Sepenggal Percakapan

”Akhirnya saya menemukan bayangannya Lia. Hampir serupa, tapi tak semuanya sama,” ujarku setengah sadar.

“Hesti?” tanya wanita itu, kawanku.

“Bukan,”jawabku sambil menenggak seteguk bir,”Namanya, Kiara,”

“Siapa lagi itu?” balas kawanku tak habis pikir.

“aku ketemu dengannya saat sedang mengurus proposal. Waktu itu aku membentak seluruh kelompok, termasuk dia. Tapi dia-lah yang paling tenang dan sekaligus yang paling mampu menenangkan emosiku. Beberapa waktu berikutnya aku ngobrol dengannya, dari situ aku bisa melihat sekilas sosok Lia. Yang egois, yang idealis, yang cerewet, yang kanak-kanak. Yang cuek tapi sebenarnya peduli.” jelasku. Sejenak kemudian aku melanjutkan, “ Aku masih ragu awalnya, setelah interaksi intens, banyak hal yang membuat aku merasa aneh. Seolah-olah duniaku teralih padanya. Hanya sama dia.”

Sekilas wajah kawanku tampak jengah “Jangan pernah berdiri dibawah bayangan. Jangan cari pengganti, tapi buatlah tempat yang baru.”

“Tapi dia udah ada yang punya kok Lin,”

“Kamu itu, pindah hati secepat kilat, dari Adera sampai ke Kiara. Coba kau renungkan dulu, apa yang kau cari.”

“Barangkali aku memang mengidap gangguan jiwa karena terlalu mudah jatuh cinta. Ha ha ha.”

“Yakin itu cinta? Atau hanya sebatas suka?”

“Apa bedanya? Toh keduanya memiliki manifestasi yang sama: seksualitas.” sergahku asal.

“Kata siapa? Kalau belum tahu betul apa yang diomongkan, lebih baik diurungkan.”

“Lalu apa yang kamu tahu soal cinta?”

Kawanku menaikan alis kirinya mencemooh, “Aku juga tidak begitu tahu-lah. Jiwa kan cuma bisa menerka-nerka apa itu cinta, lagi pula pengetahuan jiwa terbatas dari apa yang mampu masing-masing jiwa pelajari. Apalagi kita, manusia, memahami jiwa pun kita tak mampu. Kita hanya mampu melihat perilaku yang dimanifestasikannya. Sejak kapan kita ini mampu menerjemahkan afeksi dengan baik dan dengan logika yang runtut?”

“Lalu bagaimana seharusnya?”

“Kamu tanya aku? Aku saja masih belajar mengenal si Psyche dan si Erros itu.” tandasnya. Dia melanjutkan, “Hanya saja, jangan begitu mudah menghakimi bagaimana Psyche dan Erros itu adanya. Seakan kita ini sudah pasti tahu. Kita cuma bisa menerka. Mengkritisi hal lain atau orang lain ada kalanya boleh, tapi jangan lupa untuk mengkritisi dirimu sendiri.”

“Aku dan kamu tidak tahu apa-apa soal cinta ataupun Psyche, lalu apa bedanya dengan orang buta yang menuntun orang buta? Bukankah ini yang namanya “sia-sia”?”

“Siapa yang hendak menuntunmu? Dan siapa pula minta tuntutananmu?” ledek kawanku,“bukankah tiada tuntunan yang terbaik untuk mengenal mereka selain dari Erros dan Psyche itu sendiri? Bukankah seharusnya kamu yang paling tahu dirimu sendiri?”

“Diri sendiri? Berarti “aku”? Siapa aku? Aku adalah aku, kata Tuhan orang Yahudi. Lengkapnya: aku ada yang aku ada. Dan aku memang ada. Tapi pertanyaannya tetaplah sama: Siapa’ aku’? lalu siapa ‘kamu’?”

Dia tersenyum, “Kamu tanya aku, ‘Siapa aku? Dan siapa kamu?’ Bodoh sekali kamu,”

“Aku memang bodoh karena percaya pada hal yang tiada tapi dianggap ada,”ujarku sambil menyulutkan rokok dan meniupkan asapnya,” Tapi mungkin lebih bodoh lagi orang yang tahu perdebatan ini. Ha ha ha.”

“ Ya ya ya.” Pungkasnya dengan wajah datar.

Sepenggal percakapan bersama Linda Susilowati

4 thoughts on “Sepenggal Percakapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s