Sales Promotion Boy (SPB): Mas Boy, oh Mas Boy…

SUATU ketika di bulan November, sesaat sebelum memimpin rapat redaksi media kampus, Scientiarum, saya membaca Buletin Senin guna mengetahui kegiatan-kegiatan mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dalam salah satu kolomnya, saya membaca kalau Biro Promosi dan Hubungan Luar (BPHL) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) sedang membutuhkan tenaga kerja dari para mahasiswa untuk ikut serta mempromosikan kampus ke sekolah-sekolah asal.

Karena sedang membutuhkan uang tambahan untuk membayar uang kuliah, saya mencoba mengambil kerjaan tersebut. Sebenarnya saya agak riskan dan skeptis bisa diterima, karena saya pribadi kurang begitu cakap dalam sebuah komunikasi langsung.

Tapi nasib berkata lain, ternyata saya diterima.

Saya langsung menghubungi Felania Yosita, seorang mahasiswi dari Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) untuk membantu mencarikan informasi dari pihak SMAN 2 Madiun. Kebetulan relasinya dengan beberapa guru di sekolah sendiri masih cukup erat, karena adiknya paling bungsu sedang menempuh pendidikan di sana.

Tapi tak bisa dipungkiri, yang namanya Informasi itu tidak ada yang gratis. Kalaupun informasi itu gratis, berarti itu tidak valid, bahkan cenderung tidak bisa dipercaya. Dan terkadang harga sebuah informasi itu bisa lebih tinggi daripada input yang kita dapat.

Tapi seorang penulis dari Amerika, Tom Wolfe, yang pernah menulis The Bonfire of the Vanities, mengenalkan saya pada sebuah konsep bank yang kuat dan terserap dalam aspek di seluruh dunia. Namanya Favour Bank (Bank Budi). Secara garis besar, bank itu berasaskan perkenalan dan kepercayaan. Misalnya seperti ini, saya punya banyak sekali teman. Suatu kali salah satu dari mereka meminta bantuan pada saya, dan saya bisa membantu kesulitan mereka dengan mengenalkan ke beberapa relasi pribadi. Setelah itu, secara tidak langsung saya menyimpang rekening−bukan uang, tapi kontak pada orang tersebut.

Lalu suatu hari kemudian, giliran saya yang menemukan kesulitan. Disana hanya orang itu yang bisa menolong dan membantu kesulitan saya. Orang tersebut segera menyanggupi permintaan bantuan kita. Disitu orang-orang akan melihat orang itu bisa dipercaya. Lalu setelah itu, orang-orang pun mulai menyimpan rekening orang tersebut−selalu dalam kontak, karena di dunia ini hanya terdiri dari kontak, tidak ada yang lain. Sirkulasi itu pun terjadi lagi dan lagi. Dan karena orang itu menghormati kepercayaan itu, dan menolong orang-orang lain, ia pun mulai dikenal banyak orang, meluas hingga penjuru dunia, dan pengaruh orang itu pun menjadi besar dan kuat.

Pertanyaan, apakah orang itu bisa menolak permintaan bantuan kita?

Tom menjawab,”tentu saja bisa. Sama seperti bank-bank lain, Bank Budi sendiri juga penuh resiko. Orang-yang kita tolong tadi-bisa saja menolak permintaan bantuan kita, karena orang tersebut merasa wajib dibantu. Kita tinggal ucapkan saja “terima kasih padanya” dan pergi kepada orang lainyang pernah kita pernah tolong. Tapi seketika itu juga orang-orang akan melihat hal tersbut, tanpa kita ucapkan, bahwa orang tersebut adalah orang yang tak bisa dipercaya,”

Saya akhirnya menerapkan konsep tersebut kepada Fela. Kebetulan saya dan dia adalah kawan sedari Taman Kanak-kanak hingga sekarang. Saya berjanji pada diri sendiri suatu saat akan menolongnya, sekalipun itu akan membuat saya rugi sendiri. Sebuah konsekuensi yang mesti ditanggung.

***

Sekitar tanggal 19 Desember 2011, saya pulang menuju Madiun. Sebenarnya kepulangan saya itu bukan karena ada tanggungan kerja dari MMS, tetapi lebih karena Papa saya sedang sakit.

Berita itu saya dapatkan dari kakak perempuan saya. Ia menghubungi saya sekitar tanggal 19 Desember pagi harinya. Ia mengabarkan bahwa Papa masuk Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Soetjipto Madiun. Beliau dirawat karena penyakit jantung yang diderita sejak setahun lalu itu kambuh dan membuat ia terbaring lemah di salah satu kamar di RSU Dr. Soetjipto. Terus terang saja, saya takut apabila terjadi apa-apa dengannya. Selain belum mampu memenuhi kewajiban sebagai seorang anak, saya belum mampu memenuhi janji untuk menjadi sarjana Psikologi.

Janji itu mungkin sudah terucap sesaat saya memutuskan untuk kuliah lagi sekitar tahun 2008 lalu. Ia meminta saya untuk bisa lulus kuliah dan tidak pergi melarikan diri lagi seperti sebelumnya. Tetapi kehidupan memang tidak bisa ditebak. Bukannya menjadi mahasiswa yang “manis”, saya lebih memilih hidup menjadi seorang aktivis. Mulai dari ikut gerakan mahasiswa sampai berkecimpung dalam dunia jurnalis saya lakukan hanya untuk memenuhi hasrat saya: menjadi seorang aktivis.

Tetapi seiring bertambahnya usia, saya mulai sadar bahwa seidealis-idealisnya seseorang, pada akhirnya ia akan dikejar oleh kebutuhan pribadinya. Dan seiring bertambahnya usia pula, mungkin membuat saya ingin selalu dekat dengan orang tua.

Kedatangan saya di Madiun langsung disambut oleh supir keluarga dan kakak perempuan saya. Sudah hampir 1 jam lamanya ia menunggu, katanya. Memang perjalanan itu molor lebih lama sejam lebih lama dari biasanya. Dari Salatiga menuju Madiun biasanya hanya 4 jam, tetapi ini sudah lebih dari waktu normal. Saya pun cuma bisa meminta maaf karena perjalanan malam itu ternyata tidak berjalan cukup lancar.

Saya menceritakan bahwa sewaktu di dalam bus perjalanan pulang, ada kecelakaan yang menewaskan seorang pengendara sepeda motor di daerah Ngawi. Ia diduga menubruk sebuah trotoar di daerah Jendral Sudirman Ngawi.

Kecelakaan itu membuat arus lalu lintas di sepanjang jalan menjadi macet. Bangkai sepeda motor itu hancur dan serpihan-serpihannya masih terserak di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Mayat pengendara motor itu sendiri sudah diangkut ke Rumah Sakit untuk diidentifikasi lebih lanjut oleh dokter.

Polisi yang menangani kasus itu pasti segera membuat sebuah spekulasi. Mungkin karena jalanan licin dan dia tergelincir. Atau mungkin karena ia sedang menyalip kendaraan lain dari arah sebelah kiri. Entahlah yang mana yang bakal dipilih untuk dipublikasikan di media setempat. Teori kemungkinan seolah menjadi hal wajib dibuat oleh polisi untuk menghadapi sebuah kasus.

Kakak saya bergumam. Ia terdiam setelah mendengarkan cerita saya.

”yang penting kamu selamat,”ujarnya pelan,”sekarang kita langsung ke Rumah Sakit saja,”

Sekitar pukul 10 malam, saya sampai di Rumah Sakit. Saya melihat mama sedang tertidur pulas di sofa dekat tempat tidur Papa. Ia tertidur dengan mata yang cukup sembab. Mungkin mama habis menangis, kelelahan lalu ketiduran.

Setelah membenarkan selimut mama, saya mulai melihat kondisi papa. Wajahnya sekarang sudah tampak begitu tua. Banyak sekali kerut di dahi wajahnya. Rambutnya yang dulu hitam kini sudah mulai memutih. Di mulutnya terdapat sebuah selang oksigen untuk membantunya bernafas. Selain itu kabel infus juga sudah menembus urat nadi di sekitar pergelangan tangannya. Ia tak terlihat seperti orang sekarat, tapi cuma orang tertidur sangat pulas. Saking pulasnya, ia seolah tak ingin terbangun lagi.

Berkebalikan dengan saya yang sekarang, saya, setelah masuk kuliah, mengidap insomnia. Kata wali dosen yag juga psikolog pribadi saya, Aloysius Gunawan, saya terlalu stres. Tetapi sebenarnya saya tidak merasa bahwa insomnia ini adalah penderitan tetapi sebuah anugerah yang mestinya dinikmati. Saya memang seorang pecinta malam. Bagi saya, malam itu menenangkan. Dan makin malam makin ramai. Hampir mirip pasar malam yang begitu riuh, padat dan tak pernah sepi.

Perlahan saya teringat, dulu waktu kecil, kalau saya tidak bisa tidur, papa selalu datang untuk membacakan sebuah buku cerita. Ia mengisi malam-malam saya dengan pada seluruh cerita-cerita yang dulu ia dapatkan dari kakek. Mulai dari wayang hingga kebudayaan etnis kami. Saya selalu tertidur pulas dalam dekapan hangatnya.

Ah, malam kian larut. Mungkin semua orang sudah tertidur. Termasuk juga kakak saya. Ia sudah pulang setelah mengantarkan saya ke Rumah Sakit. Sembari menggelar tikar yang tadi kakak berikan, saya ingat ucapannya,”tidurlah. Besok kamu mesti ke sekolahanmu kan?” Mungkin saran yang diberikan kakak terkesan begitu datar, tapi mungkin hal benar. Mungkin besok adalah hari yang bakal melelahkan. Mungkin juga bakal menyenangkan. Tapi malam sudah kian larut, begitu pula mata ikut menyurut.

***

Sekalipun sudah dibantu oleh Fela, ternyata saya masih belum bisa menembus birokrasi sekolahan tersebut. Salah satu pegawai Tata Usahanya tidak mempercayai surat yang saya titipkan kepada Fela, bahkan tidak mau memegangnya.

Akhirnya saya putuskan untuk menemuinya langsung. Tapi ternyata tetap nihil. Ia tetap bersikukuh tidak mau untuk memberikan stempel sekolahan untuk surat yang saya bawa. Saya mencoba dengan segala rayuan, tapi tetap semanya sia-sia.

Beruntung, Fela sudah menemui salah seorang guru, yang dulu sempat menjadi wali kelas saya. Sri Sugiarti, namanya. Ia cukup baik dengan saya dulu sewaktu saya sekolah dulu. Dia sering membantu saya jika saya mengalami kesulitan dalam pelajaran akuntansi. Kali ini ia sudah naik jabatan. Tepatnya menjadi salah satu Wakil Kepala Sekolah. Dan lagi-lagi, ia datang untuk membantu saya.

“ga perlu pakai surat segala,”ujarnya menenangkan kepanikkan saya.”kamu bekas murid di sini. Jadi kamu itu masih kami anggap keluarga juga,”

Ia menawarkan pada saya sebuah kelas untuk nantinya saya presentasi. Sebuah kelas khusu dimana murid-muridnya yang hadir memang tertarik pada universitas yang dipresentasikan.

Saya tak bisa menolak, apalagi meminta lebih. Sudah diberi ijin, bukan berarti harus meminta lebih. “kelas khusus buatmu presentasi bersama Fela akan kami sediakan besok,”

“kenapa mesti besok?”Tanya saya padanya.

“sekarang SMAN 2 sedang dalam masa ujian buat persiapan UAN,”jelasnya,”Hari ini adalah hari terakhir ujian. Jadi besok pagi saja kamu datang lagi. Bagaimana? Besok bisa kan?”

Saya mengiyakan.

Ia mulai mengajak saya ke ruangannya bersama Fela. Di sepanjang perjalanan ia mulai menanyakan kabar saya dan keluarga hingga tempat kuliah saya yag sekarang. Ia sedikit kaget sewaktu saya menceritakan bahwa saya cabut dari kampus saya yang lama dan memilih untuk masuk Satya Wacana.

“kenapa kamu minggat dari Surabaya?”

Saya cuma menjawab bahwa tidak ada kecocokan dari lingkungan di sana. Rasanya agak susah untuk beradaptasi untuk lingkungan sekeras Surabaya. Selain terkenal dengan cuaca yang cukup panas, lingkungan yang ada dulu sangat dan terlalu kompetitif. Individualisme ala orang jawa Timur begitu kentara dan kerasa.

“lalu sekarang di Satya Wacana sudah masuk semester berapa?”

Saya bilang sudah mau masuk skripsi. Ia mulai menanyakan hal yang sama dengan Fela. Fela juga mengiyakan hal yang sama.

Kami memasuki ruangan yang tampak sepi dibelakang ruang guru. Di ruang itu terdapat sebuah meja kayu yang adabeberapa lembar kertas dan buku menumpuk. Ada juga sofa untuk tempat tamu datang berkunjung. Kami dipersilahkan duduk dandisuguhkan segelas teh manis.

Ia mulai bercerita banyak kejadian terjadi setelah angkatan kami lulus. Banyak sekali perubahan terjadi pada siswa-siswa yang masuk termasuk prestasi sekolah yang didapatkan beberapa tahun terakhir ini. “anak-anak sekarang sangat susah diatur. Kalau dihukum mereka akan membandel dan rewel. Pengaruh global tampak begitu besar dalam dunia pendidikan sekarang ini,”

Saya terus mencatat semua yang dibicarakannya. Saya tertarik dengan piala-piala yang ada disebelah saya.

“oh itu piala yang barusan kami dapatkan. Itu piala kejuaraan basket dan medali untuk para pemenangnya,”lanjutnya.

Obrolan ngalur-ngidul mulai disuguhkan oleh Sugiarti dan Fela. Saat merekaasyik bercakap, saya lebih memilih untuk menenggelamkan diri pada beberapa buku yang ada di depan saya. Buku itu judulnya “akuntansi untuk SMA kelas 3 SMA”. Saya ingat dulu pelajaran ini cukup susah saya mengerti. Selain butuh ketelitian juga perlu sebuah kecermatan tinggi dalam menyusun sebuah pembukuan.

Setelah hampir 2 jam kami ada di sana, kami mohon undur diri. Fela masih ada janji,dan saya sendiri mesti kembali ke Rumah Sakit untuk menemani Papa.

“besok ya, jangan lupa. Hati-hati di jalan.”

***

Keesokan paginya ia menepati janjinya pada saya untuk memberikan sebuah ruang kelas kosong sebesar 6×6 meter dan berkapasitas 40 siswa. Kursi-kursi sudah ditata rapi dan diletakkan di dinding sekitar dalam kelas. Tapi kelas itu masih tampak kosong dan belum ada siswa yang datang. Sugiarti menyuruh kami untuk menunggu para murid sebentar karena pengumuman baru disampaikan.

Saya mulai agak skeptis akan ada yang datang. Pamor kampus Satya Wacana memang kurang cukup menggaung di daerah Madiun. Hal itu bisa saja membuat saya kehilangan pekerjaan.

“Gimana nih kalau ga ada yang datang?” tanya Fela mulai cemas juga.

Saya diam tak bisa berbicara.

Tiba-tiba pintu itu dibuka,”permisi, kak. Ini benar kelas untuk presentasi kampus Satya Wacana?” seorang siswi berbaju agak malu-malu melonggok ke dalam kelas. Rambutnya agak panjang sebahu dan kulitnya agak sawo matang.

Saya mengangguk dengan terheran. Dalam benak saya, masih ada to yang tertarik dengan promosi macam ini?

“adik dari kelas mana?” tanya Fela padanya.

“dari kelas IPA III, kak.”

“Namanya siapa, dek?” tanya saya padanya.

Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba ada beberapa siswa dan siswi yang masuk. Mereka langsung duduk di lantai. Sekitar 15 siswa hadir di situ.

Fela langsung membuka pembicaraan,“wah, selamat datang semuanya. Maaf lho kami menganggu,”

Serentak salah satu dari menjawab, cewek yang agak terlihat tomboy dan maskulin menjawab,”ah, santai saja kak. Lagipula kami juga ga ada pelajaran,”

“beberapa dari mereka gak masuk kak. Mungkin karena tidak ada pelajaran sih,”lanjutnya.

Saya baru ingat mereka baru saja mengikuti ujian. Secara otomatis mereka tidak akan ada pelajaran alias kelas kosong.

Fela mulai berbicara lagi,”teman-teman, kami berdua dari Universitas Kristen Satya Wacana. Saya Felania dan ini Erwin. Saya dari Fakultas Seni Pertunjukan dan Erwin dari Fakultas Psikologi. Kami berdua dulu juga pernah bersekolah disini. Oh ya, teman-teman semua ada yang tahu UKSW ga?”

Mereka mulai tampak kebingungan. Salah satu dari mereka bertanya,” UKSW itu ada dimana sih kak?”

Kami berdua pun saling bergantian menerangkan tentang UKSW. Mulai dari sejarah sampai 13 fakultas yang ada di dalamnya. Mereka masih tampak bingung dan kami berdua pun mulai menyebarkan brosur yang kebetulan saya dapatkan dari BPHL sebelumnya.

“kak Erwin, kakak kan masuk Psikologi, itu enak ga sih?”

Saya diam. Saya bingung mesti menjawab dari sebelah mana. Saya pernah ditolak Lembaga Kemahasiswaan karena dianggap tidak punya kemampuan. Hingga pada akhirnya didiskreditkan dalam berbagai organisasi di dalam kampus. Dari situ saya merasa beruntungdi terima di sebuah pers mahasiswa kampus dan hingga akhirnya menjabat Pemimpin Redaksi. Dari situ juga saya mulai dikenal dan mengenal banyak orang dari berbagai belahan daerah. Saya juga ingat pernah mesti berkonflik dengan dosen karena tidak sepakat dengan apa yang dia katakan. Rasa-rasanya itu baru saja terjadi kemarin dan susah untuk dilupakan.

“Menyenangkan. Di sana, Di fakultas ataupun di tingkat universitas saya banyak belajar bagaimana manusia itu sebenarnya berproses,”lanjut saya,”Dulu saya bukan siapa-siapa di SMA, sekarang saya mulai menemukan apa yang jadi jalan hidup saya,”

Dari bercerita pada mereka yang masih muda, saya merasa bahwa semakin bertambahnya usia, makin sederhana pula cita-cita yang kita idamkan. Saya juga bercerita tentang pengalaman-pengalaman saya sewaktu di Salatiga, dimana kota kecil itu banyak sekali orang-orang yang hebat, baik dalam pemikiran juga perbuatan.

“ada beberapa orang yang berpengaruh dalam hidup saya. Mungkin mereka adalah sahabat terbaik yang pernah saya dapatkan dalam jalan hidup,”

“wah, lalu bagaimana biaya hidup disana?”

Saya mengatakan bahwa biaya hidup sebagai mahasiswa itu relatif. Kalau boros ya bakal boros banget. Tapi kalau mau menghemat juga bisa. Kota Salatiga itu mirip sekali dengan Yogyakarta. Kota itu tampak begitu hidup karena mayoritas mahasiswa yang ada datang dari berbagai penjuru Indonesia.

Tanya jawab itu berlangsung hampir satu jam lebih. Seolah-olah banyak sekali yang ingin saya bagikan pada mereka. Tapi waktu juga yang membuat kami mesti undur diri.

Sebelum kami pulang, Fela diminta untuk menyanyikan sebuah lagu. Sekalipun nampak malu-malu, Fela akhirnya mau untuk menyanyikan lagu “Bunda” dari Melly Goeslow.

Catatan ini dibuat untuk melengkapi laporan MMS ke BPHL. Catatan ini saya buat pada 18 Januari 2012 dan dilanjutkan lagi pada 15 Februari 2012.


Erwin Santoso – mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2008

One thought on “Sales Promotion Boy (SPB): Mas Boy, oh Mas Boy…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s