Bingkisan Mimpi dari Linda Christanty

Dari Jawa Menuju Atjeh

Judul Buku : Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay.
Pengarang : Linda Christanty
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Tahun terbit : Februari 2009
Tebal Buku : 200 halaman

Awalnya saya tidak pernah mengetahui siapa itu Linda Christanty. Yang saya tahu, dalam dunia jurnalistik hanyalah segelintir nama saja. Andreas Harsono, Bill Kovach, Jakoeb Oetama dan Gunawan Moehamad, misalnya.

Linda Christanty

Sampai suatu ketika, karena terlalu terpatok pada seorang nama saja, saya merasa gagal dan hancur karena tidak mampu mengikutinya metodenya. Baik itu dalam peliputan ataupun penulisan. Seseorang itu begitu sempurna. Keberanian, kecerdasan dan kecerdikannya begitu menarik. Hal ini membuat saya ingin menjadi sepertinya. Sampai akhirnya saya pun vakum dari dunia jurnalistik.

Suatu ketika seorang teman memberikan saya sebuah link. Disitu ia berkomentar bahwa penulisnya berbeda dengan yang lainnya, karena seolah bisa mendalami sisi psikologis dari orang diprofilkannya. “Namaku Bre Redana”, judulnya.

Saya membacanya. Memang benar katanya, si penulis mampu mendalami sisi psikologis seorang Bre Redana. Bre Redana sendiri merupakan seorang wartawan senior Harian Kompas. Usut punya usut, ternyata ia adalah salah seorang alumni dari kampus yang sama dengan saya sekarang. Yang berbeda, hanyalah fakultas yang dimasuki. Bre masuk Fakultas Bahasa dan Sastra, sedangkan saya masuk Fakultas Psikologi.

Dari link itu juga, saya mulai berkenalan lebih dalam tentang sosok Bre Redana. Ternyata ia yang memiliki kehidupan yang berliku. Dimulai dari ayahnya yang dituduh sebagai anggota PKI (Partai Komunis Indonesia), yang memberi dampak langsung saat ia kecil. Akhirnya Bre Redana kecil menjadi sosok pribadi yang rendah diri, pemalu dan kurang mampu bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Perlahan tapi pasti, pria kelahiran Salatiga itu mampu bangkit. Tahun 1988, saat terjadi perselisihan dalam pemilihan Wakil Presiden, ia harus menyingkir karena adanya “pembersihan” di dalam tubuh pers. Pembersihan yang dimaksudkan adalah pembersihan dari PKI. Ia menyingkir ke Darilington, Inggris. Sambil berkuliah, ia pun kembali menulis. Dasar memang berbakat, sebuah penghargaan “Evening Chronicles” jatuh ke tangannya. Kepercayaan dirinya pulih dan aktif kembali menulis.

Insipiratif dan jenius. Dua kata ini muncul saat selesai membacanya. Saya seperti ketagihan untuk membaca karya penulis ini. Tulisan ini begitu hidup, pikir saya. Seperti tergelitik saya mulai mencari tahu siapa dan dimana sang penulis. Linda Christanty, nama penulisnya. Ia adalah seorang sastrawan sekaligus wartawan yang berkompeten dalam jurnalistik. Andreas Harsono sendiri dalam blognya, pernah memujinya sebagai salah satu penulis berbakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa itu memang benar. Jurnalistik sendiri yang selama ini terkesan berbahasa baku dan kaku, mampu berubah ditangan seorang Linda. Perubahan besar yang terjadi adalah pada sisi penulisan yang mirip dengan novel. Tidak berhenti disitu ada sesuatu yang menarik dalam metoda pembahasannya.

Tidak sulit rasanya, dengan kehidupan serba teknologi seperti sekarang ini untuk mencari tahu seseorang. Tinggal ketik nama dan akan muncul data-data dari orang yang dicari. Beruntungnya ia memiliki blog. Blog resmi miliknya memuat buku-buku yang telah dibuatnya. Ada beberapa judul dan salah satunya “Dari Jawa Menuju Atjeh”,

Dalam 17 judul tulisannya yang dihadirkannya, Linda mengulas nama Pramoedya Ananta Toer. Bahkan sampai dua kali malahan. Saat diraba dan dipahami kembali, sosok Pram (sapaan akrab Pramoedya) seolah menjadi sosok yang cukup diidolai seorang Linda. Terlihat sekali disaat Linda menceritakan masa mudanya, dimana untuk pertama kalinya membaca “Tetralogi Bumi Manusia” karya Pramoedya. Saat itu buku-buku Pramoedya diboikot oleh pemerintah, tapi ia dengan penuh keyakinan dan keberanian tetap membacanya.

Kekhasan buku-buku Pram yang selalu bercerita tentang perjuangan hak, seolah menjadi insipirasi Linda dalam berkarya. Hal yang tertangkap adalah sikap tidak mau menghakimi. Kebo alias Ratno Bin Karja, seorang preman yang mati dibakar beberapa tahun lalu, menjadi sebuah cerita yang begitu menarik ditangan Linda. Selama ini seorang preman selalu identik dengan kekerasan dan kejahatan. Celakanya media massalah yang membuat stigma tersebut. Inilah pembeda dengan Linda, ia mengekspos sisi lain dari seorang preman. Preman pun seorang manusia, tapi ia hanyalah segelintir golongan yang terpinggirkan karena pemerintahan yang kurang baik.

Aceh pun Berbicara Lewat Linda

Linda sekarang berada di Aceh. Aceh selama beberapa tahun terakhir ini cukup kacau karena adanya Pemberontakan GAM (Gerakan Aceh Mereka) sampai Tsunami yang melanda. Ia bekerja sebagai Pimpinan Redaksi sebuah kantor media, Aceh Feature.

Hampir sekian tahun sudah, saya memiliki stereotipe buruk tentang orang-orang Aceh (utamanya GAM). Bagi saya pribadi, mereka seperti golongan para pemberontak. Tapi ternyata saya salah besar disitu. Tabir besar wilayah aceh dibuka lebar oleh Linda. Kekerasan yang dipertontonkan selama ini, ternyata hanyalah sebuah potret ketidakadilan dari para penguasa Indonesia terdahulu. Dari Soekarno sampai Soeharto, tetap sama saja tidak pernah adil pada masyarakat Aceh.

Hasan Tiro, dikenal sebagai orang paling getol dalam pemberontakan itu. Sebagai seorang pejuang yang idealis, ia ingin Aceh Merdeka dan menjadi negara mandiri. Tidak terikat dengan negara Indonesia. Sejarah Indonesia mungkin mencatatnya sebagai seorang “pemberontak, tapi bagi Aceh dia seorang pahlawan. Bahkan mungkin lebih, yakni Wali Allah.

Buku Dari Jawa Menuju Atjeh memang hanya kumpulan tulisan, tetapi makna yang tersuratkan mampu menyentuh batas sisi kemanusiaan. Tulisan Linda ini merupakan sebuah potret tentang penghakiman yang sering terjadi di masyarakat Indonesia. Semua dikarenakan sebuah prasangka muncul karena publikasi yang tidak komperensif. Dan dari buku inilah, kita diajak untuk belakar tidak menghakimi, bahkan cenderung kritis akan munculnya sebuah informasi. Buku ini pula yang mengajak saya untuk bermimpi. Mimpi untuk tinggal di Aceh. Tidak hanya Linda yang ingin melihat Aceh bangkit, tapi saya juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s