Cerita tentang Kopi Bakar

“Satu nama baik itu barang, tempat, atau orang, selalu mempunyai cerita yang akan selalu dikenang” – Great Erick Kaumbur

Saat ditanya beberapa kawan, kapan tulisanmu yang selanjutnya jadi? Aku bingung memilih sebuah tema, karena banyaknya konsep yang sudah ada tapi tidak terealisasikan. Semula aku memilih judul kelahiran nama “eL”, beberapa sesaat ilham besar tercipta saat nongkrong di coffe shop Mr.Two Kopi Bakar.

Aku mengenal dikau,

tak cukup lama,

separuh usiaku…

namun begitu banyak,

pelajaran yang aku terima…

by : Padi-Harmony

Sepenggal lirik lagu dari Padi terdengar pilu buat saya. Saya jadi teringat pada seorang sahabat, kakak, juga sekaligus guru bagiku, sang penjual kopi, mas Iba. Banyak hal yang saya pelajari dari dirinya. Mulai dari filosofi kopi, seni, bisnis ekonomi, kepemimpinan, attitude, cinta dan juga agama. Semuanya diajarkan lewat “secangkir kopi”.

Hari ini tanggal 24 Oktober 2010, saya menanyakan apakah benar dia kana menutup coffe shop-nya. Kabar ini saya dengar dari karyawannya andre. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, saya terkejut setengah mati mendengar bahwa dia membenarkan kabar tersebut akan berencana menutup coffe shop-nya dan akan membuka bisnis lain. Dia bilang, bahwa empunya tempat menginginkan perpanjangan kontrak 2 tahun, sedangkan dirinya (mas Iba) cuma menginginkan perpanjangan kontrak 1 tahun. Hal tersebut menjadi sebuah kabar yang sedikit berbau “berpamitan” secara tidak langsung dari mas Iba terhadapku. Memang sebagai sahabat, seharusnya saya mendukung segala keputusannya bukannya sedih seperti sekarang.

Selama hampir setahun ini, sampai bulan Oktober 2010 banyak sahabat terbaik yang telah meninggalkan saya. Dimulai awal tahun, teman-teman dari elektro sudah lulus kuliah (mas Tengon, Mas Kelik, Jinggo, Wawa, Kodok) dan sekarang mas Iba, kakak sekaligus sahabat pertama-ku di Salatiga.

Awal tahun 2008, adalah perjumpaan pertamaku dengan mas Iba. Waktu itu, saya dan keluarga (mama dan kakak perempuan) mencari sebuah kost-kostan putra. Dari situ, saya bertemu dengan mbak Lusi (yang sekarang menjadi istri dari mas Iba), untuk menanyakan harga dan pemilik dari kost yang terletak di belakang coffe shop Kopi bakar. Tapi karena terlalu mahal, akhirnya saya mengurungkan niat untuk menempati kost-kostan putra tersebut dan memilih kost di daerah Diponegoro. Tapi apa mau dikata saya jatuh hati pada coffe shop kecil tersebut dan mencoba untuk mengingat letak coffe shop tersebut, karena saya tertarik untuk kembali lagi. Akhirnya sekitar bulan September akhir, saya dapat menemukan kembali coffe shop yang menarik perhatianku tersebut. Dari situ saya sering nongkrong di situ. Lama-kelamaan saya dan mas Iba (juga mbak Lusi) mulai kenal dan akrab. Di Kopi Bakar, saya berkenalan Tringgo Femile (jingo), adiknya. Dari Jingo, saya mulai mengenal Dian Eko Putranto (tengon).  Kami bertiga sering nongkrong dari sore sampai malam. Rasa persahabatan yang kental dan kuat, membuat saya jadi tidak betah saat ada liburan di rumah. saya sering bercerita tentang mereka semua kepada ortu. Rsa toleransi dan saling membantu yang ada di Salatiga begitu kuat, seakan menemukan kenyamanan seperti di rumah.

Lambat laun, perkuliahan memasuki tahun kedua di UKSW, saya merasa kost-kostan saya mulai tidak kondusif lagi, karena seringnya orang mendem, teler, teriak-teriak dan ramai berpesta. Beruntung, Rendy, kakak angkatan saya menawari salah satu kamar di kostnya di daerah Seruni 7 yang arahnya ada di depan coffe shop kopi bakar. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan dan memutuskan pindah. Tidak lama kemudian, saya menempati kost Seruni 7. Awalnya saya sering sekali mengajak Rendy, Okhe, Adit dan beberapa kawan lainnya ke Kopi Bakar. Tapi mereka kurang suka kopi dan mengajak aku untuk nongkrong di tempat lain. Hal itu membuat saya mulai jauh dengan Mas Iba dkk. Berkat mereka, saya bisa bertemu dengan Kezia Debbre Atalo anak Psikologi angkatan 2009, saya suka dan jatuh hati padanya. Begitu pula sebaliknya, singkat cerita kami berdua pun berpacaran. Tapi karena banyaknya konflik, membuat Kezia tidak betah dan akhirnya mengakhiri hubungan kami berdua. Hal tersebut, membuat saya menjadi down. 2 hari setelah putus dari Kezia, saya yang masih linglung memutuskan kembali ke Kopi Bakar, tempat awal aku survive di Salatiga. Hal itu diketahui beberapa kawan dekat di Kopi Nakar, tapi mereka seolah-olah tidak tahu. Dengan hangat saya disambut dan saya mulai menangis di hadapan mas Iba. Mulailah saya curhat kepada Mas Iba dan kawan-kawan lainnya. Mereka  sudah menganggap aku adik sendiri, memaklumi apa yang jadi kendalaku. Setiap malam mas Iba dengan sabar mendengarkan aku ceritakan hal yang sama, bahkan sering pula aku menangis dihadapannya. Aku ingat dalam wejangannya mas Iba sering berkata

“..mas, cobalah belajar untuk Ikhlas…kalau jodoh ga akan kemana, lagipula kopi yang tidak akan pahit apabila dikasih gula to…?”

Sahabat-sahabat seperti Tengon dan Jinggo pun turun tangan dengan memberikan support di dalam kampus. Hal ini (tanpa saya sadari) membuat kenal beberapa kawan-kawan baru dari Elektro (anak-anak Lab skripsi XT dan Patimura 97).

Tiap malam, mas Iba memberi diskusi beberapa hal, termasuk mengajari soal Trading forex.

“dalam trading, kita mesti bisa memprediksi kurs mata uang lewat analisa data yang terakhir yang telah didapatkan, yang pasti juga harus target yang ingin dicapai..sama seperti hidup grafiknya kadang naik, kadang juga turun, yang terpenting adalah terus berusaha melangkah ke target yang kita buat…”

”..pemain forex seperti kamu adalah pemain yang mengandalkan insting, jika ditambahkan kemampuan analisa dan penguasaan trik maka akan menjadi pemain yang lengkap…”

mas Iba membangun sikap “petarung” yang ambisius juga pantang menyerah sebagai konsep diri saya yang baru. Saya pun menjadi sesosok yang lebih mengandalkan rasionalitas. Banyaknya sikap skeptis dan  rasa sakit hati yang mendalam, membuat saya meninggalkan kepercayaan agama. Hal itu tidak bermasalah bagi mas Iba dan kawan-kawan lain. Mereka menghargai dan yang pasti mereka percaya pada semua potensi yang ada dalam diriku.

“..Manusiakanlah manusia semanusiawi mungkin..”

4 bulan berlalu, kondisi mental saya mulai pulih dan bangkit mengejar ketertinggalan saya dalam perkuliahan. Perlahan tapi pasti, IPK terkatrol naik. Suatu saat saya bertemu dengan Monica Selesi Riana, adik angkatan Jingo di kafe Rindang. Saya tertarik untuk berkenalan, tapi tiba-saya lari terbirit-birit seperti dikejar anjing. Saya bertanya pada mas Iba apa yang terjadi pada saya.

“..hahaha… wajar to mas, lha wong kamu kan baru saja patah hati dan sekarang jatuh hati lagi, tapi enak to rasane..??ya seperti itulah nantinya, kalo nanti kamu sering putus, kamu akan akan segera mencari yang lain, karena dunia ga selebar daun kelor..”

Dia menjawab dengan santai seperti biasanya, Saya pun mulai paham esensi dari “jatuh cinta” itu sebenarnya tidak perlu mengerti tapi dirasakan saja, biarkan waktu yang akan menjawab.

Saat saya mengungkapkan ingin mempunyai pacar lagi dan pilihan nya terhadap Monic pada mas Iba, tengon, Jinggo dan Mas Kelik. Mereka sepakat untuk membalik pertanyaan saya dengan bertanya

“apa tujuanmu dari pacaran…?”

Hal itu membuat saya mencari jawaban yang pas, tapi semuanya terbantahkan oleh jawaban yang dilontarkan oleh mereka. Sikap seperti itu seolah mengajarkan saya untuk berpikir sebelum bertindak dan  harus mengetahui apa tujuannya juga mengetahui apa yang harus saya prioritaskan.

Terapi dan konseling yang dilakukan teman-teman saya, terutama mas Iba membuat saya sembuh dari trauma tersebut.

Saya pun ingat sensansi saat saya mencari kebenaran tentang Tuhan lewat mas Iba.  Mas Iba menjawab kurang lebihnya seperti ini:

“…mungkin saat surge dan neraka tidak ada, saya akan tetap percaya pada adanya Tuhan. Kata “Tuhan” sendiri adalah kata lain dari Sang-pencipta. Kamu lihat anak-anak Elektro, mereka membuat robot-kan?? Mereka-lah penciptanya, sehingga oleh para robot pun (mungkin), mereka adalah “Tuhan” nya…Mas, kamu inget pelajaran saat manusia menyembah batu atau roh-roh seperti petir,awan hujan dan lainnya kalo ga salah namanya jaman dinamisme dan anisme dech?

…“Tuhan” itu seperti kuasa yang tak terbatas dalam alam semesta..ada saat kamu akan mencar terus “ kebenaran” yang kamu inginkan… ”

Dan benar, awal semester ini saya mulai ada rasa kangen pada suasana di gereja. Mungkin saya memang skeptis dan mempertanyakan Tuhan, bahkan sempat menganggap Tuhan itu tidak ada. Saya ingin tahu siapa Tuhan (sang Pencipta), tidak hanya ber-iman (percaya) dan berdoa saja, tapi lewat perbuatan-perbuatan dan karya  saya. Memilih agama Khatolik adalah salah satu langkah saya mencoba mencari Tuhan.

Satu saat saya akan membuat sebuah coffe shop saya sendiri, dengan model yang hamper meniru coffe shop Kopi Bakar. Ini seperti tongkat estafet yang diserahkan pada saya, sebuah “tongkat estafet impian”. Dan saya meneruskan dan mengembangkan semua ilmu yang saya dapatkan di Situ.

Akhir kata,

“Tak ada yang abadi”

Saya memang merasa kehilangan berat, apabila nanti saat coffe shop Kopi Bakar jadi ditutup, tapi saya harus terima itu dengan ikhlas juga. Yang pasti mungkin tempat Kopi bakar akan hilang, tapi semua kenangan itu akan selalu abadi di hati saya.

Terima kasih sahabat sekaligus kakak angkat atas semua pelajarannya.

2 thoughts on “Cerita tentang Kopi Bakar

  1. nicee win .. ini tulisan pertama yang aku bacaa .. siap membaca yang selanjutnya .. apa yang terjadi menjadi hal yang bisa dibagikan kepada orang lain .. ^_^
    jadi pengen nulisss .. heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s