Malas adalah Hak: 2nd Generation

Semula, “Malas Adalah Hak” merupakan jargon lama yang dibuat oleh seorang senior bernama Bagus Ferry dari Fakultas Teknik Jurusan Elektronik (FTJE). Sekitar beberapa tahun yang lalu, ia membuat jargon itu dalam bentuk stiker juga dan menyebarkannya secara acak dan gratis. Sama seperti apa yang saya lakukan sekarang.

Malas Adalah Hak 2nd Generation

Kata beberapa teman yang mengenal Bagus Ferry, ide jargon terebut berasal dari buku Hak Untuk Malas karya Paul Lafargue. Tapi untuk masalah penafsirannya, banyak sekali terjadi multitafsir dari beberapa orang. Ada yang bilang bahwa Malas itu memang sebuah hak, tetapi ada pula yang bilang bahwa itu cuma dipakai sebagai pengkamuflasean dalam bertindak.

Kemultitafsiran itu membuat saya sendiri jadi bingung bagaimana memahaminya. Apa sebenarnya esensi yang terkandung dari jargon tersebut? Ketertarikan ini disebabkan karena sosok Bagus Ferry begitu melekat dengan jargon tersebut.

Saya sendiri memunculkan jargon itu kembali dalam bentuk stiker, bukan bermaksud untuk “mencuri” atau “merebut” kepemilikan jargon itu. Sama sekali tidak ada niat untuk itu. Akan tetapi lewat jargon itu, sebenarnya saya seperti mendapatkan pemahaman baru dalam hidup.

Selama ini, saya akui saya ini pribadi yang terlalu serius. Dalam kuliah, peliputan berita, bahkan sampai pacaran. Hampir semuanya tidak pernah santai, bahkan cenderung sosok perfeksionis. Misalnya saja, tentang peliputan dan penulisan berita di Scientiarum. Saya selalu saja berusaha tampil perfect, baik data maupun gaya penulisannya. Sayangnya, ternyata saya tidak pernah mampu membuat berita yang perfect dan menarik.

Hal ini membuat saya selalu uring-uringan karena saya terbentur pada masalah kualitas. Lama-lama hal ini menjadi blunder yang cukup besar dan berdampak bagi yang lain, yakni gagalnya dua berita terblow-up dan masuk tabloid Scientiarum. Belum lagi, ada banyak masalah dengan perkuliahan di Fakultas Psikologi. Semester ini saya mendapatkan tiga nilai E dan imbasnya membuat Indeks Prestasi Kumulatif menurun drastis. Jebloknya nilai membuat mental terus menurun.

Dari dua kejadian tersebut saja, telah membawa saya pada sebuah titik dimana saya mulai menyerah kalah oleh realitas yang ada. Saya merasa minder karena ketidakberimbangan kemampuan dengan target yang diinginkan. Hal ini cukup sering menghantui saya. Manifestasi nyata dari rasa frustasi itu pun, sering membuat saya tidak pernah nyaman dalam melakukan segala sesuatu atau berada di sebuah tempat.

***

Ide membuat dan mengusung jargon itu sendiri muncul, saat rasa frustasi ini memuncak hebat dan kondisi fisik telah menurun drastis. Biasanya orang bilang itu ilham atau wangsit, tapi saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai “Fantasi”.

Fantasi sendiri secara harafiah berarti sebuah khayalan. Khayalan ini muncul seketika, tanpa arah dan liar. Khayalan yang terbayang oleh saya hanyalah untuk merilekskan diri serileks-rileksnya. Tanpa beban. Dan kalimat ”Malas Adalah Hak” muncul.

Sebenarnya malas yang saya maksudkan sebagai hak sendiri bukanlah malas yang berartikan secara harafiah, tetapi malas yang bermakna tetap santai tanpa terbeban dalam sebuah keseriusan mengerjakan sesuatu dan tidak mudah berpikir untuk menyerah.

Antusiasme mewujudkan fantasi ini dibantu oleh seorang Stephanus Riosetiawan. Ia menjadi seorang desaginer yang membuat bentuk penulisannya. Dan untuk sedikit membedakan dengan yang terdahulu, kami berdua sepakat menambahkan kata “2nd generation” yang berarti generasi kedua.

Tanggapan yang muncul saat dibagikannya stiker cukup beraneka-ragam. Ada yang tersenyum dan tertawa saat setelah melihat stiker itu diterima. Ada pula yang menanggapi hal ini sebagai sebuah plagiat atau peniruan. Saya diam saja, tersenyum sambil terus membagikan stiker itu sampai habis. “Sudah kepalang tanggung,” pikir saya.

Masalah mau disebut “plagiat” atau “tidak kreatif”, saya tidak mempedulikannya. Saya menganggapnya sebagai “cambuk” agar proyek selanjutnya bisa lebih baik lagi. Lebih murni tanpa meminjam ide orang lain. Terlebih penting untuk saya sekarang adalah mengalami kepuasaan batin, karena mampu mewujudkan fantasi yang hadir pada saya.

One thought on “Malas adalah Hak: 2nd Generation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s