Metamorfosis (Menjadi) “Penulis”

Menulis adalah (mungkin) bukan sebuah hal yang baru dalam hidup saya karena dalam perkuliahan sendiri terkadang dosen memberikan saya tugas untuk menulis sebuah hasil resum atau tugas penulisan lainnya, tapi “menulis” yang ini adalah menulis sebuah tulisan atas pemikiran sendiri adalah sesuatu yang baru bagi saya. Ada pun pernah “menulis” sebuah tulisan, itu hanya update status dalam sebuah situs jaringan sosial dan note dalam bentuk sastra.

Ada pun saat menilai diri sendiri lewat Johari Window (jendela johari), saya lebih menilai saya adalah orang yang lebih pandai berbicara daripada menulis. Kemampuan dalam hubungan antar-personal saya jauh lebih baik daripada kemampuan redaksional saya.

Saya ini mahasiswa dan (mungkin) kepandaian saya adalah dalam hal berbicara, tapi saat melihat orang berdebat, yang ada selalu saja tidak ada akhir yang jelas. Malah pernah saya lihat gara-gara berdebat, ada yang sampai bertengkar dan ujung-ujungnya baku-hantam.

Mulutmu, harimau-mu.

Kenapa? Saat saya melihat di televisi, saat mahasiswa berteriak alias demo (maaf untuk teman-teman saya yang aktivis) yang ada masyarakat sekitar malah risih dan apatis terhadap sikap dan tingkah laku mahasiswa yang berdemo. Malah jadi tidak efektif, saya berpikir, “kenapa tidak mengkritisi lewat tulisan? Karena dengan tulisan berupa argumentasi yang memiliki rasional dan logis yang disampaikan di media massa, masyarakat akan jauh bisa mengerti dan memahami polemik yang ada.”

Beberapa saat yang lalu, saya diterima sebuah lembaga pers mahasiswa Scientiarum, UKSW Salatiga. Saya diajak Great Erick Kaumbur masuk dengan niat belajar “menulis” dan menjadi seorang wartawan. Di dalam lembaga pers, orang-orang dapat menerima saya baik kekurangan maupun kelebihan saya. Saya berharap potensi yang ada dalam diri bisa terasah semua. Baik kemampuan berbicara dan menulis juga.

Selang sekitar 2 minggu kemudian, saya baru sadar bahwa semuanya memiliki kemampuan menulis yang sangat luar biasa (buat saya) dan mempunyai ciri khas masing-masing dalam penulisannya. “Saya iri dan bagaimana caranya agar bisa seperti mereka?”

Kata orang, hal yang paling sulit adalah memulainya dan benar itu sedang terjadi pada saya. Mencoba memulai menulis, langsung tiba-tiba ada terlintas dalam pikiran saya.

“Hal apa ya yang akan saya tulis?”

“bagaimana cara “menulis”nya?”

“seperti apa bentuknya ya?”

“tekniknya seperti apa?”

“Bukankah “menulis” juga ada teorinya?”

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak saya waktu menuliskan catatan ini. Belum lagi, rasa malu dan takut akan salah dalam penulisan membayangi benak saya karena dulu pernah saat saya menulis di sebuah akun jaringan social, ada seorang kawan yang mengomentari (ehem) dengan agak kurang menggenakkan hati (maaf ya, bagi yang tersindir, ya!!). Dan berkaca dari itu, saya tidak menemukan sebuah topik yang jelas dan tepat SAMA SEKALI!!.

“..apa saja yang ada dalam pikiranmu, coba kamu tuangkan lewat pulpen dan kertas, lalu perbanyak baca buku lagi….”

Mengingat ucapan dari sahabat dekat saya dari fakultas Teknik Elektro, Ivan Patty tersebut akhirnya, saya pun membiarkan tangan saya menari di atas keyboard Komputer di dalam kost saya. Dan membiarkan mengalir saja, persetan kata orang!. Dan saya merasakan sebuah sensasi yang tidak pernah saya bayangkan selama ini.

“..”Menulis” itu tidak ada teori-nya..”

itu juga yang dikatakan rekan sekaligus mentor saya di Scientiarum, Satria A. dan betul ternyata. Tidak ada teori yang pasti, saat saya menuliskan catatan.

Mengutip kalimat dari buku Bukan Teori Menulis: kumpulan karangan pelatihan menulis, seorang Peneliti di kabut Institut dan Instruktur Tulis! Idemu biar ramai, Mas Bandung Mawardi menuliskan bahwa menulis sendiri adalah tindakan pengekalan dengan pertaruhan kata dan makna. Pengekalan dilakukan karena mekanisme pencatatan lakon hidup tak selesai dalam ingatan. Saya jadi sadar bahwa “menulis” sendiri sangat penting karena dengan “menulis“, saya jadi sadar “menulis” seperti mempunyai sebuah catatan yang bisa saya buka setiap saat, kapan saja dan dimana saja.

Kata Dosen saya, Menurut Maslow, Pengakuan diri adalah kebutuhan no 1 yang dibutuhkan manusia. Lewat “menulis”-lah saya ingin diakui, dan lewat “menulis” juga-lah saya ingin mengekspresikan diri. Dan menurut saya lewat “menulis” juga, seseorang mampu untuk menerapi dirinya sendiri. Hal ini terbukti, dimana ketakutan saya sekejap hilang sesaat setelah saya menulis catatan ini.

Semua hal selalu ada resiko, begitu pula soal penulisan juga ada resiko yang harus saya ambil yakni: dikritik dan dikutuk oleh pihak-pihak yang kurang setuju dengan tulisan kita. seperti yang saya lakukan di sebuah akun  sebuah jaringan sosial. Hal ini membuat saya mengambil posisi menikmati alias enjoy aja saat dikritik nantinya.

salam. “eL”

7 thoughts on “Metamorfosis (Menjadi) “Penulis”

  1. untuk el,

    saya selalu berasumsi semua orang bisa menulis. termasuk kamu. yang dibutuhkan adalah mencoba. tidak ada salahnya mencoba.
    satu saranku, teruslah menulis. jangan lupa untuk banyakjuga membaca. apapun. karena ispirasi menulis terkadang berasal dari apa yang kamu baca. dan ingat, semakin banyak kamu membaca, semakin luas tulisan yang akan kamu buat.

    salam,
    saam fredy

  2. Bagus adik seperguruan Bu Tong Pai…..
    Km telah menemukan jalanmu.
    Kembangkan bakatmu n jadilah berarti buat orang lain melalui tulisan2mu.
    Suatu saat km akan menjadi jurnalis terkenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s