Obrol Kata di Yogyakarta

ORANG itu hampir saja menabrak saya yang sedang berdiri di depan pintu masuk Malioboro Matahari Mall. Orangnya masih muda, tampan, rambutnya cepak dan bertampang indo. Saya yang sedang bingung karena menunggu seseorang, langsung berubah kesal dan bersiap marah terhadapnya.

Tapi kemarahan itu hilang sekejap saat melihat orang itu. Ia juga sedikit terlihat bingung, tersirat dari ucapannya dengan nada sedikit bergetar, “lho, mas…” Ujar lelaki tersebut. Mata saya masih tetap tertuju pada wajahnya. Saya seperti mengenali wajah orang itu.

Oh, ternyata dia adalah Adrian Prasetyo, adik keponakan teman yang saya tunggu. Dia langsung menjabat tangan saya dan mengucap salam. Tiba–tiba terdengar suara yang sedikit parau dari arah belakang punggung Adrian. “sudah lama?” Saya segera menoleh ke belakang Adrian. Ia sudah datang. Orang yang saya tunggu-tunggu sejak tadi sudah datang ternyata. Badannya terlihat tegap, berkemeja rapi dan rambutnya cepak. Pradewa Akhbar, namanya.

Pradewa merupakan sahabat saya yang dulu berkuliah di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana), Salatiga. Dia lulus tahun 2009 lalu, dan sekarang sedang meneruskan studinya di UGM (Universitas Gajah Mada), Yogyakarta.

“Kamu sendirian? Ke Yogyakarta dengan siapa? Ada acara apa?” tanyanya memberondong seraya menjabat tangan saya.
Saya menjawabnya dengan singkat, “sama anak-anak, ” lalu saya mengajak mereka berdua mencari tempat untuk mengobrol yang lebih nyaman. Saya memang kurang hapal daerah Malioboro, apalagi untuk daerah Mall tersebut. Kami bertiga, akhirnya sepakat untuk masuk ke restoran cepat saji, McDonald yang berada tepat disisi kiri jalan masuk Malioboro Matahari Mall.

Tumben McDonald tidak sedang ramai, padahal restoran cepat saji tersebut selalu ramai dikunjungi banyak khalayak, baik tua maupun muda, tumpah ruah disana. Hanya terlihat ada segelintir orang yang sedang makan dan dalamnya.

“Pesan apa?” tanya saya pada Pradewa. “saya masih puasa, kamu dan Adrian saja yang pesan,” tolaknya . saya lupa itu hari Kamis, dimana ia sedang menunaikan ibadah puasa sekalipun ini bukan Bulan Ramadhan. Pradewa adalah seorang Muslim. Berbeda dengan saya yang menganut ajaran Khatolik. Sekalipun berbeda keyakinan, kami saling menghormati satu dengan yang lain.

Akhirnya, saya dan Adrian saja yang memesan. Saya memesan Segelas Coca-cola dan Adrian memesan es krim ala McDonald. Karena jarang bertemu, biar saja kali ini saya yang menraktir. “kamu duduk saja sama si Pradewa” ujar saya menyuruh Adrian duduk bersama Pradewa.

Pesanan telah siap dan saya segera mengambil pesanan itu sambil berjalan menuju tempat mereka duduk. “kapan kamu selesai..” tanya Pradewa. Belum selesai ia berbicara saya langsung menyela, “ah, jangan tanyakan kapan saya lulus kuliah. Saya sudah malas dengan pertanyaan seperti itu,” ujar saya.

“Hahaha..dasar kamu itu. Katanya dulu ingin segera lulus dari UKSW. Gimana kabar Satria? ” sahutnya lagi. Satria yang dimaksudkan adalah Satria Anandita.

Saya, Pradewa dan Satria adalah sebagian kecil perantau yang berasal dari Jawa Timur. Saya merasa dekat dan cepat akrab dengan mereka. Mungkin secara tidak langsung, ini disebabkan kultur budaya Jawa Timur yang keras sehingga saya bisa beradaptasi dengan mereka.

Di UKSW sendiri para perantau yang berasal Jawa Timur yang saya kenal tidak hanya mereka berdua. Ada Daniel Kristanto (Fakultas Teknik Jurusan Elektronika) dan Hendra (Fakultas teologi) yang berasal dari Magetan, lalu ada Felania Yosita dan Melanie Subagio (Fakultas Seni Pertunjukan), juga Oktario Budianto (Fakultas Ekonomika dan Bisnis) yang berasal sama dengan saya, Madiun. Dan mungkin masih banyak lainnya.

Saya menjelaskan bahwa keadaan Satria baik-baik saja, dan sekarang sedang sibuk bekerja. Pradewa langsung diam, seraya berpikir. “oh, ya. James (Filemon) sudah cerita bahwa Satria sekarang sudah bekerja di Bina Dharma,” ujarnya agak kecewa. Mungkin Pradewa agak kecewa dengan keputusan yang dibuat oleh kawan seangkatannya tersebut. Ia berharap Satria dan kawan-kawannya bisa juga mencicipi gelar sarjana sama dengan dirinya.

“Lalu si Dimas (Bayu Wicaksono) bagaimana?” tanyanya lagi. Saya bingung. Dimas siapa yang dimaksudkan. “Dimas Psikologi itu, lho!” tukasnya. Pradewa menambahkan bahwa Dimas akan segera selesai juga. Saya kurang tahu kabar Dimas karena jarang kontak dengannya sekarang.

Saya mengganti topic pembicaraan dengan menanyakan kabar studinya di Universitas Gajah mada. “menyenangkan. Besok saya akan presentasi,” ujarnya singkat. Ia mulai bercerita tentang kawan-kawan seangkatannya yang sekarang rata-rata jauh lebih tua dari dirinya. “saya paling muda satu kelas,” ujarnya seraya tertawa.

Saya bercerita pada Pradewa, UGM memang menjadi ‘langganan’ bagi lulusan UKSW yang baru lulus. ‘Langganan’ yang saya maksudkan adalah studi lanjut S-2. Banyak dosen atau juga kakak angkatan saya yang langsung lari ke UGM selepas selesai studi di UKSW. Entah kenapa? Saya juga tidak tahu apa pertimbangan untuk masuk ke sana.

“Bagaimana kabar kampus?” tanyanya sceara tiba-tiba. Saya cuma menjawab datar bahwa kampus tetap seperti dulu. Masih banyak sekali polemik politik terjadi. Dan celakanya mungkin bertambah parah.

Saya juga bercerita tentang keputusan untuk mundur dari Scientiarum setelah akhir periode ini. Alasannya simple, saya ingin kembali fokus kuliah dan tidak terlibat sebagai media kampus lagi. Pun ada alasan lain yang membuat saya harus segera hengkang dari media kampus tersebut.

Dia mengangguk dan berujar, ”ya, bagus kalau kamu berorganisasi. Tapi ingat dengan tujuan kamu kuliah untuk apa? Kasihan orang rumah sudah menunggu kamu lulus,” Saya diam, tidak bisa berkata apa-apa. Dalam hati, saya tidak bisa bohong, Scientiarum merupakan organisasi pertama saya di kampus. Dari situ saya belajar banyak sekali hal. Tidak melulu jurnalistik, tapi juga tentang kehidupan sosial dan filosofi kehidupan. Banyak hutang budi pada Scientiarum yang membuat saya seakan ada di posisi dilematis.

Tiba-tiba saya jadi teringat pada Era Hakiki, pacar Pradewa. “Era tidak kesini? Tanya saya sambil sedikit meledek. “Tidak. Saya masih sibuk begini juga kok. Kasihan nanti jika ditinggal-tinggal terus.” Ujarnya.

Dengan nada sedikit bercanda, saya juga menanyakan kapan dia akan menikahi Era. Saya ingat Pradewa dan Era memang sudah pacaran cukup lama. Sekitar lima sampai enam tahun mungkin. “Hahaha. Yah nanti ditunggu sajalah. Itu sudah masuk rencana jangka panjang kok” jawabnya sambil senyum agak malu. Tiba-tiba seperti tidak mau kalah, dia menyelutuk,”kamu juga kapan punyanya pacar?”

“Belum ketemu yang cocok saja. Selalu saja kalau sudah dekat dan ada yang tidak klop dengan saya, langsung saja tinggalin saja” jawab saya sambil menggaruk-garuk kepala.

Segera si Pradewa menimpali,”jangan begitu. Dicoba dulu. Kalau gagal baru cari lain saja,” dan kali ini saya hanya senyum agak memaksa.

Dari pertanyaan Pradewa, saya baru sadar. Sudah hampir dua tahun lamanya, saya tidak merasakan apa yang namanya pacaran. Memang banyak wanita dekat, tapi ternyata tidak pernah cocok dengan pas dengan hati saya. Terkadang rasa untuk punya pacar itu memang ada, tapi saya selalu berusaha merepresnya menjadi bentuk guyonan. Lagipula dari diri saya sendiri belum merasa siap untuk pacaran.

“oh iya. Jadi lupa. Kamu kesini dalam rangka apa? mana teman-temanmu?” tanyanya mengulang pertanyaan diawal pertemuan tadi.

Saya melirik jam di telepon genggam yang ada di meja. Sudah jam setengah enam lewat. Teryata sudah hamper satu jam lamanya saya mengobrol dengan Pradewa. Saya melihat Adrian juga sudah selesai makan es krim yang saya belikan tadi.
“Scientiarum. Saya bersama anak-anak Scientiarum sedang Study Tour ke sini. Mereka mungkin sedang sibuk dengan urusannya masing-masing sekarang,” jawab saya agak gelisah. Urusan yang saya maksudkan adalah bersenang-senang seperti belanja atau sedang nongkrong di salah sudut daerah Malioboro.

“ya sudah. Sudah waktunya kembali ke bis. Terima kasih ya?” ujar saya lagi.

“Ah, sama-sama. Dianter ke terminal tidak?” tanyanya lagi sambil menjabat tangan saya.

Saya menolaknya seraya mempercepat jalan untuk keluar karena takut kalau ketinggalan bis. Selama perjalanan menuju parkiran bis, Handphone saya bergetar menandakan ada pesan pendek masuk. “eL, terima kasih banyak. Kamu kuliah yang serius. Nilai itu cuma konsekuensi dari pemahaman belajarmu,” dari Pradewa.

Saya tersenyum saat membaca pesan pendek tersebut. Satu jam itu sangat cepat ya? Satu jam itu ternyata tidak cukup untuk mengobrol dengannya? Masih banyak cerita yang belum saya sampaikan. Ah, kapan-kapanlah kalau saya ke Yogyakarta saja.

3 thoughts on “Obrol Kata di Yogyakarta

  1. ingat pada obrolan kita tempo hari el..
    saat-saat semangat, jenuh, atau dilema…😀
    ga cuma kamu yang ngrasa punya utang budi sama Scientiarum…
    aku juga…
    tapi, semua itu kan pilihan…seperti sekarang,..
    sepertinya keputusanku untuk vakum, itu bulat..
    aku ga mau cuma numpang nama, jadi aprasit..
    aku ngrasa “mandul’ di Scientiarum..

    menunggu saat-saat kembali semangat di redaksi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s