Dari Reporter untuk Redaksi Scientiarum

Beberapa hari ini, saya merasa kesal pada seluruh anggota redaksi Scientiarum. Alasannya simple, tidak ada yang niat untuk menulis atau meliput berita lagi. Jika dilihat di website sendiri, tulisan atau liputan terakhir di redaksi adalah tentang POFTE, yang telah berlangsung beberapa minggu lalu.

Puncak kekesalan saya adalah kemarin pada hari Senin, 31 Januari 2011, dimana menurut agenda, ada rapat redaksi mingguan guna membahas tema juga ulasan berita untuk tiap minggunya, ternyata yang datang tidak ada setengahnya. Yang hadir hanya saya, Rolland, Dian (redaktur foto), Martin (redaktur pelaksana) dan Lidya yang datang terakhir.

Akhirnya rapat pun tidak berjalan seperti biasanya karena kami kebingungan menentukan tema dan berita apa yang akan diliput. Martin akhirnya hanya menugaskan saya untuk meliput Elektro Vaganza yang sedang berlangsung. Dan, saya terima tugas itu.

Saya berpikir, kalau seperti ini terus menerus, Scientiarum lama-lama akan mati (lagi). Sekarang redaksi juga harus sadar melihat realita bahwa para senior telah pergi satu persatu. Mulai dari Yodie dan Ferdinand, mereka sudah lulus sekarang, tidak mungkin mereka bisa menjadi reporter lagi. James, Satria dan Freddy telah concern pada proyeknya, majalah ONTIC. Tian pun juga mulai fokus pada skripsinya. Entah, rasanya seperti ada sebuah ketergantungan dengan mereka.

Memang harus saya sadari, bahwa teman-teman redaksi lainnya (mungkin) sibuk dengan kuliah atau urusan lainnya. Tapi apa saya juga tidak sibuk dengan kuliah dan berbagai kegiatan saya lainnya di luar Scientiarum? Dan buktinya, saya tetap bisa meliput dan terus menulis (sekalipun, tulisan-tulisan saya selalu “mandheg” di redaktur pelaksana atau hanya di komputer kantor).

Kalau tidak salah, 2 minggu yang lalu disaat ada rapat antara Redaksi, Litbang dan dan Pimpinan Umum, saya cukup tersinggung sewaktu Febri mengkritik kalau redaksi tidak aktif dalam peliputan. Memang ada relevansinya, tapi tolong jangan digeneralisasikan ke semua. Karena Desember tahun lalu, saya meliput Treffi, yang lagi-lagi beritanya hanya menjadi hiasan di komputer kantor. Waktu itu saya bingung mau diedit oleh siapa.

Setelah Ninon yang keluar, Andre masih non-aktif sampai sekarang. Hal ini sebenarnya membuat saya kebingungan dalam peliputan sendiri, karena jika melihat prosedur, berita yang telah diliput harus masuk ke editor, lha editornya sendiri sekarang hanya non-aktif. Lalu kemana? Satria? Saya kira, lagi-lagi butuh kesadaran dari seluruh pihak Scientiarum, bahwa Satria sendiri sekarang sedang disibukkan dengan proyeknya bersama ONTIC, jadi tidak mungkin dia terus direpotkan dengan polemik di Scientiarum.

Memang Litbang, telah memberikan solusi dimana akan segera melatih salah seorang reporter guna dijadikan editor baru. Pernah suatu kali, berita saya diedit oleh Martin, tapi saya merasa tidak nyaman dalam proses pengeditan itu. Saya sendiri sadar, bahwa cara editing dari Satria masih paling nyaman dan cocok, tapi saya harus bisa beradaptasi dengan editor yang lain juga.

Jika melihat masa awal saya masuk, saya jadi iri dengan masa itu. Dimana semua reporter masih giat dalam peliputan. Sekalipun seringnya kita ditentang oleh para “penguasa”, para reporter masih tetap lanjut dalam setiap peliputan.

Teringat awal masuk pers, dimana saya masih dimentori oleh Satria dalam peliputan dan penulisan. Sebagai pemula, saya sering kena marah karena seringnya berbuat kesalahan dan sebuah blunder. Dan, hal itu sempat membuat saya ingin keluar karena saya merasa bersalah pada lembaga ini, disamping itu saya mendapati kondisi fisik yang sedang melemah. Tapi, saya tidak melakukan itu, karena sadar bahwa jurnalistik sekarang telah menjadi candu bagi saya. Karena itulah, saya akan bertahan di Scientiarum selama saya di UKSW.

About these ads

4 thoughts on “Dari Reporter untuk Redaksi Scientiarum

  1. Semua butuh kesadaran. Yang sadar silakan membantu menyadarkan yang tak/kurang sadar. Selain itu, (mungkin) sekaliduakali kita perlu menyodorkan tugas–bagian dari kewajibannya–untuk mereka agar ingat bahwa sebenarnya tugas itu adalah kewajiban yang terlupakan dari bagian profesinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s