Revolusi PSSI!

Belum selesai juga tindakan-tindakan kontroversial yang dilakukan oleh PSSI. Setelah sang pemimpin PSSI, Nurdin Halid tidak mau turun dari jabatannya. Terhadap sebagian media, dia dengan tegas menolak dan berasumsi ini hanyalah salah satu bentuk orang yang iri terhadap jabatannya. Lidah demokrasi seolah-olah dipotong. Dari penempelan pamflet hingga seruan “Nurdin turun” tentunya itu adalah suara rakyat. Rakyatlah yang meminta, seharusnya para petinggi lain yang ada mendengarkannya. tapi yang lain seolah-olah takut, memilih diam dan terus mendukung adanya Nurdin Halid di posisi pimpinan PSSI.

Inilah saatnya evaluasi besar-besaran bagi PSSI, setelah timnas kalah dan tidak mendapat juara lagi. Di laga terakhir, saya melihat permainan ciamik dari para pemain timnas dengan semangat yang bergelora, seolah ikut membakar emosi para penonton yang ada di Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk terus berharap dan menang. Tidak hanya di dalam lapangan, para penonton yang melihat lewat saluran televisi atau live streaming ikut menikmati dengan emosionalnya pertandingan itu. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat Indonesia akan sepak bola begitu tinggi.

Terlepas dari isu poltik yang mulai masuk, saya sudah cukup kecewa dengan kebijakan-kebijakan para petinggi PSSI. Banyak kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan PSSI dengan tujuan meajukkan, tapi yang ada malah selalu menghambat dan mengahancurkan antusiasme masyarakat akan sepak bola.

Masalah yang paling baru kontroversi digelarnya Liga Premier Indonesia. PSSI menolak adanya Liga Premier Iindonesia (LPI) karena sudah ada Indonesia Super League (ISL). Sekalipun tidak diijinkan, tetapi panitia LPI tetap menggelar ajang tersebut. Hingga akhirnya menurut berbagai media yang ada, LPI diadukan PSSI ke FIFA karena dianggap kompetisi yang ilegal.

Sebenarnya, ISL atau LPI semuanya sama saja. Semuanya itu hanyalah wadah bagi para pemain untuk bermain dan tontonan bagi para penikmat kulit bundar di tanah air.

Di negara bagian lain, sepak bola sendiri telah menjadi pekerjaan yang diandalkan untuk menyambung nyawa. Pernah saya membaca di sebuah artikel majalah sepak bola, bahwa di negara Brazil anak-anak berumur 5-10 tahun sudah belajar bola. Dari situlah awal kecintaan mereka terhadap sepak bola. Banyak dari mereka memilih untuk menjadi pemain profesional daripada menjadi orang-orang akademisi. Beruntungnya, di Brazil banyak kompetisi yang memberikan mereka sebuah ruang untuk menyalurkan bakat-bakat yang ada.

Begitu pula di Indonesia, banyak talenta tetapi tidak terpantau dengan baik. saya yakin, LPI bisa menjadi ajang penyalur baru bakat-bakat tersembunyi di berbagai pelosok Indonesia, karena setelah era Peter White, rata-rata perekrutan pemain Tim Nasional hanya berasal dari ISL sebagai Liga tertinggi di Indonesia. Dengan adanya LPI, tentunya hal ini jelas akan mempermudah akses perekrutan pemain Timnas.

Jika ditilik lebih ke dalam, klub-klub di LPI sudah mampu “mandiri” dan ini menjadi sebuah syarat untuk mengikuti LPI sendiri. Mandiri dalam tanda kutip yang saya maksudkan adalah dana yang mereka (klub peserta LPI) punya bukan berasal dari APBD lagi tapi dari iklan, penjualan tiket dan hak siar dari televisi. Kita ambil contoh kasus terbaru, Persija Jakarta di ISL, belum mampu membayar gaji para pemainnya. Hal ini disebabkan karena kurangnya dana yang dimiliki manajemen klub Persija Jakarta yang terlalu mengandalkan APBD. Padahal jika dilihat lagi, dana APBD, apabila tidak digunakan untuk mengurursi klub-klub daerah, akan mampu digunakan untuk perbaikan-perbaikan stadion atau fasilitas olah raga lain di daerah.

Saya kira, semuanya sekarang terserah kepada Menteri Pemuda dan Olah raga, Alifin Malaranggeng. Beliau tidak boleh hanya menghimbau, tapi juga harus menyelesaikan kasus yang pelik ini. Ini saatnya merevolusi seluruh PSSI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s