Follow a Dream

Dalam catatan sebelumnya, saya sempat menguraikan segala kebimbangan hati saya untuk lanjut atau terus di Scientiarum. Hingga akhirnya dalam titik dilematik tertinggi, saya memilih pasrah dan berserah menunggu pertanda dari Sang Pembuat Takdir. Entah kenapa saya seolah sangat percaya bahwa pertanda itu akan segera datang.

Setelah memosting catatan tersebut dalam blog, selama hampir seminggu lamanya saya tidak mendapat dan merasakan pertanda apapun untuk kebimbangan hati saya tersebut. Yang datang hanyalah dua komentar singkat dari dua sahabat saya, James Filemon dan Filupus Tian untuk catatan yang saya buat tersebut.

Dalam komentar mereka, mereka berusaha agar saya menetralkan diri terlebih dahulu. Berpikir jernih dan membuat keputusan. Sampai Filipus Tian menyarankan saya untuk menonton film Adjustment Bereau. Film tersebut mengangkat setting cerita tentang seorang calon Senator Amerika Serikat yang jatuh cinta pada seorang gadis penari balet. Tapi cinta mereka seolah tidak pernah direstui oleh takdir. Calon Senator selalu saja dihalang-halangi oleh beberapa orang yang menyebut diri  sebagai agen Takdir.

Tapi pada akhirnya calon Senator lebih memilih takdirnya sendiri. Ia berani mengambil resiko harus dikejar-kejar oleh para agen yang telah mengintimidasi akan meriset ulang dirinya. Berkat kegigihan dan keberanian dari calon Senator tersebut, pimpinan para agen itu tersentuh dan mengubah keputusannya untuk membebaskan calon Senator tersebut untuk lepas dari takdir sebelumnya.

Setelah menonton film itu, saya merasa malah tambah bingung karena tidak menemukan sebuah jawaban atas kebimbangan yang sedang saya hadapi. Lagipula ini bukan masalah siapa yang menentukan takdir, tapi lebih menyoal sebuah keputusan akhir. Tapi tidak mengapa, yang terpenting mereka sudah berusaha memberikan saran yang terbaik.

***

Waktu pun yang terus bergulir, tapi tidak ada isyarat pertanda itu akan hadir. Saya pun mulai kembali pada rutinitas awal ─.kuliah, nongkrong dan membaca. Tapi hati ini terus-menerus gelisah. Terus terang saya mulai jenuh akan hidup yang stagnan seperti itu. saya ingin sekali liputan, tapi saya sudah merasa bukan seorang reporter lagi.

Suatu ketika saat nongkrong di Kedai Mister Two Kopi Bakar, saya bertemu dengan pemilik kedai kopi ini untuk mengobrol. Obrolan apa saja. Toh hanya untuk menghabiskan waktu. Dan seperti biasa, ia selalu saja menyapa saya dengan menanyakan kabar dan menanyakan kabar kuliah saya. Saya jawab baik, semuanya aman terkendali.

Mata saya tertuju pada apa yang dia buat. Kali ini bukan eksperimen tentang kopi baru, tapi sebuah proposal pengajuan kredit pada bank. Dengan telaten, ia memberi tahu saya ‘bagaimana’ dan ‘kenapa’ ia membuat proposal pengajuan kredit tersebut. Saya melihat ada sedikit bagian yang harus dikoreksi.

Selesai mengoreksi bersama proposal yang dibuat, ia mulai bercerita tentang kehidupannya pada hari itu, dimana ada seorang rekan kerjanya yang baru saja mengundurkan diri. Alasannya yakni sudah tidak cocok dengan tempatnya bekerja. Ketidak-cocokan yang dimaksudkan bukan masalah  gaji, tapi pada hubungan dengan rekan dan relasinya. Pemilik kedai kopi tersebut berujar, “akan susah eL kalau kita ‘bentrok’ dengan atasan karena masalah idealisme,”. Saya mengangguk mengerti dan paham apa yang dimaksudkannya.

Dulu kami pernah mengobrolkan “kenapa idealisme yang dibangun sewaktu kuliah, runtuh sekejap saat masuk dunia kerja?” Ia menjelaskan bahwa, dunia sekuler dengan dunia mahasiswa itu berbeda. “memang benar bahwa dunia mahasiswa itu penuh dengan idealisme, tetapi apakah idealisme itu harus juga dibawa sampai ke dunia kerja? Tidak bisa. Itu dua hal yang berbeda dan akan selalu bertentangan.” Lanjutnya,”kecuali kalau kamu mau jadi politikus atau jadi bos. Idealisme itu bisa saja kamu bawa. Semua idealisme itu akan runtuh karena ‘masalah perut’. Dan ingat! Semakin tua, kebutuhan yang ada akan semakin tinggi,”

Saya sepakat dengan asumsi tersebut. Idealisme memang akan runtuh selepas saya mencari pekerjaan dan meninggalkan dunia perkuliahan. Cara terbaik adalah mungkin berkompromi sementara waktu dengan apa yang saya idealiskan sewaktu kuliah. Lalu setelah sedikit sukses, wujudkan idealisme dan ambisi yang menjadi impian. Impian pun butuh dana.

“oh ya, kamu tinggal sedikit lagi ya?,” Ujarnya sambil menyedot sebatang rokoknya.

Saya sedikit bingung dengan maksudnya. Apanya yang sedikit lagi?

Ia menjawab santai,”sedikit lagi, kamu pasti bisa terbang ke negara impianmu, Italia,”

Saya hanya tertawa. Dan menjawab hal itu masih lama dan jalan hidup ini masih sangat panjang.

***

Malamnya setelah pulang dari Kedai Mister Two Kopi Bakar, tiba-tiba saja saya tidak bisa tidur. Saya merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati, tapi tidak tahu apa. Saya mencoba membuat kopi dan mengisi waktu membaca beberapa komik yang saya sewa siang hari tadi. Judul komik itu Bambino.

Komik memang hanya sebuah cerita fiksi,  khayalan dari sang pengarang. Tapi tak apalah, sesekali saja. Biar tidak terlalu tegang. Lagipula saya agak bosan dengan bacaan novel yang tidak ada gambarnya.

Bambino sendiri bercerita tentang seorang calon Chef masakan Italia yang berjuang merentas kariernya di sebuah restoran Italia di Jepang. Perjuangannya sendiri cukup berat, mulai dari jadi tukang cuci piring sampai menjadi pelayan.  Pengalaman-pengalaman tersebut membuat mentalnya terus tertempa dan terus berusaha mewujudkan mimpinya. Perjuangan yang keras dan tak kenal menyerah tersebutlah yang membuat saya tertarik untuk membacanya.

Selesai membacanya, saya tetap saja tidak bisa tidur. Ini aneh, pikir saya. hampir lima buah komik sudah habis, tapi kenapa tetap tidak bisa tidur? Mungkin penyakit Insomnia saya kambuh lagi.

Sambil mencari beberapa buku di lemari, saya minum kopi yang saya buat tadi. Menikmati kopi yang sudah agak hangat di malam hari memang bukan barang baru bagi saya. Sejak awal kuliah sampai sekarang, saya terbiasa minum kopi tiga kali sehari ─ pagi, siang, dan sore hari ─ lagipula, efek kafein sudah tidak mempan bagi saya  selama ini.

Kopi saya malam ini adalah Cappucino. Tidak terlalu keras dan terlalu halus, cocok pada pangkal lidah dan lambung saya. Cappucino sendiri adalah salah satu kopi kesukaan saya. Saya masih ingat, menurut buku 108 Recipe of Coffe, Cappucino adalah kopi yang berasal dari salah satu kota di Italia, Venezia.

Sebentar, Italia?? Saya agak tertegun dan heran.

Dalam satu malam, saya dihadapkan dengan hal-hal yang mengarah pada Italia. Mulai dari pertanyaan pemilik kedai kopi, lalu komik yang saya baca, sampai minuman yang saya pilih untuk malam ini. Apakah ini sebuah pertanda? Apakah ini isyarat yang saya harapkan selama beberapa hari ini? Tapi masa dari hal-hal kecil seperti itu? Sekalipun dalam Alkitab, menyuruh untuk setia dalam hal-hal kecil, tapi kenapa dari hal-hal yang tidak familiar?

Benar memang, waktu tahun kedua, saya memang bercita-cita pergi ke negara yang lekat dengan mafioso tersebut. Bahkan saya sampai mencari-cari beasiswa atau les bahasa Italia di daerah Salatiga. Rencananya, di sana saya ingin melanjutkan studi Psikologi dan berkarier disana. Tetapi karena memutuskan masuk Scientiarum di awal ajaran selanjutnya, rencana itu sedikit tertunda.

Saat awal-awal masuk Scientiarum, saya masih ingat akan mimpi tersebut. Tapi suatu ketika, saat berkenalan dengan Bagus Ferry lewat chatting via facebook berkomentar akan impian itu, “Italia tidak akan kemana-mana, kenapa harus kamu kejar? nikmati saja dulu aja kuliahmu”

Pernyataan tersebut membuat saya diam dan sedikit terbius, lupa pada impian tersebut. Akhirnya saya yang menenggelamkan diri pada banyaknya liputan dan kegiatan baik  di dalam maupun luar Scientiarum., semakin lupa akan mimpi tersebut . Dan sekarang saya seperti diingatkan lagi pada mimpi tersebut.

***

Follow Your Dreams, Transform Your Life! - Paulo Coelho

Pertanda yang saya pinta telah datang. Bahkan sampai tiga kali. itulah yang menguatkan saya membuat keputusan untuk mengakhiri kegiatan berorganisasi di Scientiarum. Ada waktu memulai, ada juga waktu untuk mengakhiri.

Saya harus kembali pada takdir untuk merealisasi impian tersebut, sama seperti yang Santiago lakukan. Saya memang seorang pemimpi kecil yang ingin mengubah nasibnya. Menjadi pemimpi memang penuh resiko. Mimpi yang tinggi kadang akan sulit untuk diwujudkan.  Perlu usaha dan perjuangan keras untuk merealisasinya, belum lagi kalau sedang terjatuh. Sekarang saya sudah siap dengan itu semua sekalipun harus berhadapan dengan resiko terburuk yang akan terjadi.

Scientiarum sekarang mungkin seperti kapal kehilangan arah karena kehilangan sosok seorang pemimpinan berkarakter kuat seperti Yunantyo Adi atau Satria Anandita. Tapi saya ingat pada perkataan Ivan Patty yang menyebutkan bahwa anggota-anggota di Scientiarum adalah hasil seleksi alam. Saya percaya itu. Saya percaya alam yang membentuk dan memilih orang-orang yang jauh lebih hebat dari Adi, Satria, James, Tian juga saya. Jangan tanya apa dan kenapa saya bisa begitu percaya pada fenomena tersebut. Terus terang saya tidak tahu. Biar saja itu tetap menjadi misteri.

4 thoughts on “Follow a Dream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s