Menyelami Sang “Guru”

SUATU kali salah seorang rekan bertanya bagaimana caranya mengedit sebuah tulisan. Saya sendiri bingung mau jawab apa dan bagaimana. Mau bilang begini, tapi takut kalau salah kasih saran. Mau bilang begitu, juga takut kalau salah pula. Serba salah pokoknya.

Memang benar, sekarang posisi saya di Scientiarum adalah seorang editor plus-plus. Plus-plus disini artinya adalah plus sebagai reporter, plus sebagai redaktur pelaksana, plus sebagai ini, dan plus sebagai itu. Pokoknya serba plus-plus. Sekalipun begitu, saya tidak pernah merasa diri saya ini banyak plusnya, dan sebaliknya malah merasa banyak minusnya. Fvck me!

Kembali ke pertanyaan bagaimana dan seperti apa saya melakukan editing. Saya cuma berkiblat pada pengalaman yang saya rasakan sewaktu awal masuk Scientiarum. Setahun menjadi reporter cum penulis “opini” lepas dari beberapa media surat kabar membuat saya peka pada tiap tulisan saya sendiri.

***

Waktu itu saya yang masih junior dan dipegang langsung oleh Satria Anandita, salah satu senior dari Scientiarum. Liputan pertama saya adalah tentang dana bantuan yang dibuat oleh Gerakan mahasiswa Peduli untuk korban bencana di Papua. Bantuan dana itu sendiri menurut rencana akan disalurkan lewat HIMPPAR (Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Papua).

Jika boleh saya berkomentar secara jujur, peliputan itu benar-benar mendadak dan tidak terkondisi sama sekali. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Satria, waktu itu cuma mengatakan, bertanya saja apa yang ingin kamu tanyakan.

Akhirnya berbekal catatan 5W+1H (What, Where, When, Who, Why, dan How), saya berangkat mewawancarai narasumber yang adar. Disitu, saya ingat, Satria bertanya pada narasumber tentang tarian yang ditunjukkan merka. Saya heran. Kenapa Satria menanyakan itu? Apa alasannya?

Liputan selesai dan sekarang saatnya menuliskannya dalam bentuk laporan berita. Letak kesusahan yang terjadi adalah saya tidak tahu bagaimana memulai tulisan sebuah berita. Boro-boro menulis berita, waktu itu untuk menulis saja, saya tidak tahu bagaimana cara memulainya.

Saya mendengarkan dengan seksama rekaman yang ada dan melihat data pada note. Dalam rekaman yang saya punya, terdengar juga suara Satria yang menanyakan tentang makna tarian asli Papua. Saya jauh berpikir mengapa dia menanyakan hal tersebut. Ah, saya mengerti, ternyata saya kurang pada poin “How”. Untung dia menanyakan hal tersebut, sehingga bisa menjadi angle (sudut pandang) yang cukup menarik untuk menjadi berita.

Kalau tidak salah ingat, saya menulis berita itu juga cukup lama. Sekitar satu jam lebih kalau tidak salah. Jika itu terjadi dalam sebuah media massa bertaraf profesional, maka saya bisa dipastikan segera diberi surat peringatan atau dipecat. Selain terlalu lama, juga berita tersebut pasti akan kurang hot lagi dimata pembaca.

Akh, akhirnya selesai juga menulis straight news (berita pendek) itu, saya ingin sekali segera pulang meninggalkan kantor. Tapi kepulangan saya ditahan oleh Satria. Dia bilang, ayo diedit bersama-sama. Saat saya melihatnya, seolah-olah dia menjadi begitu besar. Aura tubuh yang dipancarkannya terasa panas, membuat seperti seorang serigala yang siap mengoyak mangsanya. Saya takut hingga tidak sadar bahwa lutut ini gemetar.

Dia mulai bertanya, jadi seperti ini tulisanmu? Saya hanya diam dan menganggukkan kepala. Dia melanjutkan dengan memulai melihat dan membacanya. Saat ia membaca, nafas saya seolah tertahan, tercekik pada rongga tenggorok. (Glek). Ia mulai membombardir dengan pertanyaan-pertanyan,”apa hubungannya antara kalimat ini dengan ini?” (Glek-glek) saya mulai menjelaskan, seperti ini-seperti itu. Lalu lagi-lagi ia bertanya,”ini singkatannya sudah benar atau belum? Lalu data yang tadi sudah dimasukkan semua? Apakah ada yang belum dimasukkan? (Glek-Glek-Glek).

15 menit kemudian, dia mengesahkan berita tersebut untuk segera dipublikasikan. Saya lega tapi sekaligus kecewa. Kekecewaan itu ternyata lebih mencekiki batang leher saya. Jika diijinkan menreviewnya lagi, saya menilai banyak sekali “lubang” yang menganga dalam penulisan waktu itu.

Kekurangan paling signifikan yang tersorot dalam proses pengeditan, salah satunya adalah kesalahan pengetikan kata. Misalnya saja kata “dengan”. Saya sering mengetiknya menjadi “dengna”. Disini yang menjadi pokok permasalahan bukanlah masalah kecepatan saya dalam mengetik, tapi lebih pada kemauan saya untuk mengrosceknya tiap kata setelah tulisan itu selesai.

Paradigma yang ada dan sering terjadi adalah saya selalu meremehkan hal-hal kecil tersebut. Hal ini memang menjadi kendala sejak saya kecil. Saya jadi teringat omongan salah seorang guru, waktu dulu masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar.

Hari itu adalah hari pengambilan rapot. Mama saya diwajibkan menemui wali kelas saya yang namanya−kalau tidak salah ingat−Bu Erna. Dia berasal dari daerah Yogyakarta. Kulitnya halus dan memakai kacamata minus. Tubuhnya memang tidak terlalu tinggi, tapi cukup padat dan berisi. Bahkan sebab itulah, ia sempat mendapat predikat “guru tercantik dan terseksi” seantero sekolah. Banyak guru laki-laki di sekolah tergila-gila sekali ingin jadi pacarnya.

Mama saya datang terlambat satu jam dari undangan yang diberikan. Dia sengaja terlambat dengan alasan malas menunggu giliran panggilan. Tapi untung bu Erna masih di ruang kelas, menunggu mama sambil merapikan bangku kayu yang sudah lapuk dimakan waktu.

Bu Erna bercerita tentang bagaimana saya di sekolah maupun di kelas. Katanya, waktu itu saya cukup pendiam dan penyendiri. Tidak suka ikut bermain dengan anak yang lain, tapi malah asyik baca buku di perpustakaan. Nilai-nilai saya bagus, tapi selalu kurang pada nilai matematika dan kesenian.

Mama saya heran. Waktu itu, saya sudah diikutkan les ini itu. Mulai les piano sampai les biola. Dari les bahasa Inggris sampai les matematika. Tak ada yang kendala soal fasilitas.

Bu Erna membalas pertanyaan mama sambil tersenyum. Dia merogoh sesuatu dalam laci meja kayunya. Ia menyodorkan hasil tes Intelegensi saya. Dia kembali menerangkan bahwa tingkat kecerdasan saya luar biasa, apalagi bidang ingatan dan logika. Ia percaya saya adalah orang yang sangat cerdas dan potensial.

Tapi dalam kelebihan, pasti juga ada kekurangan. Dia menyebutkan saya kurang pada hal ketelitian dan pengendalian emosi. Dia meminta mama, agar saya dididik ekstra hati-hati. Salah-salah bisa jadi blunder sendiri.

Selain masalah ketelitian tiap kata dan data, saya juga baru tersadar kalau dalam jurnalistik sendiri, diksi yang dipakai adalah diksi yang singkat, padat, jelas dan berisi. Saya memperhatikan dan melihat Satria, beberapa kali mengubah kalimat-kalimat pada beberapa tulisan pada pengalaman selanjutnya. Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, bagian mana saja yang mesti diubah? Lalu standar seperti yang dipakai?

Sebelum semua kekurangan dan ketidaktahuan itu terselesaikan, saya sebagai bagian dari redaksi Scientiarum dihadapkan dengan proyek pembuatan majalah pada Oktober 2010. Kali ini, saya merasa jauh lebih tertekan sebab muncul beban baru di atas pundak. Rasa cemas itu benar-benar bikin saya terkulai lemas. Tanpa daya. Tanpa rasa. Tanpa asa.

Oleh Daniel Pekuwali, Pemimpin Redaksi waktu itu, meminta saya untuk menggawangi rubrik baru dalam majalah Scientiarum. Rubrik wisata, tepatnya. Rubrik itu kurang lebih mirip resensi sebuah tempat wisata pada suatu daerah.

Saya sendiri tidak tahu alasan Daniel meminta saya untuk menggawangi rubrik tersebut. Satu hal pasti yang membuat saya terbeban adalah, saya dimintanya menulis sebanyak sepuluh ribu karakter (tanpa spasi), ukuran 10 dan spasi 1,0. Dunia saya serasa berputar, sesaat setelah mendengar keputusan itu.

What the fuck! Dasar gila! Menulis yang pendek saja belum becus, sudah disuruh menulis sepanjang itu. Bisa-bisa saya dibunuh oleh para editor Scientiarum yang terkenal galak nan perfeksionis! Tapi.. ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Palu sudah diketok. Mau, tidak mau. Siap, tidak siap. Saya harus mau dan siap.

Saya segera mencari beberapa referensi tempat wisata di sekitar atau dalam Salatiga. Semula saya pikir ini akan mudah, tapi ternyata tidak semudah apa yang dipikirkan. Salatiga, memang memiliki banyak tempat wisata, tapi semuanya rata-rata sudah banyak orang yang tahu. saya menginginkan sesuatu yang berbeda.

Sial! Saya harus cari kemana lagi? Deadline sudah mendekati batas. Waktu yang saya ada berubah menjadi sesosok hantu. Saya diburu, dikoyak hingga dibelenggunya.

Beruntungnya seminggu sebelum pengumpulan berita, Slamet Hariyono datang ke Salatiga. Dia alumni UKSW sekaligus Scientiarum yang−dulu−bekerja sebagai pengurus di Kampung Seni Lerep. Dia bercerita banyak tentang tempat kerjanya. Tentang keasriannya, keesotisannya dan yang terpenting tempat itu masih baru.

Saya jadi tertarik untuk mengulas Kampung tersebut. Selain tergolong tempat wisata yang masih baru, belum banyak pihak yang tahu akan keberadaannya. Dan tidak ingin membuang waktu lagi, saya segera tancap gas menuju Ungaran. Saya mencari dan mengorek seluruh data yang ada di sana.

Seharian disana untuk mengorek data, saya tetap saja tidak terlalu menikmati tempat tersebut. Selain sepi tanpa pengunjung, saya agak kesulitan karena orang-orang disana sedang sibuk sendiri. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, saya mesti menuliskan tempat ini.

Sesampai di Salatiga, selama seminggu lamanya, entah itu pagi, siang ataupun malam selalu saya sempatkan untuk menulis dan menulis. Seklaipun bingung darimana mesti memulai, saya tetap nekat menulis. Kalau salah, ya sudah. Kalau benar, ya alhmadulillah.

Dari perasaan tanpa beban itulah, saya, secara tidak langsung berkenalan dengan pola penulisan bernama feature. Secara harafiah, feature merupakan penulisan panjang berbentuk roman. Disana saya bercerita bagaimana dan seperti apa pengalaman saya selama di Kampung Seni Lerep.

Memasuki proses pengeditan, disana ada Satria telah menunggu untuk memangkas tulisan saya. Saya adem ayem saja, karena saya pikir tulisan tersebut tidak bermasalah. Tapi ternyata tebakan saya meleset jauh. Sialan! Saya kena damprat juga dari Satria. Nguik-nguik…

Yang paling banyak dikritik dia saat itu adalah kekeliruan dalam pemakaian kata baku dalam kalimat. Dalam penulisan, saya tidak terlalu banyak memperhatikan kata-kata baku yang sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia. Misalnya waktu saya memilih kata “Ngelancong”, saya dimarahi. Alasannya itu kata ngelancong itu bahasa daerah, bukan bahasa Indonesia. “Ngelancong” jika dibahasa Indonesiakan menjadi “Melancong”. Terus terang, saya baru waktu itu. Oleh sebab itu demi memperbanyak diksi, saya mulai banyak membaca kembali.

Sempat beberapa kali juga, saya salah menuliskan nama pemilik dari Kampung Seni Lerep. Kalau tidak salah namanya “Handoko”, tetapi malah saya tulis “Handoyo”. Saya jadi lebih banyak mengoreksi diri, terutama ketelitian dalam pengecekan data yang telah ada dan terpaparkan. Ricek dan ricek. Itu yang paling terpenting dalam jurnalaitik.

***

Selepas itu saya sering menulis dan mengirimkan beberapa karya tulisan untuk beberapa surat kabar bertaraf nasional. Memang baru satu saja yang diterima, tapi ini membuat saya merasa ingin lebih berkembang dan terus berkembang. Rata-rata yang sering dikritik oleh media nasional adalah kurang kuatnya landasan dasar, content (isi) dan maksud dari tulisan saya. Ha-ha-ha.. Tapi yah, semua itu menjadi pengalaman yang benar-benar menarik, bagi saya tentunya.

Semoga segelintir pengalaman ini dapat menjawab apa yang ingin rekan saya inginkan. Tidak salah jika mama saya selalu bilang bahwa,”jangan melupakan segala pengalaman yang sudah ada dan terjadi. Sekalipun pahit, ia akan menjadi guru terbaik sepanjang sejarah hidupmu.”🙂

7 thoughts on “Menyelami Sang “Guru”

  1. Wow.. Sangat rapih sekali, sangat optimis sekali. Ga salah emang sudah jadi PimRed sekarang :))

    Btw *… tentang tarian yang ditunjukkan merka* kurang huruf ‘e’ tuh mas hehe, piss ah..

  2. Aku baru baca posting ini. Ternyata tulisanmu sudah makin baik. Salah-salah eja dan slaha kteik yang lain seperti kata Tian diperbaiki lagi ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s