Touring Jogja

“Selain kota Solo, salah satu kota yang kebudayaan Jawa-nya masih kental adalah kota Jogjakarta. Kotanya besar, ramai dan pasti sangat menyenangkan bisa ke sana”

Kurang lebih seperti itulah informasi yang ada dalam kepala saya 10 tahun lalu. Hal itu membuat saya sempat merengek pada orang tua, untuk pergi ke Jogja. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya mereka pun setuju. Libur kenaikan kelas dijadikan sebuah moment yang tepat untuk mengajak saya dan kakak untuk berlibur ke Jogjakarta. Perjalanan Madiun-Jogja sekitar 9 jam sangat membuat lelah dan sedikit kesal. Tapi semua itu pudar sesaat sampai di Kota Jogja. Mata saya terbelalak melihat pasar yg ramai dan ada beberapa orang bule. Semakin kuat saja rasa kagum saya pada kota Jogja dan suatu saat nanti saya berniat kembali dan ingin menetap.

Sekitar tahun ke-2 saat saya berkuliah, seorang sahabat dari Fakultas Ekonomi Bisnis jurusan akuntansi Pradewa Akhbar (Dewa) datang  mengajak saya touring. Dia berencana  pergi ke Jogja untuk membeli hadiah untuk pacarnya yang di Surabaya. Dengan cepat saya mengiyakan tawarannya. Saya butuh refreshing sejenak dari jadwal perkuliahan yang padat lagipula, saat itu saya ada waktu senggang. Memang kami sering juga ke Jogja tapi itu hanya dalam rangka pergi ke UGM untuk foto kopi buku atau jurnal skripsi atau ada kepentingan pribadi di daerah Jogja.

Hari Sabtunya, sekitar jam 8 pagi, kami berdua berangkat mengendarai sepeda motor Jupiter MX miliknya. Perjalanan yang cukup jauh kami dimulai dari Kopeng. Kami berusaha mengejar waktu karena takut pulangnya larut malam. Lalu lintas yang padat, membuat kami harus berhati-hati.

Kurang lebih 4 jam kami menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga di Jogja. Kami langsung mencari warung makan di sekitaran UGM, karena menurut Dewa, rasanya enak dan harganya lebih cocok dengan kantong mahasiswa. Selepas istirahat sejenak habis makan, kami langsung menuju Malioboro. Malioboro sendiri adalah sebuah nama jalan, dimana disitu banyak terdapat penjual cidera mata yang harganya masih bisa di-nego. Setelah mendapat tempat parker di sekitar took, kami mulai berjalan menyusuri area pertokoan. Banyak pernak-pernik yang dijual seperti patung, kalung, gelang, baju, blankon dan lainnya. Harga yang ditawarkan oleh penjual cukup mahal karena kawasan tersebut juga banyak didatangi wisatawan asing. Saya memutuskan untuk tidak membeli apa-apa, karena budget yang saya punya cukup kecil, sekalipun harganya telah di-nego. Di daerah malioboro, ada beberapa dokar dan becak yang ikut melintas.Oya, saya jadi ingat pesan mama

“..kalau ada di kawasan wisata, dompetmu ditaruh di dalam tas aja…”

Memang kawasan seramai Malioboro, tidak luput adanya kejahatan. Jadi saya dan Dewa harus selalu berhati-hati agar tidak menjadi korban kejahatan.

“…Wah, ramai tenan rek, aku dadi iling pas cilik aku pengen nduwe omah neng kene…”

tanpa sadar saya mengucapkan itu.

Tiba-tiba..

“…HEH!!! Da***k tenan yo kon iku, ngilang ae…”

Saya terkejut atas kalimat sekeras itu disertai menepuk bahu ternyata saya meninggalkan Dewa yang sedang memilih-milih barang.

Sore harinya, setelah Dewa mendapatkan barang yang diinginkannya, yakni sebuah kalung hati seharga 25ribu, kami menyempatkan diri mampir ke MIROTA batik, yang juga ada di kawasan jln Malioboro. Disitu saya melihat ada beberapa souvenir yang bagus (tapi, sayangnya mahal dan tidak bisa tawar pula!!). Mata saya langsung tertuju pada tempat penjualan wedang. Melihat adanya bubuk kopi Jawa (merknya lupa ^__^”), saya jadi ingat seorang sahabat sekaligus kakak bagi saya, mas Iba yang termasuk penggemar kopi. Harganya murah sekitar 8rb. Saya juga membeli aroma therapy lavender seharga 5rb. lumayan lho, ga terlalu keluar uang banyak.

Sekitar jam 6, kami berdua memutuskan kembali ke Salatiga lewat jalur yang berbeda, yakni Boyolali. Lebih jauh memang, tapi cukup safety karena masih ada penerangan daripada lewat kopeng. Sekitar jam 10an kami sampai di salatiga dengan selamat.

3 thoughts on “Touring Jogja

  1. 2 kali aku ke Yogya, sekali dengan warga kampusng di RT 07/ RW 09 Kemiri-Salatiga, dan satu kali denganteman2 kuliah dalam rangka studi tour.
    Dulu waktu mau melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, aku daftar ke UGM, sayang mungkin belum jalannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s