Buku

SORE ITU saya pergi ke kafe delick yang letaknya ada di belakang parkiran kampus. Saya pergi ke sana karena saya butuh asupan kafein dari secangkir kopi guna menahan rasa kantuk yang betul-betul tak tertahankan.

Rasa kantuk itu sendiri disebabkan saya kurang tidur pada malam sebelumnya. Saya mesti berhadapan dengan berbagai buku dan jurnal penelitian guna menyelesaikan tugas akhir saya.

Dan ketika saya baru menginjakkan kaki di depan kafe, saya sudah langsung disambut hangat oleh Theresia Yuwono. Saya biasa memanggilnya Cik Syuling. Dia adalah salah satu pemilik dari kafe tersebut. Pemilik lainnya bernama Yoyok Endra Dwi Cahyono, atau biasa saya panggil dengan Om Yoyok. Ia merangkap sebagai barista sekaligus juru masak di sana.

Cik Syuling segera menyerahkan daftar menu pada saya. Saya langsung mengerenyitkan dahi karena ada banyak sekali pilihan di daftar menu tersebut. Ternyata banyaknya pilihan yang ada, sejatinya bukan mempermudah dalam memutuskan sebuah pilihan, tapi sebaliknya yang ada makin membingungkan. Akhirnya, dengan menyesuaikan uang di dompet, saya menjatuhkan pilihan pada cappuccino hangat.

“oke, tunggu sebentar, ya?” jawab Cik Syuling sambil menuliskan pesanan saya pada selembar kertas kecil. Ia langsung menghantarkan kertas berisi pesanan saya itu ke arah dapur, tempat Om Yoyok sedang mengerjakan pesanan yang lainnya.

Saya sendiri segera meletakkan tas saya ke lantai dan segera mengambil tempat duduk di sebuah meja dekat Cik Syuling sedang mengoreksi hasil ujian. Tak lupa saya mengambil sebuah buku untuk saya baca-baca sambil menunggu kopi saya datang.

Tiba-tiba, Cik Syuling yang baru saja datang dari arah dapur segera membuka pembicaraan.”eh, kemarin aku beli bukunya Paulo Coelho yang judulnya Alchemist, lho.” katanya seraya kembali duduk dan mengoreksi hasil ujian.”aku beli yang versi bahasa Inggris, bukan yang bahasa Indonesia.“

Saya langsung meminta untuk diberi tahu seperti apa buku Paulo Coelho dalam versi bahasa Inggris itu. Karena selama ini, saya cuma membeli buku Coelho yang versi bahasa Indonesia. Dan dengan sigap Cik Syuling segera mengambilkan buku tersebut di rak bagian bawah kasir. Ia langsung menyerahkannya kepada saya.

Buku itu lebih kecil dan tipis dari biasanya. Sampulnya pun lebih tebal dari karton yang biasa para penerbit sebagai sampul buku. Tercium aroma minyak yang cukup menyengat dari bahan kertas buku itu. Hal ini menunjukkan bahwa bahan kertas yang dipakai, adalah sejenis kertas minyak. Tapi itu bukan kualitas nomor wahid. Tapi untuk ukuran buku berbahasa Inggris yang beredar di Indonesia, bahan kertas itu sudah termasuk barang yang mewah. Saya segera menanyakan harga buku itu pada Cik Syuling.

“sekitar 80ribu kalau tidak salah ingat.” Jawab Cik Syuling.

Secara spontan, saya langsung berkomentar bahwa harga tersebut terlalu mahal untuk saya sebagai mahasiswa. Namun saya tidak bisa memungkiri harga yang diberikan tersebut lebih murah ketika diperbandingkan dengan kualitas yang ada di dalam buku tersebut. Dan Cik Syuling ikut mengamini asumsi saya tersebut. “terus terang buku ini (Alchemist), bagus. Banyak nilai-nilai yang bisa kita gali dan kita dapatkan.”

Saya langsung bercerita bahwa berkat buku itu saya jadi menemukan “siapa Tuhan itu sebenarnya” dan saya juga mendapatkan apa yang jadi “tujuan hidup”.  Cik Syuling tertawa dan ia mohon pamit untuk melihat apakah kopi saya sudah selesai dibuat atau belum. Saya terus mengamati buku tersebut.

Tiba-tiba saya terkenang pada masa kecil saya. Dulu, ketika saya kecil, saya begitu sering dicekoki oleh Papa dan Mama beraneka macam buku. Mulai ensiklopedia, buku pintar, novel-novel sampai buku cerita bergambar. Waktu itu, saya cuma bisa “enggih-enggih” saja menuruti perintah mereka, tanpa saya pernah mengtahui apa manfaat membaca buku sebenarnya.

Pelan-pelan, pola tersebut mulai tertanamkan menjadi sebuah kebiasaan. Hampir kemana-mana saya selalu membawa buku untuk dibaca. Mulai dari ke sekolah, nongkrong di mall, ke tempat tidur sampai ke WC saya membawa buku untuk jadi bahan bacaan.

Hingga pada suatu titik, ketika saya ada di bangku SMA, saya mulai meninggalkan kebiasaan saya untuk membaca buku. Saya mulai masuk pada lingkungan pergaulan. Saya mulai mengenal apa yang dimaksudkan dengan “pertemanan”. Tapi teman-teman yang saya waktu itu bukan berasal dari sekolah, tapi dari “jalanan”. Dari mereka, saya mulai berkenalan dengan apa yang dinamakan rokok, alkohol, pacaran bahkan cimeng.

Pernah suatu hari, saya sedang membawa buku ke tempat biasa kami nongkrong. Niatnya saya ingin membaca buku di tempat itu. Karena tempatnya luas dan udaranya sejuk. Tapi ketika mereka tahu saya akan membaca buku, mereka langsung mengejek saya dengan sebutan “kutu buku”. Memang apa salahnya kalau kita membaca buku? Bukannya buku itu adalah jendela dunia?

“Itu bohong. Buku itu tidak mengajarkan kita hal-hal yang praktis, tapi cuma teori belaka. Kalau inginn tahu tentang dunia, ya belajarlah langsung dari dunia. Bukan lewat dari para pengarang di buku itu.”ujar salah satu teman saya.

Saya terhenyak dengan pendapat dari teman saya itu. Mungkin selama ini saya cuma bisa melihat dunia hanya lewat buku-buku yang saya punya saja. Saya tidak pernah melihat bagaimana realita di dunia sebenarnya.  Alhasil, saya pun meninggalkan buku-buku itu ke dalam kardus yang tertumuk rapi di gudang.

Namun ketika mulai masuk ke dunia perkuliahan, saya mulai menemukan gairah itu kembali, terutama saat saya berkecimpung di dunia penelitian dan jurnalistik. Di sana, saya “dipaksa” untuk menulis, menulis dan terus menulis. Saya, yang tidak tahu cara menulis yang baik dan benar, langsung saja bertanya bagaimana cara untuk menulis?

Jufri Zal, seorang rekan saya di Atjeh menjawab bahwa dasar menulis adalah membaca. “Baca, baca dan baca. Itu saja sudah cukup sebagai ilmu dasar untuk menulis.”ujar Jufri Zal.

Terus terang ketika mendengar jawaban dari Jufri Zal, saya langsung terkejut. Ternyata apa yang menjadi dasar dari sebuah penulisan adalah sudah saya lakukan sejak saya masih bocah. Semua seolah-olah saling berhubungan satu sama yang lain.

Seorang teman sekaligus guru menulis saya di Yogyakarta, Mas Agus menambahi jawaban Jufri Zal tadi. “Dengan banyak membaca, secara tak langsung kita akan terbiasa mengetahui awalan sebuah cerita, lalu bagaimana penyusunan logika antar kalimat juga tiap paragraf, belum lagi bagaimana penyusunan sebuah kronologi secara detail. Semua ada ketika kita ada dalam aktivitas membaca.” lanjutnya. “Dan hal yang terpenting ketika kamu membaca buku adalah, kamu bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan yang belum pernah kamu ketahui.”

***

JIKA ANDA masuk ke dalam kamar indekost saya, yang terletak di daerah Kemiri Barat, anda akan kaget melihat lusinan buku yang bertumpuk di sana-sini. Itu masih belum seberapa ketika anda menilik ke belakang di mana meja belajar saya berada. Di sana berjejer sederet buku-buku baik novel, sastra, ilmiah, filsafat, sampai sejarah klasik. Semua yang saya sebutkan tadi memang merupakan genre-genre yang saya sukai dan koleksi.

Seorang teman saya, Yenita Resty pernah bertanya, apakah semua buku-buku itu sudah selesai saya baca semua sampai habis?

Saya menjawab ada yang sudah, ada yang juga yang belum selesai saya baca. Tapi kebanyakkan adalah belum selesai saya baca. Hahaha… Memang harus saya akui, soal membaca saya kurang bisa membaca secepat kilat. Biasanya, saya butuh dua sampai tiga minggu untuk menyelesaikan sebuah buku. Itupun mesti one by one, karena saya bukan tipikal orang yang bisa multitasking.

Kendala lain yang juga terbesar saya dalam membaca buku adalah keserakahan. Benar. Keserakahan ini membuat saya sering gelap mata ketika saya menemukan buku baru dan menarik ketika berada di toko buku atau perpustakaan. Saya langsung khilaf untuk meminjam atau membelinya.

Dan ketika sampai di kamar, pacar saya, Rosellina Myra langsung saja menghardik saya dengan sebuah sindiran tajam. “padahal buku-buku yang di kamar ini saja belum selesai dibaca, sekarang malah beli/pinjam buku lagi.” sindirnya tajam.

Dan saya cuma bisa tertawa menahan malu. Hahaha… Mungkin ada baiknya, saya mesti memakai kacamata kuda ketika ada di perpustakaan atau toko buku.

Selain itu, ia juga pernah komplain tentang kebiasaan saya itu dengan maksud bercanda. Ia mengatakan pada saya, ada satu musuh besar  yang harus dia hadapi untuk mendapatkan perhatian saya. 3 musuh besar itu adalah buku. Saya langsung terbahak.

Tetapi mungkin itu, apa yang dikatakan oleh Myra itu ada benarnya. Bagi saya, buku selain menjadi sumber pengetahuan, ia juga menjadi sarana untuk saya bisa menenangkan pikiran ketika sedang kalut atau gelisah. Dan ketika saya sedang membaca sebuah buku, saya tidak hanya melupakan segala kekalutan saya, tapi juga dunia di sekitar saya.

Tetapi apakah saya hanya menjadi seorang pecinta dan pembaca buku saja? Tidak. Saya juga ingin membuat sebuah buku kelak. Tetapi saya tidak mau gagal lagi seperti yang sudah-sudah.

Joss Wibisono, seorang mantan Redaktur Senior Siaran Indonesia Radio Netherland di Hilversum, yang baru saja meluncurkan buku berjudul “Saling-Silang Indonesia Eropa” pada tahun lalu, banyak memberikan saran untuk terus berlatih dan belajar di dunia per“cerpen”an, bila ingin lari ke dunia pernovelan. Ya, semua selalu ada waktunya. Dan saya percaya hal itu akan tiba suatu saat kelak.

Tiba-tiba dari arah belakang saya, Cik Syuling sudah muncul membawa kopi saya. Ia segera menyuguhkan secangkir Cappucino hangat ke hadapan saya. Saya mulai mengembaikan buku Alkemis miliknya, dan mulai membuka buku yang tadi saya bawa. Judul buku itu “J”. Dan nama pengarangnya adalah Erwin Santoso, yang tak lain adalah saya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s