Sastra: Sebuah Pertemuan

SEBUAH pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Isinya tak lain, sepenggal ucapan perpisahan dari seorang yang telah dianggapnya sebagai sahabat. Ia kaget dan tersedak. Hampir saja gelas minuman yang barusan di tangannya terjatuh. Perpisahan ini terasa begitu mendadak. Terjadi secara alamiah tanpa adanya sebuah persiapan.

Sepanjang sepengetahuannya sendiri, tak satupun kabar yang bercerita bahwa sahabatnya itu akan segera kembali ke kota asalnya. Yang sering ia dengar belakangan ini sendiri, hanyalah kasus akan perubahan sistem pembelajaran yang terjadi di dalam kampusnya yang dibawa ke meja hijau. Selebihnya, paling hanya isu plagiasi yang menimpa organisasi yang jadi tempatnya menimba ilmu dulu. Tapi tentang berita kepulangan sahabatnya ke kota asal tak pernah ia dengar. Ada rasa kesal bergejolak dalam dada karena tak satupun orang datang memberitahunya.

Selain kesal, ia juga mengalami menyesal. Sudah beberapa saat, ia menghilang dari peradaban. Ia memilih menyepi ke sebuah kampung nan jauh guna mencari inspirasi. Pekerjaannya sebagai pengrajin tulisan, membuatnya mesti harus terus bereproduksi. Selain demi mencari lembaran uang untuk menyambung hidup di kota perantauan, hal itu dilakukannya untuk mencari “nama” di dunia kepenulisan. Ia hanya sesekali muncul di kampus cuma untuk berinteraksi dengan beberapa manusia. Interaksi ini hanya sekedar kebutuhan untuk menjaga eksistensinya pribadi.

Sepanjang perjalanan hidupnya, ia memang sudah berulang kali bertemu dengan apa yang dinamakan dengan perpisahan. Mulai dari perpisahan dari orang tua sampai perpisahan dengan mantan-mantan kekasihnya. Tapi ternyata perpisahan kali ini rasanya begitu berat. Dadanya serasa meledak. Rasa-rasanya ada air di bola matanya yang ingin tumpah.

Bagaimana tidak. Mereka berdua dipertemukan oleh waktu. Tepatnya tiga tahun yang lalu, dimana waktu itu ia tengah menangis tersedu sebab baru saja jadi korban politik konspirasi dari teman-temannya yang terdahulu. Segala yang ia punya, direnggut dengan paksa. Tak satupun yang tersisa, tak terkecuali harga diri yang sudah dipermalukan di depan massa. Akibatnya ia jadi makin rendah diri. Padahal setahun sebelumnya, ia baru saja divonis para ahli jiwa sebagai penderita antisosial. Hidup, seolah, jadi semacam kutukan, dimana kegagalan selalu jadi hantu di ujung jalannya.

Seolah mendapatkan restu dari alam semesta, keduanya jadi begitu cepat akrab. De javu terjadi dalam hubungan pertemanan ini. Keduanya seolah telah berkawan karib sejak lama. Padahal mereka berbeda dalam semua. Mulai dari etnis, latar belakang keluarga, jurusan hingga gaya favorit dalam bercinta. Tetapi keduanya saling menghormati. Tak ada caci ataupun maki yang keluar dari mulut masing-masing pihak. Keduanya sama-sama saling menghargai.

Perkenalan itu ibarat terapi yang menyebuhkan dirinya dari derita antisosial. Secara perlahan ia bangkit dari jurang keterpurukan. Kegagalan yang barusan terjadi jadi terlupakan. Makin lama, ia dapat mendapati dirinya lagi. Ia jadi bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Mungkin inilah yang dikatakan Carl Rogers dulu bahwa saat seseorang menjadi dirinya sendiri, ia bisa menyembuhkan segala penyakit jiwa yang dialami orang-orang disekitarnya. Jiwa yang sakit, masih kata Rogers hanya rekayasa belaka. Yang ada hanyalah tak adanya kemampuan Menerima bahwa dirinya itu berbeda.

Setahun kemudian. Pada suatu pagi, tepatnya dini hari, saat keduanya masih saling berdiskusi soal wanita, ia menuturkan keinginannya itu untuk jadi seorang aktivis. Tetapi ia tak tahu bagaimana caranya. Organisasi Kemahasiswaan tingkat fakultasnya sudah memblokir segala akses untuk dirinya berkarya. Pimpinan organisasi kemahasiswaan kala itu, tak lain dan tak bukan adalah orang yang sudah membunuh karakternya. Ia ingin sekali membalas dendam.

Untuk apa, tanya sahabatnya itu. Jalan aktivis itu tidak mudah dan menyenangkan, lanjutnya.

Ia bingung harus menjawab darimana. Tetapi keinginannya sejak masuk kuliah adalah menajdi terkenal. Dipuja dan dipuji di seluruh pelosok jagat kampus. Semua hal ini terinspirasi dari seorang aktivis masa lampau bernama Hok Gie. Seorang yang dianggap idealis sampai akhir hayatnya.

Lebih baik kamu masuk organiasasi pers saja, jelasnya. Ia mulai bercerita bahwa pers adalah wadah yang jauh lebih menarik dari organisasi Kemahasiswaan. “Hanya orang-orang munafik alias bermuka dua, yang mau masuk dan jadi abdi kekuasaan,” katanya seraya tertawa.

Ia melanjutkan bahwa di kampus itu ada dua media massa. Yang satu: radio kampus, yang satunya lagi jurnalistik kampus. “mendingan kamu masuk ke jurnalistik,” katanya. Tetapi ia tahu bahwa dirinya tak bisa menulis sebuah tulisan. Jika dapat tugas makalah dalam kuliah saja, ia masih sering menyontek dari internet, kilahnya cepat.

“Belajar, dong,” Jawabnya tenang. Kalau tidak bisa menulis, ya belajarlah menulis. Jawabnya sambil menyedot rokok pelan-pelan.

Setelah lama berdiskusi dan menimbang segala resiko yang bakal terjadi, akhirnya ia memutuskan mengambil resiko jadi seorang penulis. Ia segera mengontak beberapa kolega yang dikenalnya. Memohon untuk diberi peluang agar bisa dapat kesempatan masuk organisasi pers.

Awal ia masuk dunia tulis-menulis, banyak yang meremehkannya. Ia tak punya pamor ketimbang orang-orang yang masuk dalam generasinya. Orang-orang yang masuk bersamanya ke dalam dunia pers, sudah jadi aktivis sedari lama. Ada yang sudah dua-tiga tahun terlibat dalam beberapa organisasi baik di dalam atau luar kampus . Ada yang pernah jadi bekas Ketua Senat Mahasiswa. Dan ada juga yang masih menjabat sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen.  Semuanya memiliki tujuan masing-masing di dalam sana. Tujuannya sendiri disana hanya untuk belajar menulis, bukan seperti lainnya yang memilih mengritik kebijakan kampus.

Tetapi belum genap sebulan, ia lagi-lagi jatuh menyerah. Hasil kerjanya sering dikritik oleh para senior. “tulisanmu buruk,”bentak salah seorang senior,”terjun lapangan lagi!,”. Hal ini berbanding terbalik dengan kawan-kawan lainnya yang tak bekerja tapi tetap dipuja. Ini tidak adil, batinnya. Lebih baik keluar saja kalau begini.

Tetapi sebelum ia keluar, ia mencoba meminta pertimbangan sahabatnya. Di sebuah kafe, tempat mereka nongkrong bersama, ia mulai berkeluh kesah. Sahabatnya mendengarkan dengan seksama.

“kan sudah aku bilang, jalan aktivis itu tidak mudah,” katanya. ”masa baru gitu saja takut. Sampai kapan kamu mau berlari?” tanyanya.

Dari pertanyaan itu, ia jadi terdorong untuk memberikan sebuah bukti pada para seniornya bahwa dirinya bisa menulis. Dan pilihan untuk tak menyerah itu terbukti jitu. Ternyata dunia tulis menulis memang jadi bakat yang terpendam dalam alam bawah sadarnya selama ini. Dengan tulisan, ia mampu pergi melanglang buana ke ibukota atau ke daerah yang belum pernah terjamah olehnya. Dengan tulisan, ia bisa lebih ekspresif dan terbuka pada semua orang, terutama soal cinta.

Ia jadi berani merayu wanita. Dengan hanya bermodalkan bahasa, ia mampu membawa wanita berjalan berdua dengannya. Bahasa itu diciptakan untuk membuat wanita kepayang. Itu bukan lagi semacam hiptesa, tapi sudah jadi aksioma. Kalau masih tak percaya, bertanyalah pada John Keating pada filem Dead Poet Society untuk apa bahasa itu tercipta.

Dari tulisan juga, ia berani mendobrak tradisi dan sejarah kelam dalam hidupnya. Salah satunya rasisme yang terjadi di masa kecilnya. Ia mendapatkan rasisme dari masyarakat di kotanya karena berkulit kuning dan bermata sipit. Tapi hal itu bukan diarahkannya untuk memberontak atau menyindir tapi untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Waktu terus berlangsung. Lintasan kenangan yang terangkum dalam ingatan akan sahabatnya itu jadi partikel hidup yang akan dipigura. Ingin sekali rasanya, ia mengulang masa-masa itu. Masa-masa dimana idealisme sebagai mahasiswa terbakar membara. Dimana pemberontakan akan segala sistem yang dianggap tak benar. Tetapi kini semua sudah berakhir, apalagi ia sudah ada di tahap akhir sebagai mahasiswa.

Apa arti pertemuan itu sebenarnya, tanya dalam benak jiwa. Para pujangga lama seringkali bilang bahwa pertemuan, sejatinya, adalah perpisahan yang tertunda dan perpisahan sendiri adalah pertemuan yang tertunda? Lalu kenapa perpisahan dilahirkan bersamaan dengan adanya kesedihan dan kehilangan? Entahlah. Yang ia tahu dan sadari bahwa manusia takkan bisa menunda pertemuan ataupun perpisahan, jika tak kuasa lepas dari lingkaran kelahiran dan kematian.

Buru-buru ia mohon undur diri dari dua orang yang duduknya berada di depan. Mau tidur, ujarnya mencari-cari alasan. Ia ingin kembali pada tulisan yang belum kunjung diselesaikannya. Mungkin dengan menulis, ia bisa melupakan kesedihan yang merasuk ke dalam jiwanya. Tak lupa juga membalas pesan singkat dari sahabatnya: Semoga sukses dan berjaya, kawan. Kita bertemu di Jakarta, kelak.

Salatiga, 11 September 2012. 08.00 P.M

N.B: Tulisan ini saya dedikasikan untuk seorang sahabat saya yang kembali ke Bekasi. Namanya IVAN PATTY. Terima kasih banyak, kawan. Ndang nikah, Cuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s