Sepotong Martabak Keju di Ulang Tahun

HARI INI adalah ulang tahunku. Tapi tak seorang pun tahu akan hal itu. Bukan tak disengaja mereka melupa, tapi aku sengaja membuat mereka lupa (bahkan tak tahu akan hal itu).

Sejujurnya aku benci sekali dengan “ulang tahun”. Bagiku tambahan umur itu semacam pertanda bahwa kematian akan segera datang mendekati manusia. Bagiku tambahan umur itu semacam pertanda bahwa aku bertambah “dewasa”, dimana pikiran-pikiran praktis pragmatis lebih ditonjolkan ketimbang “anak-anak”, yang dimana lebih menikmati setiap proses. Dan bagiku tambahan umur juga semacam pertanda bahwa aku harus memikul tanggungjawab yang lebih besar, entah pada keluarga, sahabat dan teman tidurku.

Ada satu tradisi yang takkan pernah lepas dari ulang tahun yakni sebuah perayaan besar-besaran. Katanya, perayaan adalah wujud ucapan syukur kita pada Tuhan. Bagiku, itu tak lebih omong kosong.

Sewaktu bocah, saat aku berulang tahun, kedua orangtuaku pernah merayakannya dengan pesta besar-besaran. Undangan disebar ke keluarga besar yang ada di Mojokerto, Surabaya dan Jakarta; ke tetangga sebelah dari ujung komplek sampai komplek lain; ke teman-teman sekolahku dan kakak perempuanku dan masih “ke” banyak lainnya.

Mereka datang dengan menyalamiku dan mengucapkan “selamat ulang tahun” padaku. Aku risih dengan hal itu. Selamat darimana? Sebentar lagi aku akan bertambah tua dan makin dekat dengan kematian. Jadi apa yang harus di-selamat-i, pikirku. Tetapi rasa risih itu hilang dalam sekejap dengan bingkisan yang mereka bawa untukku. Ini hadiahmu, kata mereka. Mungkin ini semacam sogokan agar aku melupakan ucapan “selamat” itu. Tapi tak apalah, yang penting dapat hadiah.

Pesta dimulai. Musik berdedang. Para badut mulai menari dan menghibur teman dan kenalan. Ada tawa dan senyum merekah dimana-mana. Aku? duduk di pojokan melihat-lihat berbagai bentuk hadiah yang kuterima dari mereka.

MC, yang tak lain ayahku, mulai naik ke panggung. Mulai ucapan terima kasih sampai panjatan puja dan puji syukur dipanjatkan atas bertambahnya umurku. Ia memimpin para tamu untuk menyanyikan lagu “selamat ulang tahun”, yang hingga kini tak pernah kuketahui siapa pengarangnya. Suaranya serak dan berat akibat rokok dan alkohol, jadi terdengar lucu saat menyanyikan lagu tersebut. Lagu yang berirama senang itu kini jadi lagu yang betul-betul fals.

Masuk ke acara puncak: tiup lilin dan pemotongan kue tart. Aku dipanggil oleh Ayah untuk naik ke atas panggung. Aku menggelengkan kepala. Aku lebih tertarik dengan hadiah-hadiahku. Ti, pembantuku datang padaku dan menarik tanganku, menggiringku ke atas panggung.

Sialan. Aku lebih tertarik untuk tahu apa isi dalam kotak hadiah untukku.

Kakak perempuanku naik ke atas panggung dengan membawa kue tart. Bentuknya bundar, toping-nya berhiaskan meses coklat. Di kue tersebut terdapat tulisan namaku beserta tanggal lahirku. Di atas rotinya terdapat lilin merah menyala berbentuk angka lima yang jadi simbol bahwa tahun itu aku genap berusia 5 tahun.

“Sebelum kamu meniupnya, kamu pinta permohonan dulu,” kata Ayah. Banyak orang percaya pada mitos bahwa harapan yang dipinta sesaat sebelum lilin ulang tahun ditiup akan dikabulkan.

Benarkah?

Segera saja aku memejamkan mata. Mulutku komat-kamit seperti dukun yang membaca mantra. Dan…

“pyuuuhh,”

Lilin itu mati seketika. Para tamu yang datang bertepuk tangan. Tetapi hingga kini permohonanku tak pernah dikabulkan Tuhan. Padahal permohonan itu sepele: tahun depan aku tak ingin lagi berulang tahun.

***

WAKTU kini sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Langit di luar sana sudah cukup gelap. Udara malam juga makin menusuk kulitku. Angin yang berhembus makin kencang. Daun-daun pepohonan di kafe “delik” bergoyang kencang, seakan ingin lepas dari ranting dan dahannya.

Caffe Late yang kupesan sejam lalu juga belum habis. Agak dingin, tapi mampu menghangatkan kerongkonganku. Rokokku sendiri sudah habis. Tinggal bungkusnya saja. Kuteruskan membaca buku kumpulan cerpen dari seorang pengarang idolaku. Linda, nama depannya.

Buku tersebut menjadi teman sejatiku seharian ini, melewati hari yang benar-benar kubenci. Seharian ini buku itu terus aku tenteng ke sana-sini. Mulai dari masuk ke ruang pembimbing: dimana aku mendampatkan dampratan dari seorang professor tua karena tugas akhirku belum juga aku selesaikan. Lalu ke perpustakaan; dimana aku meminjam dua macam buku yang sama sekali tak ada kairannya dengan tugas akhirku. Keduanya buku kuno karya Ariel Heryanto, bekas pengajar di kampusku yang kini ada di Australia. Terus terang aku suka dengan gaya bahasanya yang licin  dan pemikirannya yang radikal hingga akhirnya aku berlabuh ke kafe terpencil ini.

Obrolanku di kafe “delik” sore ini cukup hangat dan masih berlangsung menuju titik klimaks. Pemilik kafe itu bercerita bahwa filem superhero si “manusia kelelawar” yang baru edar beberapa pekan baru saja menelan korban. Filem itu menginspirasi seorang calon dokter dari Colorado melakukan pembantaian massal.

Aku sendiri mengatakan bahwa tidak tahu kabar berita itu. Yang kutahu seorang vokalis band asal Bandung yang terlibat kasus video porno baru saja keluar. Aku tahu karena seluruh media di Indonesia menyorot itu semua. Mulai dari pagi sampai malam, tayangan media tentang keluarnya vokalis band itu tak ada hentinya.

Banyak filem yang jadi inspirasi terjadinya pembantaian berdarah. Aku ingat, ada sebuah filem yang dibintangi Bradd Pitt menjadi inspirasi seorang remaja muda merakit bom dari kembang api. Bom itu dimasukkan ke dalam botol plastik dan diberi kabel pemicu kemudian diletakkan di sebelah timur Starbucks 2009 lalu.

Kejadian itu cukup heboh di Negari Paman Sam sana. Para ahli jiwa dari American Psychological Association ramai-ramai mengeluarkan analatis kritisnya tentang kejadian tersebut. Padahal sebelum kejadian itu terjadi banyak pula filem-filem yang jadi inspirasi seseorang menjadi pembantai massal. Jadi kenapa hal ini diributkan media massa?

Bagiku sendiri, orang-orang macam itu hampir sama denganku. Seorang “obsesif”. Seorang pemimpi di siang hari. Bedanya mereka mengekspresifkannya dengan membunuh orang lain. Sedangkan aku, aku membunuh diriku sendiri.

Jam sudah melewati pukul tujuh malam. Aku segera menutup buku dan meminta tagihanku pada pemilik kafe.

“kok buru-buru?” tanya pemilik kafe itu padaku.

“iya. Mau cari makan di luar. Sudah ada janji pula dengan teman,” jawabku sekenanya saja. Aku tak terlalu suka basa basi. Basa-basi adalah saudara kandung dari omong kosong.

Aku keluar dan berpamitan dengan kedua pemiliknya. Segera saja aku memacu sepeda motorku menuju jantung kota. Mungkin di sana ada sesuatu yang lebih menarik daripada tempat sebelumnya. Aku juga ingin merayakan ulang tahunku dengan kesepian.

***

DALAM perjalananku menuju jantung kota mini, pandanganku tertuju pada kios martabak yang ada di depan Komando Resort Militer. Tempat itu banyak menyimpan kenangan dalam memori otakku. Di sana aku merayakan ulang tahunku pertama kalinya di kota ini bersama seseorang.

Aku menghentikan pacu motorku dan segera memutar balik ke kios martabak itu.

“Pak, keju dua. Yang kecil,”pintaku pada pemilik kios tersebut.

Ia mengangguk dan segera membuatkan pesananku. Aku bertanya berapa menit untuk membuat dua martabak keju itu.

“sekitar 15 menit, mas,”jawabnya.”silahkan duduk dan menunggu,”

Menunggu? Itu adalah aktivitas paling membosankan yang pernah ada. Semenit saja aku ogah, apalagi 15 menit. Waktu adalah hal paling berharga bagiku, sekarang. Hidupku hanya untuk berburu dan diburu oleh waktu.

Aku segera mengeluarkan uang dari dalam dompetku untuk membayarnya terlebih dahulu. Aku berpesan padanya, 15 menit lagi aku akan kembali lagi. Aku ingin beli rokok dulu karena saat tadi di kafe aku sudah kehabisan rokok.

Ia mengangguk sembari menyerahkan uang kembalianku.

Segera kupacu lagi motorku ke arah berlawanan. Aku mencari took kelontongan di sekitar jalanan itu. mulutku sudah terasa kecut karena hampir setengah jam tak dicekoki rokok. Aku membanting setir ke arah jalan kecil yang berada tepat di depan bank Asia. Kalau tidak salah di sekitar sana ada sebuah took kelontong kecil. Psati di sana, rokok juga dijual.

Dugaanku benar dan tak pernah meleset. Oleh karena itu aku sering sekali berjudi. Presentase kemenanganku mungkin mendekati 100%.

Aku meminta diambilkan sebungkus rokok putihan merk Amerika. Aku tak terlalu suka dengan rokok ini sekalipun teman-temanku lainnya begtu tergila-gila dengannnya. Harganya yang mahal tak sesuai dengan isi kantongku. Rasanya juga yang lebih keras daripada rokok lainnya. Tapi kali ini berbeda. Aku memilihnya karena rasanya yang keras cukup mampu menawarkan rasa kecut dalam mulutku.

Dalam bara rokok yang mulai menyala, aku mulai sadar kalau martabak yang kupilih adalah rasa keju. Rasa yang paling tidak kusuka sepanjang erjalanan hidupku. Aku sendiri tak tahu kenapa aku memilih martabak keju. Padahal di daftar jualnya ada rasa kesenanganku: coklat. Ini adalah pilihan alam bawah sadarku yang mulai bangkit lagi saat itu.  Tapi pesanan sudah kadung dipesan. Tak mungkin dibatalkan.

Ya, sudahlah…

***

SAAT aku datang pesananku ternyata belum selesai juga. 15 menit yang diprediksi sebelumnya  meleset jauh. Mau tak mau aku harus menunggu pesananku selesai. Sial!

Tampaknya pemilik kios martabak itu sadar kalau prediksinya salah dan untuk mengisi waktuku, ia mulai mengajakku mengobrol. Ia bertanya darimana aku berasal.

Madiun, jawabku datar.

“oh, Madiun. Yang di Jawa Timur ya?”

“iya, itu lho Pak. Kota bekas Komunis,”jawabku.

Madiun, kota kelahiranku memang sempat masuk dalam sejarah Indonesia. Disana Partai Komunis terbesar di Indonesia ditumpas habis. Masih ingat dalam ingatanku, menurut buku sejarah jamanku Sekolah Dasar, alasan mereka ditumpas habis karena Partai Komunis dianggap bersalah. Alasannya karena melanggar kaedah-laedah demokrasi dan Islam. Benarkah?

Kukira tidak. Sejarah Negara ini sudah diputarbalikkan oleh Soeharto dan antek-anteknya. Orang-orang komunis sosialis, kala itu adalah orang-orang yang membawa faham yang sesuai dengan arah pikiranku. Sama rasa, sama asa. Keadilan harus terjadi dalam setiap kaum, entah itu kaum bangsawan maupun kaum ploretrat.

“hahaha… tapi kotanya pasti aman ya, mas?” tanyanya lagi.

“Enggak juga Pak,”jawabku padanya,”tiap tahun di Madiun pasti terjadi kerusuhan dua perguruan silat. Keduanya padahal bersaudara. Mungkin Salatiga adalah kota tersepi dan teraman yang pernah saya kunjungi,”

“yah, “mafia-mafianya” wong ada di sini, mas.”

Maksud bapak?

“Saya mulai buka kios ini sejak tahun 90an. Kalau tidak salah tepatnya ‘95,” ungkapnya mulai berkisah.

Pada tahun tersebut kota ini bisa dibilang adem ayem. Suasana kota yang sepi, tak jauh banyak orang. Pelanggan-pelanggan tetapnya juga masih cukup banyak.

“tetapi sekarang sudah mulai banyak berubah,”ujarnya dengan nada lirih dan getir. Sekitar 2010 lalu, Walikota mengeluarkan sebuah Peraturan Daerah (Perda) bahwa sekitaran jalan jantung kota (mulai daerah Diponegoro, Jendral Sudirman) Salatiga tak boleh ada Pedagang Kaki Lima (PKL) lagi. Alasannya biar tata kota bersih. Para PKL lari kocar-kacir sebab diusir oleh para Satpol PP.

Hal ini tentunya menimbulkan sebuah kontroversi. Perda yang dipakai sebagai acuan sudah dianggap uzur. Perlu revisi baru. Selain itu, Perda tersebut juga mematikan sumber penghasilan para PKL, yang notabene mewakili kaum ploretrat.

Sejum;lah aktivis dari berbagai pihak mulai menggelar aksi demonstrasi. Mereka bilang mereka menolak Perda tersebut.

“saya juga ikut berdemo,” ujarnya bersemangat.”tapi sayang, dewan kota tidak mau menemui kami,”

Mlayu ya, mas?” tanggapku padanya.

“Hahaha. Benar, mas. Mereka tidak mau bertanggung jawab atas keputusan yang mereka buat sendiri,”

Aku mengerti dan memahami perasaannya. Aku sendiri anak kandung dari korban politik pemerintah: politik rasialisme ‘98. Kedua orangtuaku sempat merasakan betapa pahitnya hal tersebut.

Kulit mereka yang kuning dan matanya yang sipit menjadi bahan diskriminasi dari warga setempat. Mereka takut tokonya diobrak-abrik mirip di daerah Solo dan Jakarta. Mereka takut kalau kakak perempuan ikut-ikutan diperkosa. Mereka takut kalau aku yang masih bocah diclik dan dibunuh. Mereka menutup toko dan berdiam diri dalam rumah.

Kebencianku pada politik memuncak saat aku berada di kampus. Saat aku ingin masuk sebagai aktivis dalam badan Legislatif maupun eksekutif, aku mendapatkan penolakan. Alasannya yang aku dapatkan saat itu adalah aku tidak berkompten dalam organisasi. Kelak kuketahui, bahwa alasan penolakanku adalah hasil konspirasi antara kedua lembaga tersebut karena sikapku yang suka ngeyel dan mengeluarkan kritikan tajam.

Aku mulai mengerti bahwa seluruh pengalamanku baik di masa lalu itu membantuku untuk menentukan impianku. Yang dulunya ingin jadi insinyur dan dokter berevolusi menjadi jurnalis.

“ya sudah Pak. Obrolan yang menarik. Saya pamit dulu,”

“ah iya, makasih ya mas,” ujarnya sambil menganggukan kepalanya.

Hhmm… Namanya bapak tadi itu siapa ya? Ah, aku lupa nanya.

***

DUA bungkus martabak keju kini ada dalam genggamanku. Keduanya tak mungkin aku habiskan seorang diri. Apalagi… aku tak suka keju dari kecil. Rasanya aneh. Bikin mual. Warnanya yang kuning bikin aku jijik. Mirip dengan kotoran babi.

Lebih baik satu dintara dua martabak keju ini, aku berikan pada Cindy. Ia adik angkatku berasal dari Jakarta. Ia cantik dan menarik. Ia juga suka dengan keju, karena terbuat dari susu.

Aku segera mengirim pesan elektronik padanya, menanyakan ia berada dimana sekarang.

“aku lagi keluar sama temenku, mas,” balasnya.

Lalu siapa yang di indekos?

“Ratih dan kawan-kawan,”

“Baiklah, aku titipin makanan ke Ratih ya?” saranku.

Aku segera bergegas ke indekos yang berada tepat depan kantor pos. Indekos itu terlihat seperti rumah warga kebanyakan lainnya, tetapi yang ini terlihat cukup angker. Suram. Gelap. Sepi, seperti tanpa penghuni. Sekalipun aku sering keluar-masuk ke indekos ini tetap saja bikin kudukku merinding.

Pintu gerbangnya belum terkunci, maklum belum jam 10 malam. Ada dua motor diparkir di pekarangan dalam rumah indekos itu. Keduanya motor matic mirip punyaku. Motor matic hampir mendominasi tiap sudut kota mini. Mungkin karena mudah dipakai dan tak banyak rewel.

Aku mengetuk pintu kamar Ratih. Ia teman dekat Cindy, sekaligus teman seangkatanku. Ia cukup terkenal di kalangan para lelaki di kampusku. Wajahnya cantik, juga manis. Pantaslah kalau bikin mata lelaki mendelik.

“lho, ada apa? Cindy di kamar.”tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku dan menyerahkan bungkus martabak keju itu padanya.

“Buat kamu sama Cindy, undang juga Nara ke sini”, ujarku.

Ia menanyakan dalam rangka apa aku membagi makanan padanya dan Cindy. Bukankah ini akhir bulan? Biasanya mereka yang berstatus mahasiswa, akhir bulan adalah neraka. Isi kantong biasanya sudah ludes untuk berbagai kebutuhan dan keperluan di pertengahan bulan.

“Tidak dalam rangka apa-apa. apakah harus dalam rangka apa-apa saat kita berbagi makanan?” kelitku.

Ia tertawa mendengarkan jawabanku. Ia terus menodongku dengan berbagai pertanyaan: jangan-jangan kamu baru jadian ya? (mencintai diri saja belum bisa, aplagi mencintai orang lain) atau kamu baru saja gajian ya? (pekerjaan tetap saja belum punya, neng)

Akhirnya ia menyerah. Ia tak lupa berterima kasih karena sudah dibawakan makanan. Aku juga segera pamit padanya. Aku tak ingin ditodong berbagai pertanyaan lagi.

Belum sampai aku di pintu parkir.

“kamu ulang tahun, ya?”

Tahu darimana?

“Ah, lu mah ngeles melulu,”

Sialan. Ketahuan. Aku mengangguk pertanda tebakannya tepat.

Ia memberikan salam dan selamat padaku. Ia memanjatkan doa dan berharap agar aku diberkahi Tuhan panjang umur dan kesuksesan. Lagi-lagi rasa risih menyelinap dalam benakku. Tapi tak mungkin rasa risihku ini aku utarakan pada Ratih. Aku cuma tersenyum dan kembali berpamit undur diri padanya.

Masih ada sebungkus martabak keju. Pada siapa aku harus memberikannya? Aku ingat sebuah kafe tempat teman-temanku sering nongkrong. Kafe itu ada di belakang kuburan. Lebih baik aku berikan pada pemiliknya saja, toh mungkin di sana ada teman-teman lagi nongkrong di sana.

***

PEMILIK kafe itu menyambutku dengan senang. Sudah beberapa hari aku jarang ke sana. Tetapi setelah membawa sebungkus martabak itu ia langsung teringat kalau hari ini adalah ulang tahunku. Ucapan selamat dan doa lagi-lagi diberikan padaku. Ia mengatakan hampir saja lupa kalau hari ini ulang tahunku. Dalam hati, padahal aku saja ingin melupakan kalau hari ini berulang tahun.

“lho, tumben keju?”tanyanya setelah membuka bungkusan martabak dan meindahkannya ke atas piring.”bukannya kamu pecinta coklat sejati?”

Aku diam. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku memilih keju. Keju jelas bukan rasa kesukaanku. Cium bau keju saja aku bisa muntah.

Mungkin ini semuanya dikarenakan wanita itu. Wanita yang mampu mengajak aku membuatku merayakan ulang tahunku, dua tahun lalu. Wanita yang mampu membuatku melakukan pergeseran dari coklat ke keju. Wanita yang mampu membuatku berkata “iya” padahal hatiku berkata “tidak”. Wanita yang bisa menguah sudut pandangku tentang kehidupan, termasuk tradisi ulang tahun. Wanita yang percaya bahwa kelak aku mampu menjadi seorang penulis ternama.

Ia kini tak lagi bersamaku, tapi bayangnya masih dan tetap hidup di alam bawah sadarku. Ia berada dalam kenangan yang tak mungkin kulupakan. Aku melakukan ini semua hanya menjadi ritual untuk mengenangnya.

Sudahlah, kataku. Itu tidak penting. Cepat undang yang lain agar ikut makan. Aku minta sepotong ya?

Kafe Delik – SALATIGA 2 Agustus 2012

3 thoughts on “Sepotong Martabak Keju di Ulang Tahun

  1. Live is not always sceptical as u describe.. Try to look at a brighter side..🙂 Keep up your good work! Can’t wait to read the next episode of your life.. Happy b’day, anyway..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s