Acomodador

HARUS SAYA akui beberapa bulan terakhir ini produktivitas saya dalam menulis menurun drastis. Tidak ada satu tulisan pun saya buat atau selesaikan. Ada berbagai kesulitan-kesulitan yang saya alami dan rasakan. Mulai kebingungan pembuatan plot cerita hingga sampai rasa was-was akan konsepsi yang saya buat dalam content cerita yang saya tuliskan. Saya sendiri tidak tahu kenapa, rasanya ada perubahan yang terjadi dalam diri saya.

Saya sempat mengirimkan pesan singkat berantai pada beberapa sahabat yang kini tersebar di santero Nusantara. Isinya kurang lebih seperti ini: Saya tidak tahu kenapa, saya merasa tidak bisa menulis lagi. Bukan karena tak ada ide, tapi saya seperti tak mampu merangkai kata-kata lagi. Apakah kamu pernah merasakan hal yang sama seperti ini? Apa yang kamu lakukan? Lalu adakah saran untuk saya?

Ada berbagai jawaban saya terima. Mulai dari jawaban yang terus memotivasi agar tidak berhenti mencoba menulis sampai untuk berhenti sejenak dan melakukan hal-hal yang saya senangi. Ada juga jawaban menyuruh saya melakukan meditasi atau yoga di sasana olahraga sampai mendaki gunung. Beberapa saya sudah coba, tapi tetap saja tak berhasil juga.

Terakhir saya “curhat” dengan bekas partner sekaligus senior saya waktu dulu di Lembaga Pers Mahasiswa. Yenita Resti, namanya. Dia dikenal sebagai reporter kampus yang terkenal dengan reportasenya yang dalam dan menawan. Kini ia sedang menyelesaikan Kerja Praktek-nya di Yogyakarta.

“masalahnya berarti ada di diri kamu sendiri,”balasnya singkat.

Saya diam terhenyak membaca balasan itu. Mungkin apa yang dikatakan Yenita ada benarnya. Ada ketakutan-ketakutan yang sebenarnya saya rasakan sewaktu saya menulis sebuah tulisan. Ketakutan itu sering kali saya sangkal bahkan saya hiraukan. Seiring berjalannya waktu, makin lama ketakutan itu mulai terakumulasi hingga akhirnya mengendap lama dalam alam bawah sadar saya. Celakanya ketakutan yang telah terakumulasi itu, sekarang membawa saya pada titik menyerah.

Segera saja saya bongkar beberapa arsip lama, baik itu di laptop ataupun rak buku saya. Saya merasa pernah membaca situasi ini di salah satu buku Coelho. penulis favorit saya. Ia menuliskan seperti ini:

“The acomodador or giving-up point: there is always an event in our lives that is responsible for us failing to progress: a trauma, a particularly bitter defeat, a disappointment in love, even a victory that we did not quite understand, can make cowards of us and prevent us from moving on.”

Lebih lanjut saya membaca, ternyata ia juga memberikan sebuah clue untuk menghilangkannya:

“As part of the process of increasing his hidden powers, the shaman must first free hinj mmmmself from that giving-up point and, to do so, he must review his whole life and find out where it occurred.”

Jika memang demikian, berarti saya harus melihat segala yang terjadi di masa lalu saya hingga masa sekarang. Saya meneliti dan mempelajari segala pengalaman yang terjadi. Tak hanya dari satu sisi, tapi dari berbagai sisi. Bisa jadi ini akan menyakitkan dan memalukan, tapi manusia perlu belajar segala sesuatunya dari “dasar”. Karena “dasar” bukan lagi untuk membenarkan atau menyalahkan, tapi menerimanya.

***

Saya kira acomodador bermula dua tahun lalu, dimana tulisan saya untuk pertama kalinya mendapatkan sangahan. Sangahan itu berasal dari seorang teman yang memberikan opini balasan pada opini saya. Saya kaget karena tak mengira kalau tulisan saya akan dibalasnya.

Tulisan saya sendiri berisi opini tentang tulisannya yang berisi tentang konsep ke-sia-sia-an akan konflik yang terjadi dalam fakultas saat itu. Saya bilang bahwa semua pihak―bahkan termasuk saya sendiri―melakukan sebuah ke-sia-sia-an belaka dalam konflik tersebut. Sedangkan untuk opini balasannya sendiri, ia mengungkapkan bagaimana konsepsi saya tentang ke-sia-sia-an adalah relatif.

Tampaknya teman saya salah menginterpretasi dengan opini yang saya buat. Saya tidak memiliki maksud untuk mengkritik apa yang ia paparkan dalam media yang dikelolanya. Lagipula apa yang saya tuliskan sebenarnya berusaha untuk menjelaskan bahwa “ke-sia-sia-an” yang maksudkan adalah tak usahlah didengarkan apa yang dikritikan orang lain pada dirinya. Saya berharap bahwa ia terus maju bersama apa yang jadi idealismenya.

Saya harus akui bahwa saya termasuk orang yang benci dengan adanya konflik. Bukannya takut berkonflik, tapi bagi saya konflik seperti itu tak akan pernah ada solusi atau kesimpulan akhir yang jelas. Dan kini yang tertinggal hanyalah tanda tanya yang besar atas konflik tersebut.

Dari situ acomodador itu dimulai dan merasuk dalam diri saya sebagai penulis. Acomodador membawa saya pada pikiran bahwa tulisan saya itu buruk hingga teman saya saja tidak mampu menangkap pesan yang ingin saya sampaikan. Sekalinya tersampaikan, yang ada malah jauh dari esensi yang sebenarnya. Hal ini bikin kepercayaan diri saya breakdown.

Acomodador itu bertambah kuat saat saya berada dalam lingkungan orang-orang yang berpikiran pragmatis. Mereka hanya berpikir tentang hasil, padahal hasil bukanlah tolok ukur yang tepat dalam menilai kehidupan seseorang. Mereka tidak menerima ketidaksempurnaan dari seseorang, padahal tak seorang pun bisa sempurna. Mereka tidak menerima sebuah perbedaan pendapat, padahal pendapat yang mereka lontarkan tak ada dasar kuat dan belum tentu paling benar. Mereka hanya bisa mengkritik karya orang lain, padahal jika dilihat karya mereka juga tidak bagus-bagus amat. Mereka hanya menerima sebuah bukti bukan sebuah asumsi, padahal bukti sendiri belum tentu bisa membuktikan dan malah kadang bisa saja dimanipulasi.

Bagi saya, pemikiran-pemikiran itu bikin eksistensi saya terganggu, bahkan terancam.

Saya jadi teringat pada satu diskusi panjang yang dilakukan oleh Ayah saya dengan seorang temannya di kantornya. Ayah saya bertanya kenapa banyak orang tidak suka dengan usaha yang dikerjakan oleh temannya.

“karena aku melanggar hukum jante,” jawab orang itu. Ayah langsung tersenyum dan mengganti topik pembicaraan lainnya. Sewaktu perjalanan pulang, saya bertanya padanya apa itu hukum jante?

“nanti di rumah saja, aku jelaskan,” jawabnya sambil menyetir mobil menuju rumah.

Sesampai di rumah, dia segera turun dari mobil dan berjalan menuju ruang kerjanya. Saya sendiri cuma duduk dan menyalakan televisi di ruang keluarga. Tiba-tiba papa datang dengan membawa beberapa buku buku dan arsip lamanya sewaktu ia ada di perkuliahan.

“ini dia”

Ia segera menyerahkan selembar kertas usang pada saya. Kertas usang itu berisi sebuah catatan kecil seperti ini:

“anda tidak berharga; tak seorangpun tertarik dengan isi kepala anda, karenanya tak usahlah anda tak usah menonjolkan diri dan lebih baik ikuti saja arus yang ada; Dengan demikian anda dan kehidupan anda akan aman dan sejahtera, jauh dari permasalahan-permasalahan besar yang akan ada dalam hidup anda”

Ia menjelaskan pada saya, hukum ini jarang sekali ada yang tahu, tetapi ia yakin hokum ini berlaku di seluruh pelosok dunia. Hukum ini ditulis―secara implisit―oleh Aksel Sandemose dalam novelnya A Fugitive Crossing Hits Tracks. Novel itu beredar sekitar tahun 1933. Ayah tidak menceritakan detilnya seperti apa novel itu, tetapi saya percaya saja padanya.

Tapi kini saya mulai paham apa maksud Ayah. Ia ingin bilang bahwa manusia takkan pernah bisa lepas kritikan atau pujian. Selama masih ada kehidupan, manusia dikutuk untuk dikritik atau dipuji. Ini semua adalah impact karena kebebasan yang telah melekat pada diri manusia sejak ia dilahirkan.

Permasalahannya sekarang apakah saya harus mendebat kritikan mereka satu persatu? Saya kira tak perlu. Tindakan yang sia-sia dan buang tenaga.

***

Acomodador sebuah fase yang bakal sering dihadapi oleh manusia. Ia sering terlewatkan dan terlupakan, tetapi selama masih ada kehidupan. manusia harus menyadarinya. Ia harus menguasai sekaligus mengalahkannya seorang diri.

Acomodador tidak hanya berasal dari luar (lingkungan) saja, tetapi dari dalam diri manusia itu sendiri juga. Kesadarannya akan kehidupan, kematian, dan harapan, membawanya kadang lepas kendali atau bahkan larut dalam kebebasan yang ada. Itulah yang terjadi pada diri saya.

Saya jadi terlihat sombong, angkuh dan terlalu mengagungkan kemampuan menulis saya. Memang benar saya jebolan salah satu institusi media di Jakarta. Saya juga mendapatkan beberapa pujian dari beberapa penulis terkenal sebagai penulis baru yang memiliki gaya baru. Dari sana saya mampu membawa gelar dan pulang dengan kebanggaan tinggi.

Tetapi apakah itu ada gunanya? Sertifikat, ijasah, gelar dan karya hanya selembar tulisan atau formalitas belaka. Apakah itu tujan utama saya menulis? Bukan. Itu bukan tujuan yang utama saya. Hal paling penting bagi penulis adalah terus menulis. Karya memang membuktikan segalanya di hadapan masyarakat. Tetapi itu bukan patokan utama.

Saat saya melihat orang lain, saya kadang jadi meremehkan mereka. Memang tidak secara langsung, tetapi dengan seringnya saya menyebutkan diri saya ini seorang penulis, maka secara tidak langsung saya membatasi saya sendiri. Keterbatasan itu membuat saya harus selalu tampil sempurna. Padahal saya sendiri bukan siapa-siapa.

Benar. Sedari awal dilahirkan, manusia bukanlah siapa-siapa. Tetapi dengan adanya pengalaman dan prestasi ia mendaptkan kesiap-siapaan. Dengan kesiapa-siapaan, ia bisa saja berada. Tapi tanpa adanya kesiapa-siapaan, sebenarnya ia juga berada. Kesiapa-siapaan hanyalah sementara. Dengan tiadanya kesiapa-siapaan, kita akan terus mencari siapa diri kita sebenarnya. Dengan berbagai cara, dengan berbagai karya tentunya.

Konsep acomodador membawa saya pada pemahaman diri paling dalam di dalam diri saya sendiri. Saya ini sebenarnya bukanlah siapa-siapa. Saya terus mencari siapa diri saya sebenarnya. Inilah tujuan saya manulis sebenarnya.

2 thoughts on “Acomodador

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s