Hikayat Si Gadis Gila Asal Slovenia

Judul              : Veronika Memutuskan Mati (Veronika Decides to Die)

Pengarang       : Paulo Coelho

Tahun terbit    : Cetakan keenam, tahun 2009

Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

TEPAT dua minggu. Ya, benar. Aku hanya butuh dua minggu untuk bisa menyelesaikan membaca novel setebal 258 halaman ini. Padahal biasanya untuk membaca sebuah novel, aku butuh waktu lebih. Ada kepuasaan terselip dalam benakku saat bisa menyelesaikan novel pinjaman ini. apalagi semester lalu aktivitasku di luar kampus begitu padat. Mungkin ini disebabkan “kegilaan”ku pada sosok Coelho yang mendorongku untuk segera menyelesaikannya novel ini hingga akhir cerita.

Semula aku akui, aku tak terlalu tertarik dengan novel ini. Dulu saat aku melihat versi filmnya, aku merasa tak terlalu tertarik karena begitu kaku dan cenderung membosankan. Film yang diproduksi tahun 2009 itu banyak sekali mengalami pengubahan dari versi aslinya. Mulai dari nama tokoh dan plot filmnya tampak diubah untuk memenuhi sisi komersil film tersebut. Alhasil film garapan Emily Young itu terlihat melebih-lebihkan sisi dramatik yang ada dan nilai yang ditekankan Coelho banyak sekali berkurang.

Secara garis besar “Veronika Memutuskan Mati” ini mengungkapkan sebuah kisah seorang gadis asal Slovenia bernama Veronika. Ia berprofesi sebagai pustakawati di sebuah biara. Ia diceritakan memiliki kehidupan yang normal dan cukup lengkap. Mulai dari pekerjaan yang nyaman sekalipun tak terlalu mapan, keluarga yang menyayangi dan selalu mendukungnya Sampai memiliki seorang pacar yang mencintainya. Tidak ada satupun yang kurang kalau dilihat sepintas.

Tetapi ternyata dibalik rutinitas kehidupan yang serba normal, dalam jiwa Veronika terciptalah satu ruang kosong. Hal itu membuatnya risih dengan dirinya sendiri. Ia merasa hidupnya tiada bermakna pun tiada guna bagi orang di sekitarnya. Hingga pada puncaknya pada tanggal 11 November 1997, ia memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara menenggak pil tidur dengan dosis yang cukup tinggi.

Berhasilkah?

Bukannya pergi ke surga atau ke neraka, Veronika malah mendapati dirinya ada di Villete. Villete merupakan sebuah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang dibuat Pemerintah untuk menampung dan mengurusi orang-orang (dianggap/ didiagnosis) gila atau tidak waras.

Sekalipun selamat dari percobaan bunuh diri, polemik baru terjadi saat Igor, Kepala RSJ Villete menyatakan bahwa hidup Veronika tinggal satu minggu. Empat bungkus pil tidur yang ditenggak sebelumnya menyebabkan kinerja jantungnya rusak dan susah dipulihkan. Parahnya lagi, hal itu bisa saja membuat detak jantungnya berhenti mendadak. Entah itu esok, lusa atau lusa esok. Walhasil, Veronika mesti menunggu kematian itu datang.

Sembari menunggu ajal, Veronika mencoba menjalani hari-harinya di RSJ Villete. Di sini Veronika sempat merasa was-was karena dirinya merasa dirinya  normal dan tidak gila. Ia merasa seorang diri ada di dunia yang bemar-benar berbeda.

Dari situ, ia bertemu dengan seorang Zedka, seorang gadis yang dihantui cinta masa lalunya. Ia seorang gadis yang sebenarnya cerkas, tetapi karena terobsesi pada seorang lelaki di masa lalunya, pernikahannya kandas di tengah jalan. Di RSJ Villete sendiri, ia menjadi sosok sahabat baik Veronika dalam menjalani hari-hari terakhirnya.

Tetapi sebenarnya di tengah-tengah orang gila itu ada beberapa orang “normal” yang lari dari tekanan sosial masyarakat. Mereka lebih memilih tinggal di Villete karena kehidupan mereka dijamin oleh pihak pemerintah, mulai dari makanan hingga tempat tinggal. Salah satunya dari beberapa orang itu bernama Marri. Dulu Ia berprofesi sebagai seorang pengacara yang cukup handal dan terkenal. Tetapi karena mengalami ‘panic attack’, ia memasukkan dirinya sendiri ke Villete untuk menjalani perawatan. Ia sebenarnya telah sembuh dalam beberapa tahun teakhir ini, tetapi ia merasa takut untuk kembali pada realita masyarakat.

Dan terakhir adalah Edward merupakan sosok pemuda tampan dan mapan yang menderita Skizofrenia. Ia anak dari salah satu duta besar Slovenia. Ia dimasukkan ke Villete karena impiannya sebagai pelukis dan seorang visioner itu dianggap aneh dan bisa menghancurkan citra sang ayah di dunia Internasional.

Kehadiran tiga orang tersebut seakan menjadi titik balik dari kehidupan Veronika. Sekalipun sempat menolak kehadiran mereka, tetapi pada akhirnya ia mampu menerima kehadiran mereka. Dalam proses penerimaan itu, Veronika menjalani hari-hari penuh perenungan dan berhasil mengubah persepsinya tentang kehidupan yang dimilikinya. Tetapi makin lama waktu kematian itu makin dekat, apakah Veronika akan mati? Baca saja sendiri.

Lewat novel ini, Coelho seperti sedang menceritakan tentang kisah hidup dirinya sendiri. Penulis yang terkenal lewat novel “The Alchemist” itu pernah dimasukkan Sanatorium Dokter Eiras di Rio de Jenairo, Brazil. Sanatorium itu bisa disebut salah satu “Villete”nya  di Brazil.

Dia dimasukkan ke sana karena dianggap orang aneh (baca: gila) oleh keluarganya sendiri. Ke-aneh-an itu terlihat saat ia mengutarakan keinginannya menjadi seorang seniman. Oleh orang tuanya, keinginan itu ditentang karena tak cukup menjamin kehidupan Coelho sendiri bahkan untuk keluarganya kelak.

Sebanyak tiga kali (tahun 1965, 1966 dan 1967) ia mesti bolak-balik Sanatorium tersebut karena terus nekat mempertahankan impiannya. Selama tiga kali pembuangan itu, Coelho mengalami krisis eksistensialis. Ia merasa dirinya itu orang gila karena tidak ada satu orang pun percaya padanya. Perlahan tapi pasti, ia menemukan siapa dirinya sendiri hingga akhirnya bangkit dari sisi kelam dalam hidupnya.

Ditilik sisi filosofis, hikayat Veronika sendiri cukup mengena bagi kehidupanku. Coelho seolah menarikku ke dalam cerita dan menghadapkanku pada beberapa pertanyaan pada diriku sendiri. Apa itu gila? Lalu apa itu yang disebut normal? Siapa yang sebenarnya gila dan siapa yang sebenarnya normal?

Mungkin selama ini konsesus masyarakat selalu percaya bahwa orang yang “gila” itu adalah orang memiliki tingkah laku aneh dan memiliki nilai yang berbeda, sedangkan orang yang “normal” itu adalah mereka yang patuh pada keyakinan dan nilai yang dimiliki masyarakat. Tetapi apakah konsesus masayrakat itu selalu benar? Apa itu konsensus masyarakat? Lalu apa itu Benar? Apakah Benar itu selalu benar? Jawabannya belum tentu alias relatif. Semua hal memiliki sisi subjektif, yang artinya tergantung persepsi dan interpreasi dari masing-masing individu itu sendiri.

Sekarang bagaimana kalau dibalik, bagaimana mereka (masyarakat) menjawab dan mendefinisikan sosok Einstein? Tingkah lakunya aneh tapi dia bisa menjadi orang menemukan hukum relativitas Fisika. Atau sosok Thomas Alfa Edison yang percaya bisa menemukan lampu bohlam, dan Sigmund Freud yang percaya bahwa emosi manusia itu terdiri dari Id, Ego dan Super Ego? Mereka berdua itu memiliki tingkah laku yang aneh dan pemikiran-pemikiran mereka selalu menentang tradisi yang sudah ada. Lalu apakah mereka itu gila?

Dari pertanyaan-pertanyaan itu membimbingku untuk menarik satu kesimpulan: bahwa selama ini kata “gila” itu cuma sebuah stigma. Sebuah label yang disematkan pihak mayoritas pada individu.

Lalu sebenarnya apa yang membedakan para ilmuwan-ilmuwan hebat itu dengan orang-orang gila di RSJ?

Mereka, yang berada di RSJ adalah mereka yang terkurung dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri. Mereka kehilangan sisi sosial karena tak mau mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran dengan lingkungan sekitar. Mereka sudah terlalu nyaman dengan ”dunia” mereka ciptakan sendiri dan tak mau kembali. Sedangkan para ilmuwan itu, mereka berhasil merumuskan pemikirannya hingga akhirnya dunia pun ikut mengakuinya. Jadi intinya kembali ke persoalan persepsi dan interpretasi saja.

One thought on “Hikayat Si Gadis Gila Asal Slovenia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s