Namaku Riosetiawan

Jobless Photographer

Pada bulan Agustus tahun 2004, Stephanus Riosetiawan masuk Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Elektronik (FTJE). FTJE merupakan salah satu fakultas tertua di UKSW.

Keputusan ini diambil setelah sebelumnya ia gagal masuk Universitas Gajah Mada, jurusan arsitektur. Bukan karena tidak pandai urusan menggambar, tapi karena permintaannya masuk ke Universitas Negeri tersebut tidak mendapat restu oleh kedua orang tuanya, “dulu suka dengan apa yang berhubungan gambar, tapi karena bapak tidak setuju, ya sudah masuk sini, ” kisahnya.

Ayahnya menolak bukan tanpa alasan. Beliau menjelaskan pada Riosetiawan bahwa ruang lingkup kerja seorang arsitek sangat bergantung pada order yang ada. Ia khawatir, apabila anak lelakinya tidak dapat terlalu banyak order. Sekalipun sedikit berat hati, Riosetiawan menerima keputusan itu. Ia diarahkan orang tuanya untuk lebih memilih Teknik Elektro, “waktu kecil sempat tertarik sama  yang namanya mesin. Orang tua melihat ada potensi ke situ, jadi disuruh masuk aja ke elektro atau mesin.” ujarnya.

Selang beberapa tahun, ternyata untuk lulus di Fakultas Elektro tidak semudah apa yang dibayangkan diawalnya. Di Fakultas Teknik Jurusan Elektro Universitas Kristen Satya Wacana memiliki sebuah tradisi bahwa dalam pengurusan Tugas Akhir (skripsi)  sendiri cukup kompleks. Ada tiga pengujian, yakni “awal”, “lanjut” dan “akhir”. “Awal” yang dimaksudkan adalah penyerahan proposal. Lalu “lanjut” adalah pengujian dan sharing  tentang progress repport atas alat yang sedang dibuat. Dan yang dimaksud dengan “Akhir” adalah pengujian tahap akhir dimana uji kelayakan dari alat yang sudah selesai dibuat, “ini saja sudah topik (skripsi) keempat yang aku ajukkan,” lanjutnya ”yang sebelum-sebelumnya ditolak semua,”. Semua ini diberlakukan karena ingin menjunjung kualitas dari lulusan Elektro sendiri.

Tekanan untuk “segera lulus” sebenarnya sudah muncul sejak setahun yang lalu. Tapi ia mejelaskan pada orang tuanya, bahwa Fakultas Elektro di kampusnya berbeda Fakultas Elektro yang ada di kampus lain. Selain kompleks dalam pembuatan dan pengajuan topik skripsi, sistem penilaian nisbi pun ikut menghantui. Sistem ini memang sangat terkenal “mematikan” mahasiswa dalam sebuah ruang perkelasan. ini disebabkan nilai yang didapatkan akan dibandingkan dan diperingkat dengan yang lain.

Pada tahun 2006 beberapa mahasiswa dari Gedung C berdemo ke depan kantor Rektorat

Belum lagi adanya perubahan sistem perkuliahan di UKSW sekitar tahun 2006. Semula saat masuk, Riosetiawan mengikuti sistem perkulihan trimester. Tapi setelah rezim penguasa (rektor) berganti, ia diwajibkan mengikuti sistem perkuliahan dwimester. Hal ini berimbas besar pada sebagian mahasiswa, terutama mahasiswa Elektro. Banyak konversi mata kuliah dan perubahan kurikulum sangat sering terjadi. Karena ketidakjelasan ini, beberapa mahasiswa pernah berdemonstrasi menuntut kejelasan pada pihak rektorat. Tapi bukannya semakin jelas, yang ada makin kompleks.

***

UKSW dalam beberapa bulan terakhir ini sedang dilanda wabah “Fotografer Dadakan”. Kebanyakan “Fotografer Dadakan” ini berasal dari Fakultas Teknik Informasi (FTI) dan Fakultas Ilmu Sosiologi dan Ilmu Komunikasi (FISKOM). Mereka menekuni ilmu fotografi itu karena fotografi sendiri telah menjadi mata kuliah wajib dari tiap-tiap fakultas tersebut.

Tapi ada sebuah keluhan dari beberapa fotografer di Salatiga akan wabah “Fotografer Dadakan” ini. Bukan rahasia umum lagi, bahwa ada beberapa “fotografer dadakan” itu cuma untuk untuk mencari tenar saja, bukan benar-benar mencintai fotografi itu sendiri. Kebanyakan motifnya untuk cari pacar, atau pamer bisa beli kamera mahal, ungkap salah seorang fotografer yang tidak mau disebutkan namanya. Investasi terselubung ini sering menimbulkan persaingan tidak sehat antar fotografer satu dengan yang lain.

Ada beberapa wadah yang bisa digunakan untuk menampung bakat dan minat seperti itu di UKSW, semisalnya Lembaga Pers Scientiarum. Beberapa fotografer yang bergabung dalam pers kampus ini, diarahkan untuk belajar foto beraliran jurnalistik.

James Filemon, misalnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis angkatan 2006 ini adalah salah satu jebolan dari Lembaga Pers Scientiarum. Ia adalah salah satu fotografer berbakat. Sekalipun mengaku masih belajar, hasil jepretan fotonya dalam ranah jurnalistik itu mendapat tempat di kalangan fotografer di kota Salatiga. Momentum dan angle yang diambil mampu merepresentasikan sebuah cerita.

Berbeda dengan James Filemon, Riosetiawan yang juga menggeluti fotografi, memilih tidak masuk satu organisasi manapun di kampus. Ia tidak mau terlalu terekspos di kalangan umum, “aku lebih suka di luar UKSW, ranah (belajar) nya lebih luas” tukasnya.

Riosetiawan belajar dari berbagai sumber yang ia temukan di internet. “dari forum atau situs. Kalau tidak, tanya-tanya atau ngobrol dengan fotografer profesional,” terangnya. Cara belajar otodidak ini menghantarkannya pada aliran candid photography. Perlu diketahui, fotografi memang memiliki berbagai macam aliran. Salah satunya adalah candid photography.  Candid photography sendiri adalah sebuah aliran fotografi yang hanya mementingkan sebuah moment yang tertangkap kamera saja ketimbang teknik (kerapihan) dalam fotografi. “memang susah, tapi hasil memuaskan hati, ” ujarnya bersemangat.

Awal Riosetiawan menyukai fotografi dimulai saat ia  duduk di bangku SMA. Kamera yang dipakainya pun masih biasa, kamera pocket. Benda itu adalah hadiah ulang tahun dari ayahnya. Tapi itulah awal dari kecintaan seorang Riosetiawan kepada fotografi. “aku ini pendiam. Sempat bingung bagaimana menunjukkan ekspresi, ya sudah lewat fotografi saja, ” Ujarnya sambil tersenyum.

Sekitar 2 tahun yang lalu, Ia sempat ditawari bekerja di sebuah studio foto. “lumayanlah. Bisa dapat uang, sekaligus belajar”. Tapi sayang, sebuah kecelakaan membuatnya tangan kirinya patah. Ia gagal bekerja di studio foto itu.

Rasa kecewa pun langsung menyelimutinya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena setelah kecelakaan itu ia ditawari proyek pembuatan film dokumenter yang mengangkat tentang angkatannya. Ia tampil sebagai pemain sekaligus editor film. “aku jadi one-handed editor” ujarnya seraya tertawa. Maksud dari one-handed editor  adalah editor bertangan satu. dengan satu tangan pula, ia menggarap tiap adegan yang ada dalam film itu. Film itu sendiri terhitung sukses saat dipentaskan pada acara malam temu beberapa saat lalu.

Perlahan tapi pasti, ia memulai semangatnya lagi dari nol. “Awalnya susah sekali pegang kamera. Pergelangan tangan ini ga bisa dibuat mutar bagian lensa. Jadi kaku banget,” kata Riosetiawan seraya mempraktekkannya. Tangan patah itu semakin melecutnya terus berkembang, hingga ia mendapatkan feeling  dalam pengeksplorasian kamera. Ditambah pula terasahnya pengambilan angle yang unik dalam setiap bingkai foto yang didokumentasikannya.

Hingga sekarang banyak sekali yang memintanya untuk menjadi seksi dokumentasi. “Event terakhir yang aku ambil adalah final POM antara Elektro dan FTI,” katanya.

Foto sewaktu Final POM Basket antara Fakultas Teknik Jurusan Elektro melawan Fakultas Teknik Informasi

Ia bercerita ada sebuah kejadian unik saat pengambilan tahunan tersebut, ”waktu mengambil gambarnya, aku maju sampai dekat lapangan. Lalu ada kursi kosong, langsung saja dengan PD (Percaya Diri)-nya, aku duduk disitu, ” lanjutnya, ”tiba-tiba ada polisi datang njejeri (duduk di samping) aku. Aku cuek saja. Setelah selesai mengambil gambar, aku pergi. Eh, ternyata Polisinya juga ikut pergi. Ternyata ia menjagai aku, mungkin takut aku buat rusuh di dalam pertandingan, ” katanya sambil tertawa. Ia memaklumi hal tersebut, karena ia bukan wartawan kampus, “wajarlah, ga punya ID-card kok,” celetuknya.

***

Salah satu kegiatan sewaktu FTJE Merapat Merapat yang didokumentasikan oleh Riosetiawan

Seperti ilmu padi makin berisi, makin merunduk. Ternyata selain aktif dalam seni jepret-menjepret, Riosetiawan adalah seorang aktivis yang bergerak dalam bidang sosial. Terakhir ia ikut sebagai aktivis gerakan sosial FTJE Merapat Merapi. Ini bentuk kepeduliannya pada sesama dan alam sekitar. Ia pun pernah terlibat pula dalam Lembaga Pers Fakultas Elektro, IMBAS.  Selain sebagai fotografer, ia merangkap sebagai Tata Letak dari majalah yang sering berisi kritikan terhadap fakultas pun juga universitas.

3 thoughts on “Namaku Riosetiawan

  1. koreksi: Merapat ke Merapi bukan Merapat Merapat, anyway mantab! jadi inget PakDhe bilang tentang orang-orang yang candidable.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s