Melawan Kecemasan

14984648-magnified-anxiety-word-illustration-on-white-background

Dari kemarin ada perasaan bersalah muncul dalam benak saya. Hal ini muncul ketika setelah saya gagal melakukan presentasi di sebuah kelas. Kegagalan akan presentasi tersebut bukan disebabkan ketidakmampuan saya dalam penguasaan materi, namun lebih kepada ketidakmampuan saya dalam menguasai kecemasan yang timbul saat ada di depan publik.

Kecemasan itu sendiri sudah muncul beberapa hari sebelumnya. Waktu itu saya bertemu dengan dua teman saya, Erick Kaumbur sekaligus Evan Adiananta. Mereka bilang bahwa akan sekelas dengan saya di mata kuliah Psikologi Kepribadian 2 yang diampu oleh seorang dosen baru, Dian Lestari Anakaka.

“kita bikin rusuh saja di kelas itu,”ujar Evan pada Erick. Erick menimpalinya dengan derai tawa dan tangan yang meminta toast.

Di depan toast yang dilakukan mereka, saya menunjukkan ekspresi biasa-biasa saja. Namun dalam benak saya, saya merasa takut. Mereka berdua terkenal cukup kritis dalam mempertanyakan kedetailan sebuah konsep. Hal ini cukup bikin resah banyak mahasiswa biasa lainnya, terutama ketika akan maju presentasi.

Saya, yang sudah kenal mereka tiga tahun terakhir ini, merasa tahu berbagai celah yang dapat saya masuki untuk membalikkan setiap pertanyaan mereka. Kemampuan membaca logika berpikir ini saya dapatkan lewat pengalaman dan seringnya interaksi dengan mereka berdua.

Hal itulah yang saya coba ajarkan pada teman-teman kelompok saya yang kebetulan mendapatkan undian untuk maju pertama pada presentasi. Saya mencoba mengasah kemampuan sekaligus pola pikir mereka. Saya mencoba merumuskan strategi seperti apa yang paling pas untuk menghadapi mereka. Saya mengajarkan apa yang bisa saya lakukan.

Namun kenyataannya ketika hari H sudah tiba, saya merasa dilanda kegugupan dan kecemasan. Jantungnya mungkin tak berdebar kencang, tapi  pikiran-pikiran saya untuk “takut ditanya” terus menghantui saya. Dan saya mulai tidak bisa menguasai diri saya sendiri. Perut saya terasa sakit. Piggang saya tiba-tiba pegal. Asam lambung saya naik. Semua berkumpul menjadi satu untuk menyerang total saya.

Saya berusaha melawan. Namun selalu saja gagal. Lawan lagi. Gagal lagi. Waktu mulai habis.

Kecemasan itu tidak hilang dan makin meningkat. Saya menjadi gagap. Otak saya berhenti berpikir dan mulai masuk pada satu ruang kosong. Gelap dan tidak terlihat apa-apa.

Di sanalah pertanyaan itu-pertanyaan dari Erick dan Evan muncul. Saya seperti kena pukul dari seseorang yang tak terlihat. Saya coba untuk bertahan dari serangan dan gempuran pertanyaan itu. Namun gagal dan saya terjatuh.

Hal inilah yang membuat saya merasa bersalah pada diri saya sendiri.  Rasa bersalah itu membuat saya mulai kehilangan arah. Semangat saya hilang dan lenyap ditelan bumi.

Saya mulai berpikir sejenak dan mulai merenung untuk memasuki kedalaman hati saya sendiri. Ada apa gerangan yang terjadi di “diriku” sendiri?

Saya mulai menyingkirkan laptop dan segala buku-buku yang ada di lantai. Lampu kamar saya matikan dan mulai memejamkan mata. Saya mulai merekonstruksi ulang bagaimana tragedi presentasi itu terjadi.

***

Di sana, saya melihat “diriku” masih tertinggal di sana. “diriku” terduduk dan terkulai lemas. Ada titik-titik air mata di sana. Saya segera berjalan mendekatinya. Berusaha menolongnya untuk berdiri dan duduk di kursi. Lalu saya mengusap linangan air matanya. Saya mulai bertanya padanya: “ada apa? Apa yang buat kamu masih berada di sini?”

“Aku merasa gagal. Aku gagal memberikan terbaik dalam presentasi itu,”jawabnya.

“bukankah kegagalan adalah hal yang biasa yang terjadi?”tanyaku lagi padanya.

“tetapi ini semua gara-gara kecemasan kita yang terlalu besar,”

“Memang. Saya tahu akan hal itu. Lalu?”

“Kecemasan itu adalah manifestasi ketakutan kita pada tatap sekaligus pertanyaan yang akan diberikan pada kita,”ujarnya lagi seraya menatap tajam pada saya. “kita perlu suatu cara agar kita bisa tenang dalam presentasi.”

Saya mulai tersenyum. Saya mulai duduk di lantai sambil menjabat tangannya.”saya ingin bertanya padamu: sejak kapan manusia itu mulai diliputi kecemasan pertama kali?”

Ia menggelengkan kepala. “aku tidak tahu. Apa maksud pertanyaanmu itu?”

“kamu akan mengerti nanti. Jika kamu tidak mau menjawab, maka biar saya menjawabnya saja: Manusia itu mulai cemas sejak bayi. Tepat ketika ia dilahirkan ke bumi, ia sudah mengalami kecemasan untuk pertama kalinya. Kecemasan itu dikarenakan rasa takutnya untuk keluar dari zona aman, yaitu rahim ibunya. Ia menangis dan seolah berteriak: dimana aku berada? Siapa aku? Ada dimana aku sekarang? Akan jadi apa aku di dunia ini?”

Ia mulai berdiri dan duduk di lantai sejajar dengan saya. Saya terus melanjutkan cerita. “dari sana, bayi yang baru lahir tersebut mulai mendapatkan pelukan hangat dan ciuman dari ibunya. Di sinilah letak kenyamanan baru itu mulai dipelajarinya. Ia mulai mengandalkan gerakan refleks alami. Gerakan refleks inilah yang menuntun mereka agar bisa menyesuaikan diri secara bertahap terhadap lingkungan barunya.”

“Lalu apakah ia mulai belajar berguling, berdiri, berjalan, duduk atau berlari?”

“Belum. Ia masih terlalu kecil untuk hal itu. Ia masih perlu waktu dan cukup tenaga untuk melakukan itu semua. Untuk itulah, ia butuh makan dan asupan nutrisi yang tepat. Tapi masalah baru dihadapinya: ia belum bisa berbicara seperti bahasa yang dipakai oleh ibu, bapak dan keluarga lainnya. Padahal kalau tidak berbicara, maka takkan ada seorang pun tahu bahwa ia lapar atau buang air. Oleh karena itu ia menangis untuk memberi tanda pada ibu dan bapaknya untuk senantiasa berjaga. “

Hhmmm…. gumamnya.

“Di sana, tangisan bayi juga bisa diartikan sebagai sebuah simbol kecemasan, baik itu untuk si bayi maupun si ibu itu sendiri. Bagi si bayi: tangis adalah tanda ia mulai cemas karena perutnya keroncongan; Bagi si ibu: itu sebuah tanda bahwa terjadi sesuatu bagi anaknya.”

“Diriku” mulai mengangguk-anggukkan kepala. “terus? Apa kaitannya dengan kecemasan yang kita alami ketika presentasi itu sendiri?”

“dari cerita itu, kita bisa tahu bahwa sebenarnya kita dilahirkan ke dunia sepaket dengan kecemasan itu sendiri. Kita tak bisa melepaskan atau bahkan menghilangkannya. Kecemasan merupakan sebuah tanda waspada yang diberikan Tuhan ketika ada sebuah bahaya yang sedang mendekati kita.” Ujar saya sambil mulai merenggangkan pinggang yang mulai lelah.“Kecemasan bukanlah penguasa sejati diri kita. Kitalah yang justru menguasainya agar memberikan tanda pada kita jika ada sebuah bahaya mendekati kita.”

“tetapi bukankah kecemasan yang terjadi kemarin itu adalah manifestasi ketakutan kita pada dodok Erick maupun Evan?”

Saya mengangguk. “Benar. Saya takut pada pertanyaan pertanyaan mereka. Karena pertanyaan mereka sering mengejar dan mengarahkan logika kita pada logika mereka.  Tetapi inilah kesalahan saya sebenarnya. Saya sudah takut pada rasa takut saya sendiri. Padahal sudah tertuliskan bahwa ‘takut pada ketakutan itu sendiri merupakan awal dari kehancuran’.”

Diriku tertegun mendengarkan pengakuan saya itu. Ia seolah-olah kaget pada pernyataan saya barusan. Namun saya tetap melanjutkan segala pengakuan itu.

“saya kira, saya sering merasa manusia paling benar di dunia ini. Saya merasa, bahwa saya ini seorang manusia super yang tidak pernah terkalahkan. Padahal apalah saya ini? Masih ada banyak kelemahan-kelemahan yang perlu dibenahi di sana-sini. Dengan dibantainya kita kemarin tembok kearogansian saya itu runtuh. Saya ingin memulai lagi dari awal. Saya ingin belajar lebih dalam lagi dan menjadi benar-benar tidak terkalahkan.”

Lalu bagaimana dengan kelemahan kita pada presentasi, tanyanya lagi.

“Kamu benar. Saya punya kelemahan dalam berbicara. Oleh karena itulah saya belajar menulis. Saya kira, di awal pembelajaran menulis, dengan menulis saya bisa berbicara lebih banyak. Tapi nyatanya apakah itu cukup? Ternyata tidak. Saya perlu kemapuan berbicara. Oleh sebab itu saya ingin memperbaiki kemampuan saya dalam berbicara dan bahkan presentasi. Manulis itu tidaklah cukup untuk saya dan mimpi saya.”

“Diriku” mulai tersenyum. Pun juga dengan saya. Kami bangkit bersama. Saya segera menjabat tangannya seraya berkata: “Saya juga meminta maaf padamu selama ini tidak pernah mendengarkan kamu. Saya sering mengindahkan segala pertanda yang kamu utarakan. Saya lupa pada pelajaran bahwa hati adalah bahasa mudah yang terlupakan.”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti itu semua. Karena aku adalah kamu.” Jawaban ‘diriku’.

“mari kita pulang.” kata saya padanya. Saya merangkulnya keluar dari dalam kelas sambil berharap agar kelak ia tak pernah berhenti memberikan pertanda pada saya.

***

Seketika itu saya membuka mata saya. Sekeliling saya masih sama. Dan dada saya sudah agak nyaman. Saya segera melihat jam di dinding. Sudah pukul  1 malam. Sudah saatnya saya mesti tidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s