Seekor “anjing” dari Linda

Linda Christanty - Seekor Anjing Mati di Bala Mughrab

Judul: Seekor Anjing Mati di Bala Murghab
Pengarang: Linda Christanty
Tebal buku: 131 halaman
Tahun terbit: Cetakan pertama, Juni 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

“Seekor Anjing Mati di Bala Murghab” merupakan judul buku terbaru dari Linda Christanty, seorang jurnalis cum sastrawan asal Bangka Belitung. Judul tersebut diadopsi dari salah satu cerita pendek (cerpen) yang ada di dalamnya.

Cerpen yang pernah terbit di Koran Tempo, 18 Juli 2010 lalu itu sendiri mengisahkan sebuah surat panjang dari seorang “aku” kepada temannya dekatnya.

Dalam surat tersebut, tokoh “aku” menceritakan pengalamannya yang mengerikan, yang terjadi ketika ia sedang asyik memotret di daerah Murghab, Afganistan. Waktu itu, ia melihat langsung seekor anjing mungil yang tak bersalah ditembak mati oleh seorang tentara militer.

Penembakan itu tak hanya mengagetkan si “aku”, namun juga pemilik anjing yang masih bocah berumur enam tahun bernama Aref. Aref yang melihat langsung penembakan tersebut, langsung berlari menuju anjingnya yang sudah menjadi bangkai. Ia menangis meraung-raung karena kehilangan anjing peliharaannya.

Si “aku” yang melihat peristiwa berdarah itu langsung tertegun. Ingin sekali, rasanya si “aku” itu datang dan menghibur Aref. Ia ingin memeluk dan menenangkan tangisannya. Tapi ia tak berani untuk mendekat atau menenangkan tangisan Aref. Ia mulai sadar bahwa dirinya ada di daerah konflik. Penembakan semacam itu sudah merupakan “pemandangan yang biasa terjadi” di sana. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain menjaga keselamatannya sendiri. Di akhir cerita, si “aku” diminta memotret tentara yang menembak mati anjing tersebut.

Adapun sembilan cerpen lainnya yang ikut dihadirkan Linda dalam buku tersebut adalah “Ketika Makan Kepiting”, “Zakaria”, “Karunia dari Laut”, “Sihir Musim Dingin”, ”Jack dan Bidadari”, “Perpisahan”, “Kisah Cinta”, “Pertemuan Atlantik” dan “Catatan tentang Luta: Manusia yang Hidup Abadi”.

Semua cerpen yang ada di buku tersebut juga pernah dimuat di beberapa surat kabar bertaraf nasional. Atau dimuat di dalam blog atau catatan (note) di akun Facebook-nya. Jadi jika anda berteman dengan Linda di Facebook atau sering berkunjung ke blog pribadinya, bisa dipastikan akan terasa hambar ketika anda membacanya.

Saya pribadi, tidak mengerti kenapa Linda memuat cerpen-cerpen yang sudah pernah muncul atau dimuat di surat kabar dan blog pribadinya ke dalam sebuah buku. Bisa jadi hal itu cuma untuk “menjaga eksistensi” seorang Linda Christanty saja. Atau semata-mata Linda ingin “mendapatkan royalti” saja dari hasil penjalan buku itu. Atau bahkan, Linda cuma ingin mendokumentasikan saja ke dalam sebuah buku. Tapi semua itu hanya asumsi saya belaka. Tak ada dasarnya. Hanya Linda sendiri yang bisa menjawabnya.

Terlepas dari itu, tema-tema yang Linda angkat pun selalu saja sama. Tentang kematian, perpisahan, pembunuhan, kesedihan, keputusasaan, konflik di daerah perang, sampai kasus rasisme. Tema-tema tersebut seolah menjadi ciri khas dalam tiap karya sastranya. Pernah saya bertanya apa yang membuat Linda memilih tema-tema seperti itu untuk dijadikan bahan cerita? Apakah tidak ada tema yang lain yang menarik?

Dengan meminjam asosiasi bebas ala psikoanalisa, semua cerpen Linda bisa jadi merepresentasi sosok profesi Linda lainnya, yakni seorang jurnalis. DIa selalu hidup di medan penuh konflik. Apa yang sering ia lihat, dengar dan rasakan adalah ketidak-adilan, keputus-asaan dan lain sebagainya. Hal ini secara tak langsung, masuk ke alam bawah sadarnya. Dan hal itu dianggap Linda pantas didokumentasikan ke dalam bentuk sastra. Namun berkat pemilihan tema-tema yang agak “nyeleneh” itu, ia pernah mendapatkan Khatulistiwa Literacy Awards pada 2010 lalu.

Tetapi tema-tema seperti itu adalah tema yang sebenarnya sulit sekali untuk diangkat. Saya sendiri pernah mencoba, tapi seringkali gagal dan dapat kritikan. Namun, Linda dengan gaya berbahasanya yang luwes mampu menghidupkan tema tersebut. Ia bisa membawakan sekaligus membahasakan perasaan-perasaan dilematis dari seorang manusia. Misalnya saja ini dalam cerpen “Seekor Anjing Mati di Bala Murghab”, ia bisa menggambarkan sosok “aku” yang tiba-tiba tersadar bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Aref.

“Andaikata bukan di sini, aku pasti akan meraih tubuhnya dan memeluknya, membujuknya agar melupakan rasa sedih, seperti biasa kulakukan terhadapmu saat kamu murung atau gelisah. Aku mungkin akan membelikannya mainan atau seekor anjing baru, mungkin Golden Retriever yang ramah dan jinak. Aku juga akan membuatkan makam yang layak untuk anjingnya yang mati, dengan nisan bertuliskan nama anjing itu. Aku akan membiarkannya menangis sampai puas di situ dan mengucap selamat tinggal untuk anjingnya. Tapi di Bala Murghab tidak ada makam yang layak untuk anjing-anjing kesayangan yang mati, tidak ada boneka-boneka di gundukan pasir sebagai tanda kasih dari yang ditinggalkan, tidak ada patung granit berbentuk anjing dan ukiran kata-kata indah untuk yang mati dan dikenang.” – Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

Disinilah letak kejeniusan Linda dalam berkarya sastra. Ia bisa menggambarkan berbagai perasaan lewat teknik sastrawi yang luwes dan mudah dipahami.

Berbicara gaya berbahasa, gaya berbahasa Linda mengingatkan saya pada sosok Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar di Indonesia. Gaya khas Pram―panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer―adalah kombinasi kalimat-kalimat pendek yang memabukkan. Kalimat demi kalimat itu mampu menciptakan suasana magis yang membawa pembaca berada langsung pada cerita tersebut. Hal inilah ditiru sempurna oleh Linda. Ia seolah menjadi sosok “Pramoedya” versi wanita.

Dan kalau tidak salah ingat, bentuk kekaguman Linda pada sosok Pram tertuang pada dua buah tulisan yang ia hadirkan dalam bukunya yang berjudul “Dari Jawa Menuju Atjeh”. Hal itu menunjukkan bahwa sosok Pram adalah orang yang berpengaruh bagi Linda, baik itu secara ideologi maupun tindakan.

Kembali ke buku kumpulan cerpen tadi. Sekalipun saya agak kecewa karena cerpen-cerpen dalam buku ini kurang “wah” bagi saya, buku ini tetap saja bagus untuk menemani anda minum kopi dan makan kue ketika senja. Tak terlalu berat, tapi juga tak terlalu ringan. Cukup bisa menjadi teman anda menghabiskan senja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s