Satu hati, satu rasa, satu wanita

Akhir-akhir saya dilanda sebuah perasaan “suwung”. Kesepian seperti ini sering membuat stress sendiri. Saat mencoba keluar dari kost dan pergi ke kantor lembaga pers Scientiarum, saya malah bingung mau mengerjakan apa di dalam kantor. Mencoba mencari kerjaan seperti liputan, tapi tidak ada isu yang berkembang. Mencoba mengisi waktu dengan membaca atau main game di computer, yang ada malah malas dan sering ketiduran. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis saja. Apapun itu.

Samar-samar saya mencoba mem-flash back satu tahun lalu, tepat saya berkenalan dengan seorang cewek bernama Elisabeth Berlian.
Cewek mungil berparas ayu ini menemani mengisi waktu disaat jiwa saya sedang kalut setelah putus dengan kekasih hati. Saya dan Lian, sapan akrabnya sering bertukar informasi lewat inbox di facebook.

Awal perkenalan, saya merasa minder karena dilihat dari parasnya saja kelihatan orang yang pintar juga cerdas, apalagi ditopang pekerjaannya sebagai asisten laboratorium terapan menambah saya tambah minder karena saya bukanlah siapa-siapa (sampai sekarang sich) Sebagai obrolan awal, saya mencoba menanyakan siapa saja asisten yang baru direkrut oleh laboratorium terapan Psikologi. Dia menjawab, Melinda, Mbah darmo dan Wendhyta dan menanyakan apakah saya berminat jadi asisten lab? Saya hanya tertawa karena saya hanya seorang mahasiswa bodoh dan hanya mendapatkan IPK 2,29 jadi bagimana mungkin bisa mendaftarkan diri menjadi asisten. Obrolan berlanjut membahas seputar fakultas dan banyak lainnya. Saya pun jadi sering mengobrol dengan Lian.

Selang berapa lama saya sering berkunjung ke laboratorium terapan hanya untuk sekedar mengobrol. Hal ini menimbulkan sebuah gosip, bahwa saya naksir dengan Lian. Awalnya saya sempat bingung dalam hati dan takut kalau Lian marah.

Tapi, dia menjawab

“ halah, mbok ben’o. ra sah dipikir omonganne cah-cah (halah, biarkan saja. Ga usah terlalu dipikirkan omongannya anak-anak)”

Saya hanya tersenyum dan tertawa dengan jawaban tersebut. Jujur, karena dari jawaban dan sikap yang ditunjukkannya cukup menambah pesona inner-beauty dari dirinya. Tapi hati telah menyukai cewek lain, yakni Monika Selesi Riana, ketua angkatan elektro 2008.
Kondisi jiwa yang masih labil pasca putus dengan Kezia, membuat saya jadi ada sebuah ketakutan dalam jatuh cinta. Teman-teman saya seperti tengon, jingo dan lainnya mulai menyadari hal itu lewat perilaku yang saya tunjukkan apabila ketemu dengan Monika. Jika ketemu Monika, saya sering lari terbirit-birit, seolah sosok monica itu sangat menakutkan buat saya. Perlahan rasa percaya diri saya dibangkitkan lewat beberapa cara oleh para sahabat. Untuk caranya, maaf tidak bisa saya publikasikan.^^

Dari berbagai cara itu menyadarkan saya bahwa, Monica bukanlah orang saya suka. Hal terakhir yang saya dapatkan dari sahabat-sahabat dari Elektro adalah “tresno iku jalaran soko kulino” bukan berarti rasa suka yang berasal pandangan pertama itu salah, tetapi rasa itu akan timbul saat setelah saling mengenal. Saya juga dididik menjadi sosok yang kuat dan tegar dalam setiap masalah.

Entah kabar dari mana saya mendengar bahwa Lian telah mempunyai pacar yang sedang bekerja di Yogjakarta. Tentunya kurang etis apabila saya terus dekat dengan dia. Saat itu juga bertepatan timbul sebuah ambisi besar adalah masuk Lembaga Pers Scieniarum dengan tujuan belajar menulis dan menjadi reporter saja.

Saat di Scientiarum mungkin saya pernah dekat dan menyatakan rasa suka pada http://wp.me/p1872M-J, sekalipun ditolak tapi ternyata hati saya tidak mersa sakit. Mencoba menggali hati lebih dalam lewat refleksi diri, ternyata hati ini telah terpaut pada satu wanita, yakni Lian. Saat saya bertanya pada diri lagi, mulai kapan bagaimana dan apa yang saya suka, tidak ada jawaban yang muncul.

Intensitas yang berkurang saat ini menimbulkan sebuah ras rindu dan kangen dengannya. Lewat puisi http://wp.me/p1872M-m, saya mencoba menyapanya. Mencoba mendekatinya lagi, tapi yang ada sekarang, dia selalu dingin dalam sikap maupun tutur kata dan bahkan cenderung menjauh. Sempat saya ingin membuat janji dengannya tapi dia selalu menolak. saya cuma ingin mengutarakan kata maaf karena selalu diam saat bertemu dengannya dan mengungkapkan sebuah perasaan yang belum tersampaikan selama ini. Sebuah perasaan cinta pada seorang Lian.

Kedepannya saya tidak pernah tahu, lebih baik membiarkan mengalir saja. Tanpa arah. Saya tidak mengharapkan sebuah mimpi yang tinggi untuk bisa berpacaran dengannya karena kesempatan saya telah mengecil atau bahkan tidak ada sama sekali. Mungkin untuk sementara ini, saya akan menikmati status single ini. HAH!

5 thoughts on “Satu hati, satu rasa, satu wanita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s