Beberapa Mahasiswa Psikologi UKSW Itu Manusia Manja

Sekitar 2 minggu yang lalu, saya sungguh terkejut melihat pemberitaan yang ada di mading Psikologi. Keterkejutan saya adalah bahwa adanya seorang dosen yang dituduh oleh mahasiswanya sendiri melakukan “Educational Abusse”. Dijelaskan juga, korban merasa dipermalukan didepan kelas dan merasa hal itu adalah tindakan “Educational Abusse”. Singkat cerita, penulisnya juga meminta kejelasan dari BPMF dan fakultas akan kasus ini.


Beberapa hari kemudian si penulis akan dipanggil oleh Ketua Senat Mahasiswa Fakultas. Ia diminta penjelasan tentang penulisannya. Memang sebelumnya, ia telah diperingatkan untuk tidak mengangkat berita tersebut. Menurut cerita si penulis pada saya, Ketua Senat Mahasiswa dimarahi oleh Dekan Fakultas Psikologi karena tulisan tersebut.

Karena ingin tahu, saya pun meminta draft aspirasi yang ditampung BPMF fakultas Psikologi untuk open forum beberapa saat yang lalu. Dalam draft tuntutan mahasiswa Psikologi, kebanyakan menyoroti seluruh aktivitas yang telah terjadi selama setahun akhir ini.
Saya geleng-geleng sewaktu mulai membaca tuntutan-tuntutan yang dibuat oleh mahasiswa. Sebelum habis membaca draft tersebut, saya sudah tertawa karena isinya yang mirip dengan rengekan anak-anak SD. Karena apa? Terkesan manja dan terlalu “lebay”.

***

Dari sini saya melihat tindakan yang sia-sia dari banyak pihak. Pihak pertama yang melakukan “kesia-siaan” adalah BPMF. Sebagai badan yang mewakili 500 mahasiswa Psikologi, BPMF telah membuat acara yang sia-sia dan menunjukkan kecerobohannya sendiri, yakni open forum. Kata Soekarno, “jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah”. Seharusnya BPMF berkaca dari kalimat Presiden pertama di Indonesia itu.

Kenapa?

Dalam beberapa periode sebelumnya, BPMF juga sering menyelenggarakan kegiatan “Open Forum”. Tapi, yang saya pertanyakan adalah bagaimana hasil “Open Forum” sebelumnya? Apakah sudah dikerjakan? Dari situ saja, seharusnya BPMF periode sekarang sadar. Saya selalu berasumsi bahwa  selama ini “Open Forum” hanyalah forum yang dibuka untuk orang-orang yang suka berdebat. iya, kalau debatnya itu memiliki efektivitas yang nyata dan riil. Tapi yang ada adalah nol. Dan saya rasa daripada membuat acara “Open Forum” yang sudah berkali-kali tidak memberikan bukti, BPMF memngurusi hal yang lain (misalnya membantu fakultas dalam proses peningkatan akreditasi atau apalah).

Pihak kedua yang melakukan “kesia-siaan” adalah penulis berita. Sejujurnya, sekalipun anda adalah kawan, saya kurang tanggap dengan apa maksud anda menuliskan hal itu? Jika benar memang untuk memonitor perkembangan BPMF dan Fakultas, seharusnya anda juga harus mewawancarai juga pihak fakultas. Hal ini tentunya akan memberikan pemberitaan yang seimbang. Jikapun memang dikejar dead line, maka berita itu jangan dulu diturunkan. Seorang jurnalis jangan memunculkan beritanya, apabila beritanya itu masih terkesan menyudutkan atau belum diverifikasi ulang. Lagipula, apakah tidak ada isu lain selain isu tersebut? Fakultas Psikologi itu besar, banyak orang didalamnya. Tentunya juga memiliki tiap masalah yang belum selesai.

Pihak saya sayangkan dalam kasus ini, adalah dosen yang dituduh “Educational Abusse”. Melihat kapasitas anda sebagai seorang dosen, seharusnya anda tahu bahwa komentar-komentar anda saat diwawancara hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Kenapa sia-sia? Karena anda buang-buang waktu dan tenaga saja untuk berbicara panjang lebar di orang yang salah. Bahkan ada komentar dimana anda akan menindak lanjuti hal ini lewat jalur hukum. Itu berlebihan sekali! Apabila dosen tidak merasa melakukan “Educational Abusse”, ya sudah tanggapi saja secara santai dan tenang. Kalaupun terbukti, tinggal diperbaiki dan minta maaf pada para korban. Begitu saja kok repot?

Dari kacamata pribadi, saya cukup memaklumi bahwa para dosen yang ada belum tentu memiliki kemampuan dasar dalam proses mengajar. Itu tidak bisa disalahkan sebelah pihak saja, karena di Indonesia atau di negara manapun, yang namanya dosen tidaklah sama dengan seorang guru. Keduanya memang sama-sama seorang pengajar, akan tetapi yang guru mendapatkan nilai lebih karena mempunyai basic dalam teknik pengajaran. Tidak seperti seorang dosen! Dosen hanyalah orang yang telah lulus karena menyelesaikan tesis atau disertasinya. Bukan dipersiapkan sebagai seorang pengajar.

Lalu, yang membuat saya terheran adalah tingkah polah Ketua Senat Mahasiswa dan Dekan Psikologi. Terkesan mereka kebakaran jenggot karena tindak-tanduk seorang mahasiswa yang memberikan kritikan pada kinerja fakultas. Apakah tidak boleh orang mengkritik? Ingat ini jaman demokrasi, semua orang berhak untuk bersuara. Sekalipun itu cuma sebuah kritik.

Ditelaah dari segi filosofis sendiri, UKSW adalah salah satu univeritas yang terkenal dengan kepemimpinannya yang kritis, analitis dan proaktif. Apakah pantas seorang pemimpin punya sikap reaktif seperti itu? Tidak seperti itu cara seorang UKSW dalam berpikir dan bertindak. Dekan atau ketua Senat Mahasiswa adalah orang-orang yang saya yakini punya kredibilitas dan kapasitas yang mumpuni masalah tersebut.

Seorang Arief Budiman, seorang dosen juga seorang aktivis sosial, menuturkan bahwa kririk itu merupakan konsultasi gratis. Baru dikritik saja sudah reaktif, apa bedanya kalian dengan rezim Soeharto yang antikritik? Kalau pun ingin menanggapi, maka balaslah lewat tulisan!

Kekecewaan mendalam saya peruntukan kepada para mahasiswa yang melakukan tuntutan, termasuk para mahasiswa yang merasa menjadi korban “Educational Abusse”. Saya heran dengan pemikiran yang mereka. Jikalau sudah menjadi seorang mahasiwa, gojlokan atau dipermalukan didepan umum itu sudah biasa, wajar malahan. Apalagi, Educational Abusse atau kekerasan yang terjadi dalam pendidikan itu terjadi biasanya pada anak-anak. Rata-rata anak-anak yang masih SD atau SMP. Jika dilihat, mahasiswa yang rata-rata berumur 20 tahunan. Masih pantaskah itu disebut Educational Abusse? Orang yang menyebut itu Educational Abusse itu adalah orang yang paling bodoh dalam memberikan stigma. Lagipula, itu mungkin hanyalah sebatas guyon atau bercandaan. Jikalau terlalu menusuk perasaan, ya tidak usah didengarkan. Fokus saja pada materi perkuliahannya.

Saya jadi berpikir, tentang fungsionalitas makrab di Psikologi. Esensi dari makrab Psikologi, selam ini digunakan untuk menempa mental dan pola pikir anak-anak SMA ke mental dan pola pikir seorang mahasiswa. Tapi yang ada, malah terkesan hanya jalan-jalan dan bersenang-senang saja. Selama ini materi makrab sendiri hanya cenderung bersenang dan bergembira, bukannya memahami arti sebuah kata “mahasiswa” itu sendiri.

Kata “mahasiswa” sendiri begitu sakral bagi saya, karena seorang “mahasiswa” itu adalah seorang siswa yang telah ada di titik tertinggi sebelum masuk dalam dunia kerja atau sekuler. Jadi dia harus bisa bersikap dan bertindak selayaknya orang-orang yang ada di dunia sekuler.

***

Sebagai penutup, pihak terakhir yang melakukan kesia-siaan dan “kesia-siaan” terbesar adalah saya, sebagai penulis catatan ini. ada dua kebodohan yang cukup besar yang saya lakukan. Kebodohan terbesar pertama yang saya lakukan adalah terlalu ikut campur dalam hal ini. Meminjam kata-kata seorang teman, seharusnya saya sadar bahwa tugas utama seorang mahasiswa itu adalah belajar, bukan mengurusi hal-hal lain.

Dan kebodohan saya yang lain adalah kenapa saya tidak mengurusi berita-berita dan tugas-tugas yang sudah dekat. Ah, dasar saya ini mahasiswa BODOH!

13 thoughts on “Beberapa Mahasiswa Psikologi UKSW Itu Manusia Manja

  1. saya rasa wajar jika kita menuntut hak kita sebagai mahasiswa. tolong anda sadari juga klo keadaan fakultas tesebut memang seperti itu. dan sudah sewajarnya orang meminta haknya. nah jika alat penyampaian aspirasi tidak mampu menyalurkan pendapat, lewat apalagi harus di sampaikan??
    demo??
    bisa-bisa nanti di pake alasan klasik “seorang mahasiswa itu harus intelek”
    saya rasa penulis tuntutan itu sdh bisa menanggulangi resiko munculnya alasan klasik itu.

    • terkadang sebagai mahasiswa, kita pun mesti realistis juga.
      karena, “siapa suruh masuk Psikologi?”

      jika dipikir dan ditelusuri kembali,
      Keotoriteran fakultas telah menjadi sebuah rahasia umum terutama para mahasiswa generasi tua. Lalu pertanyaannya, kenapa baru sekarang diangkat?? kenapa baru sadar sekarang??

      sejak dulu, tentang masalah aspirasi atau pun tuntutan atas hak, dan lain-lain
      pernahkah fakultas mendengar?? Tidak!
      kalau pun didengarkan, itu hanyalah sebagai angin lewat saja…
      jadi buat apa??

  2. buat apa??
    wah itu pertanyaan yang bagus coy… :D
    bwt kepentingan saya,anda, mungkin jga bwt seluruh mahasiswa yang lain…
    sejak dulu??
    itu yang mungkin bisa kita pertanyakan saat ini. karena dulu masalah ini belum terlalu muncul ke permukaan karena di anggap sepele oleh mahasiswa2nya.
    bersyukur malah saat ini sudah banyak mahasiswa yang peduli tentang fakultas serta hak mereka sebagai mahasiswa.
    so, apakah itu salah jika menyampaikan aspirasi lewat cara yang intelek namun tidak melalui proses yang bertele-tele dan selalu dapat delay dari pihak yg memegang otoritas?? :D

  3. ih L.. aku setuju dengan argumenmu mengenai makrab.. sori kagak nanggepin yg lainnya.. tapi aku juga baru sadar pas baca.. mahasiswa ga tau apa artinya mahasiswa sendiri.. :)

    btw komentarnya dah telat yah… hahahaha..
    nice try.. tetep semangat menulis bro.. ^^

  4. tanggapan saya bagi penulis ada bny skali.
    Kata ‘bodoh’ yg dtulis dsini bdasarkan apa? Apakah skor inteligensinya atau apa?
    Kedua, kata ‘manja’ utk menggambarkan mahasiswa yg menulis tuntutan. Stiap manusia it berbeda. Kalo manusia it sma smua fakultas psikologi tdk perlu bdiri. Krn manusia bbeda, maka tingkat rasa tersinggung jg bbeda. Misalnya org melankolis akan bbeda rasa dg org sanguin ketika menanggapi suatu pengalaman.
    Jd tdk semua org bpikir sperti anda yg tdk manja n cuek. Jd tlg pelajari dlu psikologi sblm menulis.

    • Terima kasih buat tanggapannya. :)
      Saya sungguh berterima kasih atas apresiasinya mau membaca blog yang sederhana ini.
      Baik sekarang saya jawab pertanyaan-pertanyaan dari Elma untuk note ini.

      yang pertama untuk kata “bodoh”, saya tanya balik, kenapa mbak memerlukan sebuah indikator? dan kenapa mbak mengaitkan sebuah “kebodohan” itu dengan tes intelegensi atau tes-tes psikologi lainnya? saya kira tidak selamanya tes-tes Psikologi yang dibuat itu bisa merepresentasikan intelegensi seseorang. Seharusnya anda yang mahasiswa Psikologi juga tahu akan hal itu kan? kalau kurang coba anda ambil lagi mata kuliah tes tahun depan.

      kedua, sebelum masuk menjawab pertanyaan mbak, ijinkan saya bertanya terlebih dulu dengan pemisalan yang anda paparkan itu apakah sudah benar dan sinkron? Saya malah balik bertanya pada anda sebagai mahasiswa fakultas Psikologi yang tersohor nan melegenda, kenapa anda memberikan pemisalan lewat teori kepribadian yang dikeluarkan Hipocrates? Apa dan dimana titik relevansinya dengan kasus tersebut?Setahu saya teori kepribadian itu sudah tidak valid lho, mbak. Seperti kata mbak, Memang benar manusia itu berbeda, akan tetapi “hidup itu kompetisi”, kalau ga kuat dan lemah ya contohnya akan seperti mahasiswa di atas.

      Di sini saya akan coba juga meluruskan logika anda.

      Pada dasarnya “bodoh” ataupun “manja” itu relatif. Itu semua subjekatifitas belaka. Kalau sudah seperti itu bebas dunk saya anggap orang-orang itu “bodoh”,”manja”, ataupun bahkan “idiot”. Wong ini jaman Demokrasi kok. Jaman dimana semua orang bebas untuk berpendapat, sekalipun pendapat itu tak sependapat.

      dan satu pertanyaan saya pada anda, apakah seorang penulis itu mesti belajar “psikologi” terlebih dahulu baru boleh menulis? Saya memang mahasiswa Fakultas Psikologi, tapi bukan berarti saya men”dewa”kan satu keilmuan itu saja (Psikologi). Banyak keilmuan di dunia ini. Satu ilmu dengan ilmu yang lain bisa saja difusikan satu dengan yang lain. Itu namanya Interdisipliner. Hal itu juga menjadi “tolok ukur” akan wawasan seseorang dan pengalaman dalam memaknakan kehidupan. Apabila seseorang itu cuma memakai satu disiplin ilmu apa bedanya dengan katak di dalam tempurung?

  5. saya rasa betul, mahasiswa psikologi sekarang terlalu dimanjakan dengan fasilitas yang ada. saya masih inget, ketika saya dianggap salah satu dosen melawan, menggurui gara2 pensil 2B. saya dimaki2 apa kamu gak punya pensil. dengan tenang saya menjawab, Ibu mau pensil berapa? saya bisa belikan. dan saya masih inget 3 trimester saya dinilai C. tapi saya cukup enjoy, karena saya berasaskan kebenaran yang lurus, saya gak peduli. buktinya malah Beliau menghargai saya dan mempercayai saya sampai sekarang.

    saya juga malu, pas saya baca mading di fakultas yang isinya tuntutan2. yang paling penting adalah peran LK saat raker fakultas, disitu LKF harus berperan penting mengusahakan aspirasi mahasiswa dalam perumusan dan penggodokan agenda kerja Fakultas.

    Hai kawan – kawan fakultas Psikologi, enjoylah dan jangan terburu2 menuntut bila ada yang kesalahan, dipermalukan? itu sudah jadi makanan saat anda nanti di lapangan pekerjaan. so tegarlah dan bersikaplah sebagai pemimpin yang bijak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s