Namaku Siang

Namaku Siang, dan dia Malam. Orang selalu mendewakan malam, dan berusaha melewatiku. Tapi aku keras, mereka harus bekerja keras karena hadirku. Matahari menjadi kawanku, tetapi aku tak bergantung pada hadirnya, buatku dia ada dan tidak aku tidak peduli, aku tetap berjalan dan aku tetap memaksa mereka bekerja. Namaku Siang, dan orang-orang membenciku.

Aku punya saudara kembar. Orang tuaku, Dunia, menamakannya Malam. Dia begitu dipuja dan dicinta oleh para pujangga. Selain elok parasnya, yang dihiasi Bintang dan Bulan, ia juga menjadi teman yang mesra dalam menghabiskan hari.  Namanya Malam, dia selalu dicinta dan begitu dipuja.

Malam menjadi pujaan para pecinta, mereka yang berburu kasih. Diam aku iri memandangnya, tapi sungguh aku tidak peduli akan ratap mereka saat aku datang. Untukku kebahagiaan orang tuaku adalah mutlak, dan hanya dapat dicapai dengan kerja. Aku cemburu pada Malam yang selalu bersuka atas kerja yang kugapai.

Kadang, dibalik senja, aku mengintipnya sedang bercinta dengan berbagai pujangga. Mulai dari yang muda hingga yang tua. Mulai dari yang kaya hingga yang merana. Sungguh. Dengan sedikit goyang, mereka langsung puas terangsang. Dia tak pernah ambil peduli dengan ocehanku, “hati-hati. Mereka itu pujangga. Mereka haus dan buta akan cinta,”

Bagi Malam, kata kata berbunga milik pujangga itu adalah kesukaannya. Malam suka memanjakannya, pun membiarkan mereka terlelap dalam pelukannya. Tapi aku sangat membencinya, untukku itu adalah suatu kesiasiaan. Waktu kami lalui dalam rutinitas yang sama, aku dalam deru kerjaku, dan Malam dalam bunga bunga mimpi milik para pujangga, pemujanya. Aku cemburu setengah mati, saat orang-orang mulai memilih Malam dan berusaha menghindariku. Bodohnya mereka, aku tak terelakkan. Pujangga itu mencoba merangkai kata padaku, tapi perut mereka meronta, menuntut kerja untuk sebakul nasi, aku terkekeh puas sekali.

Suatu waktu, ada satu pujangga yang mencoba merangkai kata bagiku. Dia adalah pria muda yang berasal dari keluarga sederhana. Dari parasnya sendiri tak cukup menawan, malah cenderung tak rupawan. Bajunya lusuh dan penuh kotoran babi. Mirip seperti gelandangan yang kulihat di pasar pagi.

Aku tak peduli untaian kata yang terucap olehnya. Matahari terus menyengat dengan angkuhnya. “Kami membenci pemalas. Pujangga itu Pemalas!” seru kami bersahutan. Si pria tak peduli dengan seruan dan cerca kami, ia terus mendaraskan kata demi kata, hingga adzan berkumandang, Matahari terusir dari tahtanya, berganti bulan yang mendayu. Di pelukan Malam, ia masih saja memujiku, entah dari mana didapatnya kata-kata itu, hingga ia diam, tak bergerak. Malam diam, kali ini dia marah, entah apa salahku dia marah begitu hebatnya, hingga saat Fajar mencoba menghiburnya, ia masih saja tenang dalam diamnya. Ia tidak mau berganti, tak dibiarkannya Matahari muncul, hujan dan mendung menghalangi Matahari. Aku terdiam, tak mengerti. Kurayu setengah mati, agar berganti, mereka butuh kerja. Tapi Malam benar benar murka, saat senja menjelang, matanya berkilatan suaranya bergemuruh tanpa henti.

“Kenapa dia memilihmu?” hardik Malam padaku,”selama ini para pujangga selalu memujaku, selalu mencintaiku. Dalam dekap mesraku, mereka mendapatkan surga, lalu kenapa dia memilihmu!?”

Aku hanya terpaku menatap kemarahan sang Malam, aku terpaku. Kepalaku sudah pusing akibat kemarahannya, kerugian yang kucapai. Ini semua gara-gara pemuda pandir itu.

“Diam kau Pesolek, dalam hangatmu aku tertepi oleh mereka yang mengharap nasi datang. Mereka itu bodoh, sama sepertimu yang diam dan manja.”

“Manja? Kamu bilang aku manja!?” seru Malam sambil melotot padaku. Matanya berubah memerah. Tangannya bersiap memukulku karena begitu geram atas jawabanku. Ia kalap hingga lupa kalau aku ini saudarinya kembarnya. Ia lupa kalau kita berasal dari rahim yang sama, Dunia.

Aku malas beradu mulut dengannya, rasanya aneh saat beradu mulut dengan sosok yang serupa, aku menjauh persis saat ayam jantan berkokok. Kusibukkan hariku dengan berkerja, kubiarkan orang-orang berbicara tentangku karena kematian si pujangga muda. Matahari yang tak biasanya muram ikut berduka karena murka Malam. Aku diam, aku terpojokan. Saat kukira semua baik karena akalku, saat yang sama semua memalingkan muka dariku. Dunia yang melihat semua ini hanya diam, seolah tak peduli, karena yang ia kejar hanya kesenangannya, bukan aku pun Malam.

Dalam satu sisi ruang hati bernama sanubari aku masih terusik. Aku masih penasaran dengan isi kepala pujangga yang memujaku lewat kata, yang membuatku mesti menerima angkara murka dari Malam, dan yang membuatku seisi Dunia melepas caci maki padaku. Apa yang dipikirkannya? Apa yang sebenarnya ia puja dariku? Apa dia sudah tidak waras?

Tetapi aku tidak mau ambil peduli dengan duka mereka, hingga saat senja menjemputku, aku lihat Malam menggendong mesra jasad sang pujangga muda. Aku tak mengerti sentuhan apa yang menyambutku, yang kutahu sakit yang teramat dalam.  Dengar, Malam mulai mendendangkan lagu-lagu sepi, dia tidak ambil pusing pada kuli pasar yang masih saja memeras keringat, karena murkaku sehari tadi, Malam tetap berduka. Batinku menjadi lirih termangu, ini mulai tidak normal. Perlahan kurengkuh mereka yang memeras keringat saat Malam tiba, kubiarkan mereka mereguk sedikit asa, dan tertidur dalam belaian penat mereka.

Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba merengkuh mereka. Aku pun juga tak mengerti kenapa tiba-tiba aku memberi asa pada mereka. Aku takut, kalau saja yang kulakukan ini cuma rekayasa belaka. Karena pada akhirnya mereka akan menderita juga. Lalu setelah menderita, mereka akan mati. Itu kehidupan, yang sebenarnya hanya sia-sia belaka. Inikah yang mereka sebut cinta? Inikah yang mereka sebut  kasih? Tapi… bukankah yang ada itu selalu berada dan mampu didefinisikan oleh logika?

Baru sejenak aku merengkuh kuli kuli pasar itu, baru sejenak bau keringat mereka menggelitik hidungku, alam murka, dan aku kehilangan mereka yang kucintai, mereka yang memujaku.

“Kenapa malah jadi seperti ini?” pekikiku,”Apakah aku tercipta untuk tak boleh merasa apa yang telah alam cipta? Lalu untuk apa aku hidup dalam dunia?”

Dunia pun diam.

Catatan: tulisan ini saya buat bersama Yolanda Vera, mahasiswi Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UKSW yang melegenda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s