Menanti Isyarat

KALAU tidak salah, banyak orang percaya dan menganalogikan bahwa kehidupan ini seperti sebuah perjalanan. Dalam perjalanan tersebut banyak sekali pilihan yang muncul dan bisa dipilih bebas oleh orang tersebut. Baik atau buruknya pilihan yang akan diambil tidak ada satu orang pun bisa tahu, bahkan termasuk si pemilihnya sendiri. Mungkin hanya bisa diterka dan diterawang lewat prediksi atau ramalan saja.

Mungkin inilah kondisi yang saya alami sekarang. Saya berada diantara dua pilihan yang sebenarnya bagi sebagian banyak orang pikir ini mudah untuk dipilih. Saya dihadapkan pada pilihan menlanjutkan karier jurnalistik saya di Scientiarum atau berhenti dan fokus kembali pada perkuliahan yang (agak) keteteran. Inilah pilihan yang sulit yang kadang bikin maag ini melilit, tiap waktu, baik siang maupun malam.

Scientiarum sendiri adalah organisasi pertama saya di Universitas Kristen Satya Wacana. Masuk sekitar September 2010 sebagai reporter di bagian redaksi. Kalau dibilang, saya terlambat belajar berorganisasi, sekalipun niat dan minat itu sudah ada sejak awal masuk kuliah di UKSW.

Awalnya saya lebih fokus ingin masuk Lembaga Kemahasiswaan yang ada di tingkat fakultas. Sayang kecintaan saya pada Lembaga Kemahasiswaan sendiri bertepuk sebelah tangan. Ini membuat saya patah dan sakit hati. Dan pada akhirnya, menyebut diri sebagai “orang terbuang” alias pecundang.

Tapi kesempatan itu datang setelah Great Erick Kaumbur dan Daniel Pekuwali membuka kesempatan saya belajar berorganisasi di Scientiarum. Great memang bukan anggota Scientiarum, tapi koneksi yang begitu banyak membuat saya bisa dimasukkan dalam organisasi tersebut.

Awal masuk, saya merasa seperti dianak-tirikan. Semua orang lebih menyoroti Great dan Welly saat akan penerbitan majalah. Hal ini membuat saya patah semangat dan ingin keluar dari Scientiarum.

Tapi ternyata saya salah sangka. Saya mendapat porsi belajar jauh lebih besar dari yang saya kira. Mungkin karena saya masih buta dengan apa itu media dan bagaimana media berkerja, sehingga para senior Scientiarum selalu menekan dengan cara mengkritik dan terus mengkritik apa yang saya lakukan.

Memasuki tahun baru, setelah penerbitan Scientiarum yang disendat pihak rektorat. saya mulai tampil sedikit menggila dengan rajin liputan. Sekalipun berita-berita tersebut tidak tertampilkan, saya tidak menyerah.

Tahun baru itu juga menandai pergantian Pimpinan Redaksi baru. Tampuk kepemimpinan yang semula ada di tangan Daniel dialihkan pada Andreas Kristian Budiarto. Saya ikut mengajukan diri sebagai editor tulis juga. Ia memberikan kesempatan itu. Saya pikir, selain ini juga menutupi kekurangan SDM editor tulis yang ada, juga membuka kesempatan belajar jurnalistik lebih luas.

Proyek Tabloid yang sudah dicanangkan sejak lama segera digodok. Saya mendapat dua tugas liputan (sebelum berkembang menjadi tiga). Saya segera menyelesaikan tugas itu. Tapi kendala terjadi saat penyakit saya jadi sering kambuh karena stres berlebihan. Sebenarnya berita-berita itu merupakan tugas berkelompok, tapi karena beberapa teman dalam kelompok sering disibukkan dengan perkuliahan, saya jadi sering bekerja sendirian.

Akhirnya proyek tesebut gagal total. Banyak berita tidak masuk temasuk berita saya. Rasa bersalah cukup besar menghantui saya dan perlu waktu untuk memulihkan kepercayan diri saya.

Saya kembali ke Kafe Rindang. Disana obrolan tidak seserius di kantor Scientiarum dan tidak ada tekanan dari siapapun. Saya kira inilah satu-satunya cara yang bisa membuat saya jauh lebih rileks.

Proses refleksi terjadi saat saya mulai aktif menulis dalam blog. Saya belajar tidak menyalahkan orang lain dan juga diri saya sendiri. Saya terlalu sombong dengan kemampuan saya yang sekarang. Saya terlena dengan elemen-elemen jurnalisme ala Andreas Harsono atau jurnalisme sastrawi ala Linda Christanty. Kedua orang itulah yang menjadi barometer dalam peliputan, penulisan dan pengeditan berita reporter lain, bahkan diri saya juga.

Pernah suatu kali, saya dikritik seorang reporter lewat belakang karena dianggap mengubah gaya penulisan dan gaya bahasanya. Saya merasa tidak terima karena tulisan yang diberikannya juga tidak ada yang benar. Salah kaprah! Saya pun sering sekali bentrok dengan beberapa senior dan reporter lain karena mengeluh akan kemalasan mereka dalam peliputan dan obrolan yang tidak terlalu penting.

Belum lagi, saya teringat janji sesaat awal masuk Scientiarum pada beberapa sahabat yang telah menjadi alumni. Saya berjanji untuk berorganisasi di Scientiarum hanya satu tahun (satu periode), lalu kembali menekuni perkuliahan saya. Mereka telah datang kembali dan mengingatkan janji tersebut.

***

THE ALCHEMIST-PAULO COELHO

Paulo Coelho, salah seorang pengarang asal Brasil. Salah satu maha karya terbesanya adalah “The Alchemist”. Dalam novel tersebut, Santiago adalah seorang pengembara asal Spanyol. Suatu ketika, ia bertemu dengan seorang Raja tua yang memberinya kekuatan untuk mempercayai impian dan mengikuti takdirnya, menemukan harta karun di Mesir.

Semula, Santiago mengira raja tua tersebut hanya membual. Tapi dalam pergumulannya ia akhirnya memilih mengikuti petunjuk yang diberikan Raja Tua tersebut.

Dalam perjalanannya, Santiago ditipu dan dirampok setelah datang pertama kali ke benua Afrika. Dia berkeluh kesah karena merasa bodoh mengikuti omongan seorang Raja Tua yang baru ia kenal.

Tapi lagi-lagi ia kembali optimis lagi untuk meneruskan perjalanan menuju harta karunnya. Ia percaya dan berserah bahwa apa yang terjadi padanya adalah sebuah proses dan pembelajaran. Ia mulai belajar merasa dan mendengarkan segala yang diisyaratkan padanya. Ia belajar tentang cinta yang besar, yang ada dan terkandung dalam alam semesta.

Setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya ia meneruskan perjalannnya ke Mesir. Kali ini ia bertemu dengan seorang alkemis dari Inggris yang juga sejalan dengannya-mengikuti mimpinya-

Ia terus mengarungi jalan terjal selama dalam perjalan melewati Padang Pasir. Tapi lagi-lagi, ia harus berhenti karena banyaknya perang yang terjadi di daerah padang gurun. Ia berhenti di sebuah oase. Tapi disanalah, ia bertemu dengan cintanya yang sejati dan seorang alkemis yang telah berumur ratusan tahun. Alkemis tersebut menuntun Santiago untuk belajar mengerti apa bahasa dunia dan untuk apa ia mendapatkan harta tersebut.

Pada akhirnya sendiri, Santiago pun sukses datang ke Mesir, tempat dimana harta karun tersebut disimpan.
Saya jadi sering berpikir ─beberapa saat ini─ bahwa apa yang sering dialami Santiago (saat dirampok dan mengeluh) sering sekali dialami oleh semua orang. Bahkan juga termasuk saya sendiri. Kenapa? Setiap orang selalu punya impian, tapi mereka selalu meremehkan kekuatan dari impian tersebut.

Realita yang sulit dan terkadang membuat kondisi sering terjepit sering membuat manusia putus asa dan menyerah. Mereka lebih memilih menerima realita tersebut dengan hati sempit tanpa pikir panjang untuk merubah nasib.
Saya tidak mau seperti itu. Scientairum dan jurnalistik adalah impian saya. Impian yang baru saja lahir setelah saya terus menerus mengalami kegagalan dan penolakan.

Scientiarum telah menjadi bagian hidup saya. dan organisasi tersebut sekarang sedang ada dalam proses peregenerasian dan peremajaan dalam berbagai hal. Hal ini dikarenakan para senior yang (harusnya) turun sejak lalu, baru turun sekarang. Dalam hati kecil, saya sendiri ingin masuk dan menjadi bagian peregenrasian tersebut itu. Tapi saya juga dihadapkan dengan janji pada para sahabat-sahabat tua saya.

Hal ini sendiri pernah saya kemukakan pada sahabat-sahabat tua. Mereka menyebut bahwa regenerasi sendiri merupakan sebuah pilihan yang diambil oleh darah-darah yang baru masuk (angkatan 2010 dan baru) bukan generasi yang hampir usang seperti saya. Dan lagi tidak bisa dilakukan seorang diri. Saya bisa mengerti alasan kenapa mereka bisa berargumen seperti itu.

Yah, inilah dilema yang saya rasakan. Apakah saya akan melanjutkan di Scientiarum atau tidak? Itu semua saya kembalikan lagi pada si penulis takdir. Saya sedang mencari juga menunggu isyarat itu datang seperti yang dilakukan Santiago.

2 thoughts on “Menanti Isyarat

  1. Si penulis takdir tidak selamanya benar. Isyarat juga tidak hanya dicari dan ditunggu, tapi juga harus dikejar. Coba km nonton film Adjustment Bureau, memang film tidak selamanya benar juga, tapi inti cerita film kadang bisa mencerahkan.

  2. saya menemukan isyarat ketika masalah datang. terus saya berpikir ini mungkin rencana Tuhan, sang pemberi isyarat. Ada baiknya juga kau melihat aspek lain untuk mengambil keputusan. tapi ingat, saya bukan orang yang tepat untuk kau contohi termasuk kata2ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s