saya mengiyakan dan ia pun mulai berlalu. Sembari menyesap kopi yang masih panas, pikiran saya mulai kembali lari lagi. Ketika saya tahu bahwa yang bermasalah dengan saya adalah lingkungan teman-teman saya sendiri, maka demi menyiasati tugas kelompok dari para dosen itu, saya mulai memakai strategi scouting untuk merekrut anggota kelompok.

Sebenarnya, secara harafiah, strategi scouting adalah memantau orang. strategi scouting biasanya dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar untuk menghancurkan perusahaan musuh dengan cara merekrut orang-orang berkualitas dari dalam perusahaan musuh.

Dalam kasus saya, strategi scouting lebih saya gunakan agar saya mendapatkan orang yang berkualitas yang bisa bekerja sama dengan saya.

Namun karena waktu yang terbatas, maka hasil scouting yang saya terapkan kurang masimal. Orang-orang yang saya rekrut jadi anggota kelompok adalah orang-orang yang malas dan kurang bisa diatur. Impact-nya, semua orang dalam kelompok itu tidak ada yang mengerjakan. Maka mau tidak mau saya mesti mengerjakannya seorang diri. Mulai dari rancangan awal tugas sampai presentasi hasil tugas pula.

Brengsek…

Seorang teman saya Great Erick Kaumbur yang mengetahui permasalahan saya itu, memberi tahu bahwa hal seperti itu adalah hal yang biasa dalam sebuah kelompok. Ia mengusulkan sebuah solusi untuk mengatasi hal itu adalah dengan “memaksa” mereka secara halus.

Memaksa seperti apa?

“Ya, buatlah tugas itu sebagai sebuah “kebutuhan” yang penting.”jawabnya.

Ia menerangkan bahwa maksud dari kebutuhan yang ia maksudkan adalah ketika mereka mulai menyadari bahwa mereka butuh nilai yang baik, maka mau tidak mau mereka akan mengerjakan tugas kelompok itu secara bersama.

Namun saya menggarisbawahi bahwa cara seperti itu akan efektif ketika mahasiswa-mahasiswa yang ada sekarang memiliki kesadaran diri akan belajar yang tinggi dan punya ketekunan. Sayangnya, sepanjang pengalaman saya berkelompok, saya tidak pernah mendapatkan mahasiswa yang punya kesadaran semacam itu.

Lebih daripada itu, faktor lain yang berpengaruh dalam pola manajemen seperti itu adalah soal efektifitas tenaga dan waktu. Metode tersebut tentunya akan memakan waktu tenaga yang tidak sedikit, karena dalam metode tersebut, selain kita belajar materi yang kita punya, kita secara tidak langsung kita akan menjadi seorang “pengajar” bagi rekan sekelompok yang tidak mengerti sebuah materi.

Lalu untuk efektifitas waktu, tiap tugas apapun, entah itu individu atau kelompok, pasti mempunyai deadline. Di sinilah letak kelemahan metode tersebut. Secara otomatis untuk mempersiapkan materi dan SDM yang diempunyai sesuai dengan target awal, maka secara otomatis memerlukan waktu yang tak sedikit. Dan biasanya dalam sebuah tugas kelompok, waktu yang diberikan cenderung sedikit (sekitar seminggu atau dua minggu). Bagi saya, ini adalah hal yang mustahil.

Ketika solusi dari Great gagal saya terapkan, maka solusi lain saya juga dapatkan dari kakak perempuan saya, yang lulusan Teknik Sipil Universitas Kristen Petra. Ia menceritakan bahwa hal itu kerap kali terjadi di kampusnya. Cara yang dipakainya juga sangat instan dan praktis. “Ya, coret saja nama mereka dari makalah yang kamu buat.” Ujarnya dengan nada dingin.

Coret nama? Itu terlalu sadistis. Saya tidak bisa lakukan hal itu karena ini tidak manusiawi…

Belum selesai saya berucap, Ia langsung menanggapi dengan melakukan perbandingan terbalik: apakah yang dilakukan mereka dengan mengeksploitasi saya, baik secara materi maupun kemampuan juga manusiawi? Lebih jauh ia bertanya pada saya, apa manusiawi itu sendiri? dan apa indikatornya?

Saya jadi terdiam mendengarkan perbandingan itu.

Ia menerangkan lagi bahwa efek jera dari solusi ini pastilah terasa dan bisa mengubah sudut pandang mahasiswa yang malas.

“Saya tahu kalau kamu itu tidak enak kalau mencoret nama mereka dalam makalah. Tapi, jangan terlalu dikuasai perasaan.”sarannya pada saya.

Memang benar apa yang dibilang oleh kakak perempuan saya kalau saya ini orang yang terlalu murah hati. Tetapi saya tetap berpegang dengan hati saya, kalau cara mendidik seperti itu terlalu keterlaluan dan cenderung otoriter. Dari sana, saya juga mempertanyakan apakah metode seperti ini ini akan merubah perilaku mahasiswa itu di kemudian hari? Belum tentu, bahkan mungkin tidak akan pernah.

Dari partikel-partikel pengalaman itu, saya menyimpulkan bahwa tugas kelompok dalam sebuah perkuliahan sebenarnya tidaklah efektif. Hal ini jelas terlihat, ketika hasil kerja kelompok ini dievaluasi dan nilai dari evaluasi hasil kerja kelompok itu dijadikan salah satu penilaian untuk menilai pemahaman seorang mahasiswa akan sebuah materi.

Sebaliknya saya malah menduga tugas kelompok sebenarnya hanyalah cara yang digunakan oleh dosen untuk mempersingkat penilaian murid-muridnya. Padahal tidak semudah itu menilai pemahaman seorang mahasiswa tentang materi yang sudah dipelajarinya.

Kalau begitu, dengan tugas apa mahasiswa dibisa dinilai memahami materi perkuliahan?

Gampang. Berikan saja mahasiswa tugas esai secara individu.

Dengan esai, penilaian akan pemahaman mahasiswa terhadap sebuah materi bisa jauh lebih terlihat. Selain itu dengan tugas esai juga bisa lebih merangsang kekritisan, kekreatifitasan dan logika mahasiswa secara bersamaan dalam memecahkan sebuah masalah. Jika dikembalikan kepada tujuan awal pendidikan, bukankah memecahkan masalah adalah salah satu esensinya?

Memang dengan esai, penilaian akan jadi lebih melelahkan dan sulit. Tetapi setidaknya hal ini layak dicoba oleh para dosen dalam sebuah lingkup perkuliahan.

***

Rokok saya sudah habis. Kopi saya pun sudah benar-benar dingin. Rasanya pun tidak enak lagi. Tapi sudahlah… Sudah saatnya saya pergi untuk menyelesaikan esai lainnya.

Salatiga, 5 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s