Pemberontakan Sandal Jepit di Fakultas Psikologi

Tulisan ini muncul setelah saya membaca Pemberontakan sandal jepit milik Andreas Harsono. Dia adalah salah seorang alumni dari Fakultas Teknik Jurusan Elektro. Dia tergabung dalam Imbas, sebuah lembaga pers fakultas di kampus. Imbas sendiri dikenal sebagai lembaga pers yang sering mengkritisi kebijakan-kebijakan kampus atau fakultas.

Dari tulisannya, saya jadi teringat pada kebijakan beberapa dosen di Fakultas Psikologi yang menyuruh teman-teman di Fakultas Psikologi apabila masuk ke dalam kelas mereka diharuskan memakai sepatu dan pakaian berkerah. Beberapa dosen tersebut, berpendapat bahwa mereka ingin para mahasiswanya belajar sopan santun karena dalam dunia kerja ada aturan yang mengharuskan untuk memakai sepatu dan pakaian formal. Kalau ada mahasiswa yang melanggar, pasti akan disuruh keluar dari kelas.

Tampak kekanak-kanakan sekali apabila seorang dosen ikut-ikutan mengurusi hal-hal sepele seperti itu. Masalah moral, etika, tata krama dan apapun itu namanya, seolah-olah menyamakan moral mahasiswa itu masih seperti moral anak-anak TK yang masih buta dan polos akan norma-norma sosial. Toh, sepatu atau sandal itu sendiri hanyalah sebuah atribut, kenapa sampai tidak diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Jika dikaitkan dengan hak dan kewajiban secara general, kewajiban dari mahasiswa sendiri adalah hadir dan mengikuti perkuliahan, sedangkan haknya adalah mendapatkan materi pembelajaran. Tugas dari dosen sendiri adalah memberikan pembelajaran sesuai dengan mata kuliah yang diampunya pada mahasiswanya, bukan mengurusi atribut mahasiswanya. Terjadinya pengusiran seperti itu terjadi, berarti ada keotoriteran dalam kelas yang dilakukan oleh dosen.

Seorang kawan, mantan fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan bilang, “orang itu selalu dinilai pertama kali oleh orang lain dari apa yang dia pakai, jika kita berpakaian rapi, tentunya akan dihormati”. Dari situ, saya jadi berkesimpulan “berarti sempit sekali pandangan orang yang melihat dan menilai kepribadian kita hanya dari atribut yang kita pakai”. Terus terang, saya tidak mempercayai hal itu. Masa hanya karena atribut, kita bisa mendapatkan simpati dan dihormati orang lain. Lalu, apa gunanya kita belajar sampai ke jenjang perkuliahan? Apakah untuk belajar moral, tata krama dan sopan-santun lagi? Bukannya tujuan berkuliah sendiri adalah memperbaiki kualitas hidup dengan cara meningkatkan kapasitas intelektual kita? Jika hanya karena atribut atau pakaian rapi saja bisa diterima sebagai “Bos” di dunia kerja, betapa nikmatnya dunia ini.

Dalam sisi kebudayaan Jawa sendiri, sebenarnya tidak mengenal sepatu. Sepatu sendiri menyentuh kebudayaan Jawa, sewaktu datangnya para penjajah Belanda di Indonesia. Di negara Belanda, sepatu benar-benar dibutuhkan oleh masyarakatnya untuk melindungi kaki dari iklim yang kelewat dingin. Kala berbagai kerajaan masih merajalela di bumi Indonesia sendiri, apakah ada raja yang memakai sepatu? Kebanyakan mereka bertelanjang kaki atau memakai selop. Lalu kenapa orang-orang Indonesia memilih memakai sepatu sekarang? No body knows. Bisa jadi hanya untuk gaya-gayaan saja.

Sebenarnya memilih bersepatu boleh-boleh saja akan tetapi jangan memaksakannya pada yang lain. Aturan “dilarang memakai sandal di dalam kelas” sendiri tidak pernah tertulis, disahkan juga disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Lalu, kenapa mahasiswa mau mengikuti? Ada kemungkinan mereka takut berimbas pada nilai mata kuliah yang diampu oleh dosen yang bersangkutan. Tetapi apabila ketakutan selalu dijadikan alasan, kapan keberanian itu muncul?

Saya sendiri lebih suka memakai sandal jepit, kaos, jaket dan jeans. Simple, tidak terlalu ribet dan non-formal. Banyak orang bilang (entah siapa) bahwa style saya ini meniru anak-anak Fakultas Elektro dan Komputer (FTEK), dengan tegas saya bilang “Tidak”. Dari awal berkuliah sampai sekarang itulah style saya. Saya mulai dekat dengan mereka di semester kedua. Entah apa maksud dari gosip tersebut.

Dalam sebuah kesempatan juga, dalam sebuah obrolan dengan salah seorang sahabat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (yang terkenal dengan berpenampilan rapi dan formal), saya bertanya padanya ”kamu lebih seneng pake sandal atau sepatu saat berkuliah?”. Dia menjawab, “sandal”. Dia beranggapan bahwa dia lebih memilih sandal karena faktor iklim yang ada di Indonesia. Di Indonesia lebih beriklim tropik. Cenderung hangat dan terkadang panas. Jika memakai sepatu, kakinya akan cepat lembab dan gerah. Nah lho, anak-anak ekonomi saja bisa berpikir seperti itu, kenapa kita tidak?

Dewasa ini, kepopuleran terhadap sebuah atribut semakin menjadi sebuah trend. Sekitar tahun 2007, Nike, produsen alat olah raga dari luar negeri meluncurkan produk gelang “hitam-putih”. Gelang itu adalah simbol untuk memerangi bentuk rasialisme di dalam olahraga, tapi akhirnya meningkat dalam berbagai aspek. Mungkin begitu pula sandal jepit bisa dibilang sebagai simbol perlawanan. Perlawanan terhadap kesombongan orang-orang yang mengaku–aku berintelektual dan bergelar tetapi malah mengurusi moral dan etika orang lain. Dulu “pemberontakan sandal jepit” yang diusung Andreas Harsono dan kawan-kawan, diyakini untuk melawan otoriternya para penguasa. Kenapa tidak mengulang lagi perlawanan itu lagi? Toh, sekarang ini kan jamannya demokrasi bukan Orde Baru lagi, dimana kritik itu bukan untuk membunuh karakter atau mematikan potensi, tetapi untuk mencari keadilan dan menyusun kebijakan bersama.

2 thoughts on “Pemberontakan Sandal Jepit di Fakultas Psikologi

    • yah, coba dilihat, dirasa dan disimpulkan sendiri….
      saya bukannya tidak mau menjawab, tetapi coba anda liat sendiri dalam realitanya…
      saran saya coba lebih untuk peka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s